LOGINPagi itu hujan belum turun, tapi langit Jakarta masih mendung sejak subuh tadi. Selin berdiri di depan cermin, merapikan tambutnya yang di curly.
Setelan abu- abu muda sudah melekat rapi di tubuhnya. Ini bukan pertama kalinya rapat di Bandung, tapi entah kenapa hari ini rasanya berbeda. Ia meraih tas kerjanya, memastikan laptop dan dokumen ada didalam. Mama sempat menyadarkan susu hangat sebelum Selin berangkat. “Hati - hati di jalan Lin, Bandung lagi sering hujan,” pesan mamanya. “Iya Ma,” jawab Selin sambil mencium tangan dan pipi mamanya. Ia duduk di kursi pengemudi mobilnya, sebuah Honda Jazz putih yang sudah lima tahun menemani perjalanannya. Mobilnya melaju keluar dari rumah menuju ke rumah temannya, Dina. Di sebelahnya, Dina, rekan kerjanya yang cerewet sedang mengoceh tentang presentasi yang akan mereka sampaikan di kantor klien di Bandung. “Sel, kamu yakin bawa mobil sendiri? Kan bisa naik kereta, lebih santai,” kata Dina sambil mengunyah roti tawar isi selai kacang. Selin tersenyum tipis. “Udah tenang aja, aku udah biasa kok. Lagian kalau naik kereta, nanti pulangnya aku sendiri. Kamu kan mau mampir ke rumah sepupu.” Dina mengangguk antusias. “Iya nih, sepupuku baru lahiran. Mau lihat bayinya, gemes banget katanya.” Selin hanya mengiyakan sambil menyalakan mesin. Di pikirannya, ada bayangan lain yang terus muncul belakangan ini, Rendra. Selin menghela napas pelan. Sejak perjodohan itu diumumkan, hidupnya terasa aneh. Rendra terlalu dingin, sulit di tebak. Kadang Selin merasa dia sedang dinilai, kadang merasa diperhatikan, kadang juga merasa diabaikan. Bahkan obrolan mereka di chat memang hanya seadanya. Selin mengirim pesan duluan, biasanya sekadar “Hai, apa kabar?” atau “Lagi ngapain?” dan jawaban Rendra selalu singkat. “Baik,” “Lagi meeting”, “Pulang kantor nih.” Tidak pernah ada tanya balik yang panjang, tidak pernah ada emoji, apalagi ajakan ketemu lagi. Selin mencoba berpikir positif. Mungkin Rendra memang sibuk. Tapi dalam hati kecilnya, ada rasa ragu yang menggerogoti, apakah Rendra benar-benar masih tertarik? Atau pertemuan minggu lalu itu tak berarti apa-apa baginya? Perjalanan ke Bandung berlangsung lancar. Mereka tiba tepat waktu, meeting berlangsung hampir tiga jam. Selin memimpin presentasi dengan baik, menjawab pertanyaan dengan percaya diri. Klien puas, kontrak diperpanjang. “Good job Selin,” kata Dina sambil merapikan laptop dan dokumen dimeja. Selin tersenyum sambil menyikut pelan lengan Dina, “siapa dulu partner kerjanya?” Hahahaha... Mereka tertawa bersama, setidaknya hari ini mereka menang di satu hal. Setelah obrolan singkat yang dibarengi makan siang, akhirnya Dina pamit. “Kamu yakin pulang sendiri? Hujan kayaknya mau turun lagi nih,” tanya Dina khawatir. Selin tertawa kecil. “Tenang aja. Aku pelan-pelan. Kamu hati-hati ya, salam buat sepupumu.” Dina melambai dari trotoar, lalu menghilang ke dalam taksi online. Selin kembali masuk ke mobil. Jam menunjukkan pukul 14.30. Ia menyalakan GPS, memilih rute tol Cipularang seperti biasa. Awalnya cuaca masih mendung tapi terang. Gerimis kecil mulai turun ketika ia memasuki tol, tapi tidak mengganggu. Selin menyetel playlist favoritnya. Lagu-lagu lama dari Sheila on 7 dengan volume pelan. Pikirannya melayang lagi ke Rendra. Semalam ia sempat ingin mengirim pesan lagi, tapi urung. Sudah terlalu sering ia yang memulai. Mungkin kali ini biarkan saja, pikirnya. Kalau memang ada perasaan, pasti Rendra akan mencari. Hujan mulai deras ketika ia mendekati kilometer 90. Kaca mobil buram meski wiper sudah full speed. Kabut tebal turun tiba-tiba, seperti tirai putih yang menutup segalanya. Pandangan Selin menyempit jadi hanya beberapa meter di depan. “Ya Allah, tolong