Share

101

Penulis: semangkukramen
last update Tanggal publikasi: 2026-04-04 14:49:51

Olivia tidak membuang waktu.

Begitu jalur itu terbuka, ia langsung masuk lebih dalam. Jarinya bergerak cepat, membuka satu demi satu lapisan yang sebelumnya tertutup rapat.

Tampilan di layar berubah.

Tidak lagi sekadar data acak, tapi mulai membentuk pola yang bisa dibaca.

“Device-nya ke-detect,” ucapnya singkat.

Devan berdiri di sampingnya, memperhatikan tanpa banyak bicara. Tatapannya tajam, mengikuti pergerakan di layar meski tidak sepenuhnya

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Simpanan Dosen Tampan   107

    Pagi datang tanpa banyak suara. Kamar Marvin yang kedap suara itu begitu hening, hanya suara jam dinding yang bersahutan dengan air conditioner yang menyala.Felly sudah bangun terlebih dahulu dan disusul Marvin kemudian. Mereka bebersih lalu langsung turun ke bawah di mana Bu Dyas tengah duduk manis dengan secangkir teh di ruang makan.Langkah kaki terdengar dari arah tangga.Marvin muncul lebih dulu dan disusul Felly di belakangnya.“Pagi, Ma?” sapa Marvin dan Felly bersamaan.Bu Dyas hanya tersenyum dan mengangguk.Cahaya masuk dari jendela ruang makan, jatuh tipis di atas meja yang sudah tertata rapi. Tidak ada yang benar-benar berubah dari rumah itu, tapi suasananya masih menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya hilang.Televisi menyala sejak tadi.Suaranya tidak keras, hanya cukup untuk mengisi ruang yang terlalu tenang.“—rekaman suara yang beredar sejak semalam memperlihatkan d

  • Simpanan Dosen Tampan   106

    Ciuman itu bertahan sedikit lebih lama.Masih lembut di awal, tapi tidak lagi sepenuhnya tenang. Ada tekanan kecil yang mulai terasa, dari cara Marvin menahan lebih dekat, dari jeda napas yang tidak lagi sama seperti sebelumnya.Tangan Felly yang tadi diam di sisi tubuhnya bergerak naik. Menyentuh bahu Marvin, lalu bertahan di sana, seolah memastikan jarak itu tidak kembali terbuka.Marvin sempat menarik diri sepersekian detik. Ia ingin melihat wajah sang istri yang begitu dirindukannya meski hanya berpisah sekian jam saja.Wajah Felly masih dekat, napasnya belum stabil. Matanya terbuka sedikit sebelum akhirnya menutup lagi, tanpa ada tanda ingin menjauh.Tangannya justru menguat di bahu Marvin dan menariknya kembali untuk mendekat.Ciuman berikutnya datang lebih dalam. Tidak tergesa namun tensinya jelas berbeda.Marvin menggeser langkah tanpa memutus jarak itu. Satu langkah mundur, lalu satu lagi, sampai punggung Felly hampir menyentuh tepi ranjang. Gerakannya berhenti sebentar di sa

  • Simpanan Dosen Tampan   105

    Lampu teras masih menyala saat mobil itu berhenti di depan rumah.Tidak ada suara lain selain mesin yang baru saja dimatikan dan desir angin malam yang lewat pelan. Rumah itu tampak dingin seperti biasanya, tapi entah kenapa terasa berbeda. Rasanya kali ini lebih sunyi dan berat. Seolah ada yang membuatnya begitu.Pintu tiba-tiba terbuka. Bu Dyas berdiri di sana dengan Felly di sampingnya.Keduanya tidak mendekat lebih dulu. Seolah ada sesuatu yang menahan langkah mereka. Tapi ini jelas bukan keraguan, tapi karena terlalu banyak hal yang ingin dipastikan dalam satu waktu.Marvin keluar dari mobil.Langkahnya tidak terburu-buru, mantap mendekat pada dua orang yang ia sayangi tanpa keraguan. Ia berjalan melewati halaman yang jaraknya terasa lebih panjang dari biasanya.Wajahnya lelah. Penyebabnya sudah jelas karena panjangnya malam yang harus ia lewati, juga karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.Ia berhenti beberapa langkah dari pintu. Menatap dua orang yang

