Share

07 Malam Lelang

Author: Chykara
last update publish date: 2024-12-07 07:52:15

Namiya dan gadis bernama Putri yang di kurung di kamar yang sama di dandani oleh dua orang gadis di bawah pengawasan oleh wanita seperti bos yang di panggil madam tersebut.

Namiya dan Putri tidak bisa berontak karena selain ada sosok madam tersebut juga ada dua bodyguard bertubuh besar yang mendampingi madam itu.

Di depan kedua bodyguard itu Namiya dan Putri di telanjangi dan di pakaian kan pakaian baru, sebuah gaun pendek setengah paha nyaris transparan berwarna merah menyala buat Namiya dan hitam pekat buat Putri.

Saat pakaian nya di lucuti di hadapan dua pria tanpa ekskresi tersebut rasa nya harga diri Namiya sudah hancur seluruh nya.

Setelah selesai kedua gadis itu di seret oleh kedua pria tersebut Namiya dan Putri hanya bisa melangkah terseok mengikuti pria pria tersebut.

Namiya dan Putri dia bawa ke sebuah ruangan tertutup, di sana sudah ada lika gadis lain yang menggunakan pakaian kurang bahan yang sama seperti mereka berdua.

Walaupun ada tujuh gadis di dalan ruang tersebut tapi tidak ada satu pun gadis gadis tersebut yang saling ngobrol.

Namiya dan Putri yang merasa senasip saling menautkan tangan mereka untuk saling menguatkan.

Tangan mereka sana sama  gemetaran ketakutan, mereka berdua sudah bisa membayangkan hal buruk apa yang menunggu mereka saat lelang yang mereka bicara ka tersebut di mulai.

"Aku takut mbak" lirih bisik Namiya dengan suara gemetaran.

"Mbak juga sangat takut dek" ucap Putri dengan suara tak kalah ketakutan.

Samar samar mereka mendengar suara di depan, seperti nya para peserta lelang sudah datang dan itu berarti nasib buruk mereka akan datang dalam waktu dekat.

Air mata Namiya menetas, dia meratapi kelemahannya dan takdir buruk nya yang tergaris di telapak tangan nya.

Satu persatu gadis gadis di sana di seret keluar dari ruangan hingga akhirnya nya hanya menyisakan Namiya sendirian saja, putri yang sangat ketakutan nyaris pingsan saat di seret keluar oleh dua orang bodyguard yang menyeretnya dengan kasar.

Tapi entah karena lupa atau bagaimana saat mereka menyeret Putri yang seperti orang kesetanan kedua bodyguard tersebut lupa mengunci pintu, jangan kan mengunci mereka bahkan tidak menutup pintu tersebut dengan rapat.

Namiya merasa mendapat karunia mendadak dari tuhan, dengan membuka sepatu hak tinggi yang di pasangkan dengan paksa ke kaki nya Nakiyah mengendap mendapat ke arah pintu.

Berdasarkan jeda waktu antara pemanggilan masing masing gadis ada jeda sekitar sepuluh hingga lima belas menit.

Dengan jantung berdebar debar Namiya melangkah keluar, ternyata pintu kamar tempat mengurung nya lumayan dekat dengan tempat madam mengadakan lelang, Namiya masih mendengar keributan di depan yang menyebutkan sejumlah uang secara bergantian.

Namiya menatap sekeliling hingga akhir nya menemukan jalan ke arah dapur dan tempat cuci piring yang tadi dia lihat saat di bawa ke kamar tempat mereka menunggu di panggil.

Dengan mengumpul keberanian Namiya berhasil sampai di dapur, tidak ada orang di sana, tapi ada satu pintu menuju keluar, Namiya hanya bisa berharap pintu tersebut tidak di kunci hingga dia bisa melarikan diri.

Harapan nya terkabul, pintu memang di kunci tapi kunci nya tercantol begitu saja di lubang kunci.

"Klik... Klik..."

