Share

131

last update publish date: 2026-05-26 13:56:30

Keheningan kembali melanda. Felly menyandarkan kepalanya pada bahu Marvin. Tangannya membolak-balikkan brosur kampus dan beberapa berkas pendukung yang diberikan Marvin tadi.

“Besok… kamu belum siap, kita tidak perlu pergi besok. Kamu bisa ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan, sayang,” ucap Marvin dengan lembut.

Ia menyadari jika alur hidup Felly bukanlah miliknya. Ia akan mencoba agar Felly tidak merasa ditinggal lagi.

Felly pun menyadari niat baik Marvin, ia diam-diam tersenyum tipis dan m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Simpanan Dosen Tampan   135

    Rebecca memimpin mereka untuk masuk lebih jauh. Beberapa kali Elena maupun Marvin memperkenalkan beberapa gedung yang mungkin nantinya akan banyak dikunjungi oleh Felly jika ia jadi untuk pindah ke kampus ini.“Nah, seluruh ruangan di sini khusus untuk para staf kampus, termasuk dosen. Jadi tidak akan sulit mencarinya. Ayo,” Rebecca masuk dan berhenti di depan pintu bercat mahogany.Di atasnya tertera papan label bertuliskan “HEAD OF STUDY PROGRAM – English Literature”Rebecca mengetuk pintu beberapa kali, lalu terdengar suara seorang wanita dari dalam untuk mempersilakan mereka masuk.Pintu terbuka, memperlihatkan seorang perempuan dengan penampilan rapi dan profesional, mengenakan kemeja krem dengan rambut yang diikat rendah. Usianya tidak jauh dari Rebecca, tapi ada aura percaya diri yang membuatnya langsung terlihat dominan di ruang itu.“Hi, Mrs. Rebecca.”Tatapannya langsung bergerak ke arah rombongan kecil di depannya.Lalu berhenti sedikit lebih lama saat melihat Marvin.“I h

  • Simpanan Dosen Tampan   134

    Rebecca berjalan paling depan, langkahnya stabil seperti sudah hafal setiap sudut kampus itu. Elena di sebelahnya sesekali menoleh, memberi komentar kecil tentang mahasiswa yang lewat atau gedung yang mereka lewati.“Gedung English Literature ada di sisi sana,” kata Rebecca sambil sedikit menunjuk ke arah depan.Felly mengangguk pelan, mengikuti di tengah rombongan itu. Tangannya masih sesekali meremas ujung coat Marvin, walau sudah tidak seerat tadi di mobil.Marvin berjalan di sampingnya, sedikit di belakang separuh langkah, seolah sengaja memberi ruang agar Felly bisa melihat semuanya tanpa terganggu.Udara kampus terasa berbeda. Lebih terbuka, tapi juga lebih ramai dari yang ia bayangkan.Mereka melewati beberapa kelompok mahasiswa yang sedang duduk di tangga bangunan, sebagian tertawa pelan sambil membawa kopi, sebagian lain sibuk dengan laptop di pangkuan. Bahasa asing terdengar berselang-seling di udara, membuat Felly sesekali hanya menangkap potongan kata yang tidak sepenuhnya

  • Simpanan Dosen Tampan   133

    Marvin melirik jam tangannya sekali sebelum mengangguk kecil. “Rebecca dan Elena sudah nunggu di bawah,” katanya santai.Felly langsung panik kecil. “Hah? Kok Mas nggak bilang dari tadi!”“Aku bilang sekarang,” jawab Marvin tenang sambil merapikan coat di bahu Felly sedikit lebih lurus. “Lagipula kamu lama di kamar mandi.”“Siapa yang bikin lama?!” balas Felly cepat, langsung sadar dan menutup mulutnya sendiri.Marvin cuma terkekeh.Tanpa banyak drama lagi, mereka akhirnya turun dari apartemen menuju lobi.Begitu pintu lift terbuka—“Lama banget,” suara Elena langsung terdengar tajam.Rebecca di sebelahnya hanya tersenyum kecil, jauh lebih kalem. “Selamat pagi… atau siang?”Felly langsung menunduk sedikit malu. “Maaf… kesiangan.”Elena menyipit ke arah Marvin. “Kesiangan atau sengaja dikasih kesempatan bangun siang?”Marvin tidak tersinggung sedikit pun. “Keduanya.”“Mas!” Felly langsung menyikut pelan pinggangnya.Rebecca tertawa kecil melihat interaksi itu. “That’s okay, Felly. Aku

