เข้าสู่ระบบRaisa berdiri di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Direktur Utama RS Medika Utama. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan letak map di pelukannya, lalu mengetuk pintu dengan mantap.
"Masuk." Suara bariton dr. Gunawan terdengar dari dalam. Pria paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar saat melihat Raisa. "Ah, dr. Raisa. Silakan duduk. Ada apa? Mau membahas pengajuan alat ventilator baru untuk ruang NICU?" Raisa duduk dengan tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan ketetapan hati yang sulit digoyahkan. Ia meletakkan map putih itu di atas meja kerja sang Direktur. "Bukan, Dok. Saya ke sini untuk menyerahkan ini." dr. Gunawan mengambil map tersebut, membukanya, dan seketika senyumnya memudar. Matanya membelalak menatap baris demi baris kata di surat itu. "Pengunduran diri? Dokter Raisa, kamu bercanda, kan?" "Saya serius, Dok. Saya mengajukan resign per hari ini, dengan masa transisi satu minggu untuk serah terima pasien," jawab Raisa lembut. dr. Gunawan menyandarkan punggungnya, wajahnya tampak sangat kecewa. "Tapi kenapa? Apa karena gaji? Kalau soal itu, kita bisa bicarakan. Saya bisa ajukan kenaikan tiga puluh persen ke dewan komisaris. Kamu adalah aset terbesar departemen anak kami, Raisa. Pasien-pasien rela mengantre berjam-jam hanya untuk ditangani oleh kamu." Raisa menggeleng pelan. "Ini bukan soal uang, Dok. RS Medika Utama sudah sangat baik kepada saya selama ini. Dokter tahu sendiri, rumah sakit ini adalah tempat pertama yang menerima saya saat saya belum menjadi siapa-siapa." "Lalu kenapa? Apa ada tawaran dari rumah sakit luar negeri?" dr. Gunawan mencecar. "Atau, tunggu. Jangan bilang ini karena tawaran dari Syahreza Medical Center?" Raisa terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. "Benar, Dok. Saya akan pindah ke sana." "Raisa!" dr. Gunawan memukul meja pelan, bukan karena marah, tapi karena sangat menyayangkan. "Syahreza itu memang besar, tapi tekanannya luar biasa. Budaya kerjanya kaku, sangat berorientasi pada profit dan nama besar keluarga. Di sini, kamu punya kebebasan. Kamu sudah dianggap keluarga oleh staf di sini. Kenapa harus ke sana?" "Ada amanah yang harus saya teruskan, Dok," jawab Raisa, teringat pada Selly dan juga tantangan yang diberikan Kavindra. "Dan secara profesional, saya rasa saya butuh tantangan baru untuk mengembangkan riset pediatri yang sedang saya kerjakan." "Riset itu bisa kamu kerjakan di sini! Saya akan beri dana penuh!" "Mohon maaf, Dok. Keputusan saya sudah bulat," potong Raisa dengan sopan. "Saya sudah menandatangani komitmen awal. Saya hanya ingin keluar dari sini dengan cara yang baik-baik, karena itulah saya minta waktu satu minggu untuk memastikan semua pasien saya mendapatkan dokter pengganti yang tepat." dr. Gunawan menghela napas panjang, ia memijat pelipisnya. "Siapa yang akan menjaga Aira dan Arkan nanti? Kamu tahu sendiri, daycare di sini sangat aman karena kita saling kenal. Apa di sana kamu bisa tenang menitipkan mereka?" Mendengar nama kedua anaknya, mata Raisa sedikit melembut. "Saya akan mencari solusinya, Dok. Saya janji, selama satu minggu terakhir ini, saya akan bekerja dua kali lebih keras untuk memastikan semua rekam medis pasien tersusun rapi untuk dokter pengganti." Ruangan itu hening selama beberapa saat. dr. Gunawan menatap Raisa, menyadari bahwa wanita di depannya bukan lagi dokter muda yang ragu-ragu, melainkan seorang ibu dan dokter yang sangat tangguh. "Saya benar-benar merasa kehilangan, Raisa," ucap dr. Gunawan akhirnya, suaranya melemah. "Jujur, saya merasa gagal mempertahankan dokter terbaik saya. Tapi saya juga tahu, kalau kamu sudah berkata 'bulat', tidak akan ada yang bisa menarikmu kembali." Beliau mengambil pulpen dan dengan tangan berat menandatangani surat pengunduran diri itu. "Satu minggu. Saya pegang janjimu untuk serah terima. Dan Raisa, pintu rumah sakit ini selalu terbuka untukmu. Kalau di Syahreza sana kamu merasa tidak nyaman, pulanglah ke sini." Raisa berdiri dan membungkuk hormat, matanya sedikit berkaca-kaca karena haru. "Terima kasih banyak, Dok. Terima kasih sudah menjadi atasan dan orang tua yang baik bagi saya selama ini." Saat Raisa keluar dari ruangan itu, ia berpapasan dengan Suster Maya yang sedang membawa berkas. "Dokter Raisa? Kok wajahnya