  • Simpanan Dosen Tampan   104

    Jauh dari hiruk pikuk dunia, basecamp bar Devan tampak sunyi.Ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan dunia di luar sana.Tidak ada teriakan kepanikan. Hanya suara halus dari keyboard yang terus bergerak tanpa jeda.Di layar, potongan video yang sama muncul berulang—versi yang sudah dipelintir, dipotong, dan disebarkan tanpa konteks.Komentar mengalir deras di sisi lain layar dengan tajam dan liar.Devan berdiri di samping Olivia, tangannya bersedekap, tatapannya berpindah dari satu layar ke layar lain.“Sudah mulai liar,” katanya akhirnya.Olivia tidak langsung menjawab. Jemarinya masih bergerak, membuka satu per satu akses yang sebelumnya ia kunci sendiri.“Biarkan saja,” jawabnya tenang. “Sebentar lagi berhenti sendiri.”Devan menghembuskan napas pelan, lalu menoleh ke arah layar utama saat Olivia membuka satu folder yang berbeda dari yang lain.Tidak ada label mencolok. Hanya deretan file mentah yang belum disentuh sama sekali.“Aslinya?” tanya Devan.Olivia mengangguk tipis.B

  • Simpanan Dosen Tampan   103

    Suara benturan keras memecah udara malam.Tubuh Intan menghantam atap mobil yang terparkir tepat di bawah balkon. Besi itu langsung penyok ke dalam, kaca depan retak dalam satu hentakan, pecah menyebar seperti jaring laba-laba.Dampaknya tidak berhenti di situ.Tubuhnya sempat terpental sebelum akhirnya jatuh miring di atas kap mobil, tak lagi dalam posisi yang wajar. Salah satu lengannya tertekuk di bawah tubuhnya dengan sudut yang tidak seharusnya, sementara rambutnya terurai berantakan, menutupi sebagian wajah.Darah mulai merembes.Dari pelipis yang terbentur keras, dari sudut bibir yang sedikit terbuka, lalu mengalir semakin deras, mengikuti lekuk kap mobil sebelum menetes ke aspal di bawahnya.Merahnya kontras dengan warna cat yang kini ringsek.Semuanya terjadi begitu cepat… sampai terasa tidak nyata.Tidak ada gerakan ataupun suara yang menginterupsi kejadian itu. Hanya tersisa benturan yang masih menggema di sekitar parkiran.Orang-orang dia membeku, memproses apa yang terjad

  • Simpanan Dosen Tampan   102

    Kembali ke kamar hotel di mana Intan berada.Perempuan itu membaca ulang pesan terakhir dari Felly.Kalimatnya rapi dan tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menerima sesuatu seperti itu.Sudut bibir Intan terangkat tipis, tapi tidak sampai membentuk senyum.“Sok kuat,” gumamnya pelan.Jemarinya masih menggenggam ponsel, tapi perhatiannya perlahan bergeser ke layar laptop di depannya. Sebuah hitung mundur berjalan di sana—detik demi detik berjalan pelan seirama dengan jarum jam yang terpajang di dinding.Ia meletakkan ponselnya, lalu meraih gelas wine di sampingnya.Cairan merah itu berkilau saat ia memutarnya pelan, sebelum akhirnya ia menyesapnya dengan santai.Kali ini, senyum puasnya benar-benar muncul.“Lihat saja nanti,” bisiknya, seolah berbicara langsung pada Felly. “Seberapa kuat kamu bisa bertahan.”Angka di layar terus bergerak turun.00:0

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status