Share

Bab 4

Author: TJ
Malam itu, aku kembali ke apartemen dengan keadaan perut kosong, sementara uang palsu tadi masih kusimpan di dalam tas.

…

Keesokan paginya, aku langsung pergi ke kafe. Begitu masuk, aku menghampiri meja kasir dan melemparkan amplop itu ke atasnya.

"Kenapa Anda membayarku dengan uang palsu?"

Manajerku bahkan tidak terlihat terkejut.

"Aku nggak melakukannya."

"Maksudnya?"

"Kemarin, ibumu datang bersama dua pengawal. Dia mengambil gajimu dan meninggalkan amplop itu sebagai gantinya."

Lututku terasa lemas ketika mendengarnya.

"Gajiku diberikan kepadanya?"

"Ibumu itu istri kepala Keluarga Mahendra," katanya dengan bibir mengerucut pahit. "Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan?"

Aku berpegangan pada meja kasir untuk menjaga keseimbangan.

"Katanya, kamu perlu belajar kalau mencari uang sendiri itu nggak semudah yang kamu kira," lanjutnya. "Dan kalau kamu mengalami masalah, kamu akan ingat siapa yang seharusnya kamu andalkan."

Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan kafe. Aku sudah tidak punya uang untuk naik taksi lagi.

Dan memilih untuk naik kereta ke arah utara, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus menuju rumah. Dari sana, aku berjalan hampir satu setengah kilometer di bawah terik matahari siang.

Para pengawal menghentikanku di gerbang.

Salah satu dari mereka memperhatikan wajahku sebelum menelepon rumah utama untuk memastikan bahwa putri Keluarga Mahendra memang diizinkan untuk masuk.

Aku melihat Ibu sedang minum kopi di ruang santai.

"Apa Ibu mengambil gajiku?"

Ibu sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Kalau boleh jujur, dia malah tampak puas karena pelajaran yang diberikannya berhasil.

"Itu cuma uang palsu."

"Kamu nggak benar-benar berpikir kalau bekerja di kafe berarti kamu bisa menghidupi dirimu sendiri, kan? Ibu ingin kamu mengerti kalau tanpa perlindungan keluarga ini, kamu nggak punya apa-apa."

Ibu berjalan mendekat, ekspresinya melunak.

"Dengarkan Ibu, Nadira. Kalau kamu sedang dalam masalah, datang ke Ayah atau Ibu. Kalau kamu nggak bisa menghubungi kami, hubungi Elvano."

Seluruh tubuhku gemetar.

Apa dia benar-benar berpikir aku tidak pernah mencoba cara itu?

Ketika pemanas di apartemenku rusak pada bulan Januari, Ibu mengatakan bahwa apartemen itu sudah lolos pemeriksaan dan aku harus berhenti mencari alasan untuk pulang.

Kemudian, ketika demamku sangat tinggi sampai aku hampir tidak bisa berdiri, aku menelepon Arvin dan memohon agar dia datang. Dia malah menuduhku berpura-pura sakit hanya supaya aku bisa kembali ke kediaman Mahendra, lalu Arvin menutup teleponnya.

Saat listrik gedung padam di tengah malam, Elvano menyuruhku untuk mengunci pintu dan tetap tenang karena aku masih berada di wilayah kekuasaan Keluarga Mahendra. Setelah itu, dia berhenti membalas pesanku karena Keisha membutuhkan bantuannya untuk mengurus pendaftaran universitas Keisha.

Dan ketika seorang pria mabuk mulai menggedor pintu apartemenku, tak satu pun panggilanku yang dijawab.

Setiap kali aku berusaha menghubungi keluargaku, mereka selalu menemukan alasan bahwa sebenarnya aku tidak membutuhkan mereka.

"Kembalikan," kataku, suaraku bergetar. "Uang itu milikku. Aku bekerja untuk mendapatkannya."

Ayah masuk sebelum Ibu sempat menjawab. Suasana ruangan langsung berubah begitu dia muncul.

"Ada apa ini?"

"Nadira datang kemari dan berteriak hanya gara-gara gajinya," jawab Ibu.

Tatapan Ayah beralih kepadaku.