"Alhamdulillah ya Allah... Maaf Mbak Putri Miya kabur sendirian... Maaf...." ucap Namiya saat klik kedua saat kunci di putar terdengar di telinga Namiya.

Cari gadis itu sampai dapat" teriakan madam terdengar dari dalam, wajah Namiya memucat dengan cepat Namiya berlari keluar, gelap... Tapi Namiya bisa melihat jalan besar tidak jauh dari pintu dapur.

Dengan sekuat tenaga nya Namiya berusaha lari ke jalan raya, karena dalam bayangan nya jika dia di jalan raya pria pria di sana tidak akan berani mengejar nya, Namiya berencana berlari terus hingga nanti nya menemukan kantor polisi.

"Aduh..." kaki telanjang Namiya tidak sengaja menginjak batu runcing, Namiya bisa merasakan ada cairan di kaki nya, seperti nya kaki nya berdarah.

Tapi bukan itu yang Namiya takut kan, yang dia takutkan adalah dua pria di pintu depan yang mendengar suara teriakan kesakitan nya.

"Itu dia...."

"Kejar...."

"Hai tunggu..."

"Jangan lari..."

"Berhenti..."

Namiya tidak memperdulikan suara suara di belakang nya. Dia mempercepat langkah nya menuju jalan raya. Tanpa peduli dengan cairan merah yang membuat telapak kaki nya basah.

Karena tubuh nya yang mungil, Namiya bisa lari lebih cepat, dia terus berlari sambil terus berteriak. Tapi entah karena malam yang sudah larut atau memang tempat nya yang sepi tidak ada toko atau apapun lagi yang masih buka di kawasan tersebut.

Saat Namiya akan menyebrang tiba tiba...

"Ciiittt...."

"Prang..."

Sebuah mobil yang melaju cukup kencang menabrak diri nya, tubuh Namiya terlempar beberapa meter.

Melihat itu dengan cepat pria yang mengejar Namiya berhenti, mobil sedan maybach hitam yang menabrak nya juga berhenti begitu juga beberapa mobil lain nya.

Suasana langsung ramai dan heboh.

Pria muda yang membawa maybach keluar dari mobil bersama seorang wanita. Dengan di bantu beberapa orang di sana mereka berdua membawa tubuh Namiya yang berlumur darah masuk ke dalam mobil. 

Dan dengan mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan jalanan tersebut dengan membawa tubuh Namiya yang sudah tidak sadarkan diri.

*****

Namiya membuka mata nya, hal pertama yang dia lihat adalah langit langit kamar putih bersih, Namiya merasa sakit di beberapa bagian tubuh nya.

Namiya meraba kepala nya yang berdenyut denyut. Akhir nya dia sadar kalah kepala nya yang sakit tertutup perban tebal.

"Ini di mana?" lirih suara Namiya terdengar oleh seorang wanita yang duduk menunggui nya.

"Mbak udah sadar... Ini di rumah sakit, Saya panggilan kan suster ya" wanita berusia pertengahan empat puluhan tersebut bergegas berdiri dan berjalan keluar dari pintu.

Tak lama dia kembali bersama seorang dokter dan perawat.

Dengan cepat dokter tersebut memeriksa Namiya begitu juga perawat yang terlihat sibuk memeriksa infus dan mencatat beberapa hal yang di ucapkan oleh dokter.

"Bagaimana rasa nya mbak? Apa ada yang sakit? Atau rasa tidak nyaman?" tanya pria tersebut. 

"Kepala..." ucap Namiya lirih.

"Tentu saja, karena mbak baru saja menjalani operasi di kepala akibat pendarahan, dan mbak sudah koma selama empat hari, apa mbak ingat apa yang terjadi?" tanya dokter tersebut.

Namiya menggeleng kan kepala nya.

