Inicio / Romansa / Sisa Rasa / Bab 4 : Pertemuan Mereka Pertama tanpa Orang Tua

Compartir

Bab 4 : Pertemuan Mereka Pertama tanpa Orang Tua

Autor: NN
last update Fecha de publicación: 2026-02-04 00:03:00

Sejak pagi, Selin sudah duduk didepan meja komputernya. Jarinya bergerak diatas keyboard, namun bayangan tentang Rendra terus berputar diotaknya, setelah 3 hari diumumkannya perjodohan itu.

Wajahnya yang tenang.

Namun sikapnya dingin.

Seolah aku cuma orang asing.

“Kenapa sih harus dia,” gumam Selin pelan, nyaris tak bersuara.

Selin menghela napas, lalu menggeser duduknya. Ia mencoba fokus kembali. Ini jam kerja, bukan saatnya mengingat mantan yang tiba-tiba berubah jadi calon suami.

Ia kembali mengetik. Beberapa menit berlalu, Selin berhasil menyelesaikan satu halaman penuh. Ia tersenyum kecil. Lalu membaca judul filenya. Seketika senyum itu pun hilang. Karena disudut kanan layar, tanpa disadari, ia menamai file itu :

Draft - R.

Buru-buru ia menghapus huruf itu dan menggantinya dengan nama yang benar.

“Astaga, gue udah gila ini,” bisikku pelan.

Tapi jauh di dalam hati, aku tahu masalahnya bukan karena aku kepikiran Rendra.

Masalahnya karena, aku belum tahu harus bersikap apa saat akhirnya kami harus berdiri berhadapan lagi.

Bukan sebagai mantan.

Tapi sebagai dua orang yang dipaksa masa lalu dan keluarga untuk saling memilih kembali.

Saat jam makan siang, ponsel Selin bergetar, menandakan sebuah pesan masuk.

Nomor tak dikenal.

Ia penasaran, lalu membuka layar ponselnya.

Rendra :

Selin, ini Rendra. Bisakah kita bertemu setelah pulang kantor. Kita perlu bicara.

Selin membaca pesan itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, kemudian ia membalasnya.

Selin :

Baik Ren. Jam berapa?

Rendra tersenyum kecil

Rendra :

Jam 4 sore, saya jemput di kantor kamu. Kirim shareloknya.

Selin :

Baik.

Satu kata itu.

Dan entah kenapa, itu bikin jantung Rendra berdebar.

Lebih cepat.

***

Siang itu berjalan lambat bagi Selin.

Setelah membalas pesan Rendra, fokus kerjanya benar-benar buyar. Matanya menatap layar komputer, tapi pikirannya terus kembali ke satu hal: jam empat sore. Pertemuan pertama mereka tanpa orang tua.

Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya dingin. Sesekali ia melirik jam di pojok layar.

Pukul 13.15.

Masih lama.

Selin mencoba memaksa dirinya bekerja. Membalas email, mengecek data, menandai beberapa berkas. Tapi setiap lima menit, matanya kembali ke jam. Detik terasa bergerak pelan.

Di lantai lain gedung berbeda, Rendra mengalami hal yang hampir sama.

Ia duduk di kursi kerjanya, menatap laporan yang terbuka di tablet. Angka-angka itu jelas, tapi otaknya tidak sepenuhnya di sana. Pikirannya sibuk memutar ulang pesan singkat Selin.

Rendra menutup tablet, lalu bersandar sebentar. Ia tidak terbiasa merasa seperti ini.

Pertemuan bisnis, presentasi besar, bahkan negosiasi sulit tidak pernah membuat dadanya sesak. Tapi kali ini berbeda.

Ini Selin.

Bukan klien dan bukan rekan kerja.

Jam menunjukkan pukul 15.30 saat Rendra akhirnya berdiri, meraih kunci mobil dan jasnya. Ia tidak ingin terlambat. Bahkan terlalu cepat pun ia anggap lebih baik.

Sementara itu, Selin sudah bersiap sejak lima belas menit lalu. Ia merapikan tasnya, mengecek ponsel, lalu berdiri di dekat pintu keluar kantor. Beberapa rekan kerja melirik heran.

Ia melangkah keluar gedung tepat saat ponselnya bergetar.

Rendra: Aku sudah di depan.