lindungi aku,” gumamnya pelan, tangan mencengkeram setir lebih erat. Ia menurunkan kecepatan sampai 40 km/jam, lampu hazard dinyalakan. Mobil-mobil lain juga melambat, tapi tetap ada yang ugal-ugalan melaju cepat lalu menghilang dalam kabut. Selin terus berdoa dalam hati. Tiba-tiba, dari balik kabut, muncul bayangan merah—lampu rem mobil di depannya. Jarak yang tadinya ia kira masih lima puluh meter ternyata hanya beberapa meter saja. Selin menginjak rem sekuat-kuatnya, tapi sudah terlambat. BAM! Benturan keras mengguncang seluruh tubuhnya. Sabuk pengaman menahan dadanya, tapi kepalanya terbentur ke setir dengan kuat. Suara dentuman itu diikuti derit logam dan kaca. Mobil berhenti mendadak. Sunyi sesaat. Hanya suara hujan dan detak jantung Selin yang terasa sangat kencang. “Tolong... tolong... ” Napasnya memburu. Tangannya gemetar saat mencoba bergerak. Kepala pusing. Ia meraba dahinya, sedikit perih— darah segar mengalir. Rasa nyeri hebat menyambar. Dunia seketika gelap, lalu kesadaran Selin lenyap. Suara sirene memecah jalan yang semula sepi. Mobil patroli berhenti tak jauh dari mobil Selin yang ringsek di bagian depan. Dua polisi turun cepat, disusul petugas medis yang membawa tas darurat. Salah satu dari mereka mengetuk kaca jendela pengemudi, memanggil berulang kali, berharap ada respons. Tidak ada. “Korban pingsan. Pintu terkunci dari dalam,” ujar seorang polisi sambil mencoba membuka pintu yang tak bergeming. Keputusan diambil tanpa banyak bicara. Petugas medis memberi isyarat, dan salah satu polisi mengambil alat pemecah kaca dari mobil patroli. Kaca samping dihantam sekali—retak—lalu dihantam lagi hingga pecah seluruhnya. Hujan dan serpihan kaca jatuh ke aspal, bercampur dengan napas tegang orang-orang di sekeliling. Tangan-tangan sigap masuk melalui jendela yang terbuka. Mesin dimatikan, sabuk pengaman dilepas perlahan agar tubuh Selin tak tertarik mendadak. Mereka menopang kepalanya, menjaga lehernya tetap lurus. Dengan hati-hati, pintu akhirnya bisa dibuka dari dalam. Tubuh Selin diangkat perlahan keluar dari mobil, diletakkan di atas tandu. Wajahnya pucat, bibirnya dingin, dan matanya tetap terpejam. Di tengah kilatan lampu biru dan merah, ambulans menutup pintunya. Sirene kembali meraung, membawa Selin pergi, meninggalkan mobil ringsek itu sendirian di pinggir jalan. Di kantor Papa Selin, Ardan Permana sedang berdiskusi dengan Dika. Berkas-berkas masih terbuka dimeja, layar laptop masih menyala. “Pak. . .” Suara sekertaris bergetar halus, “ barusan ada telepon dari kepolisian lalu lintas Polda Jabar.” Ardan menoleh. “Ada apa?” “Putri Bapak... Mbak Selin mengalami kecelakaan, saat ini sudah di bawa ke rumah sakit terdekat.” Udara di ruangan itu seakan membeku. Dika berdiri lebih dulu. “Apa maksudnya kecelakaan? Kondisinya bagaimana?” Sekretaris itu menggeleng pelan. “Belum ada detail lengkap, Mas. Hanya diminta keluarga segera ke rumah sakit.” Papa Selin meraih ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Kacamata yang sedari tadi bertengger di hidungnya dilepas, napasnya tertahan. “Rumah sakit mana?” Nama rumah sakit itu disebutkan. Papa Selin mengangguk singkat, lalu menoleh ke Dika. “Ayo Mas, Kita berangkat sekarang.” *** Di rumah, Mama Selin sedang menonton televisi di ruang keluarga ketika ponselnya bergetar di atas meja. Nama Papa Selin muncul di layar. Entah kenapa, sebelum diangkat, dadanya sudah terasa sesak. “Assalamualaikum,” ucapnya pelan. Di seberang sana, suara Papa Selin terdengar ditahan. “Ma. . . Selin kecelakaan.” Tangan Mama Selin langsung melemah. “Selin kecelakaan Pa? Dimana? Ya Allah. . . Lalu sekarang bagaimana kondisinya Pa?” “Di Tol Ma, Papa juga belum tau Ma. Tapi katanya Selin sudah dibawa