Beranda / Romansa / Simpanan Tuan Torres / 2. Latar Belakang Julia

Share

2. Latar Belakang Julia

last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-14 06:50:58

Setelah rapat usai, Diego, staf, termasuk Julia kembali ke ruangan masing-masing. Di ruangan Diego, Pablo sudah menunggu untuk memberikan informasi. Sejujurnya, Diego sudah tahu sedikit latar belakang keluarga Julia yang sederhana, tetapi ia berharap dapat menemukan fakta lain.

"Apa yang kau dapat?"

"Mengejutkan, Tuan."

"Maksudmu? Apa ia berbohong soal ibunya yang sakit?.

"Bukan itu." Pablo meletakkan map berisi data-data keluarga Julia Rivas di atas meja.

Diego membaca dengan saksama. Ia mengetahui bahwa orang tua Julia hanya tersisa ibunya yang tengah terbaring sakit dengan komplikasi berat. "Carmen Elga Rivas, 55 tahun. Ayahnya, Carlos Rivas, sudah meninggal entah atau pergi tak diketahui rimbanya, Julia anak kedua dari tiga bersaudara: Armand Gonzalo Rivas, 27 tahun, pekerjaan tidak jelas, pemabuk, dan penjudi. Julia Carina Rivas, 25 tahun, lulusan terbaik manajemen bisnis dan perkantoran dengan jalur beasiswa. Laura Benedicta Rivas, 22 tahun, menghilang dari Spanyol 3 tahun yang lalu, kini di L.A. sebagai bintang porno dengan nama panggung Karen Monroe." Diego membaca ulang informasi itu sambil mengerutkan dahinya.

"Apa ini valid?"

"Tentu. Di sana ada foto kakak dan adik Julia 3.5 tahun lalu saat perayaan natal, sebelum Laura pergi dari Spanyol. Saya selipkan juga foto Laura yang sekarang dengan penampilan terbarunya di beberapa rumah produksi film dewasa itu, Tuan. Bagaimana, Tuan? Adiknya juga tidak kalah cantik, usianya baru 22 tahun."

Diego terdiam, sorot matanya yang sebiru es kini diselimuti lapisan ketertarikan yang gelap. Ia tidak peduli soal kepergian ayah Julia, atau bahkan pekerjaan Armand. Yang menarik perhatiannya adalah kontras ekstrem dalam keluarga itu: keluguan seorang sekretaris yang berjuang yaitu Julia Rivas yang penuh dedikasi dan keberanian adik perempuannya yang memilih jalan gelap Laura Rivas, Karen Monroe.

"Dua puluh dua tahun," ulang Diego, nyaris berbisik, memandang foto Laura yang sekarang. "Kecantikan Duo Rivas ini memang memukau, hanya saja di jalur yang berbeda."

Ia menutup map itu dengan bunyi keras, mengalihkan pandangan tajamnya pada Pablo. "Kekasihnya. Miguel Sanchez."

"Miguel Sanchez, Tuan. Akuntan di lantai tiga. Mereka berpacaran sekitar setahun. Miguel berasal dari keluarga menengah atas, ambisius, tapi enggan bertanggung jawab. Saat Julia datang padanya dengan masalah biaya rumah sakit, ia menolaknya mentah-mentah. Sebuah penolakan yang sempurna, Tuan, dan sangat membantu rencana Anda."

Diego menyeringai, senyum predatornya kembali. "Sempurna. Jadi dia seorang pengecut yang hanya mau menerima keuntungan tanpa mau menanggung kerugian."

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi mahal, jari-jarinya mengetuk meja. "Pablo, persiapkan kontraknya. Pastikan klausulnya mengikat, jelas, dan tidak bisa dibatalkan. Dana untuk Carmen Elga Rivas ditransfer hari ini juga. Sisanya... aku akan urus sendiri."

"Segera, Tuan. Bagaimana Nona Lucia?"

"Lucia Ortega adalah tunanganku. Ratu di mata publik, kekuasaan di tanganku. Julia adalah… Simpanan Tuan Torres. Dua entitas yang tidak boleh bertemu, dan kau menjamin itu."

"Akan saya jamin, Tuan." Pablo membungkuk sedikit dan berbalik meninggalkan ruangan, meninggalkan Diego sendirian dengan map di tangannya.

Diego menatap foto Julia dan foto Laura secara bergantian, kemudian menyentuh bibirnya, tempat ia mencium Julia beberapa jam lalu. Ia tahu malam ini ia harus makan malam dengan tunangannya yang elegan. Tetapi yang kini memenuhi pikirannya hanyalah janji panas yang akan dimulai besok malam di apartemennya.