Selin membalas cepat.

Selin: Oke, aku segera keluar.

Di depan gedung, sebuah mobil hitam terparkir rapi. Rendra berdiri di sampingnya. Saat melihat Selin mendekat, ia langsung membuka pintu penumpang depan.

Selin menghentikan langkahnya sejenak saat melihat Rendra berdiri di samping mobilnya. Pria itu mengenakan kemeja putih yang digulung lengannya hingga siku.

Wajahnya datar tanpa senyum.

“Ren,” sapa Selin pelan, suaranya hampir tenggelam diantara suara klakson kendaraan yang lewat.

Rendra hanya mengangguk kecil. “Silahkan masuk,” katanya singkat, lalu mundur sedikit agar Selin bisa lewat.

Tidak ada sapaan balik. Tidak ada senyum. Hanya anggukan itu.

“Terima kasih,” ucap Selin pelan sambil melangkah masuk ke mobil.

Aroma parfum Rendra yang dulu begitu akrab kini terasa asing, seperti milik orang lain. Rendra menutup pintu dengan pelan, berjalan mengelilingi mobil, lalu masuk ke kursi pengemudi.

Mesin menyala dengan suara halus. Mobil meluncur perlahan meninggalkan gedung kantor Selin.

Beberapa menit pertama mereka hanya diam. Rendra fokus mengemudi, tangannya memegang setir dengan tenang, matanya lurus ke depan.

Selin duduk di sebelahnya, tangannya memainkan ujung tas di pangkuannya, sesekali melirik ke arah Rendra, tapi cepat-cepat mengalihkan pandangan saat hampir bertemu mata.

“Kita mau kemana Ren,” tanya Selin memecah keheningan itu.

“Aku sudah booking tempat di kafe dekat sini,” kata Rendra akhirnya, suaranya datar.

“Oh, baik,” jawab Selin cepat, hampir seperti refleks.

Mereka tiba di kafe kecil yang tersembunyi di sebuah gang. Bangunannya bergaya vintage, lampu kuning hangat, hampir sepi. Rendra memarkir mobil, lalu turun lebih dulu. Kali ini ia tidak membukakan pintu untuk Selin.

Selin turun sendiri, menutup pintu pelan. Ia merasakan sedikit nyess di dada, tapi ia berusaha mengabaikannya.

Mereka masuk dan memilih meja di sudut paling belakang.

Pelayan datang, mereka memesan—kopi hitam untuk Rendra, teh hangat untuk Selin—lalu pelayan pergi.

Diam lagi.

Selin menarik napas dalam-dalam. Ia tahu harus ada yang membuka pembicaraan. Dan sepertinya bukan Rendra yang akan melakukannya duluan.

“Ren…” panggilnya pelan. Rendra mengangkat alis sedikit, menandakan ia mendengar.

“Sebelumnya Aku... aku mau minta maaf.”

Rendra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Selin, ekspresinya tetap datar, seperti sedang mendengarkan laporan kerja biasa.

“Atas kejadian dulu,” lanjut Selin, suaranya sedikit bergetar tapi ia berusaha teguh. “Aku tahu aku yang salah.

Ia menunduk sebentar, lalu memaksa dirinya menatap Rendra lagi. “Aku nggak minta kamu langsung memaafkan. Aku cuma ingin kamu tahu itu.”

Rendra masih diam beberapa detik lagi. Matanya tidak berkedip, seperti sedang menimbang-nimbang setiap kata yang baru saja keluar dari mulut Selin.

Lalu ia akhirnya bicara.

“Terima kasih sudah bilang itu,” katanya saja.

Tidak ada nada hangat, tidak ada nada marah. Hanya netral.

“Tapi kita sekarang bukan bicara soal dulu lagi, kan?”

“Maksudnya?”

“Orang tua kita sudah sepakat untuk mengatur perjodohan ini. Ini bukan lagi soal perasaan atau masa lalu.

Ini... Kewajiban yang harus kita jalani.”

Selin menggigit bibir bawahnya sebentar.

Kata “kewajiban” terdengar begitu sesak didadanya.

“Jadi... kamu menerima perjodohan ini hanya karena orang tua?” tanya Selin, suaranya hampir berbisik.

