ログイン“Tutup pintunya,” titah Marvin begitu keduanya sampai di ruangan yang cukup luas itu.
Felly baru tahu pagi ini setelah mencari tau di internet tentang siapa itu Marvin Lee dan apa hubungannya dengan kampusnya.
Marvin Lee adalah pimpinan yayasan dari kampusnya, sebab itulah ia memiliki ruangan khusus yang berbeda dari dosen-dosen lain.
Dengan tangan bergetar, Felly menutup pintu kayu itu dengan pelan, ia berbalik takut-takut dan menunduk dalam-dalam.
Hal ini tak luput dari pandangan Marvin. Pria itu tersenyum tipis dan kemudian menekan pipinya menggunakan lidah dari dalam.
"Duduk," ujar Marvin yang kini sudah duduk terlebih dahulu di single sofa yang berada di depan meja kerjanya.
Felly meneguk ludahnya dengan kasar, lalu duduk di ujung sofa panjang sehingga jarak mereka cukup jauh.
"Kamu ke mana selama dua minggu ini tidak masuk?" tanya Marvin sembari menatap Felly dengan intens.
Yang ditatap begitu tentu saja salah tingkah bukan main. Felly gelisah sambil memilin jemari di atas pangkuan.
"S-saya ... ayah saya meninggal dua minggu lalu, Pak. Lalu, saya juga harus menunggu uang gaji saya turun untuk membayar biaya kuliah," jawab Felly yang memilih menunduk karena tak berdaya ditatap sedemikian intensnya.
Marvin mengernyitkan alisnya.
"Lalu?"
Pertanyaan Marvin yang menggantung itu membuat Felly akhirnya mendongakkan kepala dan memandang Marvin dengan bingung pula.
"L-lalu apa, Pak?" tanya Felly.
Marvin berdiri, mendekat pada Felly yang kian memepetkan duduknya pada sandaran sofa, tak berdaya kala dosennya itu berdiri tepat di hadapannya.
"Lalu kenapa kamu sudah berada di ranjang saya di masa berkabung kematian ayah kamu?"
Felly tertegun, diam menyerap makna kata yang dilontarkan Marvin. Rasa takut di dalam batinnya kini berubah menjadi sesak.
"Karena saya diculik oleh para debt collector itu untuk diserahkan ke bapak. Ya, terima kasih juga, berkat bapak malam itu, saya punya tenggat waktu lama sebelum melunasi seluruh hutangnya."
Akhirnya Felly memilih untuk jujur saja. Toh, Marvin mengenalinya sebagai orang yang tidur satu malam dengannya, tak bisa ia mangkir begitu saja.
"Berapa?" tanya Marvin lagi.
Felly mengerutkan alisnya sebal.
Dosennya satu ini, kalau mengajar di kelas cukup cerewet menjelaskan tentang sumber daya internasional, tapi ketika berdua dengannya kenapa selalu irit bicara?
"Apanya yang berapa, Pak?" tanya Felly. Ketakutan dan sesak di dadanya mulai pudar perlahan.
"Uang yang kamu butuhkan."
Alis Felly naik satu, menatap tak paham pada Marvin. "Maksud bapak apa, sih?"
"Hutang ayah kamu, berapa?"
"Kenapa bapak tiba-tiba menanyakan itu?"
Marvin menyilangkan tangannya di depan dada, tampak mengintimidasi dan memandang Felly dengan remeh. "Hanya ingin tau saja. Saya ingin menawarkan sebuah perjanjian dengan kamu."
"Perjanjian apa?"
"Saya lunasi hutang ayah kamu, tapi kamu jadi simpanan saya."
Uhuk!
Felly tersedak ludahnya sendiri.
Gila.
Dosen di depannya ini benar-benar gila!
"Bapak mau saya jadi selingkuhan bapak?"
Marvin menggeleng, "Simpanan bukan berarti selingkuhan. Saya belum punya istri atau pacar."
Aneh.
"Maksud bapak, saya akan dijadikan sebagai pelacur pribadi tanpa ikatan hubungan apapun, begitu?"
