Home / Romansa / Sisa Cinta Mantan Suamiku / Bab 1. Wanita Mandul

Share

Sisa Cinta Mantan Suamiku
Sisa Cinta Mantan Suamiku
Author: Agniya14

Bab 1. Wanita Mandul

Author: Agniya14
last update publish date: 2026-01-26 15:13:49

"Kapan kamu mau ngasih Ibu cucu, Raisa? Tiga tahun kalian menikah dan rumah ini masih sepi kayak kuburan. Nggak ada suara tangis bayi di rumah ini."

​Wajah Raisa memucat. "Bu, Raisa sedang berjuang menyelesaikan residen spesialis anak. Jadwal jaga Raisa sangat padat, dan kami juga sedang berusaha—"

​"Berusaha? Tiga tahun, Raisa. Jangan-jangan memang kamu yang mandul?" potong Sofia tanpa belas kasihan. "Keluarga Syahreza itu butuh pewaris untuk mewarisi semua harta keluarga kami. Kavindra adalah putra tunggal. Kalau kamu tidak bisa memberikan anak, apa gunanya kamu di keluarga ini?"

​"Ibu, tolong. Jangan mulai lagi." Kavindra akhirnya bersuara, tetapi nadanya datar. Tidak membela Raisa.

​"Jangan mulai lagi? Vindra, lihat istrimu! Dia terlalu sibuk mengurusi anak orang lain di rumah sakit sampai lupa dengan dirinya sendiri!" Sofia menggebrak meja ringan. "Ibu sudah konsultasi dengan dr. Hanum, spesialis kesuburan. Dia bilang di usia pernikahan kalian sekarang, kalau belum ada tanda-tanda, kemungkinan besar ada masalah di pihak perempuan. Dan Ibu yakin yang bermasalah itu kamu, Raisa. Mengingat gaya hidupmu yang sering pulang pagi karena jadwal pendidikanmu itu."

​Raisa merasakan matanya memanas. "Raisa sehat, Bu. Hasil cek rutin Raisa semuanya bagus."

​"Sehat katamu? Lalu mana hasilnya? Mana buktinya?!" Sofia berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arah Raisa. "Jangan-jangan kamu pakai KB tanpa sepengetahuan Vindra karena mau egois mengejar gelar spesialis itu? Kamu sengaja menunda pewaris Syahreza demi ambisimu sendiri?"

​"Tidak, Bu. Demi Allah, Raisa tidak pernah memakai KB." Suara Raisa mulai bergetar.

​"Kalau begitu, artinya kamu yang mandul," desis Sofia. "Ibu malu, Raisa. Setiap kali arisan ditanya mana cucu dari Direktur RS Syahreza. Ibu harus jawab apa?"

​Raisa menatap Kavindra, memohon dukungan lewat tatapan matanya. Berharap suaminya akan membanting sendok atau setidaknya menegur ibunya. Namun, Kavindra tetap tenang, jemarinya lincah menggeser layar ponsel.

​"Vindra!" Suara Raisa bergetar, "kamu dengar apa yang Ibu katakan?"

​Kavindra menghela napas pendek, akhirnya meletakkan ponselnya dengan perlahan. Ia menatap Raisa, tetapi tatapannya kosong. "Raisa, Ibu tuh khawatir. Wajar kalau beliau bersikap begitu. Kita sudah bicara soal ini berbulan-bulan yang lalu, kan? Tentang fokusmu yang terbagi."

​"Fokusku terbagi?" Raisa terkekeh getir. "Aku ini residen, Vindra. Aku sedang menempuh pendidikan spesialis yang kamu dukung sejak awal. Kamu juga seorang dokter, kamu tahu bagaimana perjuangannya!"

​"Jangan bawa-bawa profesi sebagai tameng. Banyak dokter spesialis yang punya anak banyak. Masalahnya bukan di pendidikanmu, tapi di tubuhmu. Apa perlu Ibu seret kamu ke klinik kesuburan besok pagi supaya kamu sadar kalau ada yang salah dengan fungsi wanitamu?"

​"Bu, cukup!" Raisa berdiri, tangannya mencengkeram pinggiran. "Raisa bukan mesin pencetak anak. Raisa istri Kavindra."

