Share

Bab 5. Siapa Mereka?

Penulis: Agniya14
last update Tanggal publikasi: 2026-01-26 15:17:05

Raisa berdiri di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Direktur Utama RS Medika Utama. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan letak map di pelukannya, lalu mengetuk pintu dengan mantap.

​"Masuk." Suara bariton dr. Gunawan terdengar dari dalam.

​Pria paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar saat melihat Raisa. "Ah, dr. Raisa. Silakan duduk. Ada apa? Mau membahas pengajuan alat ventilator baru untuk ruang NICU?"

​Raisa duduk dengan tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan ketetapan hati yang sulit digoyahkan. Ia meletakkan map putih itu di atas meja kerja sang Direktur. "Bukan, Dok. Saya ke sini untuk menyerahkan ini."

​dr. Gunawan mengambil map tersebut, membukanya, dan seketika senyumnya memudar. Matanya membelalak menatap baris demi baris kata di surat itu. "Pengunduran diri? Dokter Raisa, kamu bercanda, kan?"

​"Saya serius, Dok. Saya mengajukan resign per hari ini, dengan masa transisi satu minggu untuk serah terima pasien," jawab Raisa lembut.

​dr. Gunawan menyandarkan punggungnya, wajahnya tampak sangat kecewa. "Tapi kenapa? Apa karena gaji? Kalau soal itu, kita bisa bicarakan. Saya bisa ajukan kenaikan tiga puluh persen ke dewan komisaris. Kamu adalah aset terbesar departemen anak kami, Raisa. Pasien-pasien rela mengantre berjam-jam hanya untuk ditangani oleh kamu."

​Raisa menggeleng pelan. "Ini bukan soal uang, Dok. RS Medika Utama sudah sangat baik kepada saya selama ini. Dokter tahu sendiri, rumah sakit ini adalah tempat pertama yang menerima saya saat saya belum menjadi siapa-siapa."

​"Lalu kenapa? Apa ada tawaran dari rumah sakit luar negeri?" dr. Gunawan mencecar. "Atau, tunggu. Jangan bilang ini karena tawaran dari Syahreza Medical Center?"

​Raisa terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. "Benar, Dok. Saya akan pindah ke sana."

​"Raisa!" dr. Gunawan memukul meja pelan, bukan karena marah, tapi karena sangat menyayangkan. "Syahreza itu memang besar, tapi tekanannya luar biasa. Budaya kerjanya kaku, sangat berorientasi pada profit dan nama besar keluarga. Di sini, kamu punya kebebasan. Kamu sudah dianggap keluarga oleh staf di sini. Kenapa harus ke sana?"

​"Ada amanah yang harus saya teruskan, Dok," jawab Raisa, teringat pada Selly dan juga tantangan yang diberikan Kavindra. "Dan secara profesional, saya rasa saya butuh tantangan baru untuk mengembangkan riset pediatri yang sedang saya kerjakan."

​"Riset itu bisa kamu kerjakan di sini! Saya akan beri dana penuh!"

​"Mohon maaf, Dok. Keputusan saya sudah bulat," potong Raisa dengan sopan. "Saya sudah menandatangani komitmen awal. Saya hanya ingin keluar dari sini dengan cara yang baik-baik, karena itulah saya minta waktu satu minggu untuk memastikan semua pasien saya mendapatkan dokter pengganti yang tepat."

​dr. Gunawan menghela napas panjang, ia memijat pelipisnya. "Siapa yang akan menjaga Aira dan Arkan nanti? Kamu tahu sendiri, daycare di sini sangat aman karena kita saling kenal. Apa di sana kamu bisa tenang menitipkan mereka?"

​Mendengar nama kedua anaknya, mata Raisa sedikit melembut. "Saya akan mencari solusinya, Dok. Saya janji, selama satu minggu terakhir ini, saya akan bekerja dua kali lebih keras untuk memastikan semua rekam medis pasien tersusun rapi untuk dokter pengganti."

​Ruangan itu hening selama beberapa saat. dr. Gunawan menatap Raisa, menyadari bahwa wanita di depannya bukan lagi dokter muda yang ragu-ragu, melainkan seorang ibu dan dokter yang sangat tangguh.

​"Saya benar-benar merasa kehilangan, Raisa," ucap dr. Gunawan akhirnya, suaranya melemah. "Jujur, saya merasa gagal mempertahankan dokter terbaik saya. Tapi saya juga tahu, kalau kamu sudah berkata 'bulat', tidak akan ada yang bisa menarikmu kembali."

