LOGIN
“KAMU PULANG JAM BERAPA TADI MALAM?!”
Belum lima menit Selin membuka mata, suara Mamanya, Sekar sudah naik satu oktaf dari balik pintu kamar. Selin meringkuk di bawah selimut, rambutnya acak-acakan, wajah kusut, mata masih berat. Ia mengedip dua kali. “Jam. . . dua?” Suaranya serak. “kayaknya.” “KAYAKNYA?!” Mama meledak. Selin menarik selimut lebih tinggi, seolah kain itu bisa menyelamatkannya dari ceramah pagi. “Selina Athalia Putri.” Mama melangkah masuk, berdiri di samping ranjang. “Kamu itu anak perempuan. Pulang jam dua pagi, nyetir sendiri. Kamu pikir Mama nggak capek mikir?” Selin menggaruk kepala. “Ma… itu cuma nongkrong. Bukan tawuran.” “Cuma nongkrong kok bisa pulang jam dua pagi?” Sekar bertanya cepat. “Ngumpul biasa aja,” jawab Selin mendengus kecil. Mama memijat pelipis. “Lin… Papa Mama itu capek banget ngadepin kamu. Kamu anak baik sebenarnya, tapi kelakuan kamu—susah banget diatur.” Belum sempat Selin membalas, Papa sudah muncul di ambang pintu sambil membawa gelas kopi. “Ada apa pagi-pagi ribut?” tanya Ardan santai. “Papa!” Mama langsung menunjuk Selin seolah sedang melaporkan tersangka. “Anak Papa pulang jam dua pagi! D.U.A. D.I.N.I. H.A.R.I!” Papa hanya menggeleng pelan. “Emang. . . dasar Selin.” “PA!” Mama makin kesal. Selin menyembul dari balik selimut. “Papa ngerti aku, tuh.” “Papa ngerti. Tapi bukan berarti Papa setuju, Lin.” Selin manyun. “Papa sudah capek ngomelin kamu,” lanjutnya sambil menyeruput kopi, “jadi Papa netral.” “Aku cuma butuh hiburan, Ma,” Selin menghela napas. “Kemarin stres.” “Stres apa?! Kerja bagus, hidup nyaman, pacar nggak ada — itu pilihan kamu sendiri,” Mama ngomel sambil menepuk kasur. “Kalau kamu tuh nggak terlalu bar-bar dan nggak ngegas mulu sama cowok, mungkin sudah ada yang naksir!” Selin membalik badan dan menutupi kepala dengan bantal. “Ma. . . please. Aku baru bangun.” Papa sambil berdiri, “Makanya bangun lebih pagi biar dimarahinya siang.” Sebuah bantal melayang. “PA!” Papa tertawa kecil sambil melangkah masuk. “Ya sudah, sudah. Ayo bangun. Kita mau ngobrol penting.” Selin bangkit duduk, rambutnya megar ke segala arah. “Ngobrol apa sih?” Papa menarik napas panjang. “Selin, kita dapat undangan makan malam minggu depan sama keluarga teman lama Papa. “Oke…” Selin mengangguk malas. “Terus?” Mama dan Papa saling pandang. “Dan mereka berniat menjodohkan anaknya dengan kamu.” Selin reflek berdiri. “HAH!? Serius, Ma?? Pa?? Papa mengangguk pelan. “MA— PA— INI GILA!? KALIAN MAU JODOHKAN AKU?? SEKARANG? TANPA BRIEFING?? TANPA PERINGATAN?? TANPA PERSIAPAN??” “Enggak mau!” Selin langsung protes. Mama menepuk bahu Selin. “Makanya Mama bilang sekarang. ”ya ini briefing-nya.” “BUKAN ITU MAKSUDKU!” Selin mondar- mandir. Rambutnya berantakan, ekspresi juga. “Ma… aku bahkan nggak tahu cowoknya siapa, umurnya berapa, mukanya gimana.” Matanya melebar. “Aku belum siap Ma!” “Kamu nggak pernah siap,” jawab Mama cepat. Papa menyela, “Justru itu. Kamu dikasih kesempatan buat kenal. Baru nanti kalau kamu nggak cocok, kita