​"Istri?" Sofia berdiri menyamai tinggi Raisa, menatapnya dengan hinaan. "Istri macam apa yang membiarkan suaminya pulang ke rumah yang sepi setiap malam? Istri macam apa yang tidak bisa memberikan kebanggaan pada mertuanya? Kamu tahu apa yang orang-orang bilang di luar sana? Mereka bilang keluarga Syahreza sedang kena kutukan karena punya menantu yang rahimnya dingin."

​"Itu fitnah, Bu! Raisa nggak seperti yang mereka katakan!"

​"Lalu mana buktinya?!" Sofia menjerit kecil, suaranya melengking tajam. "Mana? Tunjukkan pada Ibu satu saja bukti kalau kamu bisa hamil! Tidak bisa, kan? Kamu hanya memberi kami janji dan alasan setiap tahunnya. Ibu sudah bosan."

​Raisa merasakan air mata mulai menggenang, tetapi ia menahannya sekuat tenaga. Ia beralih pada Kavindra. "Vindra, katakan sesuatu. Dari tadi kamu banyak diam."

​Kavindra menyesap air putihnya, lalu menatap Raisa dengan raut wajah yang lelah. "Raisa, mungkin ada baiknya kamu dengarkan Ibu. Kamu memang terlalu sibuk. Mungkin jadwal pendidikanmu itu yang membuat hormonmu berantakan. Kalau kamu memang tidak bisa memberikan apa yang keluarga ini butuhkan sekarang, jangan salahkan jika Ibu mulai mencari alternatif lain."

​"Alternatif lain?" Raisa tiba-tiba bingung. "Maksudmu wanita lain?"

​"Aku butuh anak, Raisa. Aku direktur masa depan rumah sakit ini. Aku tidak mungkin memimpin tanpa ada orang yang akan meneruskannya," jawab Kavindra dingin.

​Sofia tersenyum miring. "Dengar itu? Suamimu sendiri sudah bicara. Jadi, jangan berlagak jadi korban di sini. Kamu yang gagal sebagai wanita. Kamu yang tidak bisa memberikan anak."

​"Ibu tahu nggak?" Raisa menyeka air matanya dengan kasar, suaranya mendadak tajam karena amarah yang memuncak. "Di rumah sakit, setiap hari Raisa menyelamatkan nyawa anak orang lain. Raisa belajar bahwa anak adalah anugerah. Kalau Ibu menganggap Raisa menantu yang gagal hanya karena saya belum hamil, maka Ibu tidak pernah menganggap Raisa sebagai menantu sejak awal."

​"Berani kamu bicara begitu pada Ibu?!" wajah Sofia memerah padam.

​"Ya, Raisa berani! Karena Raisa bukan properti keluarga Syahreza!" Raisa menatap Kavindra dengan tatapan yang hancur sekaligus muak. "Dan kamu, Vindra, terima kasih atas pembelaannya. Sangat luar biasa melihat suamiku sendiri membiarkan aku diinjak-injak seperti sampah di meja makan ini."

​Raisa berbalik, melangkah cepat menuju kamarnya. Di dalam saku bajunya, tangannya meremas test pack yang baru saja ia pakai di toilet rumah sakit sore tadi. Dua garis merah itu ada di sana.

​Ia ingin berteriak bahwa ia sedang mengandung, tapi kata-kata Kavindra tentang "alternatif" membuat tenggorokannya tercekat. Untuk apa memberi tahu pria yang bahkan tidak sudi membelanya dari tuduhan mandul?

​Di ruang makan, suara Sofia masih terdengar jelas. "Lihat itu, Vindra! Dia tidak punya sopan santun! Wanita mandul dan tidak tahu diri. Kamu harus segera mengurus perceraian itu. Nadira jauh lebih baik, dia dari keluarga terpandang dan ibunya punya sepuluh cucu. Bibitnya jelas!"

​Raisa menutup pintu kamar dengan bantingan keras, lalu luruh ke lantai. Ia mendekap perutnya yang masih rata.