​Beliau mengambil pulpen dan dengan tangan berat menandatangani surat pengunduran diri itu. "Satu minggu. Saya pegang janjimu untuk serah terima. Dan Raisa, pintu rumah sakit ini selalu terbuka untukmu. Kalau di Syahreza sana kamu merasa tidak nyaman, pulanglah ke sini."

​Raisa berdiri dan membungkuk hormat, matanya sedikit berkaca-kaca karena haru. "Terima kasih banyak, Dok. Terima kasih sudah menjadi atasan dan orang tua yang baik bagi saya selama ini."

​Saat Raisa keluar dari ruangan itu, ia berpapasan dengan Suster Maya yang sedang membawa berkas.

​"Dokter Raisa? Kok wajahnya sedih?" tanya Suster Maya.

​Raisa tersenyum tipis, mencoba tegar. "Enggak apa-apa, Sus. Oh iya, tolong bantu saya kumpulkan rekam medis pasien anak dari bangsal Melati ya. Saya mau cicil laporannya sekarang."

​Raisa berjalan menuju ruangannya, hatinya terasa lebih ringan namun sekaligus berdebar. Satu minggu lagi, ia akan benar-benar kembali ke lingkungan Kavindra.

*

Suasana Grand Ballroom RS Syahreza malam itu sangat megah. Raisa melangkah masuk dengan gaun formal yang anggun dan tetap sopan. Di kedua sisi tangannya, ia menggandeng erat Aira dan Arkan.

​Raisa tahu risikonya, tapi ia tidak punya pengasuh malam ini, dan ia ingin menunjukkan pada keluarga Syahreza bahwa dia telah berhasil menjadi wanita seutuhnya dan memiliki anak kembar.

​"Ma, ramai sekali," bisik Arunika sambil mengeratkan pegangannya pada gaun Raisa.

​"Jangan jauh-jauh dari Mama ya, Sayang," jawab Raisa lembut.

​Tiba-tiba, kerumunan tamu terbelah. Kavindra berjalan mendekat dengan setelan tuksedo hitam yang membuatnya tampak sangat berwibawa. Langkahnya terhenti beberapa meter di depan Raisa. Matanya tidak tertuju pada mantan istrinya, melainkan pada dua bocah kecil di sampingnya.

​Jantung Kavindra berdegup kencang secara tidak wajar. Ada tarikan yang kuat saat ia menatap wajah Arkan yang sedang menatapnya balik dengan berani.

​"Raisa, siapa mereka?" tanya Kavindra, suaranya terdengar serak.

​Raisa menarik napas panjang, menguatkan fondasi hatinya. "Ini anak-anak saya, Pak Direktur. Arkan dan Aira."

​Kavindra mematung. Ia berjongkok agar tingginya sejajar dengan si kembar. Ia menatap lekat-lekat garis wajah Arkan. Alis itu, bentuk bibir yang tegas, hingga sorot mata yang dingin, itu adalah cermin dirinya sendiri.

​"Anakmu?" Kavindra mendongak menatap Raisa dengan tatapan tak percaya.

​"Iya, Pak," jawab Raisa dengan senyum penuh kemenangan. "Seperti yang Anda lihat, tuduhan mandul itu tidak terbukti. Saya hanya butuh pria yang tepat untuk bisa memiliki mereka."

​Kavindra berdiri perlahan, wajahnya tampak tegang. "Pria yang tepat? Kamu sudah menikah lagi?"

​"Tentu saja. Saya tidak mungkin membesarkan anak kembar sendirian tanpa dukungan suami yang mencintai saya," bohong Raisa dengan lancar. Ia harus melindungi status anak-anaknya agar tidak direbut oleh keluarga Syahreza.

​Kavindra mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Ada rasa panas yang membakar dadanya. Ia kembali menatap Arkan yang kini sedang membetulkan letak kerah bajunya, sebuah gerakan yang selalu dilakukan Kavindra saat merasa tidak nyaman.