bicarakan lagi.” Selin terdiam. “Aku boleh nolak?” Suaranya lebih pelan. Mama menghela pelan. “Boleh.” “Tapi coba dulu,” tambah Papa. Disaat itu, Raka tiba-tiba lewat di depan pintu sambil bawa roti. “Loh? Sudah mulai perjodohan?” katanya santai. Selin melotot. “Kak jangan sok polos deh.” Raka mendekat, menepuk kepala Selin. “Adek jangan drama. Siapa tahu orangnya cakep.” “Kalaupun cakep, belum tentu cocok,” balas Selin cepat. “Tapi kalo jelek langsung nggak cocok?” Raka nyengir. “Kak! Jangan ngaco!” Selin jongkok sambil memegangi kepala. “Ya Allah… kenapa hidupku begini amat…” Papa menatap putrinya lama. “Kamu itu terlalu bebas, Lin. Sekali-sekali kamu perlu hal serius dalam hidup.” Selin cemberut. “Tapi… masih lama kan, Pa? Selin mendongak. Minggu depan kan?” Mama dan Papa saling pandang. Senyum mereka aneh. Papa berkata pelan, “Lin… makan malamnya hari ini.” Dada Selin seperti dijatuhkan dari lantai dua. “APA???” Mama langsung berdiri. “Pokoknya jam tujuh malam ya. Dandan yang cantik dan Jangan telat.” “MAMA!!!” Selin teriak sejadi-jadinya. **** —Malam Hari — Selin keluar dari kamar dengan dress hitam sederhana, make-up tipis. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan tergerai. Tetap cantik walaupun dandanya tidak berlebihan, meski wajahnya terlihat pasrah. Raka mengetuk pintu. “Udah siap tuan putri?” Goda Raka. “Belum. . . Belum siap mental,” jawab Selin. Raka mendekat dan menepuk bahunya. “Santai. Kalau cowoknya aneh, Kakak tandain pake garpu.” “Kak! Kita mau ketemu keluarga orang, bukan ngajakin duel gladiator.” “Kakak cuma tandain, bukan tusuk.” Jawab Raka dengan santainya. Selin mengelus dada. “Demi apa sih keluarga begini…” Papa sudah siap dengan kemeja. Mama pakai dress. Mereka kelihatan seperti pergi ke acara keluarga penting. Didalam mobil, Selin duduk disamping mama. Perasaannya campur aduk — canggung, kesal dan sedikit penasaran. “Lin, jangan tegang,” kata mama. “Kamu cuma makan malam.” Selin menghela napas. “Iya Ma, tapi tetap aja…” Raka yang sedang nyetir menimpali. “Kakak yakin adek bisa ngegas kalau perlu.” Selin mendelik. “Justru itu masalahnya.” Mobil melaju. Kota malam hari terasa lebih terang dari biasanya, tapi dada Selin justru semakin berat. Selin menatap keluar jendela. “Adek masih nggak mau dijodohin. Rasanya absurb. Kalo cowoknya aneh, aku kabur.” “ jangan kabur,” Papa mengingatkan. “Aku bar-bar Pa. Bukan bar- bar kabur. Aku cuma kabur kalo darurat.” Jawab Selin. “Jangan bikin malu keluarga Selin,” mama menegur. Raka dari depan, “tenang Ma, Adek cuma bikin malu dirinya sendiri kok.” Selin mencubit lengan Raka. “AW! Aduh sakit, Dek!!” “Lagian mulut kakak nih sukanya nyinyir kayak ibu - ibu komplek. Papa dan Mama Selin cuma bisa geleng-geleng kepala liat kelakuan mereka kalau udah ketemu. Yang kakaknya sukanya jahilin adeknya dan yang adeknya suka bar - bar gitu kelakuannya. Tapi kalau gak ada mereka juga rumahpun terasa sepi. Sampai akhirnya mobil berbelok memasuki ke area restoran. Tanpa Selin sadari. Dan Malam ini bukan hanya soal makan malam saja. Tapi ini juga akan mengubah hidupnya, jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.Setibanya di IGD Rumah Sakit Bandung, masuklah mama Sekar, dengan wajah pucat dan mata merah. Di belakangnya ada Kak Dika dan Pak Ardan, Papa Selin yang biasanya tenang, tapi kali ini alisnya berkerut dalam dan langkahnya cepat. Mereka berdua langsung menuju ke arah ranjang Selin.