LOGINTidak ada yang terburu-buru bergerak.Felly masih berada di dalam pelukan Marvin, menikmati rasa tenang yang sejak tadi memenuhi dadanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Italia, pikirannya benar-benar diam.Tidak memikirkan kampus.Tidak memikirkan masa depan.Tidak memikirkan jarak.Hanya saat ini yang berisi mereka berdua.Entah berapa lama mereka berdiri seperti itu sampai akhirnya Marvin menunduk sedikit, dagunya hampir menyentuh puncak kepala Felly.“Capek?” Marvin bertanya.Felly menggeleng pelan.“Nggak.”“Yakin?”“Nggak ngantuk juga.”Marvin mengangkat sebelah alis.“Kamu tahu sekarang jam berapa?”Felly berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mengangkat kepala untuk melihat wajah pria itu.“Jam berapa?”“Mas juga nggak tahu. Nggak pakai jam tangan. Ponsel juga kayaknya di meja tadi.”Felly terdiam. Lalu beberapa detik kemudian tertawa kecil.Marvin ikut tersenyum tipis.“Aku kira Mas tahu.”“Gampang banget nggak fokus kamu, ya.”Felly meringis kecil.“Ya habis Mas
“Mas?” panggilnya dengan lembut.“Hm?”“Nanti… aku hidup sendiri di sini, ya? Tanpa Mas, tanpa Gista, tanpa semuanya?”Marvin terdiam.Tatapannya tidak lepas dari wajah Felly.Beberapa menit yang lalu wanita itu masih berkeliling rumah dengan penuh antusias. Matanya berbinar melihat setiap sudut ruangan, membayangkan kehidupan baru yang mungkin menunggunya di kota ini.Namun sekarang ekspresi itu menghilang.Yang tersisa hanyalah keraguan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Marvin menyadari bahwa yang membuat Felly takut bukanlah kampus itu.Bukan pula Italia.Melainkan semua yang harus ia tinggalkan untuk sampai ke sana.Marvin masih belum menjawab.Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi dari sebelumnya, meski sebenarnya tidak ada yang berubah. Suara kecil dari luar jendela masih ada, hembusan angin sore masih bergerak pelan, cahaya keemasan masih jatuh di lantai kamar itu.Tapi bagi Felly, semuanya seperti sedikit menjauh.Tangannya yang tadi ringan kini terasa sedikit kaku d
Felly menatap penuh kekaguman pada seisi rumah yang kini ia pijaki. Lantai marmernya yang mengkilat, dan beberapa ornament khas Eropa yang megah.“Suka?” tanya Marvin yang memeluk Felly dari belakang dan melingkarkan kedua lengannya di perut wanita itu. Dagunya ia topang di bahu Felly di mana si empunya sedang sibuk menatap sekeliling rumah dengan takjub.“Woah… megah sekali. Mama itu… orang kaya banget, ya, Mas?”Marvin terkekeh. “Tidak mau sombong, tapi… ya… sekaya itu,” jawab Marvin.Felly menoleh, jarak wajahnya dengan Marvin tak sampai sejengkal, bahkan napas laki-laki itu menerpa wajahnya dengan hangat.Mata mereka bertatapan, lalu Marvin memajukan wajahnya dan mencium bibir Felly dengan singkat.“Malah melamun,” tegur Marvin saat Felly sadar akan keterkejutannya dicium Marvin.“Bukan melamun,” jawab Felly cepat. “Tidak menyangka saja mama punya properti semegah ini. Dan aku akan tinggal di sini kalau jadi kuliah di sini?”Marvin mengangguk, ia berdiri tegak dan memutar wajah is