​"Jangan takut, Sayang," bisiknya di sela isak tangis. "Mama tidak akan membiarkan kalian tumbuh di lingkungan beracun seperti ini. Kalau mereka ingin pewaris, mereka tidak akan mendapatkannya dari rahim yang mereka hina ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 34. Ambil Alih Rumah Sakit

    Setelah menghancurkan kebohongan Nadira, kini ada satu benteng kepalsuan lagi yang harus ia runtuhkan, ibunya sendiri, Sofia. Wanita yang selama ini menjadi dalang utama di balik dalih "demi nama baik keluarga", yang rela mengorbankan kebahagiaan dan nurani anak kandungnya demi kekuasaan dan bursa saham.​Kavindra melangkah masuk dengan langkah yang mantap. Satpam penjaga gerbang yang mengenali mantan tuan mudanya buru-buru membukakan pintu tanpa berani bertanya.​Kavindra menerobos masuk ke dalam rumah. Suasana rumah hening. ​"Vindra?" Sofia menoleh, sedikit terkejut melihat putranya berdiri di ambang pintu. Namun dalam hitungan detik, raut wajahnya kembali mengeras, penuh keangkuhan seperti biasa. "Bagaimana? Sudah puas jadi orang miskin di gang kumuh itu? Mama sudah dengar kamu datang mengamuk di rumah Nadira. Kamu benar-benar mempermalukan nama Syahreza!"​Kavindra berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya menggema di ruangan yang luas itu. Wajahnya tidak lagi memancarkan rasa ta

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 33. Hasil Tes DNA

    Di sebuah kafe kecil yang tenang, Raisa duduk berhadapan dengan Kavindra. Di atas meja kayu, sebuah amplop putih tebal berstempel resmi dari laboratorium medis tergeletak.​Raisa menatap mantan suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa iba, keprihatinan, dan kesedihan yang mendalam.​"Hasilnya sudah keluar, Mas," ucap Raisa pelan, menggeser amplop itu mendekat ke arah Kavindra.​Tangan Kavindra bergetar saat menyentuh kertas tebal tersebut. Suasana di sekitar mereka seolah mendadak hening. Kavindra menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh. Dengan hati-hati, ia merobek pinggiran amplop dan mengeluarkan beberapa lembar kertas laporan medis di dalamnya.​Matanya langsung tertuju pada baris tabel paling bawah, pada bagian kesimpulan ilmiah yang tertulis dengan cetak tebal:​Probabilitas Keayahan (Probability of Paternity): 0%Dengan ini disimpulkan bahwa Kavindra Syahreza DIBUKTIKAN BUKAN MERUPAKAN AYAH BIOLOGIS dari Sherly Syahreza.​Kavind

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 32. Mimpi Baru

    ​Makan malam berlanjut dengan tawa yang lebih ceria. Arkan terus membicarakan rencananya untuk latihan basket di hari Sabtu bersama Abimanyu, sementara Aira sibuk meminta makanan penutup berupa mochi es krim. Bagi orang luar, mereka tampak seperti keluarga yang sempurna. Bagi Raisa, ini adalah titik balik, sebuah awal dari perjalanan panjang menuju ketenangan yang selama ini ia cari.​Saat mereka keluar dari restoran, udara malam Jakarta terasa lebih bersahabat. Abimanyu menggandeng tangan Raisa, sementara Arkan dan Aira berjalan di depan dengan riang.​"Mas," panggil Raisa saat mereka sampai di parkiran.​Abimanyu menoleh. "Ya?"​"Terima kasih untuk malam ini. Ini ... adalah malam yang tidak akan aku lupakan."​Abimanyu tersenyum, senyum yang sangat menenangkan. "Iya Sa. Lagi pula masih ada banyak malam-malam indah yang menanti kita."​Raisa mengangguk. Ia tahu ia membuat keputusan yang tepat. Urusan dengan Kavindra hanyalah satu bab terakhir yang harus ia tutup sebelum ia bisa mula

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 31. Lamaran

    Raisa melangkah keluar rumah sakit. Di tangannya, selembar tanda terima berwarna putih terselip di dalam tasnya, sebuah dokumen yang menjadi saksi bisu atas permintaan aneh dari mantan suaminya.​"Satu minggu lagi, Mas Kavindra akan tahu jawabannya," gumam Raisa pelan pada dirinya sendiri.​Ia teringat wajah Kavindra kemarin. Wajah yang biasanya angkuh, kini tampak memelas dan penuh ketidakpastian. Ada rasa iba yang menyeruak di dada Raisa. Meski luka yang pernah ia alami karena Kavindra sangat dalam, naluri medis dan sisi kemanusiaannya tidak bisa berbohong. Bagaimanapun, Kavindra adalah ayah dari anak-anaknya.​"Ibu Raisa?" Suara seorang pria dari meja resepsionis membuyarkan lamunannya. "Proses administrasi sudah selesai. Sampel telah kami terima dan akan segera masuk ke tahap analisis DNA. Hasilnya bisa diambil tepat tujuh hari dari sekarang."​Raisa mengangguk mantap. "Terima kasih. Tolong pastikan kerahasiaannya tetap terjaga. Ini sangat sensitif."​"Tentu, Bu. Kami menjamin pr

