INICIAR SESIÓNTawa itu belum sepenuhnya reda saat Olivia sudah kembali bersandar, matanya masih tertuju ke Marvin dengan ekspresi setengah tidak percaya.“Serius deh,” gumamnya, “ini pertama kalinya aku melihat orang mengajak istrinya honeymoon tapi tidak tahu mau pergi ke mana.”Felly menoleh cepat ke arah Olivia, lalu beralih ke Marvin, ‘Honeymoon?’ batinnya. Wajahnya memanas.“Spontan,” jawab Marvin singkat.“Spontan katanya,” ulang Devan sambil terkekeh pelan. “Keterlaluan dinginnya. Felly… seumur hidup lama. Tidak ingin berubah pikiran mumpung belum terlalu jauh?” tanya Devan main-main yang dihadiahi pelototan tajam dari Marvin.Oliver menggeleng kecil, tapi sudut bibirnya ikut terangkat. “Ya sudah, kalau begitu kita yang tentukan.”“Setuju,” sahut Olivia cepat. Ia langsung mengubah posisi duduknya, lebih tegak, seperti baru saja mendapat misi penting. “Oke, mulai.”Felly yang sejak tadi hanya mendengarkan kini ikut memperhatikan, matanya bergantian melihat mereka satu per satu.“Yang dekat du
Sore itu berjalan lebih pelan.Cahaya matahari mulai turun, masuk dari sela tirai dan jatuh di lantai ruang tamu. Suasana apartemen masih tenang, hanya diisi suara kecil dari aktivitas yang belum sepenuhnya selesai.Sampai bel pintu berbunyi nyaring, memecah keheningan yang sempat melanda di antara keduanya.Felly yang paling dekat dengan pintu menoleh lebih dulu. Tangannya berhenti di atas koper yang belum sepenuhnya tertutup.“Siapa, ya…” gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri.Marvin tidak langsung bergerak. Tatapannya hanya sempat terangkat sekilas, lalu kembali turun ke layar di tangannya.“Lihat saja,” jawabnya singkat.Felly berdiri, melangkah ke arah pintu tanpa terburu-buru. Saat gagang pintu diputar dan daun pintu dibuka—“NAH, ini dia!”Suara itu langsung masuk lebih dulu sebelum sosoknya.Olivia berdiri di depan, ekspresinya hidup seperti biasa. Di belakangnya, Kevin, Devan, dan Oliver menyusul dengan ritme yang lebih santai.“Masuk saja ya,” lanjut Olivia tanpa menunggu ja
Ruang rapat itu sudah panas sebelum Marvin datang.Beberapa suara saling tumpang tindih, tidak benar-benar meninggi, tapi cukup tajam untuk menunjukkan arah pembicaraan yang tidak lagi rapi. Nama Marvin beberapa kali disebut, diselipkan di antara angka, laporan, dan kekhawatiran yang berulang.Pintu terbuka. Suara di dalam tidak langsung berhenti, tapi jelas mengecil seiring dengan langkah Marvin yang tenang dan tidak terburu-buru.Marvin tidak langsung duduk. Hanya berdiri di ujung meja, matanya menyapu satu per satu wajah yang ada di ruangan itu. Beberapa orang langsung menghindari tatapan seperti habis membuat dosa besar.Yang lain tetap bertahan, tapi tidak lagi seagresif beberapa detik sebelumnya.“Lanjut,” ucap Marvin.Singkat. Nadanya tidak meninggi sedikitpun, tapi cukup untuk memotong sisa percakapan yang tadi belum selesai.Seseorang di sisi kanan membuka kembali dokumen di depannya, mencoba melanjutkan pen
Pagi datang tanpa banyak suara. Kamar Marvin yang kedap suara itu begitu hening, hanya suara jam dinding yang bersahutan dengan air conditioner yang menyala.Felly sudah bangun terlebih dahulu dan disusul Marvin kemudian. Mereka bebersih lalu langsung turun ke bawah di mana Bu Dyas tengah duduk manis dengan secangkir teh di ruang makan.Langkah kaki terdengar dari arah tangga.Marvin muncul lebih dulu dan disusul Felly di belakangnya.“Pagi, Ma?” sapa Marvin dan Felly bersamaan.Bu Dyas hanya tersenyum dan mengangguk.Cahaya masuk dari jendela ruang makan, jatuh tipis di atas meja yang sudah tertata rapi. Tidak ada yang benar-benar berubah dari rumah itu, tapi suasananya masih menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya hilang.Televisi menyala sejak tadi.Suaranya tidak keras, hanya cukup untuk mengisi ruang yang terlalu tenang.“—rekaman suara yang beredar sejak semalam memperlihatkan d
Ciuman itu bertahan sedikit lebih lama.Masih lembut di awal, tapi tidak lagi sepenuhnya tenang. Ada tekanan kecil yang mulai terasa, dari cara Marvin menahan lebih dekat, dari jeda napas yang tidak lagi sama seperti sebelumnya.Tangan Felly yang tadi diam di sisi tubuhnya bergerak naik. Menyentuh bahu Marvin, lalu bertahan di sana, seolah memastikan jarak itu tidak kembali terbuka.Marvin sempat menarik diri sepersekian detik. Ia ingin melihat wajah sang istri yang begitu dirindukannya meski hanya berpisah sekian jam saja.Wajah Felly masih dekat, napasnya belum stabil. Matanya terbuka sedikit sebelum akhirnya menutup lagi, tanpa ada tanda ingin menjauh.Tangannya justru menguat di bahu Marvin dan menariknya kembali untuk mendekat.Ciuman berikutnya datang lebih dalam. Tidak tergesa namun tensinya jelas berbeda.Marvin menggeser langkah tanpa memutus jarak itu. Satu langkah mundur, lalu satu lagi, sampai punggung Felly hampir menyentuh tepi ranjang. Gerakannya berhenti sebentar di sa
Lampu teras masih menyala saat mobil itu berhenti di depan rumah.Tidak ada suara lain selain mesin yang baru saja dimatikan dan desir angin malam yang lewat pelan. Rumah itu tampak dingin seperti biasanya, tapi entah kenapa terasa berbeda. Rasanya kali ini lebih sunyi dan berat. Seolah ada yang membuatnya begitu.Pintu tiba-tiba terbuka. Bu Dyas berdiri di sana dengan Felly di sampingnya.Keduanya tidak mendekat lebih dulu. Seolah ada sesuatu yang menahan langkah mereka. Tapi ini jelas bukan keraguan, tapi karena terlalu banyak hal yang ingin dipastikan dalam satu waktu.Marvin keluar dari mobil.Langkahnya tidak terburu-buru, mantap mendekat pada dua orang yang ia sayangi tanpa keraguan. Ia berjalan melewati halaman yang jaraknya terasa lebih panjang dari biasanya.Wajahnya lelah. Penyebabnya sudah jelas karena panjangnya malam yang harus ia lewati, juga karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.Ia berhenti beberapa langkah dari pintu. Menatap dua orang yang







