Share

83

last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-13 16:52:15

“Ada apa?” tanya Devan meski ia sudah bisa menebak permasalahan apa yang timbul akibat masalah ini.

“Harga saham turun hampir sepuluh persen. Para pemegang saham memaksa untuk rapat.”

Devan menarik napas panjang, ia berdiri dan menepuk pundak Marvin.

“Selesaikanlah. Urusan media biar jadi urusanku. Nanti Olivia juga akan membantu kalau sudah selesai dengan kasusnya.”

Marvin mengangguk, ia menoleh pada Felly yang masih menatapnya meminta penjelasan. Ia mendekat pada Felly dan menghela napas ber
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Simpanan Dosen Tampan   88

    Marvin dan Felly sampai di apartemen dengan selamat dan dada yang jauh dari kata sesak.Lega.Bahkan perasaan mereka kini tak bisa digambarkan dengan satu kata itu.Marvin merengkuh pinggang Felly dan meletakkan kepalanya pada pundak Felly.“Maaf ya sayang. Harusnya keputusan ini Mas lakukan sejak lama, jadinya tidak akan ada drama seperti kemarin-kemarin.”Felly terkekeh pelan. Ia mengelus rambut Marvin dan menoleh.“Semuanya sudah berjalan seperti semestinya, Mas. Kalau dari awal kita melakukan ini, aku malah jadi nggak bisa melihat sikap manis Mas seperti tadi.”Marvin mendongak, menatap Felly dengan penuh tanya, “Sikap seperti apa?”Felly memutar tubuhnya untuk sepenuhnya menghadap pada Marvin. Ia kalungkan kedua lengannya pada leher sang suami dan mengecup bibir tebal itu singkat.“Sikap mas yang manis, yang hangat, yang… membuat jantungku rasanya seperti ditabuh dengan gendang. Budum-budum, bergetar tapi menyenangkan. Aku bisa menebak headline berita hari ini atau mungkin besok

  • Simpanan Dosen Tampan   87

    “Hubungan kami memang awalnya didasari oleh simbiosis mutualisme. Saya membutuhkan uang, dan Pak Marvin membutuhkan partner hidup. Sebuah tawaran menggiurkan untuk saya. Saya hanya perlu menandatangani akta pernikahan dan hidup saya beserta hutang yang ditinggalkan oleh ayah saya akan dicover oleh Pak Marvin. Saya rasa, terlalu bodoh jika menolaknya.”Media diam, tatapan Felly menyapu sekitar. Ada banyak ekspresi yang menunjukkan reaksi meskipun mulut mereka tak bersuara sedikitpun.“Mungkin saat ini ada banyak pemikiran di kepala kalian. Wanita murahan, wanita simpanan, rela menjual diri demi uang, dan masih banyak lainnya. Ya, mungkin itu benar. Saya tidak akan menyangkalnya. Tapi satu hal yang perlu kalian tahu, meskipun keluarga saya hancur, keinginan saya untuk hidup sangatlah tinggi.”Hening kembali menyapa, seolah ungkapan Felly adalah hal berat yang tak seharusnya mereka dengar pagi ini.“Namun, saat rumah peninggalan ayah saya kena sita bank dan hutang di rentenir begitu mem

  • Simpanan Dosen Tampan   86

    Suasana di studio milik Devan tampak ramai dengan berbagai orang yang berlalu lalang. Kamera terpasang dari berbagai media. Hubungan Marvin dan Felly yang awalnya rahasia, kini menjadi fokus publik yang diminati oleh banyak orang.Ya, manusia cenderung menyukai hal-hal berbau gosip rumah tangga dan ikut campur di dalamnya.Marvin dan Felly menunggu di dalam kamar yang memang ada di studio itu. Felly tampak kalut dan mondar-mandir di depan ranjang sementara suaminya malah asik bermain game di ponselnya.“Mas tidak gugup?” tanya Felly yang kini merasa sebal karena Marvin tampak tak tertekan sama sekali.Marvin melirik Felly sekilas, lalu kembali fokus pada gamenya. “Sudah biasa, sayang.”Felly mendengus. Benar juga. Sebagai pimpinan yayasan besar yang menaungi universitas swasta yang cukup besar, sudah pasti polemik sering terjadi dan Marvin pasti yang turun tangan langsung untuk menyelesaikannya.Marvin yang menyadari atmosfer di kamar itu berubah, perlahan mengeluarkan ponselnya dari