"Keangkuhanmu dan keluguanmu, Nona Rivas... Aku akan menghancurkannya bersamaan."

Smirk devil dan 1 alis terangkat penuh kesinisan "Keesokan malamnya, setelah jam kantor berakhir aku ingin bersenang-senang denganmu, Julia.

.

.

Diego segera kembali ke mode "hangat" di depan Lucia Ortega, yang sudah menunggu untuk dijemput makan malam.

"Sayang, kamu terlambat sepuluh menit," tegur Lucia.

"Maaf, ada sedikit kendala pekerjaan. Ayo, kita berangkat."

Lucia segera mengaitkan lengan ke lengan kokoh kekasihnya. Di mata publik, mereka tampak sempurna dan serasi. Lucia berasal dari keluarga kelas atas, anak tunggal dengan ayah yang memiliki kerajaan bisnis setara dengan milik keluarga Torres.

Hubungan asmara Diego dan Lucia bukanlah murni cinta, melainkan aliansi bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak. Keduanya sudah beberapa kali berlibur bersama selama hampir tiga tahun. Tentu, Lucia berharap semua itu akan membulatkan keyakinan Diego untuk segera menikahinya. Namun, Diego belum mengambil keputusan, meski usianya kian merambat naik ke angka 35. Baginya, perkawinan yang dipaksakan hanya akan membawa masalah dan kehambaran.

Di restoran mewah itu, Lucia mengenakan gaun mahal dan seksi, sengaja untuk menarik perhatian Diego. Ia yakin, setelah kencan ini, Diego akan mampir untuk bercinta dengan gairah panas seperti biasanya. Lucia merasa bahwa dengan menyerahkan seluruh tubuhnya, Diego akan memberikan apa pun yang ia minta. Memang, Diego memberikan banyak hal, tetapi tidak dengan komitmen pernikahan dalam waktu dekat.

"Sayang, aku ada proyek besar di Kanada untuk peluncuran lini pakaian dalamku. Apa kamu mau ikut, atau... menyusulku seperti biasa setelahnya?" tawar Lucia, penuh harap. Lucia tahu Diego jarang menolaknya, kecuali jika benar-benar sibuk.

Diego menyesap anggurnya, pandangan esnya sedikit mengeruh. "Itu tawaran yang menarik, Lucia. Tapi sayang sekali, akhir bulan ini Torres International sedang memasuki fase negosiasi krusial untuk proyek properti di Mallorca. Aku tidak bisa meninggalkan kantor atau zona waktu ini. Kau tahu, proyek itu tidak bisa diwakilkan."

Lucia sedikit kecewa, namun ia berusaha tersenyum. "Aku mengerti. Urusan kerajaanmu selalu yang utama. Ya sudah, aku akan mengirimkan jet pribadi untukmu saat semua urusanmu selesai. Kau janji akan menyusulku, kan?"

"Tentu saja," jawab Diego, memberikan senyum meyakinkan yang tidak mencapai matanya. "Hanya saja... jangan menungguku di awal. Fokus pada peluncuranmu."

Diego merasakan perutnya sedikit bergolak. Biasanya, tawaran Lucia akan disambutnya dengan antusiasme yang sama dinginnya. Tetapi malam ini, sangat berbeda. Ada rasa enggan yang hanya dia tahu.

"Malam ini tidak, Lucia," jawab Diego, suaranya terdengar datar dan final. Ia meletakkan garpu peraknya dengan bunyi pelan. "Aku benar-benar lelah. Aku perlu kembali ke rumah untuk memeriksa beberapa dokumen yang ditinggalkan Pablo. Aku yakin kau juga perlu istirahat untuk penerbanganmu besok."

"Lelah? Ini baru pukul delapan, Sayang. Tidak biasanya..."

"Bisnis kali ini lebih menuntut, Lucia," potong Diego, senyum formalnya kembali. "Aku akan menghubungimu besok sebelum kau terbang. Nikmati sisa makan malam kita."

Diego telah menolak sentuhan yang sudah ia kenal, demi bayangan tentang sentuhan terlarang yang baru saja ia rasakan. Kontrasnya tidak mungkin lebih jelas: ia menolak 'Ratu' untuk memikirkan 'Simpanannya'.

"Baiklah, kalau begitu. Besok jangan lupa hubungi aku ya..."

"Tentu, apa apa pun untukmu." Ucap Diego sambil menggenggam tangan Lucia yang lembut, ada cincin berlian dengan emas putih terselip di jari manis pemberiannya 2 bulan lalu.