"Uang itu bukan masalahnya," katanya pelan. "Sikap nggak hormatmu yang menjadi masalah."

"Aku bekerja buat mendapatkan uang itu."

"Dan sekarang kamu berdiri di rumah Keluarga Mahendra, menuduh ibumu."

Ayah tidak perlu meninggikan suaranya. Banyak orang sudah tahu apa akibatnya jika mengabaikan nada bicaranya yang seperti itu.

Namun, untuk sesaat, amarahku lebih besar daripada rasa takutku.

"Ini juga rumahku."

"Kalau begitu, bersikaplah seperti anggota Keluarga Mahendra," katanya dingin. "Dan tunjukkan rasa hormat ke ibumu."

Tatapan Ayah mengeras. Kekecewaan terpancar jelas dari matanya.

"Kamu berbohong soal adikmu yang mengambil uangmu, lalu bekerja di kafe hanya untuk membuat kami terlihat kejam. Ibumu sedang mencoba memberimu pelajaran, bukan menghukummu. Seharusnya kamu berterima kasih, bukan malah berdiri di sini dan meninggikan suara."

Apa pun yang kukatakan tidak akan membuat mereka langsung mempercayaiku. Mereka sudah memutuskan bahwa Keisha tidak bersalah dan akulah yang berbohong.

Tapi aku membutuhkan uang itu. Aku bahkan hampir tidak punya cukup uang untuk membeli makanan.

Aku berjalan mendekat dan meraih amplop yang ada di tangan Ibu.

Sebelum jemariku sempat menyentuhnya, Ayah berdiri di antara kami. Kemarahan cukup tampak di wajahnya.

"Cukup!"

Dia memberi isyarat kepada pengawal di dekat pintu.

"Antar Nadira keluar. Dia boleh kembali kalau sudah siap meminta maaf."

Ayah hanya berdiri, ketika pengawal itu mencengkeram lenganku dan menyeretku keluar dari ruangan.

Saat akhirnya mereka melepaskanku, mataku mulai panas. Air mata mulai menggenang di mataku.

Pintu utama terbuka sebelum aku sempat mencapainya.

Arvin, Elvano, dan Keisha baru saja kembali.

Keisha mengangkat sebuah jepit rambut berlian yang berkilauan di bawah lampu kristal.

"Aku masih nggak percaya benda sekecil ini harganya 480 juta."

Arvin tertawa. "Kalau kamu suka, harga segitu nggak penting."

"Lagipula …." tambah Elvano. "Ibu sudah memberikan kartu untuk kebutuhan pakaian kuliahmu. Seharusnya kamu menggunakannya."

480 juta.

Lebih banyak daripada yang bisa kuhasilkan dalam berbulan-bulan bekerja di kafe.

Bagi Keisha, itu hanya aksesori rambut yang bahkan belum yakin ingin dia simpan.

Namun untukku, satu gaji saja telah diubah menjadi sebuah pelajaran tentang kepatuhan.

Aku bersembunyi di balik salah satu pilar marmer sebelum mereka menyadari keberadaanku, lalu menyelinap keluar melalui pintu belakang untuk para karyawan.

Aku baru menangis setelah sampai di jalan.

Sejak hari itu, tidak satu pun dari mereka menghubungiku.

Mereka masih menungguku untuk meminta maaf lebih dulu.

Aku memanfaatkan keheningan itu untuk pergi.

Institut Teknologi Astera telah memberiku kesempatan untuk mengikuti Program Riset Musim Panas lebih awal, sehingga aku bisa datang sebelum mahasiswa baru lainnya.

Malam sebelum penerbanganku, aku mengemas barang-barang terakhir yang kumiliki, lalu membuat pasta dan sepotong kecil kue cokelat untuk diriku sendiri.

Kemudian, untuk terakhir kalinya, aku menempatkan keempat figur LEGO itu mengelilingi meja.

"Kurasa ini pesta perpisahanku," kataku kepada mereka.

"Dan makan malam terakhir kita."

Wajah-wajah yang dilukis pada keempat figur itu tersenyum kepadaku.

Aku ikut tersenyum.

"Kalian nggak perlu menemaniku lagi."

Mulai sekarang, aku akan berjalan sendirian.