Rendra mengangkat bahu tipis. “Apa lagi yang bisa kita lakukan? Menolak? Membuat mereka kecewa lagi? Kita sudah dewasa, Selin. Kadang kita harus melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan demi keluarga.”

Ia menatap Selin lurus, tapi di balik dinginnya itu, ada sesuatu yang tidak terucapkan—sebuah ujian diam yang sedang ia berikan. Ia ingin tahu, apakah Selin benar-benar serius menjalani ini, atau hanya ikut-ikutan karena tekanan orang tua.

Selin menunduk, menatap cangkir tehnya yang baru datang. Uap hangat naik, tapi tidak cukup untuk menghangatkan suasana.

Kalau begitu. . . kita jalani saja, ya?” katanya pelan, hampir seperti menyerah, tapi sebenarnya ia sedang mencoba membuka celah.

Rendra tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil lagi, lalu menyeruput kopinya.

“Kita coba jalani dulu. Pelan-pelan. Nggak perlu buru-buru bilang ya atau nggak ke orang tua. Kita lihat aja... apakah ini bisa jalan atau nggak.”

Selin mengangguk pelan. Ada sedikit lega di dadanya, meski suasana masih terasa dingin.

“Terima kasih... udah mau kasih kesempatan buat bicara,” katanya lirih.

Rendra mengangguk sekali lagi.

Di antara mereka, masih ada lautan pertanyaan yang tidak terucapkan. Tapi untuk hari ini, pintu masa lalu tetap tertutup rapat—setidaknya dari sisi Rendra.

Dan Selin tahu, ia harus membuktikan lebih dari sekadar kata maaf jika ingin pintu itu terbuka lagi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Sisa Rasa   Bab 23 : Sisa Kehangatan Semalam

    Keesokan harinya, Rendra bangun lebih dulu. Ia tidak langsung beranjak, melainkan menatap wajah istrinya yang masih terlelap disampingnya.Rendra tersenyum tipis mengingat bagaimana "pertempuran" mereka yang baru selesai hampir subuh. Ia mendekat, lalu mengecup kening istrinya."Makasih ya, Sayang," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.Dengan hati-hati, Rendra melepaskan pelukannya agar tidak membangunkan Selin. Begitu ia bergerak, ia merasa punggungnya sedikit perih. Ia berjalan menuju cermin besar di sudut kamar dan berbalik. Di sana, terlihat beberapa bekas merah dan guratan kuku yang cukup jelas.Rendra tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Ganas juga ternyata kalau lagi panik," gumamnya teringat momen saat Selin menjerit dan mencengkeramnya kuat semalam.Ia kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu keluar hanya mengenakan celana pendek saja. Sebelum membangunkan istrinya, Rendra menelepon layanan kamar untuk memesan sarapan.Rendra kembali ke sisi te

  • Sisa Rasa   Bab 22 : Malam Pertama Part 2

    Rendra menatap matanya, memastikan.“Kamu yakin?”Selin mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.Dan kali ini, Rendra tak lagi menahan diri. Ia merengkuh tengkuk Selin, mencium Selin lebih dalam. Lidah mereka mulai bertautan, saling menjelajah dan membalas.Rendra kemudian berdiri sambil menggendong Selin seperti koala, membiarkan kaki jenjang istrinya melingkar erat di pinggangnya, tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Ia membawa Selin menuju tempat tidur king size dan merebahkannya disana dengan hati-hati.Tatapan Rendra mengunci mata Selin saat jemarinya mulai menyentuh kancing piyama satin yang dikenakan istrinya. Satu per satu kancing itu terlepas, menyingkap kulit putih Selin yang halus.Setelah piyama itu tersingkap sepenuhnya, Rendra kemudian melepas piyamanya sendiri dan melemparnya ke lantai, lalu melepaskan sisa pakaiannya hingga tak ada lagi penghalang di antara mereka.Selin yang merasa tubuhnya terekspose sempurna, spontan tangannya menutupi dadanya. "Ren, jangan dilia