“Ya Allah Selin. . .” Mama Sekar yang melihat putrinya terbaring dengan dahi yang di perban dan selang infus di tangan kirinya langsung memeluk putrinya pelan, air matanya menetes di bahu Selin. Suaranya bergetar.Sedangkan Papa Selin yang berada di sebelahnya mengusap punggung istrinya untuk menenangkan. Dika yang berdiri di sisi lain ranjang dengan mata berkaca kaca tak kuasa melihat adiknya yang biasanya ceria kini terbaring lemah tak berdaya.Selin, yang masih setengah sadar akibat obat penghilang rasa sakit, merasakan ada tangan hangat menggenggamnya. Ia membuka mata perlahan. Bayangan kabur perlahan membentuk wajah yang sangat ia kenali.“Ma. . . ma ?” bisiknya lemah. Mama Sekar tersenyum di antara air
Pagi itu hujan belum turun, tapi langit Jakarta masih mendung sejak subuh tadi. Selin berdiri di depan cermin, merapikan tambutnya yang di curly.Setelan abu- abu muda sudah melekat rapi di tubuhnya. Ini bukan pertama kalinya rapat di Bandung, tapi entah kenapa hari ini rasanya berbeda.Ia meraih tas kerjanya, memastikan laptop dan dokumen ada didalam. Mama sempat menyadarkan susu hangat sebelum Selin berangkat.“Hati - hati di jalan dek, Bandung lagi sering hujan,” pesan mamanya.“Iya Ma,” jawab Selin sambil mencium tangan dan pipi mamanya.Ia duduk di kursi pengemudi mobilnya, sebuah Honda Jazz putih yang sudah lima tahun menemani perjalanannya. Mobilnya melaju keluar dari rumah menuju ke rumah temannya, Dina.Di sebelahnya, Dina, rekan kerjanya yang cerewet sedang mengoceh tentang presentasi yang akan mereka sampaikan di kantor klien di Bandung.“Sel, kamu yakin bawa mobil sendiri? Kan bisa naik kereta, lebih santai,” kata Dina sambil mengunyah roti ta
Sejak pagi, Selin sudah duduk didepan meja komputernya. Jarinya bergerak diatas keyboard, namun bayangan tentang Rendra terus berputar diotaknya, setelah 3 hari diumumkannya perjodohan itu.Wajahnya yang tenang.Sikapnya yang dingin.Seolah aku cuma orang asing.“Kenapa sih harus dia,” gumam Selin pelan, nyaris tak bersuara.Selin menghela napas, lalu menggeser duduknya. Ia mencoba fokus kembali. Ini jam kerja, bukan saatnya mengingat mantan yang tiba-tiba berubah jadi calon suami.Ia kembali mengetik. Beberapa menit berlalu, Selin berhasil menyelesaikan satu halaman penuh. Ia tersenyum kecil. Lalu membaca judul filenya. Seketika senyum itu pun hilang. Karena disudut kanan layar, tanpa disadari, ia menamai file itu :Draft - RBuru - buru ia menghapus huruf itu dan menggantinya dengan nama yang benar.“Astaga, aku udah gila ini,” bisikku pelan.Tapi jauh di dalam hati, aku tahu masalahnya bukan karena aku kepikiran Rendra.Masalahnya karen
