ログインEnam tahun lalu, aku hadang sebuah peluru demi selamatkan Daniel Rahadi, kepala salah satu keluarga mafia yang paling berkuasa di Nevala. Luka itu nyaris merenggut kesempatanku untuk jadi seorang ibu. Di samping ranjang rumah sakit tempatku terbaring, Daniel bersumpah selama aku bisa selamat, dia nggak butuh anak. Namun, di luar segala kemungkinan, aku justru hamil. Aku hampir saja kasih tahu dia tentang hal itu, ketika mendadak aku dengar suara seorang gadis kecil panggil dia ayah dalam sebuah pesan suara di HP-nya. Saat itulah aku tahu kalau Daniel telah punya anak kembar dengan mantan sekretarisnya, Bella Gutama. Semua orang di Keluarga Rahadi tahu tentang mereka. Semua orang, kecuali aku. Daniel terus bilang kalau akulah satu-satunya wanita yang dia cintai, bahkan ketika dia kasih cincin ke Bella dan persiapkan putranya untuk mewarisi keluarga, aku nggak membongkarnya. Aku juga nggak kasih tahu dia kalau aku sedang hamil anaknya. Pada hari ulang tahun pernikahan kita, aku atur sebuah ledakan di kapal pesiar dan biarkan seluruh dunia percaya kalau Elena Rahadi, beserta bayi yang belum lahir di dalam kandungannya telah tewas di tengah laut.
もっと見るOperasi itu berlangsung selama dua jam. Putriku lahir dengan berat nggak lebih dari satu setengah kilogram. Para perawat langsung bawa dia ke unit perawatan intensif untuk bayi baru lahir. Ketika aku siuman, pertanyaan pertamaku adalah tentang bayiku.Gabriel duduk di samping ranjangku.“Dia sangat kecil, tetapi dokter bilang kondisinya stabil.”Aku pejamkan mata dan akhirnya biarkan diriku bernapas lega. Untuk pertama kalinya, aku lihat putriku melalui kaca ruang NICU. Dia terbaring di dalam inkubator, dikelilingi selang-selang kecil dan kabel-kabel medis. Namun, jari-jarinya mengepal erat, seolah-olah sejak awal dia sudah putuskan kalau dirinya nggak akan menyerah kepada dunia ini.Daniel berdiri di ujung lorong yang lain. Dia nggak masuk ke dalam. Dia hanya awasi melalui kaca untuk waktu yang lama.“Siapa namanya?” tanyanya.“Sofia Marlupi.”Dengar nama belakang itu, mata Daniel meredup.“Dia juga putriku.”“Aku nggak pernah bilang dia bukan putrimu.”“Kalau gitu, bisa nggak dia pak
Setelah pameran berakhir, aku tinggalkan galeri seorang diri. Sebuah sedan hitam terparkir di seberang jalan. Begitu pintunya terbuka, langkahku seketika terhenti. Daniel turun dari dalam mobil. Dia datang tanpa bawa anak buah bersenjata ataupun pengawal.Dalam beberapa bulan sejak terakhir kali aku lihat dia, tubuhnya tampak jauh lebih kurus. Rasa lelah yang terpancar dari matanya buat dia terlihat seolah-olah sudah berminggu-minggu nggak tidur. Dia berdiri di sana, menatapku, seakan takut untuk mendekat.“Elena.”Dengar suaranya, tanganku secara refleks bergerak usap perutku. Tatapan Daniel ikuti gerakan itu. Bahkan gaun longgar yang aku kenakan sekarang nggak mampu lagi sembunyikan kenyataan kalau usia kandunganku telah lewati tujuh bulan. Dia menatap perutku yang membesar, nggak mampu ucapkan sepatah kata pun. Ketika akhirnya berhasil temukan suaranya, kata-kata yang keluar terdengar penuh tekanan.“Itu … anak kita?”“Itu nggak ada hubungannya dengan kamu.”Tubuh Daniel sedikit ter
Fajar mulai menyingsing ketika kapal kargo itu tiba di wilayah selatan Parisi. Seorang petugas bea cukai periksa pasporku.“Elise Lorena?”“Ya, saya.”Dia bubuhkan cap pada pasporku, lalu serahkan itu kembali.Sejak saat itu, Elena Rahadi telah mati di dasar Samudra Atela. Orang-orang dari Keluarga Marlupi antar aku ke sebuah kediaman mewah di Pafira.Properti itu terdaftar atas nama perusahaan lepas pantai, dan bahkan Daniel pun nggak tahu kalau sebenarnya tempat itu adalah milik ibuku. Perkebunan anggur terbentang mengelilingi kediaman itu. Di ruang penyimpanan bawah tanah yang ada di bawah bangunan utama, aku temukan berbagai karya seni yang telah dikumpulkan Keluarga Marlupi selama puluhan tahun.Sejak kematian ibuku, pengacara keluarga telah mengelola kediaman itu, beserta seluruh asetnya. Sekarang, semuanya kembali jadi milikku.Gabriel Lorena bertanggung jawab untuk awasi urusan keluarga di Parisi. Dia bentangkan catatan keuangan dan dokumen properti di atas meja kerjanya.“Nyon
Ketika Daniel kembali ke kediaman keluarga, Bella sudah lebih dulu pindah bersama kedua anak kembarnya. Koper-koper penuhi ruang tamu, sementara para pelayan sedang bersiap bawa pakaian Bella ke lantai atas.“Berhenti.”Daniel berdiri di ambang pintu, suaranya sedingin es hingga semua orang seketika langsung terpaku.“Siapa yang kasih dia izin untuk pindah ke sini?”Bella jalan hampiri dia.“Ibumu yang kasih aku izin. Sekarang Leo dan Mia sudah resmi tercatat dalam kartu keluarga. Kamu nggak mungkin berharap kita terus hidup dalam persembunyian.”Tatapannya beralih ke kamar utama di lantai atas.“Kamar itu cukup besar untuk kita semua. Setelah kita dekorasi ulang ….”“Itu kamar Elena,” potong Daniel.“Nggak ada seorang pun yang boleh masuk ke sana. Jangan sentuh apa pun yang ada di dalamnya.”Senyum Bella langsung hilang.“Elena sudah mati.”Kepala Daniel langsung noleh ke arahnya. Amarah yang membara di matanya buat Bella secara refleks mundur selangkah.“Dia belum mati.”“Tim pencari






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.