공유

59

last update 게시일: 2026-02-02 15:41:12

Setelah memastikan Felly terlelap dan tidak akan terjaga dalam waktu dekat, Marvin melangkah pelan menuju pintu dan menutupnya dengan sangat hati-hati, seolah suara sekecil apa pun bisa merusak ketenangan yang baru saja ia perjuangkan.

Klub milik Devan selalu hidup—ramai, bising, penuh tawa dan dentuman musik. Namun ruangan yang menjadi basecamp mereka berbeda. Kedap suara, terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar. Itulah alasan Marvin berani membawa Felly ke tempat ini.

“Sudah tidur?” tanya Oliv
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Simpanan Dosen Tampan   121

    Langkah mereka tidak lagi secepat sebelumnya.Felly tetap menggenggam tangan Marvin, tapi kali ini lebih tenang. Tidak ada lagi gerakan kecil seperti tadi, tidak ada lagi kepala yang menoleh cepat ke setiap sudut jalan.Ia hanya berjalan… sambil memandang ke depan.Marvin menyadari itu sejak beberapa meter pertama.“Mas…” panggil Felly pelan.“Mm?”Felly menoleh sedikit ke samping, lalu bertanya, “Trevi itu masih jauh nggak sih?”Marvin melirik sekilas ke arah jalan di depan mereka, lalu kembali ke Felly. “Dekat.”Jawaban singkat. Tapi Felly tidak langsung merespons seperti biasanya.Ada jeda kecil di antara mereka. Marvin merasakan perubahan itu.Tangannya yang menggenggam tangan Felly sedikit bergerak, bukan menarik, hanya menyesuaikan posisi agar lebih nyaman.“Capek?” tanyanya kemudian, lebih pelan dari tadi.“Enggak,” jawab Felly cepat, lalu setelah itu suaranya mengecil, “cuma… kepikiran aja.”Marvin berhenti melangkah sedikit lebih lambat, tapi tidak sepenuhnya berhenti. “Yang

  • Simpanan Dosen Tampan   120

    Udara pagi di Roma menyambut begitu mereka melangkah keluar dari hotel. Tidak terlalu dingin, tapi cukup memberi sensasi segar yang langsung terasa di kulit, berbeda dari yang biasa Felly rasakan.Cahaya matahari jatuh lembut di antara bangunan-bangunan tua berwarna hangat, memantul di jendela-jendela tinggi, sementara suara percakapan dalam bahasa yang asing terdengar bersahutan di sepanjang jalan.Untuk beberapa detik, Felly hanya diam di tempatnya, matanya bergerak pelan, menyerap semuanya seolah takut melewatkan satu detail pun.Marvin berdiri di sampingnya. Tatapannya tidak sepenuhnya tertuju pada kota di depan mereka, melainkan pada Felly yang jelas terlihat lebih hidup dari biasanya.Tanpa banyak kata, tangannya bergerak, menggenggam tangan Felly dengan santai, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Ayo,” ucapnya pelan.Bukan ajakan yang mendesak, tapi cukup untuk membuat Felly tersadar dari kekagumannya. Ia menoleh, tersenyum kecil, lalu melangkah mengikuti Marvin—masuk lebih

  • Simpanan Dosen Tampan   119

    Setelah pergulatan panjang, keduanya tak langsung beranjak.Marvin hanya mengelap bagian bawah mereka yang lengket dengan handuk basah yang hangat, lalu kembali merebahkan diri bersama Felly menyandarkan kepalanya di dada Marvin, sementara Marvin bersandar pada kepala ranjang.“Sudah lapar apa belum, sayang?” tanya Marvin.Felly menggeleng. “Sekarang belum terasa sih. Mas sudah lapar?”“Belum. Tadi pas kita main, ada yang menekan bel. Sepertinya sarapan kita,” jawab Marvin dengan entengnya.Felly mengernyitkan alisnya dan mendongak, “Serius?”Marvin terkekeh. “Iya, sayang. Soalnya kan tadi Mas sudah pesan. Tapi kamu malah godain saya. Jadinya kebablasan deh.”Felly memicingkan matanya sebal, lalu kembali menyandarkan tubuhnya. “Mana ada aku godain. Mas aja yang tiba-tiba menyerang.”Marvin tak menyangkal. Ia hanya terkekeh pelan dan mengecup pucuk kepala Felly.“Seharusnya sebentar lagi akan diantarkan, sayang. Nanti sarapan dulu, lalu kita keluar, ya? Kamu sudah bikin itinerary mau