​"Siapa nama suamimu?" cecar Kavindra.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 34. Ambil Alih Rumah Sakit

    Setelah menghancurkan kebohongan Nadira, kini ada satu benteng kepalsuan lagi yang harus ia runtuhkan, ibunya sendiri, Sofia. Wanita yang selama ini menjadi dalang utama di balik dalih "demi nama baik keluarga", yang rela mengorbankan kebahagiaan dan nurani anak kandungnya demi kekuasaan dan bursa saham.​Kavindra melangkah masuk dengan langkah yang mantap. Satpam penjaga gerbang yang mengenali mantan tuan mudanya buru-buru membukakan pintu tanpa berani bertanya.​Kavindra menerobos masuk ke dalam rumah. Suasana rumah hening. ​"Vindra?" Sofia menoleh, sedikit terkejut melihat putranya berdiri di ambang pintu. Namun dalam hitungan detik, raut wajahnya kembali mengeras, penuh keangkuhan seperti biasa. "Bagaimana? Sudah puas jadi orang miskin di gang kumuh itu? Mama sudah dengar kamu datang mengamuk di rumah Nadira. Kamu benar-benar mempermalukan nama Syahreza!"​Kavindra berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya menggema di ruangan yang luas itu. Wajahnya tidak lagi memancarkan rasa ta

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 33. Hasil Tes DNA

    Di sebuah kafe kecil yang tenang, Raisa duduk berhadapan dengan Kavindra. Di atas meja kayu, sebuah amplop putih tebal berstempel resmi dari laboratorium medis tergeletak.​Raisa menatap mantan suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa iba, keprihatinan, dan kesedihan yang mendalam.​"Hasilnya sudah keluar, Mas," ucap Raisa pelan, menggeser amplop itu mendekat ke arah Kavindra.​Tangan Kavindra bergetar saat menyentuh kertas tebal tersebut. Suasana di sekitar mereka seolah mendadak hening. Kavindra menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh. Dengan hati-hati, ia merobek pinggiran amplop dan mengeluarkan beberapa lembar kertas laporan medis di dalamnya.​Matanya langsung tertuju pada baris tabel paling bawah, pada bagian kesimpulan ilmiah yang tertulis dengan cetak tebal:​Probabilitas Keayahan (Probability of Paternity): 0%Dengan ini disimpulkan bahwa Kavindra Syahreza DIBUKTIKAN BUKAN MERUPAKAN AYAH BIOLOGIS dari Sherly Syahreza.​Kavind

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 32. Mimpi Baru

    ​Makan malam berlanjut dengan tawa yang lebih ceria. Arkan terus membicarakan rencananya untuk latihan basket di hari Sabtu bersama Abimanyu, sementara Aira sibuk meminta makanan penutup berupa mochi es krim. Bagi orang luar, mereka tampak seperti keluarga yang sempurna. Bagi Raisa, ini adalah titik balik, sebuah awal dari perjalanan panjang menuju ketenangan yang selama ini ia cari.​Saat mereka keluar dari restoran, udara malam Jakarta terasa lebih bersahabat. Abimanyu menggandeng tangan Raisa, sementara Arkan dan Aira berjalan di depan dengan riang.​"Mas," panggil Raisa saat mereka sampai di parkiran.​Abimanyu menoleh. "Ya?"​"Terima kasih untuk malam ini. Ini ... adalah malam yang tidak akan aku lupakan."​Abimanyu tersenyum, senyum yang sangat menenangkan. "Iya Sa. Lagi pula masih ada banyak malam-malam indah yang menanti kita."​Raisa mengangguk. Ia tahu ia membuat keputusan yang tepat. Urusan dengan Kavindra hanyalah satu bab terakhir yang harus ia tutup sebelum ia bisa mula

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 31. Lamaran

    Raisa melangkah keluar rumah sakit. Di tangannya, selembar tanda terima berwarna putih terselip di dalam tasnya, sebuah dokumen yang menjadi saksi bisu atas permintaan aneh dari mantan suaminya.​"Satu minggu lagi, Mas Kavindra akan tahu jawabannya," gumam Raisa pelan pada dirinya sendiri.​Ia teringat wajah Kavindra kemarin. Wajah yang biasanya angkuh, kini tampak memelas dan penuh ketidakpastian. Ada rasa iba yang menyeruak di dada Raisa. Meski luka yang pernah ia alami karena Kavindra sangat dalam, naluri medis dan sisi kemanusiaannya tidak bisa berbohong. Bagaimanapun, Kavindra adalah ayah dari anak-anaknya.​"Ibu Raisa?" Suara seorang pria dari meja resepsionis membuyarkan lamunannya. "Proses administrasi sudah selesai. Sampel telah kami terima dan akan segera masuk ke tahap analisis DNA. Hasilnya bisa diambil tepat tujuh hari dari sekarang."​Raisa mengangguk mantap. "Terima kasih. Tolong pastikan kerahasiaannya tetap terjaga. Ini sangat sensitif."​"Tentu, Bu. Kami menjamin pr