  • Sisa Rasa   Bab 21 : Malam Pertama Part 1

    Pintu kamar President suite itu tertutup dibelakang mereka.Klik.Suasana langsung berubah.Tidak lagi terdengar suara musik, tawa tamu, atau sorotan lampu. Yang ada hanya kesunyian malam dan mereka berdua.Rendra menghela napas panjang, melepaskan ketegangan di bahunya. Ia segera melepas sepatu pantofelnya, lalu menyampirkan tuksedo hitamnya di sofa.Sambil melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas kemejanya, matanya tak lepas dari sosok istrinya yang kini duduk di meja rias.Selin menatap pantulannya di cermin yang masih cantik, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.Perlahan ia mulai membersihkan makeup di wajahnya. Tangannya mulai bekerja, mencoba melepas satu per satu aksesoris rambut yang tertanam kuat di sanggulnya. Namun, sebuah jepit mungil tersangkut, membuat Selin meringis kecil sambil berusaha menariknya perlahan."Ah..." gumamnya pelan.Tiba-tiba, sepasang tangan yang hangat membantunya. Melalui cermin, Selin melihat Rendra sudah berdiri di bel

  • Sisa Rasa   Bab 20 : Kemeriahan Pesta di Grand Ballroom

    Setelah istirahat sejenak dan makan siang bersama di kamar sebagai suami istri, sore harinya mereka kembali dirias untuk menyambut malam puncak resepsi mereka.Tepat pukul tujuh malam, pintu jati raksasa berukiran emas di Grand Ballroom terbuka perlahan. Ruangan itu telah disulap menjadi megah. Lampu- lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya yang hangat ke seluruh ruangan. Dekorasi bunga putih dan sentuhan emas menciptakan suasana elegan dan romantis. Ratusan tamu undangan, mulai dari rekan bisnis, keluarga, sahabat, hingga kolega memadati ruangan, menciptakan gumam kagum saat pengantin masuk.Diiringi alunan musik orkestra yang megah namun romantis, Rendra melangkah dengan penuh wibawa. Tuxedo hitamnya tampak sempurna, namun yang lebih mencuri perhatian adalah caranya menggenggam jemari Selin—erat dan protektif, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya adalah harta paling berharga yang ia miliki.Selin berjalan dengan keanggunan

  • Sisa Rasa   Bab 19 : Janji Suci di Glass House

    Langit masih tampak gelap menyelimuti kawasan Mega Kuningan saat alarm hp milik Selin berbunyi tepat pukul 03.30 pagi. Di sebuah kamar hotel Presidential suite, Selin terbangun dengan jantung yang berdebar. Hari ini bukan lagi mimpi tapi hari ini adalah harinya. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Sejak semalam, Selin sudah berada di hotel mewah ini untuk menjalani prosesi pingitan terakhir. Sementara itu, Rendra masih berada di rumah pribadinya, menghabiskan malam terakhir sebagai pria lajang sebelum pagi ini berangkat menuju hotel dengan iring-iringan keluarga besar.Tepat pukul 04.00, pintu kamar hotel Selin diketuk. Tim MUA ternama di Jakarta yang sudah dipesan Rendra masuk dengan koper-koper peralatan tempur mereka. Selin duduk di depan cermin besar yang menghadap langsung ke kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta dari ketinggian lantai 30."Oke kita mulai ya, Kak Selin. Siap-siap jadi pengantin paling cantik dan manglingi." goda sang perias sambil

  • Sisa Rasa   Bab 18 : Persiapan Calon Pengantin

    Dua hari menjelang akad, ritme hidup Rendra dan Selin berjalan di dua jalur yang berbeda—namun menuju satu titik yang sama. Di kantor pusat, Rendra masih duduk di balik meja kerjanya, dikelilingi tumpukan dokumen dan layar laptop yang tak pernah benar-benar mati. Hari itu adalah hari terakhirnya sebelum cuti lima hari—cuti yang sudah lama ia jadwalkan, dan untuk pertama kalinya, bukan untuk urusan bisnis. Beni berdiri di hadapannya, membacakan agenda terakhir. “Semua meeting hari ini sudah selesai, Pak. Dan... ini laporan terakhir soal Devan," ujar Beni, asisten pribadinya sambil meletakkan map biru di atas meja. Rendra berhenti mengetik. Ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan surat peringatan resmi dari tim hukumnya dan laporan pemantauan dari tim keamanan. Setelah ponselnya hancur dan surat pengacara kita sampai, dia langsung angkat kaki dari Jakarta, Pak," lapor Beni. "Bagus, Ben. Pastikan tim keamanan di hotel nanti melakukan screening ketat terhadap daftar tam

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status