Mag-log inLangit masih tampak gelap menyelimuti kawasan Mega Kuningan saat alarm hp milik Selin berbunyi tepat pukul 03.30 pagi. Di sebuah kamar hotel Presidential suite, Selin terbangun dengan jantung yang berdebar. Hari ini bukan lagi mimpi tapi hari ini adalah harinya. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Sejak semalam, Selin sudah berada di hotel mewah ini untuk menjalani prosesi pingitan terakhir. Sementara itu, Rendra masih berada di rumah pribadinya, menghabiskan malam terakhir sebagai pria lajang sebelum pagi ini berangkat menuju hotel dengan iring-iringan keluarga besar.Tepat pukul 04.00, pintu kamar hotel Selin diketuk. Tim MUA ternama di Jakarta yang sudah dipesan Rendra masuk dengan koper-koper peralatan tempur mereka. Selin duduk di depan cermin besar yang menghadap langsung ke kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta dari ketinggian lantai 30."Oke kita mulai ya, Kak Selin. Siap-siap jadi pengantin paling cantik dan manglingi." goda sang perias sambil
Dua hari menjelang akad, ritme hidup Rendra dan Selin berjalan di dua jalur yang berbeda—namun menuju satu titik yang sama. Di kantor pusat, Rendra masih duduk di balik meja kerjanya, dikelilingi tumpukan dokumen dan layar laptop yang tak pernah benar-benar mati. Hari itu adalah hari terakhirnya sebelum cuti lima hari—cuti yang sudah lama ia jadwalkan, dan untuk pertama kalinya, bukan untuk urusan bisnis. Beni berdiri di hadapannya, membacakan agenda terakhir. “Semua meeting hari ini sudah selesai, Pak. Dan... ini laporan terakhir soal Devan," ujar Beni, asisten pribadinya sambil meletakkan map biru di atas meja. Rendra berhenti mengetik. Ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan surat peringatan resmi dari tim hukumnya dan laporan pemantauan dari tim keamanan. Setelah ponselnya hancur dan surat pengacara kita sampai, dia langsung angkat kaki dari Jakarta, Pak," lapor Beni. "Bagus, Ben. Pastikan tim keamanan di hotel nanti melakukan screening ketat terhadap daftar tam
Keesokan paginya di kantor, suasana hati Rendra benar-benar berada di titik nadir. Asisten pribadinya, Beni, masuk ke ruangan dengan wajah serius membawa sebuah tablet. “Pak, saya sudah cek CCTV lobi kemarin," ujar Beni tanpa basa-basi. Rendra mendongak, matanya yang sedikit memerah menunjukkan bahwa ia kurang tidur. "Siapa yang antar paketnya?" “Namanya Devan, Pak. Mantan kekasih Bu Selin waktu kuliah. Saya telusuri jejak digitalnya. Dia baru kembali ke Indonesia sebulan lalu." Rendra menatap foto Devan di layar. Wajah yang asing, namun tatapannya terlihat penuh obsesi. "Apa hubungannya denganku? Kenapa dia menyerangku lewat foto-foto ini?" “Ini yang menarik, Pak," Beni menggeser layar. "Devan ini adik tiri dari salah satu pemegang saham di perusahaan kompetitor kita yang kalah tender besar bulan lalu. Dia bukan cuma mau merusak hubungan pribadi Bapak, tapi dia juga punya dendam profesional karena Bapak dianggap menghancurkan karier kakaknya." “Motif klasik," gumam Rendra dingin
Sore itu, sepulang dari kantor, Selin mampir ke mall dekat kantor. Ia hanya ingin membeli keperluan perawatan rambut yang habis. Mall itu cukup ramai. Selin berjalan santai, masuk ke salah satu toko, lalu keluar lagi dengan menenteng satu kantong kecil di tangannya. Saat ia berjalan melewati area kafe—Langkahnya terhenti.“Selin?”Ia menoleh.Dan jantungnya langsung berdegup lebih cepat.“Devan.""Ya ampun, nggak nyangka ketemu di sini.”Selin cuma bisa mengangguk kaku,“Iya."“Sendirian?” tanya Devan memecah canggung.“Iya, mampir bentar habis dari kantor.”Devan manggut-manggut. “Aku juga lagi ada urusan di sekitar sini.”Suasana mendadak kaku.“Bisa ngobrol bentar?” Devan menunjuk kursi kosong di kafe sebelah mereka.Selin sebenarnya tidak ingin. Tapi kalau menolak mentah-mentah di depan umum begini kok kesannya kasar.“Bentar aja ya,” jawab Selin akhirnya.Mereka duduk berhadapan. Meski ada meja yang membatasi, rasanya memori lama kayak dipaksa muncul lagi.“Aku dengar kamu mau n