…

Keesokan paginya, aku naik pesawat menuju Kota Astera.

Saat pesawat bersiap untuk lepas landas, grup chat Keluarga Mahendra tiba-tiba ramai.

Ibu mengirim foto Keisha mengenakan jas Universitas Adikara.

[Keisha resmi masuk di Universitas Adikara! Nadira, kamu menerima tawaran dari Universitas Wijaya, kan? Kita akan mengadakan makan malam bersama besok.]

Arvin langsung membalas.

[Berhenti merajuk sebelum besok. Seluruh keluarga harus hadir.]

Kemudian Elvano mengirimiku pesan pribadi.

[Aku akan menjemputmu.]

Aku menatap pesan-pesan itu cukup lama.

Kemudian aku keluar dari grup chat dan memblokir mereka semua.

Pesawat mulai meninggalkan landasan, dan Kota Ravena menghilang di balik awan.

Tak satu pun dari mereka tahu bahwa aku sudah meninggalkan tempat ini lebih dulu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 9

    Tiga hari setelah Elvano meninggalkan Kota Astera, skandal Keluarga Mahendra akhirnya terungkap.Ravena News tidak pernah menayangkan wawancara mereka di Kediaman Mahendra.Sebaliknya, salah satu kru berita mulai mempertanyakan bagaimana mungkin salah satu siswa paling berprestasi di Negara Ardhana bisa menghilang tanpa keluarganya sendiri tahu ke mana dia pergi.Mantan teman-teman sekolahku pun mulai berbicara.Lalu, manajer kafe mengakui bahwa Ibu pernah mengambil gajiku dan menggantinya dengan uang palsu.Pengelola gedung juga mengonfirmasi bahwa aku telah tinggal sendirian selama setahun di salah satu gedung milik Keluarga Mahendra.Berita itu pun menyebar ke seluruh Kota Ravena.[Si Kembar Mahendra yang Dilupakan: Jenius Nasional Tinggal Sendirian Tanpa Perlindungan, Sementara Keluarganya Merayakan Saudarinya][Menang Olimpiade Sains, Menolak Universitas Cakrawala, dan Meninggalkan Keluarganya Demi Institut Teknologi Astera]Aku melihat berita itu saat sedang makan pizza bersama t

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 8

    Dua minggu kemudian, Elvano menemukanku di Universitas Institut Astera.Aku baru saja keluar dari perpustakaan ketika melihatnya berdiri di kaki tangga.Elvano terlihat kelelahan. Pakaiannya memang rapi, tetapi bayangan gelap di bawah matanya menunjukkan betapa sedikitnya waktu yang dia habiskan untuk tidur.Begitu melihatku, wajahnya langsung dipenuhi kelegaan."Nad."Dia buru-buru menghampiriku."Aku sudah mencarimu ke mana-mana."Aku berhenti, tetapi tidak berlari ke dalam pelukannya.Dulu, semarah apa pun aku kepadanya, melihat wajahnya saja sudah cukup untuk meluluhkan hatiku.Sekarang, aku hanya bertanya, "Kamu mau apa?"Elvano terdiam sesaat.Lalu jemarinya semakin erat menggenggam sesuatu di tangannya."Aku salah," katanya pelan. "Seharusnya kita berada di Universitas Cakrawala bersama."Dia mengulurkan kartu pos yang dulu kusobek di apartemen.Seseorang telah menyatukan kedua potongannya dengan hati-hati menggunakan selotip, tetapi bekas sobekannya masih membelah gambar menara

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 7

    Hujan membasahi kaca jendela ketika pesawatku mendarat di bandara Kota Astera.Tak ada seorang pun yang menungguku di luar area pengambilan bagasi.Selama bertahun-tahun, hal seperti itu pasti akan menyakitiku.Sebagian besar hidupku kuhabiskan dengan menunggu, menunggu Ibu untuk menepati janjinya, menunggu Ayah memandangku dengan bangga, menunggu Arvin memperlakukanku seperti seorang adik, dan menunggu Elvano kembali menjadi laki-laki yang dulu pernah berjanji akan menungguku di Universitas Cakrawala.Namun sekarang, untuk pertama kalinya, sendirian justru terasa seperti sebuah kebebasan bagiku.Begitu menyalakan ponsel, layarku langsung dipenuhi panggilan tak terjawab.Aku mengabaikan semuanya dan memesan kendaraan, lalu memberikan alamat Institut Teknologi Astera kepada supir taksi.Program riset musim panas universitas sudah menyiapkan tempat tinggalku di kampus. Begitu tiba, seorang koordinator pascasarjana sudah menungguku di lobi dengan membawa kartu identitas dan kunci kamar."