"Mbak mengalami kecelakaan lalu lintas, dan mengalami pendarahan hebat di kepala, untung saja pria yang menabrak mbak membawa mbak kesini dengan cepat hingga mbak bisa segera di operasi" ucap dokter tersebut.

Mendengar penjelasan dokter perlahan lahan ingatan Namiya kembali, dia mulai ingat segala, dia sangat mensyukuri kecelakaan yang menimpa nya, lalu perlahan air mata nya mulai mengalir.

"Dokter maaf apa boleh saya meminjam telepon saya harus menghubungi adik adik saya, mereka pasti sangat cemas..." tanya Namiya pada dokter di depan nya.

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Untuk Maduku   81

    namiya merasa tubuh nya remuk redam, seluruh tubuh nya tidak nyaman, entah di pangkalan paha, pinggang hingga punggung nya. Dia merasa seakan kejadian semalam hingga subuh tadi adalah balas dendam sang suami. namiya menatap ke samping, ranjang nya sudah kosong, dingin yang itu berarti sang suami sudah lama bangun. Namiya meraih ponselnya berniat untuk melihat jam, tapi di layar ponsel tertempel kertas kecil yang memo sang suami. ** sayang ku, sebagai hadiah untuk perjuangan mu tadi malam, hari ini aku yang akan mengurus anak anak, aku yang mengantar mereka ke sekolah, aku juga nanti yang akan menjemput mereka, kamu boleh tidur sampai siang, agar nanti malam memiliki tenaga berlebihan untuk kembali berolahraga ** "dasar mesum, semalam sudah menghancurkan tubuh ku, dan masih mau nanti malam..." "mimpi..." ucap namiya sambil meremas kertas merah muda tersebut dan melempar kertas itu ke dalam laci samping ranjang dengan wajah merona merah karena malu. namiya turun dari ranjang

  • Anak Untuk Maduku   80 ABS

    Namiya keluar dari kamar mandi dengan rambut terbungkus handuk, piyama tidur satin putih pendek penuh renda menutup tubuh nya dari dada hingga paha. bathrope satin dengan warna senada di biarkan begitu saja tanpa di ikat di pinggang. Namiya menatap jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat, tapi sang suami masih belum kembali dari kamar anak anak, sejak mereka berkumpul lagi, mendongeng dan menina bobok kan anak anak sudah menjadi tugas resmi Allarick, sesekali kalau dia tidak lembur di kantor namiya akan duduk di sisi lain ranjang ikut mendengarkan Allarick mendongeng. tapi hari ini namiya pulang sangat telat, baru sampai di rumah jam sepuluh malam, setelah mencium anak anak dia segera mandi, karena merasa tubuh nya sangat lepek penuh keringat. namiya langsung duduk di depan meja rias, memakai satu demi satu lapisan skin care malam di wajah nya. tanpa dia sadari Allarick sudah berdiri di belakang nya, memegang hair dryer, lalu membuka gulungan h

  • Anak Untuk Maduku   79

    Namiya meletakkannya hidangan terakhir di atas meja dan menatap kearah tangga menunggu kedua buah hati nya turun untuk sarapan, benar saja tak lama kemudian derap langkah kedua anak terdengar menuruni tangga. "Jangan berlari di tangga..." sayup sayup namiya mendengar suara Allarick menegur kedua anak kembar mereka. Dan tak lama tiga sosok muncul dari di pintu dapur, sikembar yang sudah rapi menggunakan pakaian sekolah nya yang berwarna biru muda di ikuti ayah mereka yang berjalan di belakang dengan jas berwarna hitam pekat. "Mommy masak apa, harum sekali, aku jadi sangat lapar" ucap Niscalla sambil memanjat naik ke atas kursi meja makan di ikuti oleh arunika yang duduk di samping sang kembaran. "mami bikin nasi goreng sayur, ayo cepat makan, jangan sampai telat ke sekolah" ucap namiya sambil mengisi satu persatu piring di depan kedua anak nya. "kamu juga mas, ayo cepat makan, bukan ya kamu ada meeting pagi ini"ucap namiya pada sang suami yang duduk du ujung meja. "terima ka