Marvin menatap Felly dengan tajam, seolah sebuah tatapan saja mampu merobek kepala Felly dengan brutalnya.
"Saya sudah menyederhanakan kata supaya terdengar lebih sopan, kamu sendiri yang membuatnya terlihat begitu buruk. Tapi, ya, anggap saja memang begitu."
Simpanan.
Sopan dari mana kata itu?
Felly kini berdiri, tingginya tak sampai sebahu Marvin, membuatnya begitu kerdil.
"Bapak gila." Adalah kata yang Felly ucapkan sebelum kemudian beranjak pergi dari ruangan yang luas itu.
Marvin tak mengejar, hanya menatap kepergian Felly dengan tatapan yang tak bisa diartikan begitu saja.
—
"Wahhh, benar-benar gila. Wahhh!!!" Felly menggerutu sepanjang jalan menuju kelas.
Sungguh, ia tak menyangka akan ditawari untuk menjadi simpanan seorang dosen sekaligus pemimpin yayasan dari kampusnya sekarang hanya karena pernah tidur sekali dengannya.
"Bejat sekali. Memang tidak ada pria yang bisa kita percaya di dunia ini. Wah, rasanya hidupku benar-benar gila."
Dalam kepala Felly, seseorang dengan jabatan sebagai pemimpin yayasan perguruan tinggi harusnya terdidik dan tidak melakukan perbuatan tercela.
Ya, memang benar bahwa laki-laki itu belum menikah ataupun memiliki kekasih, tapi tetap saja, menyewa dirinya untuk menjadi pelacur pribadi itu ... sangat amoral!
"Hei, kenapa kamu berbicara sendiri?" Gista datang dan merangkul bahu Felly yang tampak tak lemas itu.
"Gis, kalau aku menjadi simpanan orang, apa kamu masih mau berteman denganku?"
Gista melotot, "Felly, apa kamu kekurangan uang? Kamu boleh meminjamnya dariku. Kamu butuh berapa? Aku akan pinjamkan!"
Felly tersenyum, menatap Gista dan menggenggam tangannya. "Tidak banyak, hanya seratus juta saja."
Gista terdiam, wajahnya kosong.
Bibirnya terbuka dan menutup berkali-kali. Tampak tak tau harus bertindak seperti apa mendengar ucapan Felly.
Hal itu tampak begitu lucu di mata Felly yang membuatnya tertawa kecil.
Sesaat kemudian, Gista akhirnya bersuara dengan wajah yang sangat serius. "Felly, kalau begitu, aku akan bantu kamu cari om-om kaya supaya bisa memberimu seratus juta itu."
Akhirnya pecahlah tawa Felly hingga membuat keduanya menjadi pusat perhatian di kelas itu.
"Sudah, sudah. Sehabis ini sudah tidak ada mata kuliah lain, kan?" tanya Felly setelah berhasil menghentikan tawanya.
Gista mengangguk sambil merapikan mejanya. "Yup, dan aku akan keliling mall untuk mencarikanmu om-om kaya. Siapa tau aku bisa kecipratan uangnya, kan?"
Felly menggeplak lengan Gista lalu keduanya tertawa bersama.
Ya, hanya tertawa bersama, nyatanya apa yang mereka tertawakan sangat jauh berbeda.
Gista menertawakan tingkah Felly yang dianggap konyol, sementara Felly menertawakan hidupnya yang begitu lucu dan menyebalkan.
"Kamu mau ikut?" tanya Gista.
Felly menggeleng, "Aku mau kerja, lumayan dari pagi sampai malam, aku bisa dapat uang lemburan."
Gista yang memang tau Felly bekerja sambilan, hanya menghela nafas panjang. Kasihan sekali masa muda Felly tidak bisa dinikmati dengan bebas.
"Ya sudah, aku pulang duluan, ya?" Felly akhirnya berpamitan dengan Gista dan berlalu keluar.