  • Simpanan Dosen Tampan   85

    Marvin menaikkan selimut yang menutupi tubuh polos Felly. Ia tersenyum bangga melihat bercak merah yang tersebar di leher dan dada Felly.“Cantik sekali,” gumamnya.Lalu Marvin beranjak menuju kamar mandi, mengambil wadah untuk menampung air hangat dan kembali membawanya ke atas nakas samping ranjang. Perlahan, ia membuka selimut yang tadi ia naikkan dan mulai menyeka tubuh Felly dengan washlap yang ia basahi dengan air hangat yang ia bawa tadi.Felly mengerang dalam tidurnya, Marvin mengelus kepala Felly dengan lembut. “Ssstt, Mas hanya membersihkan badan kamu, sayang. Lanjut saja tidurnya, maaf terganggu.”Felly pun menurut. Tak ambil pusing saat Marvin dengan telaten mulai mengelap basah tubuhnya agar terbebas dari lengketnya cairan cinta akibat pergumulan keduanya beberapa waktu lalu.Setelah dirasa semua sudah bersih, Marvin kembali ke dalam kamar mandi guna membuang air di dalam wadah dan mengguyur dirinya sendiri.Lalu ia keluar kembali bergabung dengan Devan dan Kevin yang sam

  • Simpanan Dosen Tampan   84

    Marvin terkekeh sinis di kursinya. "Kalau itu yang kalian harapkan, maaf harus mengecewakan."Lalu, layar besar di ujung meja menyala. Berisi bukti-bukti penting kejahatan orang-orang yang menyerang Marvin."Pak Hadi, anda sungguh sangat mengecewakan. Penggelapan dana miliaran, padahal jabatan sudah setinggi itu. Masih kurang gaji yang anda dapatkan? Sayang sekali, meskipun anda adalah pengikut setia papa saya, tapi tidak ada maaf untuk koruptor di yayasan yang saya atur."Pak Hadi berdiri, menatap tak percaya pada Marvin."Kamu jangan sok, Marvin. Tanpa saya, kamu bisa apa?"Marvin ikut berdiri, menepuk tangannya tiga kali lalu pintu ruang rapat terbuka. Ada beberapa polisi dan orang dari KPK muncul."Bapak penasaran kan apa yang saya bisa tanpa anda? Ya, memenjarakan anda tentu saja." Marvin berkata dengan dingin."Bukti sudah ada di kantor. Pak Hadi, mohon ikuti kami dengan tenang. Anda berhak menunjuk orang untuk jadi pengacara anda.""MARVIN!" Pak Hadi menggeram marah, tapi ia te

  • Simpanan Dosen Tampan   83

    “Ada apa?” tanya Devan meski ia sudah bisa menebak permasalahan apa yang timbul akibat masalah ini.“Harga saham turun hampir sepuluh persen. Para pemegang saham memaksa untuk rapat.”Devan menarik napas panjang, ia berdiri dan menepuk pundak Marvin.“Selesaikanlah. Urusan media biar jadi urusanku. Nanti Olivia juga akan membantu kalau sudah selesai dengan kasusnya.”Marvin mengangguk, ia menoleh pada Felly yang masih menatapnya meminta penjelasan. Ia mendekat pada Felly dan menghela napas berat.“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja,” ujarnya.Felly tak memberikan respon berarti, ia hanya mengangguk dan berdiri, lalu memeluk Marvin dengan erat. Memberikan kekuatan secara tak langsung pada pria itu.“Van, ajak Felly ke basecamp. Nanti aku menyusul setelah selesai rapat.”Devan mengangguk. Marvin pun pergi setelah menenangkan Felly yang terlihat gelisah.—“Sialan. Kita kecolongan!” Olivia menggebrak meja setelah melihat berita yang beredar. Dirinya sedang sibuk dengan kasus di

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status