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 6

    Sepuluh menit kemudian, kru berita dipersilakan masuk ke ruang tamu.Di mata publik, Keluarga Mahendra dikenal sebagai pengusaha yang sangat berkuasa. Namun di dalam rumah ini, tak seorang pun boleh melupakan siapa dirinya sebenarnya.Perempuan yang memimpin kru itu memperkenalkan diri sebagai reporter pendidikan dari Ravena News. Seorang kamerawan dan produser berdiri di belakangnya, keduanya tampak jelas tidak nyaman berada di bawah pengawasan para pengawal."Kami ke sini untuk mencari Nona Nadira Mahendra," kata reporter itu. "Apakah dia ada di sini?"Ekspresi Ibu langsung bingung. "Untuk apa kalian mencari Nadira?"Reporter itu melirik ke sekeliling ruangan, tampak terkejut mendengar pertanyaan tersebut."Bukankah kalian sudah mendengar tentang beritanya?"Mata Ayah menyipit. "Mendengar apa?""Nadira menjadi juara pertama dalam Olimpiade Sains Nasional Muda," kata reporter itu.Tak seorang pun di ruangan yang bergerak."Dia juga meraih medali emas untuk Tim Nasional Negara Ardhana

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 5

    Kediaman Mahendra sedang sibuk dengan berbagai persiapan.Paket penyambutan mahasiswa Universitas Adikara milik Keisha memenuhi bagian tengah meja ruang keluarga. Map biru dan emas itu terbuka di samping bendera kampus, ada buku panduan mahasiswa baru, dan surat penerimaan yang sudah dibaca Ibu setidaknya enam kali."Keisha kita akan kuliah di Universitas Adikara," katanya, tak mampu menyembunyikan senyumnya. "Semua tutor dan konsultan selama ini, ternyata sepadan dengan hasilnya."Ayah duduk di seberangnya, memeriksa daftar tamu di tabletnya."Kita punya dua putri yang akan berangkat kuliah. Keluarga kita harus merayakannya dengan semestinya."Dia mulai menyebut nama para tokoh berpengaruh, keluarga sekutu, dan pejabat yang akan diundang."Kita buka ballroom saja," usul Ibu. "Kedua anak kita bisa masuk bersama."Arvin menggeleng sambil menggulir daftar kontaknya."Ballroom tidak akan cukup besar kalau kita mengundang semua keluarga Kota Ravena. Lebih baik gunakan halaman yang ada di s

  • Simpan Mahkotamu, Aku Memilih ITA   Bab 4

    Malam itu, aku kembali ke apartemen dengan keadaan perut kosong, sementara uang palsu tadi masih kusimpan di dalam tas.…Keesokan paginya, aku langsung pergi ke kafe. Begitu masuk, aku menghampiri meja kasir dan melemparkan amplop itu ke atasnya."Kenapa Anda membayarku dengan uang palsu?"Manajerku bahkan tidak terlihat terkejut."Aku nggak melakukannya.""Maksudnya?""Kemarin, ibumu datang bersama dua pengawal. Dia mengambil gajimu dan meninggalkan amplop itu sebagai gantinya."Lututku terasa lemas ketika mendengarnya."Gajiku diberikan kepadanya?""Ibumu itu istri kepala Keluarga Mahendra," katanya dengan bibir mengerucut pahit. "Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan?"Aku berpegangan pada meja kasir untuk menjaga keseimbangan."Katanya, kamu perlu belajar kalau mencari uang sendiri itu nggak semudah yang kamu kira," lanjutnya. "Dan kalau kamu mengalami masalah, kamu akan ingat siapa yang seharusnya kamu andalkan."Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya berbalik dan pergi meningg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status