  • Simpanan Dosen Tampan   118

    [full 21+mohonkebijaksanaannya]Deru napas mereka semakin terdengar berat. Felly yang tadinya duduk menyamping, kini melangkahi paha Marvin dan duduk menghadap Marvin sepenuhnya.Tatapan mereka kembali beradu, napas mereka saling bersahutan, lalu… ciuman pun kembali dimulai entah oleh siapa.Awalnya pelan… pelan… lalu kian berat. Mereka coba mendominasi satu sama lain yang tentu saja dimenangkan oleh Marvin.Lalu dengan satu gerakan kecil, Marvin berdiri. Mengangkat Felly dengan begitu ringannya.Ia sangga bokong Felly agar tidak terjatuh dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menekan leher belakang perempuan itu agar tidak menjauh dari posisinya.Felly tak berontak, ia melingkarkan kakinya ke tubuh Marvin. Lantas Marvin duduk di sisi ranjang, Felly masih berada dalam dekapannya dengan ciuman yang belum terlepas sama sekali. Tak mempedulikan saliva yang sudah menjuntai di dagu

  • Simpanan Dosen Tampan   117

    Beberapa menit berlalu tanpa perubahan berarti.Jemari Marvin masih bergerak di atas keyboard, tapi ritmenya tidak lagi secepat sebelumnya. Satu per satu grafik bergeser di layar, angka-angka diperiksa, lalu dibiarkan begitu saja tanpa tindak lanjut.Perlahan… gerakannya melambat. Hingga akhirnya berhenti.Tatapannya tidak lagi terpaku pada layar di depannya. Melainkan bergeser turun ke arah Felly.Tubuh perempuan itu masih bersandar nyaman di pangkuannya, napasnya teratur, wajahnya tenang tanpa beban apa pun. Satu tangannya masih menggenggam ringan kemeja Marvin, seolah bahkan dalam tidurnya pun ia tidak benar-benar ingin melepaskan.Marvin terdiam beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.Tanpa sadar, tubuhnya sedikit bersandar ke belakang, memberi ruang agar bisa melihat Felly lebih jelas. Rambut yang jatuh menutupi sebagian wajah itu bergerak pelan tertiup hembusan AC, membuat alisnya sedikit mengernyit.Tangannya terangkat. Namun ragu sepersekian detik.Lalu bergerak pelan,

  • Simpanan Dosen Tampan   116

    Tak terasa pagi kembali menyapa. Felly menatap Marvin yang masih terpejam dalam tidurnya. Dengan telunjuknya, ia menggambar pola mengikuti struktur hidung Marvin yang tinggi.“Tampan sekali,” gumam Felly sambil tersenyum.Felly tidak segera menarik tangannya.Ujung jarinya masih bergerak pelan, turun dari batang hidung Marvin, berhenti sebentar di bibirnya yang terkatup tenang. Ada jeda di sana, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak benar-benar pahami.Hening.Hanya perpaduan dari napas Marvin yang teratur, dan suara air conditioner yang berbunyi pelan.Felly tersenyum kecil.Setelah huru-hara yang terjadi belakangan, baru kali ini ia menemukan ketenangan dalam keheningan. Hatinya terasa penuh dengan cara yang aneh—hangat, dan sangat menenangkan.Pelan, ia menarik tangannya, takut tanpa alasan yang jelas kalau sentuhannya akan membangunkan laki-laki itu. Tapi saat ia hendak menjauh, jari Marvin bergerak lebih dulu, menangkap pergelangan tangannya dengan ringa

  • Simpanan Dosen Tampan   112

    Kabinnya jauh lebih tenang dari yang dibayangkan. Felly mengikuti langkah Marvin yang tenang, mencari keberadaan kursi untuk mereka berdua.Lampu redup, suara mesin pesawat terdengar stabil di latar, dan sekat-sekat kecil membuat setiap kursi terasa seperti ruang sendiri. Tidak banyak orang yang be

  • Simpanan Dosen Tampan   110

    Tawa itu belum sepenuhnya reda saat Olivia sudah kembali bersandar, matanya masih tertuju ke Marvin dengan ekspresi setengah tidak percaya.“Serius deh,” gumamnya, “ini pertama kalinya aku melihat orang mengajak istrinya honeymoon tapi tidak tahu mau pergi ke mana.”Felly menoleh cepat ke arah Oliv

  • Simpanan Dosen Tampan   109

    Sore itu berjalan lebih pelan.Cahaya matahari mulai turun, masuk dari sela tirai dan jatuh di lantai ruang tamu. Suasana apartemen masih tenang, hanya diisi suara kecil dari aktivitas yang belum sepenuhnya selesai.Sampai bel pintu berbunyi nyaring, memecah keheningan yang sempat melanda di antara

  • Simpanan Dosen Tampan   99

    Ponsel Felly yang sejak tadi tergeletak di atas meja bergetar pelan, memecah keheningan sore itu.Ia yang sedang duduk di dekat Bu Dyas, masih dengan secangkir teh hangat di tangan, menoleh sekilas. Layar ponselnya menyala, menampilkan satu notifikasi masuk dari nomor yang tidak ia simpan.Alisnya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status