MasukPagi datang tanpa banyak suara. Kamar Marvin yang kedap suara itu begitu hening, hanya suara jam dinding yang bersahutan dengan air conditioner yang menyala.
Felly sudah bangun terlebih dahulu dan disusul Marvin kemudian. Mereka bebersih lalu langsung turun ke bawah di mana Bu Dyas tengah duduk manis dengan secangkir teh di ruang makan.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Marvin muncul lebih dulu dan disusul Felly di belakangnya.
“Pagi, Ma?&rdqu
Ruang rapat itu sudah panas sebelum Marvin datang.Beberapa suara saling tumpang tindih, tidak benar-benar meninggi, tapi cukup tajam untuk menunjukkan arah pembicaraan yang tidak lagi rapi. Nama Marvin beberapa kali disebut, diselipkan di antara angka, laporan, dan kekhawatiran yang berulang.Pintu terbuka. Suara di dalam tidak langsung berhenti, tapi jelas mengecil seiring dengan langkah Marvin yang tenang dan tidak terburu-buru.Marvin tidak langsung duduk. Hanya berdiri di ujung meja, matanya menyapu satu per satu wajah yang ada di ruangan itu. Beberapa orang langsung menghindari tatapan seperti habis membuat dosa besar.Yang lain tetap bertahan, tapi tidak lagi seagresif beberapa detik sebelumnya.“Lanjut,” ucap Marvin.Singkat. Nadanya tidak meninggi sedikitpun, tapi cukup untuk memotong sisa percakapan yang tadi belum selesai.Seseorang di sisi kanan membuka kembali dokumen di depannya, mencoba melanjutkan pen
Pagi datang tanpa banyak suara. Kamar Marvin yang kedap suara itu begitu hening, hanya suara jam dinding yang bersahutan dengan air conditioner yang menyala.Felly sudah bangun terlebih dahulu dan disusul Marvin kemudian. Mereka bebersih lalu langsung turun ke bawah di mana Bu Dyas tengah duduk manis dengan secangkir teh di ruang makan.Langkah kaki terdengar dari arah tangga.Marvin muncul lebih dulu dan disusul Felly di belakangnya.“Pagi, Ma?” sapa Marvin dan Felly bersamaan.Bu Dyas hanya tersenyum dan mengangguk.Cahaya masuk dari jendela ruang makan, jatuh tipis di atas meja yang sudah tertata rapi. Tidak ada yang benar-benar berubah dari rumah itu, tapi suasananya masih menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya hilang.Televisi menyala sejak tadi.Suaranya tidak keras, hanya cukup untuk mengisi ruang yang terlalu tenang.“—rekaman suara yang beredar sejak semalam memperlihatkan d
Ciuman itu bertahan sedikit lebih lama.Masih lembut di awal, tapi tidak lagi sepenuhnya tenang. Ada tekanan kecil yang mulai terasa, dari cara Marvin menahan lebih dekat, dari jeda napas yang tidak lagi sama seperti sebelumnya.Tangan Felly yang tadi diam di sisi tubuhnya bergerak naik. Menyentuh bahu Marvin, lalu bertahan di sana, seolah memastikan jarak itu tidak kembali terbuka.Marvin sempat menarik diri sepersekian detik. Ia ingin melihat wajah sang istri yang begitu dirindukannya meski hanya berpisah sekian jam saja.Wajah Felly masih dekat, napasnya belum stabil. Matanya terbuka sedikit sebelum akhirnya menutup lagi, tanpa ada tanda ingin menjauh.Tangannya justru menguat di bahu Marvin dan menariknya kembali untuk mendekat.Ciuman berikutnya datang lebih dalam. Tidak tergesa namun tensinya jelas berbeda.Marvin menggeser langkah tanpa memutus jarak itu. Satu langkah mundur, lalu satu lagi, sampai punggung Felly hampir menyentuh tepi ranjang. Gerakannya berhenti sebentar di sa
Lampu teras masih menyala saat mobil itu berhenti di depan rumah.Tidak ada suara lain selain mesin yang baru saja dimatikan dan desir angin malam yang lewat pelan. Rumah itu tampak dingin seperti biasanya, tapi entah kenapa terasa berbeda. Rasanya kali ini lebih sunyi dan berat. Seolah ada yang membuatnya begitu.Pintu tiba-tiba terbuka. Bu Dyas berdiri di sana dengan Felly di sampingnya.Keduanya tidak mendekat lebih dulu. Seolah ada sesuatu yang menahan langkah mereka. Tapi ini jelas bukan keraguan, tapi karena terlalu banyak hal yang ingin dipastikan dalam satu waktu.Marvin keluar dari mobil.Langkahnya tidak terburu-buru, mantap mendekat pada dua orang yang ia sayangi tanpa keraguan. Ia berjalan melewati halaman yang jaraknya terasa lebih panjang dari biasanya.Wajahnya lelah. Penyebabnya sudah jelas karena panjangnya malam yang harus ia lewati, juga karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.Ia berhenti beberapa langkah dari pintu. Menatap dua orang yang
Jauh dari hiruk pikuk dunia, basecamp bar Devan tampak sunyi.Ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan dunia di luar sana.Tidak ada teriakan kepanikan. Hanya suara halus dari keyboard yang terus bergerak tanpa jeda.Di layar, potongan video yang sama muncul berulang—versi yang sudah dipelintir, dipotong, dan disebarkan tanpa konteks.Komentar mengalir deras di sisi lain layar dengan tajam dan liar.Devan berdiri di samping Olivia, tangannya bersedekap, tatapannya berpindah dari satu layar ke layar lain.“Sudah mulai liar,” katanya akhirnya.Olivia tidak langsung menjawab. Jemarinya masih bergerak, membuka satu per satu akses yang sebelumnya ia kunci sendiri.“Biarkan saja,” jawabnya tenang. “Sebentar lagi berhenti sendiri.”Devan menghembuskan napas pelan, lalu menoleh ke arah layar utama saat Olivia membuka satu folder yang berbeda dari yang lain.Tidak ada label mencolok. Hanya deretan file mentah yang belum disentuh sama sekali.“Aslinya?” tanya Devan.Olivia mengangguk tipis.B
Suara benturan keras memecah udara malam.Tubuh Intan menghantam atap mobil yang terparkir tepat di bawah balkon. Besi itu langsung penyok ke dalam, kaca depan retak dalam satu hentakan, pecah menyebar seperti jaring laba-laba.Dampaknya tidak berhenti di situ.Tubuhnya sempat terpental sebelum akhirnya jatuh miring di atas kap mobil, tak lagi dalam posisi yang wajar. Salah satu lengannya tertekuk di bawah tubuhnya dengan sudut yang tidak seharusnya, sementara rambutnya terurai berantakan, menutupi sebagian wajah.Darah mulai merembes.Dari pelipis yang terbentur keras, dari sudut bibir yang sedikit terbuka, lalu mengalir semakin deras, mengikuti lekuk kap mobil sebelum menetes ke aspal di bawahnya.Merahnya kontras dengan warna cat yang kini ringsek.Semuanya terjadi begitu cepat… sampai terasa tidak nyata.Tidak ada gerakan ataupun suara yang menginterupsi kejadian itu. Hanya tersisa benturan yang masih menggema di sekitar parkiran.Orang-orang dia membeku, memproses apa yang terjad







