Sejak pagi, Selin sudah duduk didepan meja komputernya. Jarinya bergerak diatas keyboard, namun bayangan tentang Rendra terus berputar diotaknya, setelah 3 hari diumumkannya perjodohan itu. Wajahnya yang tenang. Namun sikapnya dingin. Seolah aku cuma orang asing. “Kenapa sih harus dia,” gumam Selin pelan, nyaris tak bersuara. Selin menghela napas, lalu menggeser duduknya. Ia mencoba fokus kembali. Ini jam kerja, bukan saatnya mengingat mantan yang tiba-tiba berubah jadi calon suami. Ia kembali mengetik. Beberapa menit berlalu, Selin berhasil menyelesaikan satu halaman penuh. Ia tersenyum kecil. Lalu membaca judul filenya. Seketika senyum itu pun hilang. Karena disudut kanan layar, tanpa disadari, ia menamai file itu : Draft - R. Buru-buru ia menghapus huruf itu dan menggantinya dengan nama yang benar. “Astaga, gue udah gila ini,” bisikku pelan. Tapi jauh di dalam hati, aku tahu masalahnya bukan karena aku kepikiran Rendra. Masalahnya karena, aku belum tahu harus bersikap apa
Read more