  • Anak Untuk Maduku   78

    "Mas mau ngebahas masalah apa?" tanya Namiya "ini tentang rumah tangga kita, mau di bawa kemana pernikahan ini? sejak kita rujuk di rumah sakit minggu lalu kita belum sempat ngobrolin ini karena sibuk dengan acara pemakaman dan tahlilan Moana" ucap Allarick Namiya menundukkan kepala nya, tidak tau mau menjawab apa pertanyaan sang suami. Seminggu ini mereka hidup seperti orang asing yang ngekos di rumah yang sama, hanya bertemu jika kebetulan keluar dari kamar. Tidak pernah makan bersama, tidak pernah ngobrol berdua, bahkan saat tidak sengaja bertemu di dapur atau di mana pun mereka hanya menyapa sekadar nya. "apa kamu terpaksa rujuk sama mas?" tanya Allarick lirih sambil menggenggam tangan gadis 24 tahun tersebut. "tidak mas... aku tidak terpaksa, ini permintaan terakhir mbak Moana, mana mungkin aku menyesal, hanya saja...." Namiya tidak melanjutkan ucapan nya. "hanya saja kenapa?" tanya Allarick "hanya saja aku juga tidak mengerti bagaimana cara nya semua ini bisa kem

  • Anak Untuk Maduku   77

    dengan sangat kesusahan dan langkah kaki sempoyongan Namiya berhasil membawa Allarick yang setengah sadar ke dalam kamar nya di lantai dua. tubuh Namiya penuh oleh keringat, selain karena menopang tubuh besar Allarick, suhu tubuh Allarick yang tinggi membuat tubuh Namiya ikut kepanasan. "mas tidur rebahan dulu, aku mau ambil air buat kompres mas sekalian nyari Paracetamol buat bikin suhu tubuh mas kembali normal" ucap Namiya "jangan... jangan pergi, tolong temani aku di sini" dengan mata yang masih terpejam Allarick menarik gaun tidur Namiya mencoba menahan agar gadis itu tidak pergi. "mas... aku nggak lama, tunggu sebentar, aku cuma mau nyari obat buat mas Al, mas tunggu sebentar ya" ucap Namiya dengan lembut sambil membuka jemari Allarick yang mencengkram erat gaun satin nya. "tidak... ku mohon... jangan pergi..." Namiya Tidak tau buat siapa igauan yang keluar dari mulut suami nya itu, entah buat diri nya atau buat Moana yang sudah pergi meninggalkan mereka. Namiya jon

  • Anak Untuk Maduku   76

    "mom... jadi bunda benar benar sudah meninggal ya?" Niscalla yang sedang di tidur kan oleh Namiya di ranjang nya bertanya lirih. "Kenapa Niscalla bertanya kayak gitu? memang nya Niscalla tau apa arti nya meninggal dunia?" tanya Namiya sambil mengelus punggung sang putra yang tertidur miring memeluk pinggangnya. "tau... meninggal itu adalah saat bunda tidak sakit lagi karena bunda sudah bersama Allah, dan Niscalla tidak akan pernah bertemu lagi sama bunda" ucap nya dengan suara bergetar. "apa Niscalla sedih? Niscalla merindukan bunda?" tanya Namiya. sang putra tidak menjawab tapi Namiya bisa merasakan anggukan kepala Niscalla di dada nya. "apa Niscalla tau, walaupun bunda udah bersama Allah, tapi bunda masih bisa melihat Niscalla, jadi Niscalla harus jadi anak Sholeh, jangan tinggalkan sholat, jangan lupa doakan bunda selalu bahagia bersama Allah " ucap Namiya "apa jika Niscalla banyak berdoa bunda akan masuk surga?" tanya Niscalla. "tentu saja, karena Allah sangat mencin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status