sedih?" tanya Suster Maya. Raisa tersenyum tipis, mencoba tegar. "Enggak apa-apa, Sus. Oh iya, tolong bantu saya kumpulkan rekam medis pasien anak dari bangsal Melati ya. Saya mau cicil laporannya sekarang." Raisa berjalan menuju ruangannya, hatinya terasa lebih ringan namun sekaligus berdebar. Satu minggu lagi, ia akan benar-benar kembali ke lingkungan Kavindra. * Suasana Grand Ballroom RS Syahreza malam itu sangat megah. Raisa melangkah masuk dengan gaun formal yang anggun dan tetap sopan. Di kedua sisi tangannya, ia menggandeng erat Aira dan Arkan. Raisa tahu risikonya, tapi ia tidak punya pengasuh malam ini, dan ia ingin menunjukkan pada keluarga Syahreza bahwa dia telah berhasil menjadi wanita seutuhnya dan memiliki anak kembar. "Ma, ramai sekali," bisik Arunika sambil mengeratkan pegangannya pada gaun Raisa. "Jangan jauh-jauh dari Mama ya, Sayang," jawab Raisa lembut. Tiba-tiba, kerumunan tamu terbelah. Kavindra berjalan mendekat dengan setelan tuksedo hitam yang membuatnya tampak sangat berwibawa. Langkahnya terhenti beberapa meter di depan Raisa. Matanya tidak tertuju pada mantan istrinya, melainkan pada dua bocah kecil di sampingnya. Jantung Kavindra berdegup kencang secara tidak wajar. Ada tarikan yang kuat saat ia menatap wajah Arkan yang sedang menatapnya balik dengan berani. "Raisa, siapa mereka?" tanya Kavindra, suaranya terdengar serak. Raisa menarik napas panjang, menguatkan fondasi hatinya. "Ini anak-anak saya, Pak Direktur. Arkan dan Aira." Kavindra mematung. Ia berjongkok agar tingginya sejajar dengan si kembar. Ia menatap lekat-lekat garis wajah Arkan. Alis itu, bentuk bibir yang tegas, hingga sorot mata yang dingin, itu adalah cermin dirinya sendiri. "Anakmu?" Kavindra mendongak menatap Raisa dengan tatapan tak percaya. "Iya, Pak," jawab Raisa dengan senyum penuh kemenangan. "Seperti yang Anda lihat, tuduhan mandul itu tidak terbukti. Saya hanya butuh pria yang tepat untuk bisa memiliki mereka." Kavindra berdiri perlahan, wajahnya tampak tegang. "Pria yang tepat? Kamu sudah menikah lagi?" "Tentu saja. Saya tidak mungkin membesarkan anak kembar sendirian tanpa dukungan suami yang mencintai saya," bohong Raisa dengan lancar. Ia harus melindungi status anak-anaknya agar tidak direbut oleh keluarga Syahreza. Kavindra mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Ada rasa panas yang membakar dadanya. Ia kembali menatap Arkan yang kini sedang membetulkan letak kerah bajunya, sebuah gerakan yang selalu dilakukan Kavindra saat merasa tidak nyaman. "Siapa nama suamimu?" cecar Kavindra."Itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, Pak Direktur," sahut Raisa dingin.Kavindra melangkah satu langkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak didengar tamu lain. "Jangan bercanda, Raisa. Lihat anak laki-laki ini. Aku seperti melihat cermin masa kecilku. Bagaimana mungkin anak dari pria lain bisa semirip ini denganku?"Raisa tetap tenang, meski di dalam hatinya ia gemetar hebat. "Banyak orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah, Pak Kavindra. Mungkin itu hanya kebetulan, atau mungkin Tuhan sedang ingin menegurmu lewat wajah anak saya.""Mama, ayo pulang. Arkan udah bosan," celetuk Arkan sambil menarik ujung blazer Raisa. Suaranya yang tegas membuat Kavindra semakin terpaku."Kita pulang sekarang, Sayang," ucap Raisa. Ia menatap Kavindra untuk terakhir kalinya malam itu. "Permisi, Pak Direktur. Tugas saya di sini hanya hadir sebagai perkenalan. Saya harap setelah ini kita hanya bicara soal medis di rumah sakit."Raisa berbalik dan berjalan menjauh, meninggalka
Raisa berdiri di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Direktur Utama RS Medika Utama. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan letak map di pelukannya, lalu mengetuk pintu dengan mantap."Masuk." Suara bariton dr. Gunawan terdengar dari dalam.Pria paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar saat melihat Raisa. "Ah, dr. Raisa. Silakan duduk. Ada apa? Mau membahas pengajuan alat ventilator baru untuk ruang NICU?"Raisa duduk dengan tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan ketetapan hati yang sulit digoyahkan. Ia meletakkan map putih itu di atas meja kerja sang Direktur. "Bukan, Dok. Saya ke sini untuk menyerahkan ini."dr. Gunawan mengambil map tersebut, membukanya, dan seketika senyumnya memudar. Matanya membelalak menatap baris demi baris kata di surat itu. "Pengunduran diri? Dokter Raisa, kamu bercanda, kan?""Saya serius, Dok. Saya mengajukan resign per hari ini, dengan masa transisi satu minggu untuk serah terima pasien," jawab Raisa lembut. dr. Gunawan menyandarkan punggungny