Di jalan setapak taman kampus, ia berpapasan kembali dengan Marvin yang sepertinya hendak kembali mengajar di kelas lain, namun Felly abaikan itu. Ia bergegas pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
—
Felly turun dari angkot dan menyusuri gang sempit menuju rumahnya. Rumah peninggalan kedua orang tuanya, satu-satunya yang tersisa.
Seperti biasa, langkahnya disertai was-was. Ia benci bagaimana firasat buruk sering kali benar.
Dari kejauhan, terlihat kerumunan kecil di depan pagar hitam yang sudah ia kenal sejak kecil. Orang-orang berseragam rapi tampak memasang sesuatu. Jantung Felly mencelos. Ia mempercepat langkah.
Begitu tulisan besar di papan putih itu terbaca jelas, lututnya hampir goyah.
“RUMAH INI DISITA.”
—Tak hanya media sosial Marvin, pemburu berita dan gosip juga berlomba-lomba memuat berita mengenai pernikahan Marvin dan Felly. Headline dibuat semenarik mungkin agar pembaca tertarik untuk membuka laman mereka.“Portal berita yang kemarin membuat huru-hara, hari ini jadi penjilat,” ujar Oliver yang duduk manis di sofa apartemen Marvin.Di hari Minggu pagi ini semua orang berkumpul untuk merayakan hubungan Marvin dan Felly yang sudah resmi diumumkan ke publik. Meskipun Bu Dyas masih memilih untuk mengasingkan diri dengan alasan sibuk di kantor, tapi suasana ruangan itu tampak penuh.Olivia dan Felly tengah berkutat di dapur, sedang bereksperimen membuat cookies yang resepnya diperoleh Olivia dari platform online.Sementara itu para laki-laki membicarakan mengenai kondisi lapangan terkini yang melebihi ekspektasi.“Aku belum membuka sosial media,” aku Marvin dengan jujur.Kevin yang ada di sampingnya, menyodorkan ponselnya dan menyerahkan pada Marvin. “Baca sendiri. Untung kamu posti
Kehebohan tidak mereda dalam semalam. Sengaja dibiarkan merebak bak virus aneh yang mengguncang dunia maya—dan juga dunia nyata.Marvin dan Felly memilih untuk menutup diri. Menghabiskan waktu berdua di apartemen selama weekend setelah memposting foto-foto viral di kampus saat lalu.Tak ada yang mengganggu sebab semua orang tahu jika mereka berdua membutuhkan waktu keintiman agar kecanggungan yang disebabkan oleh insiden beberapa waktu lalu bisa menguap.Sosial media mereka juga dipegang oleh Olivia dan Devan. Mereka benar-benar menikmati hidup tanpa diganggu apapun.Felly baru saja selesai mandi ketika ponselnya, yang semalaman ia matikan, akhirnya ia hidupkan kembali.Awalnya hanya satu getaran, lalu disusul getaran lain yang menandakan pesan masuk bertumpuk begitu banyaknya.“Banyak sekali,” gumam Felly dengan sedikit merinding.Tanda merah di aplikasi whatsappnya sampa bertuliskan ‘99+’ saking banyaknya.Marvin menyusul dengan rambut basahnya. Ia memeluk Felly dari belakang dan me
Selesai.Hanya butuh satu kali tekan, dan semuanya selesai.Sesederhana itu.Tapi dunia mereka tidak akan pernah sama lagi setelah ini. Hanya dalam hitungan menit, ponsel Marvin bergetar tanpa henti.Notifikasi masuk bersahutan. Tak hanya ponsel Marvin, namun juga ponsel Felly yang mulai bergetar. Memunculkan notifikasi pesan dari berbagai kalangan.Ada yang dari teman sekelas, mahasiswa lain yang pernah diajar, bahkan dosen-dosen juga yang tidak berani mengkonfrontasi langsung pada Marvin.Felly menatap Marvin dengan ringisan kaku. “Ramai,” ucapnya retoris.Marvin terkekeh. Ia mengambil ponsel Felly dan membuka whatsappnya. Pesan tak berhenti datang, seperti memborbardir dengan instruksi serentak.Marvin mengarahkan tombolnya pada status whatsapp milik Felly. Kemudian mengarahkan jarinya untuk menambahkan foto dan mengambil foto dirinya dengan Felly yang ada di pelukannya. Ia membuat caption tanpa Felly ketahui.—Saya benar-benar suaminya Felly. Berhenti meneror istri saya. Dia keta