ke Rumah Sakit. Papa sama Dika lagi jalan pulang. Mama siap-siap, ya. Papa jemput Mama, kita langsung ke Bandung.” Air mata Mama Selin jatuh tanpa sempat dicegah. “Iya, Pa. Mama tunggu di rumah.” Telepon ditutup. Ruang keluarga yang biasanya hangat terasa sunyi. Mama Selin menutup wajahnya dengan kedua tangan, berdoa lirih di sela isak tangis yang tak bisa lagi ditahan. Diwaktu yang sama, Dika menghubungi Rendra ketika ia baru saja menyelesaikan rapatnya. Ponselnya bergetar. Lalu mengangkatnya. “Hallo Ren, maaf aku mengganggu ?” “Iya Mas Dika, ada apa?” “Ren. . . Selin kecelakaan di Bandung.” Nama itu membuat tubuh Rendra menegang seketika. “Astaga Selin. . . Lalu gimana kondisinya sekarang, Mas?” “Kita semua belum tau gimana keadaanya saat ini. Aku, Papa sama Mama, secepatnya langsung berangkat ke Bandung sekarang.” Rendra menutup mata sesaat. Dadanya terasa dihantam keras. “Oke Mas, sharelok tempatnya. Aku akan kesana sekarang.” Telepon terputus. Rendra berdiri terpaku beberapa detik sebelum akhirnya meraih jasnya. Langkahnya cepat, wajahnya tenang, tapi pikirannya kacau. Dalam waktu kurang dari satu jam, Rendra sudah berada di jalan tol menuju Bandung, menyetir dengan kecepatan maksimal yang masih aman. Hujan masih turun deras, tapi ia tak peduli. Di pikirannya hanya satu — Selin. “Selin... semoga kamu baik-baik saja.” gumamnya sendirian di dalam mobil, matanya berkaca-kaca.Rendra menatap matanya, memastikan.“Kamu yakin?”Selin mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.Dan kali ini, Rendra tak lagi menahan diri. Ia merengkuh tengkuk Selin, mencium Selin lebih dalam. Lidah mereka mulai bertautan, saling menjelajah dan membalas.Rendra kemudian berdiri sambil menggendong Selin seperti koala, membiarkan kaki jenjang istrinya melingkar erat di pinggangnya, tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Ia membawa Selin menuju tempat tidur king size dan merebahkannya disana dengan hati-hati.Tatapan Rendra mengunci mata Selin saat jemarinya mulai menyentuh kancing piyama satin yang dikenakan istrinya. Satu per satu kancing itu terlepas, menyingkap kulit putih Selin yang halus.Setelah piyama itu tersingkap sepenuhnya, Rendra kemudian melepas piyamanya sendiri dan melemparnya ke lantai, lalu melepaskan sisa pakaiannya hingga tak ada lagi penghalang di antara mereka.Selin yang merasa tubuhnya terekspose sempurna, spontan tangannya menutupi dadanya. "Ren, jangan dilia
Pintu kamar President suite itu tertutup dibelakang mereka.Klik.Suasana langsung berubah.Tidak lagi terdengar suara musik, tawa tamu, atau sorotan lampu. Yang ada hanya kesunyian malam dan mereka berdua.Rendra menghela napas panjang, melepaskan ketegangan di bahunya. Ia segera melepas sepatu pantofelnya, lalu menyampirkan tuksedo hitamnya di sofa.Sambil melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas kemejanya, matanya tak lepas dari sosok istrinya yang kini duduk di meja rias.Selin menatap pantulannya di cermin yang masih cantik, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.Perlahan ia mulai membersihkan makeup di wajahnya. Tangannya mulai bekerja, mencoba melepas satu per satu aksesoris rambut yang tertanam kuat di sanggulnya. Namun, sebuah jepit mungil tersangkut, membuat Selin meringis kecil sambil berusaha menariknya perlahan."Ah..." gumamnya pelan.Tiba-tiba, sepasang tangan yang hangat membantunya. Melalui cermin, Selin melihat Rendra sudah berdiri di bel