Pagi itu, suasana di RS Medika Utama terasa sedikit berbeda bagi Raisa. Setelah memastikan teman sejawatnya bersedia mengambil alih jadwal praktiknya, Raisa melangkah menuju fasilitas daycare rumah sakit tersebut."Ingat ya, Aira, Arkan, hari ini kalian main di sini dulu sama Suster Via. Mama ada urusan sebentar di tempat lain," ucap Raisa sambil berjongkok, merapikan kerah baju Arkan dan menyisipkan rambut Arunika Aira ke belakang telinga."Mama mau ke rumah sakit yang besar itu ya? Yang ada es krim pelanginya?" tanya Arunika polos.Raisa tersenyum tipis, meski hatinya getir. "Mama ada pertemuan kerja, Sayang. Nanti kalau sudah selesai, Mama langsung jemput. Jangan nakal, ya?""Siap, Mama!" seru Arkan sambil memberi hormat ala tentara, membuat Raisa tertawa kecil di tengah kegugupannya.Setelah berpamitan dengan teman dokternya yang menggantikan jadwalnya, Raisa menarik napas panjang. Ia mengganti jas putihnya dengan blazer formal hitamnya. Dengan langkah mantap, ia mengemudika
Kavindra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"Raisa tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar melewati pintu belakang, menghindari kerumunan tamu. Ia memesan taksi online menuju sebuah kamar kos kecil berukuran 3x4 meter.Di dalam taksi, Raisa akhirnya menangis sesenggukan. Ia meraba perutnya yang masih datar, di mana ada dua nyawa di dalamnya. "Maafkan Mama, Sayang," isaknya. "Papa kalian sedang merayakan kebahagiaannya dengan wanita lain di sana. Mulai hari ini, hanya ada kita. Mama akan jadi dokter hebat untuk kalian. Mama janji."Lima tahun kemudian. "Ma! Arkan makan sayurnya pakai tangan!" teriak Aira Maharani, bocah perempuan sambil menunjuk kembarannya.Arkan Pradipta hanya menyengir. "Habisnya wortelnya licin, Ma. Susah pakai sendok."Raisa tertawa kecil sambil mengancingkan kemeja kerjanya. "Ya sudah, habis ini cuci tangan yang bersih. Mama ada jadwal operasi kecil pagi ini di Medika Utama."Raisa bekerja sebagai Spesialis Anak di RS Medika Utama, sebuah rumah sakit swa
Raisa duduk di tepi tempat tidur, menggenggam test pack. Di luar, suara tawa sinis Ibu Sofia dan suara rendah Kavindra masih terdengar. Tak lama kamar terbuka. Kavindra masuk dengan wajah tanpa dosa. Ia mulai melonggarkan dasinya, bahkan tidak menatap Raisa yang matanya sembap."Berhenti menangis, Raisa. Kamu tuh berlebihan," ucap Kavindra datar. "Ibu lagi emosi. Kamu tahu sendiri bagaimana beliau sangat menginginkan cucu."Raisa mendongak, menatap punggung suaminya dengan tatapan dingin. "Berlebihan? Dia menyebutku mandul, Vindra. Dia menyebutku investasi gagal di depan matamu. Dan kamu cuma diam sambil main ponsel?"Kavindra berbalik, menatap Raisa dengan kening berkerut. "Lalu aku harus apa? Membentak ibuku sendiri demi kamu? Aku sudah bilang, kalau kamu merasa tersinggung, buktikan dengan kehamilanmu. Tapi kenyataannya? Kamu lebih sering tidur di bangsal rumah sakit daripada tidur denganku di kamar ini."Raisa berdiri, memasukkan test pack itu jauh ke dalam laci meja riasnya
"Kapan kamu mau ngasih Ibu cucu, Raisa? Tiga tahun kalian menikah dan rumah ini masih sepi kayak kuburan. Nggak ada suara tangis bayi di rumah ini."Wajah Raisa memucat. "Bu, Raisa sedang berjuang menyelesaikan residen spesialis anak. Jadwal jaga Raisa sangat padat, dan kami juga sedang berusaha—""Berusaha? Tiga tahun, Raisa. Jangan-jangan memang kamu yang mandul?" potong Sofia tanpa belas kasihan. "Keluarga Syahreza itu butuh pewaris untuk mewarisi semua harta keluarga kami. Kavindra adalah putra tunggal. Kalau kamu tidak bisa memberikan anak, apa gunanya kamu di keluarga ini?""Ibu, tolong. Jangan mulai lagi." Kavindra akhirnya bersuara, tetapi nadanya datar. Tidak membela Raisa. "Jangan mulai lagi? Vindra, lihat istrimu! Dia terlalu sibuk mengurusi anak orang lain di rumah sakit sampai lupa dengan dirinya sendiri!" Sofia menggebrak meja ringan. "Ibu sudah konsultasi dengan dr. Hanum, spesialis kesuburan. Dia bilang di usia pernikahan kalian sekarang, kalau belum ada tanda-tan