"Aku mencintaimu, Diego."

"Aku, juga."

"Sayang," Lucia bertanya dengan hati-hati, suaranya sedikit tegang. "Kapan kamu akan membawa hubungan kita ke tahap yang lebih serius? Tiga tahun, kurasa sudah lebih dari cukup untuk saling mengenal. Kita juga sudah melewati malam-malam yang indah bersama." Ia menambahkan dengan sedikit desakan. "Secara finansial, kita sama-sama stabil, kan?"

Diego menatapnya, pandangannya dingin. Ia melepaskan genggamannya dari tangan Lucia.

"Lucia, komitmen bukanlah keputusan yang diambil berdasarkan hitungan tahun atau stabilitas finansial. Kau tahu bagaimana aku, aku tidak suka didesak. Urusan ini adalah masalah waktu dan strategiku sendiri."

"Tapi Diego..."

"Tidak ada 'tapi'," potong Diego tegas. "Fokuslah pada peluncuran di Kanada. Kita akan membahas ini ketika kau kembali, dan hanya jika aku yang memulainya." Peringatnya.

Kata-kata Diego yang dingin dan penuh otoritas segera meredam harapan Lucia. Ia tahu, dalam hubungan ini, Diego adalah penguasa, dan ia hanya bisa menunggu.

Lucia mengangguk untuk setuju, lebih tepatnya terpaksa setuju dengan keputusan Diego yang dominan, tapi tekadnya bulat setelah urusan pekerjaannya selesai dia akan menggiring Diego untuk berada di bawah kendalinya. Menjadi istri Diego Torres adalah ambisinya, siapa wanita di Spanyol yang tak menginginkan posisi itu?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Cerita Tina
egois banget si diego
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Simpanan Tuan Torres   145. Acara Amal

    Di Kamar utama di Girasol Estate. Cahaya hanya berasal dari lampu tidur redup di nakas.Larut malam. Diego baru saja selesai membantu Julia tidur nyenyak. Ia telah mengusap punggung Julia dan memijat kakinya hingga Julia, yang kelelahan karena kehamilan, terlelap dalam posisi yang paling nyaman.Diego memandang wajah tenang Julia yang terlelap, mengusap pelan rambut yang menjuntai di dahinya. Ia kemudian mencium pucuk kepala Julia dengan sangat lembut, memastikan sentuhannya tidak membangunkan kekasihnya.Saat ia bangkit dari sisi ranjang, ponsel yang berada di nakas sisi Julia menyala. Sebuah pop-up notifikasi pesan masuk. Pesan itu dari Pablo.Diego tahu apa artinya. Ia meraih ponselnya dengan hati-hati. Layar menampilkan pesan singkat dari Pablo Reyes."Misi selesai, Tuan. Video dan foto insiden di Ritz sudah tersebar ke media gosip utama. Kami menjamin besok pagi, ia akan sibuk mengurus citranya. Anda bisa tidur nyenyak."Die

  • Simpanan Tuan Torres   143. Alur Mundur (Yacht)

    Alur dua hari yang lalu...Malam hari di sebuah yacht mewah yang berlabuh di perairan Lisbon. Suara ombak pelan menjadi latar belakang.Setelah negosiasi merger yang panjang dengan Duarte Corp. berhasil disepakati, Diego, Pablo, Duarte, dan Beatrice berkumpul di dek yacht untuk perayaan dan sesi foto wajib. Beatrice, dengan gaun malamnya yang seductive, sengaja duduk dekat dengan Diego, memanfaatkan setiap kesempatan untuk berinteraksi.Duarte mengangkat gelas sampanye. "Untuk Diego Torres, mitra baru kami! Kesepakatan yang luar biasa, kawan."Diego membalas senyum profesional. "Untuk Duarte Corp. dan masa depan yang cerah. Salud."Saat momen bersulang, Beatrice dengan cepat mendekatkan diri ke Diego, senyumnya cerah, dan meminta salah satu asisten Duarte untuk mengambil foto."Diego, satu foto untuk merayakan kemitraan kita. Anggap saja ini marketing yang bagus untuk Lisbon dan Torres International!"Diego setuju tanpa