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 30. Tes DNA

    Suasana rumah Nadira masih tetap sama. Mewah dan dingin. Kavindra berdiri di depan pintu utama, menatap bayangannya sendiri pada permukaan pintu kayu yang dipoles mengilap. Ia merasa seperti orang asing di rumah yang dulunya ia tinggali selama bertahun-tahun.​Seorang asisten rumah tangga membukanya. Nadira duduk di meja makan panjang, menyesap jus jeruk dengan gaun sutra hitam yang membalut tubuhnya. Sherly, putrinya, duduk di seberang meja dengan tablet di tangan, wajahnya tampak bosan.​"Vindra? Kamu datang juga?" Nadira meletakkan gelasnya. Matanya meneliti penampilan Kavindra dari ujung kaki ke ujung kepala. Kemeja murah, celana kain yang tidak disetrika sempurna, dan sepatu yang sudah terlihat lusuh. "Mau minta jatah bulanan lagi? Oh, aku lupa, kamu kan sudah melepaskan semua hakmu."​Kavindra mengabaikan sindiran itu. Ia berjalan mendekat ke arah Sherly. "Hai, Sayang."​Sherly mendongak. Matanya berbinar seketika. "Papa!" Gadis kecil itu melompat dari kursinya dan berlari meme

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 29

    ​"Sama sekali tidak, Sa. Mereka pintar sekali, tadi sempat makan siang bareng dan tidur siang di dalam," jawab Kavindra, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tegap dan ikhlas. Ia lalu menoleh ke arah Abimanyu. "Terima kasih sudah mengantar Raisa ke sini, Dok."​Abimanyu mengangguk sopan, tersenyum ramah tanpa ada nada merendahkan. "Sama-sama, Dokter Vindra. Kebetulan tadi saya sedang ada jadwal luang di rumah sakit, jadi sekalian menemani Raisa menjemput anak-anak."​"Om Abi tadi bawa es krim cokelat loh di mobil buat Arkan sama Aira!" timpal Aira dengan polosnya, membuat Raisa buru-buru menyentuh pundak putrinya.​"Aira, tidak sopan bicara begitu di depan Papa," tegur Raisa halus.​Kavindra hanya tersenyum getir, ia mengangguk pelan pada Aira. "Tidak apa-apa, Sayang. Bagus dong, dimakan ya es krimnya dari Om Abi."​Melihat hari yang semakin sore, Raisa kemudian menunduk dan mengusap pipi Aira. "Ayo, anak-anak, kita pamit dulu sama Papa. Kita harus pulang sekarang."​"Yah, c

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 12. Sampel

    Pagi itu, suasana di ruang kepala departemen pediatri terasa tegang. Raisa menatap tajam pria yang berdiri di depan mejanya dengan santai. ​Kavindra meletakkan sebuah brosur undangan resmi di atas meja Raisa. "Seminar Nasional Pediatri Modern: Inovasi Penanganan Penyakit Langka pada Anak".​"Aku i

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 11. Penolakan

    Lantai bawah RS Syahreza Medical Center pagi itu masih terasa sejuk. Kavindra yang biasanya ditakuti oleh ratusan karyawan itu kini berdiri mematung dengan dua kotak besar di tangannya. Satu kotak berisi mille-feuille cokelat premium dengan hiasan buah beri segar, dan satu lagi adalah kotak mainan

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 8. Tidak Tahu Alamat

    "Om cuma mau kenal sama anak hebat yang tadi berani membela Mamanya," jawab Kavindra jujur. Ia mengulurkan tangan, bermaksud mengacak rambut Arkan, tetapi Arkan menghindar dengan sopan.​"Jangan, Om. Rambutku baru dirapikan Mama tadi pagi," tolak Arkan.​Kavindra tertawa kecil, suara tawa yang jara

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 7. Mereka Mirip

    RS Syahreza Medical Center tampak lebih sibuk dari biasanya. Sebuah mobil sedan putih sederhana berhenti di area parkir khusus dokter. Raisa turun dengan setelan blazer emerald yang dipadukan dengan celana kain hitam, memberikan kesan elegan namun penuh otoritas.​Di kursi belakang, Arkan dan Aira

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status