Pesawat yang membawa Selin dan Rendra dari Bali mendarat di Bandara Soekarno-Hatta tepat pukul sembilan pagi. Mereka sudah melangkah keluar dari area kedatangan, setelah mengambil bagasi. Udara Jakarta yang panas langsung menyambut, kontras dengan ketenangan yang mereka rasakan di Bali selama beberapa hari terakhir.Dari kejauhan seorang pria paruh baya dengan seragam rapi sudah berdiri menunggu."Pagi pak Sam," sapa Rendra singkat."Pagi, Mas Rendra, Mbak Selin." Jawab Pak Sam ramah sambil mengambil koper mereka.Selin tersenyum sopan. Ia sudah beberapa kali bertemu Pak Sam, tapi tetap saja ada rasa canggung setiap kali berada di lingkungan Rendra yang begitu formal.Mereka masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup dan mobil mulai melaju keluar dari bandara, suasana sempat hening.Selin menoleh sedikit ke arah Rendra. Ia tampak santai, menyandarkan punggung, tapi itu tidak berlangsung lama.Ponselnya berdering.Rendra langsung mengangkat.“Iya, saya sudah mendarat.”Hening beberapa
Selin terbangun lebih dulu. Ia menoleh ke samping. Rendra masih tertidur, satu tangannya terlipat di atas kepala, napasnya teratur—tenang. Selin tersenyum kecil. Ia memandangi wajah rendra yang terasa begitu familiar sekaligus berbeda. Wajah itu telah banyak berubah sejak terakhir kali Selin lihat saat mereka masih duduk dibangku SMP. Garis rahangnya kini lebih tegas, sorot matanya meski sedang terpejam menyimpan kedewasaan yang dulu belum ada. Ia bangun perlahan agar tidak membangunkannya, lalu berjalan ke pintu kaca yang mengarah ke balkon. Selin menarik napas panjang. Hari ini adalah hari terakhir mereka di Bali. Entah kenapa, ada rasa sayang untuk meninggalkan tempat ini. Tak lama kemudian, ia mendengar suara langkah di belakangnya. “Selamat pagi." Sapa Rendra. Belum sempat Selin menoleh, Rendra sudah memeluk pinggangnya dari belakang. Pelukan itu hangat dan tiba-tiba. “Eh... pagi, Ren." Jawab Selin sedikit terkejut. Ia menoleh ke samping melihat Rendra yang berdiri di be
Pagi itu, Mama Selin sudah sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu sambil mengingatkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diingatkan. “Jangan lupa bawa hasil CT scan yang kemarin ya, Lin.” “Iya, Ma. Sudah di tas.” “Air minum?” “Ada.” Selin menjawab semua dengan nada tenang. Tidak te
Rendra datang ke rumah sakit pagi-pagi, sebelum jam kunjungan benar-benar ramai. Parkiran rumah sakit pun belum penuh. Rendra mematikan mesin mobil, duduk sebentar tanpa langsung turun. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu satu setengah jam sebelum ia harus ke kantor polisi. Ia
Pagi di Bali sekitar pukul lima, langit masih berwarna biru keabu-abuan ketika Selin membuka tirai kamar hotelnya dikawasan Uluwatu. Hari ini adalah hari kedua sesi pre-wedding, jadwalnya lebih santai.Ia sudah siap lebih dulu memakai dress selutut, berwarna sage dengan potongan sederhana, memakai
Senin pagi tiba. Rendra sudah duduk di ruang kerjanya sebelum jam delapan. Biasanya, begitu sampai ia langsung membuka laptop, mengecek laporan, lalu tenggelam dalam rangkaian rapat yang nyaris tanpa jeda. Tapi pagi ini berbeda. Ia justru membuka ponselnya lebih dulu. Nama Selin ada di barisan pal







