Beranda / Romansa / Sisa Rasa / Bab 3 : Setelah Makan Malam Itu

Share

Bab 3 : Setelah Makan Malam Itu

Penulis: NN
last update Tanggal publikasi: 2026-02-03 23:55:00

Perjalanan pulang rasanya aneh.

Bukan karena macet. Bukan juga karena capek. Tapi karena kepala Selin terlalu penuh. Ia duduk di kursi belakang, menyandarkan kepala ke kaca mobil, menatap lampu jalan yang lewat satu-satu.

“Papa senang banget tadi,” suara Papa memecah sunyi. “Om Ardi itu orangnya baik. Dan Rendra juga kelihatannya matang.”

Selin mengangguk kecil. “Hm.”

Mama ikut menimpali, nadanya ringan. “Mama kira kamu bakal lebih kaget, Lin. Tapi kamu kelihatan tenang.”

Selin nyaris tertawa.

Tenang apanya, batin Selin.

Dika melirik lewat spion.

“Aku juga kaget. Kirain bakal dikenalin sama orang asing, taunya teman sekolah.”

“Iya. Aku juga gak nyangka.”

Dika terkekeh pelan.

“Ya… dunia emang sempit.”

Papa berdehem kecil. “Yang penting sekarang kita pikir kedepan.”

Ke depan.

Kata itu bikin dada Selin agak sesak.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Selin turun paling duluan, langkahnya cepat. Ia nggak nunggu siapa pun, langsung masuk dan naik ke kamar.

Begitu pintu kamar tertutup, ia berdiri beberapa detik tanpa bergerak.

Sunyi.

Selin duduk di tepi ranjang, sepatu masih terpasang. Tangannya bertumpu di kasur, kepalanya menunduk.

“Gila,” gumamnya pelan.

Ia meraih ponsel dari meja, layar menyala. Jempolnya refleks mengetik satu nama di kolom pencarian kontak.

Rendra.

Kosong.

Tidak ada kontak. Tidak ada chat lama. Tidak ada apa-apa.

Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar. Tanpa apa-apa.

Selin mengunci layar lagi. Ia menjatuhkan ponsel ke kasur, lalu duduk diam beberapa detik. Rasanya aneh— bukan sedih, bukan marah. Lebih ke kosong. Seolah sebagian hidupnya pernah terlipat rapi, lalu hilang begitu saja tanpa bekas.

Kenapa harus sekarang?

Kenapa harus begini?

Di kepalanya, wajah Rendra muncul lagi. Cara dia berdiri. Cara dia bilang saya tidak keberatan dan nada suaranya yang tenang, seolah itu keputusan ringan.

Padahal jelas tidak.

Selin menutup mata.

"Hufftt." Selin menarik nafas panjang.

“Aku nggak nyesel,” gumamnya pelan. “Aku cuma nggak siap ketemu dia lagi.”

Di rumah lain, Rendra pulang dengan kepala yang sama penuhnya.

Ia masuk ke rumahnya tanpa banyak bicara. Ia hanya mengangguk saat mamanya menoleh, lalu langsung naik ke kamar.

Kemeja hitam dilepas, dilempar ke kursi. Jam tangan ditaruh sembarang di meja.

Rendra duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke lantai.

Sepuluh tahun.

Dan satu makan malam cukup buat mengacak semuanya.

Di luar kamar, suara orang tuanya masih terdengar—tertawa kecil, bicara soal tanggal, soal keluarga besar, soal rencana ke depan.

Rendra menghela napas panjang.

Ia bangkit, membuka laptop. Email terbuka, dokumen kerja muncul. Tapi pandangannya kosong. Fokusnya nggak ada.

Yang terlintas justru wajah Selin.

Cara Selin kaku waktu masuk ruangan. Cara dia cepat-cepat jawab teman sekolah. Cara matanya menghindar. Cara tangannya sedikit gemetar saat menjabat tangan.

Dia kelihatan baik-baik saja.

Dan entah kenapa, itu bikin Rendra kesel.

Masih sama, batinnya.

Masih jago pura-pura.

Rendra menutup laptop lagi. Ia meraih ponsel. Membuka kontak, scroll pelan. Lalu berhenti.

Dia tidak punya nomor Selin.

Nama itu nggak pernah disimpan.

“Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar. Tanpa apa-apa.”

Rendra memutar ponsel di tangannya, ragu. Ia bisa saja tanya ke Mamanya. Bisa saja minta lewat orang tua.

Tapi ada gengsi yang menahan.

Dan ada luka lama yang belum sepenuhnya reda.

Ponsel itu akhirnya ia letakkan lagi.

Belum sekarang.

***

Keesokan paginya, rumah Selin sedikit lebih ramai dari biasanya. Mama sudah sibuk di dapur, Papa baca koran. Selin turun dengan rambut masih setengah basah.

