Mag-log inPerjalanan pulang rasanya aneh.
Bukan karena macet. Bukan juga karena capek. Tapi karena kepala Selin terlalu penuh. Ia duduk di kursi belakang, menyandarkan kepala ke kaca mobil, menatap lampu jalan yang lewat satu-satu. “Papa senang banget tadi,” suara Papa memecah sunyi. “Om Ardi itu orangnya baik. Dan Rendra juga kelihatannya matang.” Selin mengangguk kecil. “Hm.” Mama ikut menimpali, nadanya ringan. “Mama kira kamu bakal lebih kaget, Lin. Tapi kamu kelihatan tenang.” Selin nyaris tertawa. Tenang apanya. Raka melirik lewat spion. “Aku juga kaget. Kirain bakal dikenalin sama orang asing, taunya teman sekolah.” “Iya. Aku juga gak nyangka.” Raka terkekeh pelan. “Ya… dunia emang sempit.” Papa berdehem kecil. “Yang penting sekarang kita pikir kedepan.” Ke depan. Kata itu bikin dada Selin agak sesak. Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Selin turun paling duluan, langkahnya cepat. Ia nggak nunggu siapa pun, langsung masuk dan naik ke kamar. Begitu pintu kamar tertutup, ia berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Sunyi. Selin duduk di tepi ranjang, sepatu masih terpasang. Tangannya bertumpu di kasur, kepalanya menunduk. “Gila,” gumamnya pelan. Ia meraih ponsel dari meja, layar menyala. Jempolnya refleks mengetik satu nama di kolom pencarian kontak. Rendra. Kosong. Tidak ada kontak. Tidak ada chat lama. Tidak ada apa-apa. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar. Tanpa apa-apa. Selin mengunci layar lagi. Ia menjatuhkan ponsel ke kasur, lalu duduk diam beberapa detik. Rasanya aneh— bukan sedih, bukan marah. Lebih ke kosong. Seolah sebagian hidupnya pernah terlipat rapi, lalu hilang begitu saja tanpa bekas. Kenapa harus sekarang? Kenapa harus begini? Di kepalanya, wajah Rendra muncul lagi. Cara dia berdiri. Cara suaranya tetap tenang. Cara dia bilang saya tidak keberatan seolah itu keputusan ringan. Padahal jelas nggak. Selin menutup mata. “Aku nggak nyesel,” gumamnya pelan. “Aku cuma nggak siap ketemu dia lagi.” Di rumah lain, Rendra pulang dengan kepala yang sama penuhnya. Ia masuk ke rumahnya tanpa banyak bicara. Ia hanya mengangguk saat mamanya menoleh, lalu langsung naik ke kamar. Kemeja hitam dilepas, dilempar ke kursi. Jam tangan ditaruh sembarang di meja. Rendra duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke lantai. Sepuluh tahun. Dan satu makan malam cukup buat mengacak semuanya. Di luar kamar, suara orang tuanya masih terdengar—tertawa kecil, bicara soal tanggal, soal keluarga besar, soal rencana ke depan. Rendra menghela napas panjang. Ia bangkit, membuka laptop. Email terbuka, dokumen kerja muncul. Tapi pandangannya kosong. Fokusnya nggak ada. Yang terlintas justru wajah Selin. Cara Selin kaku waktu masuk ruangan. Cara dia cepat-cepat jawab teman sekolah. Cara matanya menghindar. Cara tangannya sedikit gemetar saat menjabat tangan. Dia kelihatan baik-baik saja. Dan entah kenapa, itu bikin Rendra kesel. Masih sama, batinnya. Masih jago pura-pura. Rendra menutup laptop lagi. Ia meraih ponsel. Membuka kontak, scroll pelan. Lalu berhenti. Dia tidak punya nomor Selin. Nama itu nggak pernah disimpan. “Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar. Tanpa apa-apa.” Rendra memutar ponsel di tangannya, ragu. Ia bisa saja tanya ke Mamanya. Bisa saja minta lewat orang tua. Tapi ada gengsi yang menahan. Dan ada luka lama yang belum sepenuhnya reda. Ponsel itu akhirnya ia letakkan lagi. Belum sekarang. keesokan paginya, rumah Selin sedikit lebih ramai dari biasanya. Mama sudah sibuk di dapur, Papa baca koran. Selin turun dengan rambut masih setengah basah. “Kamu tidur nyenyak?” tanya Mama sambil ngaduk. Selin menuang