Setelah istirahat sejenak dan makan siang bersama di kamar sebagai suami istri, sore harinya mereka kembali dirias untuk menyambut malam puncak resepsi mereka.Tepat pukul tujuh malam, pintu jati raksasa berukiran emas di Grand Ballroom terbuka perlahan. Ruangan itu telah disulap menjadi megah. Lampu- lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya yang hangat ke seluruh ruangan. Dekorasi bunga putih dan sentuhan emas menciptakan suasana elegan dan romantis. Ratusan tamu undangan, mulai dari rekan bisnis, keluarga, sahabat, hingga kolega memadati ruangan, menciptakan gumam kagum saat pengantin masuk.Diiringi alunan musik orkestra yang megah namun romantis, Rendra melangkah dengan penuh wibawa. Tuxedo hitamnya tampak sempurna, namun yang lebih mencuri perhatian adalah caranya menggenggam jemari Selin—erat dan protektif, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya adalah harta paling berharga yang ia miliki.Selin berjalan dengan keanggunan
Langit masih tampak gelap menyelimuti kawasan Mega Kuningan saat alarm hp milik Selin berbunyi tepat pukul 03.30 pagi. Di sebuah kamar hotel Presidential suite, Selin terbangun dengan jantung yang berdebar. Hari ini bukan lagi mimpi tapi hari ini adalah harinya. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Sejak semalam, Selin sudah berada di hotel mewah ini untuk menjalani prosesi pingitan terakhir. Sementara itu, Rendra masih berada di rumah pribadinya, menghabiskan malam terakhir sebagai pria lajang sebelum pagi ini berangkat menuju hotel dengan iring-iringan keluarga besar.Tepat pukul 04.00, pintu kamar hotel Selin diketuk. Tim MUA ternama di Jakarta yang sudah dipesan Rendra masuk dengan koper-koper peralatan tempur mereka. Selin duduk di depan cermin besar yang menghadap langsung ke kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta dari ketinggian lantai 30."Oke kita mulai ya, Kak Selin. Siap-siap jadi pengantin paling cantik dan manglingi." goda sang perias sambil
Dua hari menjelang akad, ritme hidup Rendra dan Selin berjalan di dua jalur yang berbeda—namun menuju satu titik yang sama. Di kantor pusat, Rendra masih duduk di balik meja kerjanya, dikelilingi tumpukan dokumen dan layar laptop yang tak pernah benar-benar mati. Hari itu adalah hari terakhirnya sebelum cuti lima hari—cuti yang sudah lama ia jadwalkan, dan untuk pertama kalinya, bukan untuk urusan bisnis. Beni berdiri di hadapannya, membacakan agenda terakhir. “Semua meeting hari ini sudah selesai, Pak. Dan... ini laporan terakhir soal Devan," ujar Beni, asisten pribadinya sambil meletakkan map biru di atas meja. Rendra berhenti mengetik. Ia membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat salinan surat peringatan resmi dari tim hukumnya dan laporan pemantauan dari tim keamanan. Setelah ponselnya hancur dan surat pengacara kita sampai, dia langsung angkat kaki dari Jakarta, Pak," lapor Beni. "Bagus, Ben. Pastikan tim keamanan di hotel nanti melakukan screening ketat terhadap daftar tam
Keesokan paginya di kantor, suasana hati Rendra benar-benar berada di titik nadir. Asisten pribadinya, Beni, masuk ke ruangan dengan wajah serius membawa sebuah tablet. “Pak, saya sudah cek CCTV lobi kemarin," ujar Beni tanpa basa-basi. Rendra mendongak, matanya yang sedikit memerah menunjukkan bahwa ia kurang tidur. "Siapa yang antar paketnya?" “Namanya Devan, Pak. Mantan kekasih Bu Selin waktu kuliah. Saya telusuri jejak digitalnya. Dia baru kembali ke Indonesia sebulan lalu." Rendra menatap foto Devan di layar. Wajah yang asing, namun tatapannya terlihat penuh obsesi. "Apa hubungannya denganku? Kenapa dia menyerangku lewat foto-foto ini?" “Ini yang menarik, Pak," Beni menggeser layar. "Devan ini adik tiri dari salah satu pemegang saham di perusahaan kompetitor kita yang kalah tender besar bulan lalu. Dia bukan cuma mau merusak hubungan pribadi Bapak, tapi dia juga punya dendam profesional karena Bapak dianggap menghancurkan karier kakaknya." “Motif klasik," gumam Rendra dingin