“Kamu tidur nyenyak?” tanya Mama sambil ngaduk.

Selin menuang air minum. “Lumayan.”

Mama tersenyum, menatapnya sebentar. “Nanti Mama mau telepon Tante Vina. Ngobrol soal selanjutnya.”

Selin berhenti menuang air. “Cepat banget, Ma.”

Mama menatapnya lembut. “Takut nanti berubah pikiran.”

Selin menghela nafas. “Takut kebanyakan mikir.”

Mama terkekeh kecil. “Wajar.”

Selin duduk, tapi pikirannya ke mana-mana. Semua terasa melaju, sementara kepalanya masih tertinggal di masa lalu.

***

Di rumah Rendra, Mamanya mengetuk pintu kamar.

“Ren,” panggilnya pelan.

Rendra membuka pintu. “Iya, Ma.”

“Papa kamu senang sekali. Mama juga,” kata Vina lembut.

“Mama mau tanya, kamu beneran nggak keberatan, kan?”

Rendra diam sebentar. “Nggak, Ma.”

Bukan karena sungkan?”

Rendra menghela napas. “Bukan.”

Vina mengangguk, menatap anaknya seolah membaca sesuatu. “Kamu kelihatan capek.”

“Sedikit.”

Rendra akhirnya menatap Mamanya. “Ma... Mama punya nomor Selin?”

Vina tersenyum tipis. “Belum. Tapi Mama bisa minta ke Tante Sekar.”

Rendra mengangguk pelan. “Nanti aja.”

“Nanti kapan?”

“Nanti,” ulang Rendra.

Vina tidak memaksa. Ia hanya mengusap bahu anaknya sebelum keluar.

Rendra menutup pintu lagi. Ia menghempaskan kembali tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya.

Pikirannya dipenuhi dengan kenyataan bahwa sebentar lagi mereka akan menikah. Bahkan untuk sekedar menyapa saja mereka masih sama-sama ragu. Dan sekarang untuk memulai lagi mungkin mereka harus belajar dari nol.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sisa Rasa   Bab 13 : Bali part 2

    Pagi di Bali sekitar pukul lima, langit masih berwarna biru keabu-abuan ketika Selin membuka tirai kamar hotelnya dikawasan Uluwatu. Hari ini adalah hari kedua sesi pre-wedding, jadwalnya lebih santai.Ia sudah siap lebih dulu memakai dress selutut, berwarna sage dengan potongan sederhana, memakai riasan yang natural serta rambutnya dibiarkan tergerai.Beberapa menit kemudian mereka sama-sama keluar dari kamar masing-masing. Rendra keluar dengan kaos polos dan celana chino, rambutnya masih sedikit basah.Mereka sama-sama berhenti.“Pagi,” kata Rendra duluan.“Pagi.”“Kita sarapan?” tanya Rendra, nadanya santai.Selin mengangguk. "Oke.”Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong hotel yang masih sepi menuju lift.Di dalam lift, hanya ada mereka berdua.“Kamu tidurnya gimana?” tanya Rendra sambil menatap angka lantai yang turun perlahan.“Lumayan. Kamu?”“Enak. Jarang bisa bangun tanpa alarm rapat.”Lift terbuka. Mereka keluar dan berjalan menuju restoran hotel yang menghadap taman d

  • Sisa Rasa   Bab 12 : Bali part 1

    Jumat pagi, Bandara Soekarno-Hatta cukup padat. Rendra berdiri di dekat area check-in mandiri. Laki-laki itu mengenakan kemeja linen tipis dengan lengan yang digulung hingga siku, jauh dari kesan formal biasanya. "Sudah lama?" tanya Selin, sedikit gugup sambil merapatkan tote bag-nya. Rendra menoleh, lalu menggeleng pelan. "Baru sepuluh menit." Tanpa menunggu persetujuan, ia mengambil alih koper kecil yang ditarik Selin. "Sini aku yang bawa." "Eh, nggak apa-apa, aku bisa sendiri kok," ujar Selin agak kaget. "Biar aku aja. Sudah sarapan?" tanya Rendra. Selin menggeleng. " Belum sempat, takut telat." "Nanti di lounge saja sambil nunggu boarding." Pagi ini, udara terasa berbeda. Ada kecanggungan tipis yang menggantung di antara mereka seperti lembaran kertas kosong yang baru saja dibuka. *** Sepanjang penerbangan, Rendra tidak banyak bicara. Namun, sikap dan perhatiannya pada Selin menunjukkan lebih banyak dari pada kata-kata. Saat Selin mulai terlihat mengantuk karena kurang ti