Marvin berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang halaman yayasan yang pagi itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Mahasiswa nampak berlalu-lalang, dosen berjalan dengan tergesa, semua terlihat normal di mana menyadarkan Marvin bahwa kejadian berdarah yang ia alami beberapa waktu lalu tak mempengaruhi kehidupan mereka sama sekali.Ia sudah kembali dari rumah sakit dua hari lalu dan langsung menyambangi tempat kerjanya. Sudah terlalu lama ditinggalkan, banyak berkas yang harus ia kerjakan setelah lama mendekam di ranjang pasien.Hari ini adalah hari penentuan, di mana ia akan mengumumkan pada dunia bahwa Felly adalah istrinya. Jantungnya berdegup tak nyaman, di kepalanya mengukir ribuan kata untuk mengungkapkan cintanya pada Felly.Ya, cinta.Marvin sudah mengakui itu kini tanpa ragu lagi.Di belakangnya, Felly duduk di sofa panjang, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Ia memperhatikan punggung Marvin yang tegap namun tampak rapuh bersamaan.“Mas, kamu yakin?” t
BRAK!“FELLY! KAMU VIRAL DAN TRENDING DI MANA-MANA!”Suara Gista nyaring dan panik. Ia bahkan tidak melihat siapa saja yang ada di ruangan itu. Matanya hanya tertuju pada Felly dan Marvin yang ada di ruangan itu.Gista berjalan cepat mendekat, nyaris tersandung kakinya sendiri.“Felly… ini… ini…” Tangannya terangkat, menunjukkan layar ponselnya.“Apa ini?” Felly mengernyit bingung.Ruangan yang tadinya dipenuhi dengan kesedihan dan tangisan, kini berubah menjadi tegang kembali.Felly membelalakkan matanya karena di layar itu ponsel Gista nampak ada foto Marvin yang tengah bercengkrama dengan Felly yang wajahnya tanpa sensor. Benar-benar dibuka tanpa izin seolah dirinya adalah objek umum yang pantas dipertontonkan. Dengan judul besar di atasnya:SEMPAT DIRUMORKAN GAY, PROFESOR DAN PEMIMPIN YAYASAN KHATULISTIWA TERLIBAT SKANDAL DENGAN MAHASISWI DI KAMPUSNYA?Ada pula judul dari redaksi lain:MAHASISWI SIMPANAN DOSEN TAMPAN DI KAMPUS SWASTA TERKUAK, BAGAIMANA REAKSI ISTRI SAH DOSEN ITU?
Air mata Marvin jatuh lagi. Kali ini lebih banyak. Bahunya bergetar hebat, tak sanggup lagi menahan tangisnya.“Aku… aku membenci Mama,” suaranya pecah.Pengakuan itu keluar begitu saja tanpa filter maupun pertahanan. Seolah sudah menunggu lama untuk dikeluarkan begitu saja.Bu Dyas tidak marah mendengar pengakuan itu. Pun merasa tak berhak untuk sekadar tersinggung. Ia hanya menatap putranya dengan mata seorang ibu yang teduh. “Aku tahu.”Dua kata itu lembut terdengar, dan justru itu yang membuat Marvin semakin hancur.“Aku tahu kamu membenciku, dan aku membiarkannya. Tapi kalau dengan itu kamu tetap hidup Mama akan memilih dibenci selamanya,” lanjut Bu Dyas dengan suara yang akhirnya retak. Marvin tak lagi menanggapi, tangisnya begitu pilu terdengar. Felly mengusap bahu Marvin dengan penuh kasih, lantas memberi jarak pada Bu Dyas yang mulai melangkah pelan.Sampai akhirnya ia berdiri tepat di hadapan putranya.Marvin masih menunduk. Tangannya mengepal di atas selimut, seolah ber