Perjalanan pulang rasanya aneh.Bukan karena macet. Bukan juga karena capek. Tapi karena kepala Selin terlalu penuh. Ia duduk di kursi belakang, menyandarkan kepala ke kaca mobil, menatap lampu jalan yang lewat satu-satu. “Papa senang banget tadi,” suara Papa memecah sunyi. “Om Ardi itu orangnya baik. Dan Rendra juga kelihatannya matang.” Selin mengangguk kecil. “Hm.” Mama ikut menimpali, nadanya ringan. “Mama kira kamu bakal lebih kaget, Lin. Tapi kamu kelihatan tenang.” Selin nyaris tertawa. Tenang apanya. Raka melirik lewat spion. “Aku juga kaget. Kirain bakal dikenalin sama orang asing, taunya teman sekolah.” “Iya. Aku juga gak nyangka.” Raka terkekeh pelan. “Ya… dunia emang sempit.” Papa berdehem kecil. “Yang penting sekarang kita pikir kedepan.” Ke depan. Kata itu bikin dada Selin agak sesak. Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Selin turun paling duluan, langkahnya cepat. Ia nggak nunggu siapa pun, langsung masuk dan naik ke kamar. Begitu pintu kamar tertutup,
Restoran itu terlalu rapi untuk suasana hati Selin malam ini.Lampu temaram yang hangat. Aroma makanan mahal. Musik yang mengalun pelan, menenangkan tapi justru bikin jantung Selin makin terdengar jelas di telinganya sendiri.Ia berjalan di belakang Papa dan Mama, sementara Raka menyusul di sampingnya. Langkah Selin melambat tanpa sadar.Ada perasaan aneh sejak tadi. Kayak mau ketemu sesuatu yang nggak siap dia hadapi.“Private room-nya sebelah sini Pak,” kata pelayan sambilmembuka pintu geser kayu.Selin menarik napas.Begitu pintu terbuka—Langkahnya berhenti.Bukan karena ruangan itu penuh orang dewasa berwibawa. Bukan juga karena suasana formal yang bikin tegang.Tapi karena satu wajah di sudut ruangan itu.Wajah yang seharusnya sudah terkunci rapi di masa lalu.Wajah yang —tidak pernah ia duga akan muncul di sini.Selin refleks mundur setengah langkah.Cowok itu juga membeku.Tatapan mereka bertemu.Hanya satu detik. Tapi cukup untuk membuat dada Selin sesak.Kenapa dia?Dari s
“KAMU PULANG JAM BERAPA TADI MALAM?!”Belum lima menit Selin membuka mata, suara Mamanya, Sekar sudah naik satu oktaf dari balik pintu kamar.Selin meringkuk di bawah selimut, rambutnya acak-acakan, wajah kusut, mata masih berat. Ia mengedip dua kali. “Jam. . . dua?” Suaranya serak. “kayaknya.” “KAYAKNYA?!” Mama meledak.Selin menarik selimut lebih tinggi, seolah kain itu bisa menyelamatkannya dari ceramah pagi.“Selina Athalia Putri.” Mama melangkah masuk, berdiri di samping ranjang. “Kamu itu anak perempuan. Pulang jam dua pagi, nyetir sendiri. Kamu pikir Mama nggak capek mikir?”Selin menggaruk kepala. “Ma… itu cuma nongkrong. Bukan tawuran.”“Cuma nongkrong kok bisa pulang jam dua pagi?” Sekar bertanya cepat.“Ngumpul biasa aja,” jawab Selin mendengus kecil.Mama memijat pelipis. “Lin… Papa Mama itu capek banget ngadepin kamu. Kamu anak baik sebenarnya, tapi kelakuan kamu—susah banget diatur.”Belum sempat Selin membalas, Papa sudah muncul di ambang pintu sambil membawa gelas ko