  • Simpanan Dosen Tampan   132

    Malam panas berakhir, Marvin dan Felly masih bergelung di dalam selimut meski matahari sudah mulai meninggi.Sampai kemudian, suara dering ponsel milik Marvin membangunkan si empunya barang.Marvin mengerang, dengan mata tertutup ia meraba nakas di samping ranjang.“Halo?” sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.“Kamu di mana?” suara Elena terdengar sebal.Marvin peka, langsung melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.“Oh, sudah siang,” ujar Marvin tanpa rasa bersalah.Elena mendengus, “Rebecca ada janji dengan orang, diundur saja sekalian jam tiga, bagaimana? Aku yakin Felly pun pasti belum bangun.”Marvin terkekeh. “Terima kasih sudah pengertian. Aku akan datang tepat waktu nanti.”Elena menggumam dan langsung memutus panggilan. Marvin hanya bisa menipiskan bibirnya dan menoleh ke arah Felly yang masih terlelap.Ia mendekat, bubuhkan kecupan kecil di kening Felly hingga istri kecilnya itu mengernyitkan alisnya. Tampak sedikit terganggu dengan perlak

  • Simpanan Dosen Tampan   131

    Keheningan kembali melanda. Felly menyandarkan kepalanya pada bahu Marvin. Tangannya membolak-balikkan brosur kampus dan beberapa berkas pendukung yang diberikan Marvin tadi.“Besok… kamu belum siap, kita tidak perlu pergi besok. Kamu bisa ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan, sayang,” ucap Marvin dengan lembut.Ia menyadari jika alur hidup Felly bukanlah miliknya. Ia akan mencoba agar Felly tidak merasa ditinggal lagi.Felly pun menyadari niat baik Marvin, ia diam-diam tersenyum tipis dan merasa lega.Marvin yang keras kepala itu ternyata bisa berubah juga.“Aku tetap mau pergi besok. Udah terlalu lama libur, aku takut otakku nggak bisa dipakai lagi.”Marvin terkekeh, ia mengelus rambut Felly dengan lembut. “Baiklah.”“Tapi aku boleh menentukan jurusan yang aku inginkan sendiri, kan?” tanya Felly sedikit ragu.Marvin perlahan menjauhkan kepala Felly dari bahunya, ia menggenggam kedua tangan Felly dan menatapnya penuh kasih.“Boleh,” jawabnya kemudian.Ditatap begitu, Felly jadi sa

  • Simpanan Dosen Tampan   130

    “KAMU APAKAN ANAK MAMA?” suara Bu Dyas menggelegar di balik video call yang tengah mereka lakukan kini.Tadi Felly menangis cukup lama sampai-sampai baju Marvin basah dan matanya bengkak.Sialnya, di saat air mata Felly masih membasahi matanya, panggilan Bu Dyas masuk dan mau tak mau harus diangkat atau Marvin akan mendapatkan omelan panjang lagi karena beberapa hari di Italia dia mengabaikan panggilan dari siapapun di Indonesia.Masalah yayasan sudah ia handle dengan baik, sebab itulah ia pikir hanya perlu fokus akan tujuan mereka untuk menenangkan diri.Marvin lupa jika istrinya sudah sangat dengan sang ibunda hingga sekarang seolah dirinyalah sang menantu dan Felly anak kandung Bu Dyas.“MARVIN?!” teriakan Bu Dyas kembali menyadarkan Marvin yang hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.“Marvin nggak ngapa-ngapain Felly, Ma.”Bu Dyas memicingkan matanya, Felly sendiri bukannya menenangkan suasana, malah kian terisak karena menyadari jika Bu Dyas adalah sosok baik lain yang hadi

  • Simpanan Dosen Tampan   52

    Tok tok tokPintu kamar rawat Felly diketuk pelan. Marvin menoleh pada Felly yang terlelap di pelukannya. Kemudian dengan perlahan dan hati-hati melepaskan diri.Marvin mengusap pipinya yang masih ada jejak-jejak air mata yang mulai mengering. Setelah memastikan penampilannya tidak lagi menyedihkan

  • Simpanan Dosen Tampan   51

    Pagi datang tanpa rasa bersalah. Cahaya putih menyelinap lewat celah tirai ruang rawat, jatuh diam-diam di lantai yang semalam sempat basah oleh darah dan kepanikan.Bau antiseptik menggantikan aroma logam yang masih tertinggal samar di ingatan, seolah rumah sakit sengaja menghapus jejak tragedi ya

  • Simpanan Dosen Tampan   50

    Sementara itu, malam kembali bergelayut manja. Bintang tak tampak karena mendung lebih dulu eksis dengan kegelapannya. Bunyi geludug menambah kengerian malam itu.Felly terbangun dengan napas yang berantakan. Keringat dingin muncul di dahinya. Sebuah bayangan kelam muncul dalam mimpinya. Rekontruks

  • Simpanan Dosen Tampan   49

    Hari kembali berganti. Felly masih banyak diam, tetapi telah menunjukkan beberapa perubahan yang cukup baik.Di hari ketiga Felly dirawat, neck brace di leher Marvin akhirnya dilepaskan. Ia sudah bisa bergerak lebih bebas, meski tetap harus menjaga kehati-hatian agar tidak kembali cedera.Dalam per

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status