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 30. Tes DNA

    Suasana rumah Nadira masih tetap sama. Mewah dan dingin. Kavindra berdiri di depan pintu utama, menatap bayangannya sendiri pada permukaan pintu kayu yang dipoles mengilap. Ia merasa seperti orang asing di rumah yang dulunya ia tinggali selama bertahun-tahun.​Seorang asisten rumah tangga membukanya. Nadira duduk di meja makan panjang, menyesap jus jeruk dengan gaun sutra hitam yang membalut tubuhnya. Sherly, putrinya, duduk di seberang meja dengan tablet di tangan, wajahnya tampak bosan.​"Vindra? Kamu datang juga?" Nadira meletakkan gelasnya. Matanya meneliti penampilan Kavindra dari ujung kaki ke ujung kepala. Kemeja murah, celana kain yang tidak disetrika sempurna, dan sepatu yang sudah terlihat lusuh. "Mau minta jatah bulanan lagi? Oh, aku lupa, kamu kan sudah melepaskan semua hakmu."​Kavindra mengabaikan sindiran itu. Ia berjalan mendekat ke arah Sherly. "Hai, Sayang."​Sherly mendongak. Matanya berbinar seketika. "Papa!" Gadis kecil itu melompat dari kursinya dan berlari meme

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 29

    ​"Sama sekali tidak, Sa. Mereka pintar sekali, tadi sempat makan siang bareng dan tidur siang di dalam," jawab Kavindra, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tegap dan ikhlas. Ia lalu menoleh ke arah Abimanyu. "Terima kasih sudah mengantar Raisa ke sini, Dok."​Abimanyu mengangguk sopan, tersenyum ramah tanpa ada nada merendahkan. "Sama-sama, Dokter Vindra. Kebetulan tadi saya sedang ada jadwal luang di rumah sakit, jadi sekalian menemani Raisa menjemput anak-anak."​"Om Abi tadi bawa es krim cokelat loh di mobil buat Arkan sama Aira!" timpal Aira dengan polosnya, membuat Raisa buru-buru menyentuh pundak putrinya.​"Aira, tidak sopan bicara begitu di depan Papa," tegur Raisa halus.​Kavindra hanya tersenyum getir, ia mengangguk pelan pada Aira. "Tidak apa-apa, Sayang. Bagus dong, dimakan ya es krimnya dari Om Abi."​Melihat hari yang semakin sore, Raisa kemudian menunduk dan mengusap pipi Aira. "Ayo, anak-anak, kita pamit dulu sama Papa. Kita harus pulang sekarang."​"Yah, c

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 12. Sampel

    Pagi itu, suasana di ruang kepala departemen pediatri terasa tegang. Raisa menatap tajam pria yang berdiri di depan mejanya dengan santai. ​Kavindra meletakkan sebuah brosur undangan resmi di atas meja Raisa. "Seminar Nasional Pediatri Modern: Inovasi Penanganan Penyakit Langka pada Anak".​"Aku i

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 11. Penolakan

    Lantai bawah RS Syahreza Medical Center pagi itu masih terasa sejuk. Kavindra yang biasanya ditakuti oleh ratusan karyawan itu kini berdiri mematung dengan dua kotak besar di tangannya. Satu kotak berisi mille-feuille cokelat premium dengan hiasan buah beri segar, dan satu lagi adalah kotak mainan

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 8. Tidak Tahu Alamat

    "Om cuma mau kenal sama anak hebat yang tadi berani membela Mamanya," jawab Kavindra jujur. Ia mengulurkan tangan, bermaksud mengacak rambut Arkan, tetapi Arkan menghindar dengan sopan.​"Jangan, Om. Rambutku baru dirapikan Mama tadi pagi," tolak Arkan.​Kavindra tertawa kecil, suara tawa yang jara

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 7. Mereka Mirip

    RS Syahreza Medical Center tampak lebih sibuk dari biasanya. Sebuah mobil sedan putih sederhana berhenti di area parkir khusus dokter. Raisa turun dengan setelan blazer emerald yang dipadukan dengan celana kain hitam, memberikan kesan elegan namun penuh otoritas.​Di kursi belakang, Arkan dan Aira

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status