Di dalam bilik kantin itu, suasana perlahan kembali stabil.Hanya tersisa Felly dan Marvin yang duduk berhadapan, dengan sisa makanan yang tidak lagi terlalu disentuh. Di luar kaca pembatas, kantin masih ramai seperti biasa, mahasiswa datang dan pergi dengan urusan masing-masing, tapi semua itu terasa seperti berada di dunia yang agak jauh.Di dalam bilik, justru sebaliknya.Heningnya tidak terasa kosong. Lebih seperti jeda yang nyaman setelah banyak hal yang terjadi sejak pagi. Felly duduk dengan posisi sedikit bersandar, matanya sesekali bergerak mengikuti aktivitas di luar, tapi tidak ada yang benar-benar ia kejar dengan pikirannya.Marvin tetap tenang di depannya, melanjutkan makan dengan ritme yang santai, sesekali berhenti sebentar tanpa menunjukkan terburu-buru. Tidak ada percakapan yang dipaksakan, tidak ada kebutuhan untuk mengisi ruang.Hanya suasana yang berjalan pelan, seolah dunia memberi mereka waktu sebentar untuk diam.Felly tidak langsung bicara. Ia hanya duduk sambil
Keesokan harinya…Setelah pertemuan dengan Miss Claudy, tur kampus mereka berlanjut ke beberapa gedung lain yang belum sempat dikunjungi sehari sebelumnya.Rebecca masih sesekali menjelaskan fasilitas kampus, sementara Elena lebih banyak melontarkan komentar-komentar spontan yang berhasil membuat Felly tertawa beberapa kali.Mereka melihat perpustakaan utama yang luas dengan beberapa lantai khusus untuk penelitian dan ruang diskusi. Setelah itu, mereka berkeliling ke student center, area organisasi mahasiswa, hingga asrama internasional yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung fakultas.Semakin banyak tempat yang ia lihat, semakin jelas pula gambaran kehidupan kampus itu di kepalanya.Tidak lagi terasa seperti tempat asing yang hanya ia lihat dari brosur atau cerita orang lain.Perlahan, tempat itu mulai terlihat seperti tempat yang benar-benar dihuni manusia. Tempat orang belajar, mengeluh soal tugas, begadang menjelang ujian, dan menjalani kehidupan sehari-hari.Menjelang siang,
Rebecca memimpin mereka untuk masuk lebih jauh. Beberapa kali Elena maupun Marvin memperkenalkan beberapa gedung yang mungkin nantinya akan banyak dikunjungi oleh Felly jika ia jadi untuk pindah ke kampus ini.“Nah, seluruh ruangan di sini khusus untuk para staf kampus, termasuk dosen. Jadi tidak akan sulit mencarinya. Ayo,” Rebecca masuk dan berhenti di depan pintu bercat mahogany.Di atasnya tertera papan label bertuliskan “HEAD OF STUDY PROGRAM – English Literature”Rebecca mengetuk pintu beberapa kali, lalu terdengar suara seorang wanita dari dalam untuk mempersilakan mereka masuk.Pintu terbuka, memperlihatkan seorang perempuan dengan penampilan rapi dan profesional, mengenakan kemeja krem dengan rambut yang diikat rendah. Usianya tidak jauh dari Rebecca, tapi ada aura percaya diri yang membuatnya langsung terlihat dominan di ruang itu.“Hi, Mrs. Rebecca.”Tatapannya langsung bergerak ke arah rombongan kecil di depannya.Lalu berhenti sedikit lebih lama saat melihat Marvin.“I h
Felly sampai di apartemen saat gelap mulai merayap. Ia membuka pintu dan keheningan melanda.“Belum pulang, kah?” gumamnya sembari melepas sepatunya.Ia berjalan
Hari berganti begitu cepat. Tak terasa kini satu bulan sudah berlalu. Hubungan Felly dan Marvin sudah semakin dekat meski masih terikat oleh perjanjian terkutuk yang mereka sepakati.Tinggal bersama, menjadi asist
Felly terbangun dengan tubuh yang terasa pegal dan perih. Ujung pahanya ngilu, langkahnya pun tidak stabil saat ia bangkit dari ranjang.Ia menahan napas sejenak, bersyukur hari ini tidak ada kelas yang harus ia ikuti.
“Selamat siang, Bu?” Felly memasuki ruangan dosen dan menyapa Bu Intan yang kebetulan tengah berada di ruangan.Bu Intan tersenyum ramah. “Selamat siang, Felly. Mau ketemu Pak Marvin, ya?”Felly mengangguk. “I-iya, Bu. Ada yang mau dikasih, katanya.”Bu Intan menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mema