air minum. “Lumayan.” Mama tersenyum, menatapnya sebentar. “Nanti Mama mau telepon Tante Vina. Ngobrol soal selanjutnya.” Selin berhenti menuang air. “Cepat banget, Ma.” Mama menatapnya lembut. “Takut nanti berubah pikiran.” Selin menghela nafas. “Takut kebanyakan mikir.” Mama terkekeh kecil. “Wajar.” Selin duduk, tapi pikirannya ke mana-mana. Semua terasa melaju, sementara kepalanya masih tertinggal di masa lalu. Di rumah Rendra, Mamanya mengetuk pintu kamar. “Ren,” panggilnya pelan. Rendra membuka pintu. “Iya, Ma.” “Papa kamu senang sekali. Mama juga,” kata Vina lembut. “Mama mau tanya, kamu beneran nggak keberatan, kan?” Rendra diam sebentar. “Nggak, Ma.” Bukan karena sungkan?” Rendra menghela napas. “Bukan.” Vina mengangguk, menatap anaknya seolah membaca sesuatu. “Kamu kelihatan capek.” “Sedikit.” Rendra akhirnya menatap Mamanya. “Ma. . . Mama punya nomor Selin?” Vina tersenyum tipis. “Belum. Tapi Mama bisa minta ke Tante Sekar.” Rendra mengangguk pelan. “Nanti aja.” “Nanti kapan?” “Nanti,” ulang Rendra. Vina tidak memaksa. Ia hanya mengusap bahu anaknya sebelum keluar. Rendra menutup pintu lagi. Ia menghempaskan kembali tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit - langit kamarnya. Pikirannya dipenuhi dengan kenyataan bahwa sebentar lagi mereka akan menikah. Bahkan untuk sekedar menyapa saja mereka masih sama-sama ragu. Dan sekarang untuk memulai lagi mungkin mereka harus belajar dari nol.Setibanya di IGD Rumah Sakit Bandung, masuklah mama Sekar, dengan wajah pucat dan mata merah. Di belakangnya ada Kak Dika dan Pak Ardan, Papa Selin yang biasanya tenang, tapi kali ini alisnya berkerut dalam dan langkahnya cepat. Mereka berdua langsung menuju ke arah ranjang Selin.“Ya Allah Selin. . .” Mama Sekar yang melihat putrinya terbaring dengan dahi yang di perban dan selang infus di tangan kirinya langsung memeluk putrinya pelan, air matanya menetes di bahu Selin. Suaranya bergetar.Sedangkan Papa Selin yang berada di sebelahnya mengusap punggung istrinya untuk menenangkan. Dika yang berdiri di sisi lain ranjang dengan mata berkaca kaca tak kuasa melihat adiknya yang biasanya ceria kini terbaring lemah tak berdaya.Selin, yang masih setengah sadar akibat obat penghilang rasa sakit, merasakan ada tangan hangat menggenggamnya. Ia membuka mata perlahan. Bayangan kabur perlahan membentuk wajah yang sangat ia kenali.“Ma. . . ma ?” bisiknya lemah. Mama Sekar tersenyum di antara air
Pagi itu hujan belum turun, tapi langit Jakarta masih mendung sejak subuh tadi. Selin berdiri di depan cermin, merapikan tambutnya yang di curly.Setelan abu- abu muda sudah melekat rapi di tubuhnya. Ini bukan pertama kalinya rapat di Bandung, tapi entah kenapa hari ini rasanya berbeda.Ia meraih tas kerjanya, memastikan laptop dan dokumen ada didalam. Mama sempat menyadarkan susu hangat sebelum Selin berangkat.“Hati - hati di jalan dek, Bandung lagi sering hujan,” pesan mamanya.“Iya Ma,” jawab Selin sambil mencium tangan dan pipi mamanya.Ia duduk di kursi pengemudi mobilnya, sebuah Honda Jazz putih yang sudah lima tahun menemani perjalanannya. Mobilnya melaju keluar dari rumah menuju ke rumah temannya, Dina.Di sebelahnya, Dina, rekan kerjanya yang cerewet sedang mengoceh tentang presentasi yang akan mereka sampaikan di kantor klien di Bandung.“Sel, kamu yakin bawa mobil sendiri? Kan bisa naik kereta, lebih santai,” kata Dina sambil mengunyah roti ta