  • Simpanan Tuan Torres   142. Keretakan Kecil

    Di kamar mandi utama yang luas, uap hangat memenuhi ruangan. Diego bersandar pada dinding keramik, membiarkan Julia menggosok punggung lebarnya dengan pijatan lembut dan telaten. Aroma sabun bercampur dengan keintiman yang tercipta di antara mereka.Suara Julia terdengar santai, namun ada nada ingin tahu yang terselip. "Kemarin di Lisbon, kamu bertemu dengan putri Duarte Silva, Beatrice?"Diego memejamkan mata sejenak, menikmati sentuhan Julia. "Ya, aku bertemu dengannya..."Ada jeda singkat, Julia terus memijat, menunggu jawaban yang lebih rinci. Sebuah keraguan kecil mulai menyelinap di benaknya.Julia mengambil napas dalam, memberanikan diri. "Apa dia cantik menurutmu, Diego?"Diego membuka matanya, lalu sedikit menoleh, tatapannya mencari mata Julia yang kini terpantul samar di uap. Ia tersenyum tipis, memahami arah pertanyaan Julia, dan merasakan sedikit geli atas kecemburuan halus yang tersembunyi."Cantik? Ya, Beatrice mem

  • Simpanan Tuan Torres   149. Drama Laura Belum Berakhir

    Julia merasakan nada serius dalam suara Diego, membuat kekhawatiran yang sempat ia lupakan kembali muncul."Laura? Ada apa lagi dengannya?"Diego menarik Julia dengan lembut, mengajaknya duduk di sofa panjang. Ia memegang kedua tangan Julia."Apa kamu membuka blokir rekeningmu yang dibawa Laura?"Julia menjawab dengan nada bersalah dan sedikit defensif. "Iya. Aku membukanya. Dia berjanji tidak akan membeli sex toys lagi. Dia berjanak sudah bosan dan ingin fokus pada kue.""Tapi dia membeli perlengkapan vlogging untuk siaran langsung di Madeira. Kamu tahu apa artinya?" tanya Diego dengan suara lembut, tetapi sorot matanya tajam."A-apa? Siaran langsung? Tidak, tidak mungkin. Dia janji padaku tidak akan membuat masalah lagi! Itu bisa mengungkapkan lokasi vila! Aku tidak tahu dia membeli itu, Diego! Demi Tuhan, aku tidak tahu!"Itu bisa mengungkapkan lokasi vila! Aku tidak tahu dia membeli itu, "Diego! Demi Tuhan, aku tidak tahu!"Diego menghela napas, menenangkan Julia. "Tenang, Sayang.

  • Simpanan Tuan Torres   144. Acara Amal

    Grand Ballroom Hotel Ritz Madrid. Suasana mewah, dihiasi kristal dan bunga-bunga mahal. Acara lelang amal untuk konservasi seni sedang berlangsung, dihadiri oleh kalangan elite dan sosialita ternama Spanyol. Malam hari, beberapa jam setelah Diego mendarat. Georgina López tampak memukau, dikelilingi oleh dua teman sosialitanya, Isabella dan Lana. Ia mengenakan gaun sutra hitam couture dan berlian minimalis, memancarkan aura keanggunan yang dingin. Meskipun senyumnya tampak dipaksakan, ia berusaha keras menunjukkan bahwa berita kehamilan Julia sama sekali tidak memengaruhi status sosialnya. "Kau terlihat luar biasa, Georgina. Jangan pedulikan berita murahan itu. Siapa pun tahu statusmu jauh di atas sekretaris hamil itu." "Tentu saja. Semua orang tahu Diego Torres hanya sedang 'bermain' untuk memastikan garis keturunannya. Dia akan kembali padamu, Sayang." Hibur Lana Georgina hanya tersenyum tipis, tetapi matanya memancarkan api kemarahan. Ia tahu pujian itu hanyalah basa-basi.

  • Simpanan Tuan Torres   140. Kakak Ipar

    Malam itu, Julia berada di ruang tengah bersama ibunya, Carmen, bermaksud melakukan panggilan video. Diego duduk tidak jauh dari mereka, hanya menatap Julia dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran perhatian, kekhawatiran, dan mungkin sedikit kelelahan."Semoga dia mau mengangkatnya, Bu."Carmen mengangguk penuh harap.Setelah beberapa dering panggilan, Laura akhirnya menerima. Wajahnya terlihat kesal dan malas, ia sedang menelungkup di atas bantal."Mau apa lagi, Kak Julia? Telepon biasa saja, kenapa harus panggilan video? Kau ingin memamerkan diri sebagai keluarga bahagia karena sekarang kau sedang mengandung?""Hei, lihat siapa yang bersamaku sekarang. Angkat kepalamu.""Diego? Kau ingin memamerkan seolah kalian pasangan idaman? Sementara aku di sini kau paksa menjadi biarawati?""Dasar keras kepala!""Laura, sayang?" Suara lembut yang familier itu...Laura langsung mengangkat kepalanya mendeng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status