  • Sisa Rasa   Bab 11 : Mulai Terlihat

    Senin pagi tiba. Rendra sudah duduk di ruang kerjanya sebelum jam delapan. Biasanya, begitu sampai ia langsung membuka laptop, mengecek laporan, lalu tenggelam dalam rangkaian rapat yang nyaris tanpa jeda. Tapi pagi ini berbeda. Ia justru membuka ponselnya lebih dulu. Nama Selin ada di barisan paling atas percakapan mereka. Obrolan terakhir mereka masih soal vendor dan rencana foto prewedding di Bali. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mulai mengetik. Sudah sampai kantor? Pesan terkirim. Beberapa menit berlalu, belum juga ada balasan. Rendra menaruh ponselnya di meja, dan kembali fokus ke email yang masuk. Lima menit kemudian layar ponselnya menyala. Sudah. Kamu sudah di kantor? Rendra membalas cepat. Sudah dari tadi. Ia menatap layar sebentar, lalu menambahkan: Sudah sarapan? Jawaban datang satu menit kemudian. Roti sama kopi. Rendra membalas cepat. Jangan cuma kopi. Beberapa detik kemudian, muncul balasan: Iya, Pak CEO 😊 Ada emoji senyum kecil di ujung

  • Sisa Rasa   Bab 10 : Kamu Berubah

    Sabtu sore itu, Rendra datang lima belas menit lebih awal. Mobilnya berhenti di depan rumah Selin. Sebenarnya hari ini tidak ada agenda besar. Hanya janji ketemu dengan vendor catering dan wedding organizer untuk membahas gedung resepsi dan konsep dekorasi. Pertemuan itu memang sudah dijadwalkan, bukan alasan yang dibuat-buat. Tapi jujur saja, Rendra bisa saja menyuruh asistennya yang datang. Rendra memperhatikan pintu rumah Selin. Tak lama perempuan itu keluar sambil membawa tas kecil dan map tipis di tangan. Selin masuk ke mobil tanpa banyak ekspresi. “Tumben sudah sampai, Ren.” katanya sambil memasang sabuk pengaman. Rendra mengangguk pelan. “Nggak ada meeting.” Seperti biasa, singkat jawabnya. Mobil mulai jalan. Nggak ada obrolan tambahan sampai mereka tiba di sebuah resto dengan ruang VIP di lantai dua. Suasananya cukup tenang, tipe tempat yang biasa dipakai untuk pertemuan privat. Vendor catering dan tim dekorasi sudah menunggu di dalam. Diskusi berjalan hampir satu jam.

  • Sisa Rasa   Bab 9 : Garis yang Mulai Retak

    Pagi itu, Mama Selin sudah sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu sambil mengingatkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diingatkan. “Jangan lupa bawa hasil CT scan yang kemarin ya, Lin.” “Iya, Ma. Sudah di tas.” “Air minum?” “Ada.” Selin menjawab semua dengan nada tenang. Tidak terburu-buru. Tidak kesal. Tidak juga bercanda seperti biasanya. Janji kontrol hari ini sebenarnya hanya formalitas. Sejak kecelakaan itu, gegar otaknya tergolong ringan. Pusing sudah jarang dan mual hampir tidak ada. Tapi tetap saja, Mama ingin memastikan semuanya benar-benar baik. Rendra datang terlambat. Seperti biasa. Mobilnya berhenti tepat ketika Selin dan Mama sudah berdiri di teras. Ia turun dengan kemeja rapi dan wajah yang terlihat belum benar-benar lepas dari urusan kantor. “Maaf, Tante. Tadi ada meeting yang harus aku tanda tangani dulu,” katanya sopan. “Iya Nak, kalau sibuk gak usah anter Selin juga gak papa.” jawab Mama. “Gak masalah kok Tante, saya ingin pastiin Selin sud

  • Sisa Rasa   Bab 8 : Lelah Menunggu

    Dua hari kemudian, dokter mengizinkan Selin pulang. Perjalanan pulang ke Jakarta terasa lebih lama dari biasanya. Padahal jalannya sama, tol-nya juga itu-itu lagi. Dika nyetir sambil sesekali melirik spion. “Pusing nggak dek?” tanyanya. “Enggak Kak. Aman,” jawab Selin. Padahal kepalanya masih terasa berat sedikit. Bukan karena gegar otaknya. Lebih ke pikiran yang belum selesai. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan dari Rendrapun masuk. Akhirnya muncul juga. Sudah sampai mana? Baru keluar tol. Hati-hati. Iya. Habis itu nggak ada apa-apa lagi. Ia mematikan layar ponsel dan menyandarkan kepala ke kursi. Biasanya Selin yang cerewet. Kirim foto macet, kirim voice note, atau bercanda hal yang random. Tapi kali ini dia simpan ponselnya. Udah capek duluan rasanya. Sampai rumah, Mama langsung ribut sendiri. Dika membantu menurunkan tas. Papa langsung masuk duluan, seperti biasa. Mama menyuruh Selin duduk dulu di sofa. “Kamu jangan langsung naik tangga. Duduk dulu. Minum dulu.”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status