Sejak pagi, Selin sudah duduk didepan meja komputernya. Jarinya bergerak diatas keyboard, namun bayangan tentang Rendra terus berputar diotaknya, setelah 3 hari diumumkannya perjodohan itu.Wajahnya yang tenang.Sikapnya yang dingin.Seolah aku cuma orang asing.“Kenapa sih harus dia,” gumam Selin pelan, nyaris tak bersuara.Selin menghela napas, lalu menggeser duduknya. Ia mencoba fokus kembali. Ini jam kerja, bukan saatnya mengingat mantan yang tiba-tiba berubah jadi calon suami.Ia kembali mengetik. Beberapa menit berlalu, Selin berhasil menyelesaikan satu halaman penuh. Ia tersenyum kecil. Lalu membaca judul filenya. Seketika senyum itu pun hilang. Karena disudut kanan layar, tanpa disadari, ia menamai file itu :Draft - RBuru - buru ia menghapus huruf itu dan menggantinya dengan nama yang benar.“Astaga, aku udah gila ini,” bisikku pelan.Tapi jauh di dalam hati, aku tahu masalahnya bukan karena aku kepikiran Rendra.Masalahnya karen
Perjalanan pulang rasanya aneh.Bukan karena macet. Bukan juga karena capek. Tapi karena kepala Selin terlalu penuh. Ia duduk di kursi belakang, menyandarkan kepala ke kaca mobil, menatap lampu jalan yang lewat satu-satu. “Papa senang banget tadi,” suara Papa memecah sunyi. “Om Ardi itu orangnya baik. Dan Rendra juga kelihatannya matang.” Selin mengangguk kecil. “Hm.” Mama ikut menimpali, nadanya ringan. “Mama kira kamu bakal lebih kaget, Lin. Tapi kamu kelihatan tenang.” Selin nyaris tertawa. Tenang apanya. Raka melirik lewat spion. “Aku juga kaget. Kirain bakal dikenalin sama orang asing, taunya teman sekolah.” “Iya. Aku juga gak nyangka.” Raka terkekeh pelan. “Ya… dunia emang sempit.” Papa berdehem kecil. “Yang penting sekarang kita pikir kedepan.” Ke depan. Kata itu bikin dada Selin agak sesak. Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Selin turun paling duluan, langkahnya cepat. Ia nggak nunggu siapa pun, langsung masuk dan naik ke kamar. Begitu pintu kamar tertutup,
Restoran itu terlalu rapi untuk suasana hati Selin malam ini.Lampu temaram yang hangat. Aroma makanan mahal. Musik yang mengalun pelan, menenangkan tapi justru bikin jantung Selin makin terdengar jelas di telinganya sendiri.Ia berjalan di belakang Papa dan Mama, sementara Raka menyusul di sampingnya. Langkah Selin melambat tanpa sadar.Ada perasaan aneh sejak tadi. Kayak mau ketemu sesuatu yang nggak siap dia hadapi.“Private room-nya sebelah sini Pak,” kata pelayan sambilmembuka pintu geser kayu.Selin menarik napas.Begitu pintu terbuka—Langkahnya berhenti.Bukan karena ruangan itu penuh orang dewasa berwibawa. Bukan juga karena suasana formal yang bikin tegang.Tapi karena satu wajah di sudut ruangan itu.Wajah yang seharusnya sudah terkunci rapi di masa lalu.Wajah yang —tidak pernah ia duga akan muncul di sini.Selin refleks mundur setengah langkah.Cowok itu juga membeku.Tatapan mereka bertemu.Hanya satu detik. Tapi cukup untuk membuat dada Selin sesak.Kenapa dia?Dari s
“KAMU PULANG JAM BERAPA TADI MALAM?!”Belum lima menit Selin membuka mata, suara Mamanya, Sekar sudah naik satu oktaf dari balik pintu kamar.Selin meringkuk di bawah selimut, rambutnya acak-acakan, wajah kusut, mata masih berat. Ia mengedip dua kali. “Jam. . . dua?” Suaranya serak. “kayaknya.” “KAYAKNYA?!” Mama meledak.Selin menarik selimut lebih tinggi, seolah kain itu bisa menyelamatkannya dari ceramah pagi.“Selina Athalia Putri.” Mama melangkah masuk, berdiri di samping ranjang. “Kamu itu anak perempuan. Pulang jam dua pagi, nyetir sendiri. Kamu pikir Mama nggak capek mikir?”Selin menggaruk kepala. “Ma… itu cuma nongkrong. Bukan tawuran.”“Cuma nongkrong kok bisa pulang jam dua pagi?” Sekar bertanya cepat.“Ngumpul biasa aja,” jawab Selin mendengus kecil.Mama memijat pelipis. “Lin… Papa Mama itu capek banget ngadepin kamu. Kamu anak baik sebenarnya, tapi kelakuan kamu—susah banget diatur.”Belum sempat Selin membalas, Papa sudah muncul di ambang pintu sambil membawa gelas ko







