Home / Romansa / Sisa Rasa / Bab 5 : Musibah Datang Tiba - Tiba

Share

Bab 5 : Musibah Datang Tiba - Tiba

Author: NN
last update Huling Na-update: 2026-02-04 00:16:00

Pagi itu hujan belum turun, tapi langit Jakarta masih mendung sejak subuh tadi. Selin berdiri di depan cermin, merapikan tambutnya yang di curly.

Setelan abu- abu muda sudah melekat rapi di tubuhnya. Ini bukan pertama kalinya rapat di Bandung, tapi entah kenapa hari ini rasanya berbeda.

Ia meraih tas kerjanya, memastikan laptop dan dokumen ada didalam. Mama sempat menyadarkan susu hangat sebelum Selin berangkat.

“Hati - hati di jalan dek, Bandung lagi sering hujan,” pesan mamanya.

“Iya Ma,” jawab Selin sambil mencium tangan dan pipi mamanya.

Ia duduk di kursi pengemudi mobilnya, sebuah Honda Jazz putih yang sudah lima tahun menemani perjalanannya. Mobilnya melaju keluar dari rumah menuju ke rumah temannya, Dina.

Di sebelahnya, Dina, rekan kerjanya yang cerewet sedang mengoceh tentang presentasi yang akan mereka sampaikan di kantor klien di Bandung.

“Sel, kamu yakin bawa mobil sendiri? Kan bisa naik kereta, lebih santai,” kata Dina sambil mengunyah roti tawar isi selai kacang.

Selin tersenyum tipis. “Udah tenang aja, aku udah biasa kok. Lagian kalau naik kereta, nanti pulangnya aku sendiri. Kamu kan mau mampir ke rumah sepupu.”

Dina mengangguk antusias. “Iya nih, sepupuku baru lahiran. Mau lihat bayinya, gemes banget katanya.”

Selin hanya mengiyakan sambil menyalakan mesin. Di pikirannya, ada bayangan lain yang terus muncul belakangan ini, Rendra.

Selin menghela napas pelan. Sejak perjodohan itu diumumkan, hidupnya terasa aneh. Rendra terlalu dingin, sulit di tebak. Kadang Selin merasa dia sedang dinilai, kadang merasa diperhatikan, kadang juga merasa diabaikan.

Bahkan obrolan mereka di chat memang hanya seadanya. Selin mengirim pesan duluan, biasanya sekadar “Hai, apa kabar?” atau “Lagi ngapain?” dan jawaban Rendra selalu singkat.

“Baik,” “Lagi meeting,” “Pulang kantor nih.” Tidak pernah ada tanya balik yang panjang, tidak pernah ada emoji, apalagi ajakan ketemu lagi.

Selin mencoba berpikir positif. Mungkin Rendra memang sibuk. Tapi dalam hati kecilnya, ada rasa ragu yang menggerogoti, apakah Rendra benar-benar masih tertarik? Atau pertemuan minggu lalu itu tak berarti apa-apa baginya?

Perjalanan ke Bandung berlangsung lancar. Mereka tiba tepat waktu, meeting berlangsung hampir tiga jam. Selin memimpin presentasi dengan baik, menjawab pertanyaan dengan percaya diri. Klien puas, kontrak diperpanjang.

“Good job Selin,” kata Dina sambil merapikan laptop dan dokumen dimeja.

Selin tersenyum sambil menyikut pelan lengan Dina, “siapa dulu partner kerjanya?”

Hahahaha. . . Mereka tertawa bersama, setidaknya hari ini mereka menang di satu hal.

Setelah obrolan singkat yang dibarengi makan siang, akhirnya Dina pamit.

“Kamu yakin pulang sendiri? Hujan kayaknya mau turun lagi nih,” tanya Dina khawatir.

Selin tertawa kecil. “Tenang aja. Aku pelan-pelan. Kamu hati-hati ya, salam buat sepupumu.”

Dina melambai dari trotoar, lalu menghilang ke dalam taksi online.

Selin kembali masuk ke mobil. Jam menunjukkan pukul 14.30. Ia menyalakan GPS, memilih rute tol Cipularang seperti biasa. Awalnya cuaca masih mendung tapi terang. Gerimis kecil mulai turun ketika ia memasuki tol, tapi tidak mengganggu.

Selin menyetel playlist favoritnya. Lagu-lagu lama dari Sheila on 7 dengan volume pelan. Pikirannya melayang lagi ke Rendra.

Semalam ia sempat ingin mengirim pesan lagi, tapi urung. Sudah terlalu sering ia yang memulai. Mungkin kali ini biarkan saja, pikirnya. Kalau memang ada perasaan, pasti Rendra akan mencari.

Hujan mulai deras ketika ia mendekati kilometer 90. Kaca mobil buram meski wiper sudah full speed. Kabut tebal turun tiba-tiba, seperti tirai putih yang menutup segalanya.

Pandangan Selin menyempit jadi hanya beberapa meter di depan.

“Ya Allah, tolong lindungi aku,” gumamnya pelan, tangan mencengkeram setir lebih erat.

Ia menurunkan kecepatan sampai 40 km/jam, lampu hazard dinyalakan. Mobil-mobil lain juga melambat, tapi tetap ada yang ugal-ugalan melaju cepat lalu menghilang dalam kabut. Selin terus berdoa dalam hati.

Tiba-tiba, dari balik kabut, muncul bayangan merah — lampu rem mobil di depannya. Jarak yang tadinya ia kira masih lima puluh meter ternyata hanya beberapa meter saja. Selin menginjak rem sekuat-kuatnya, tapi sudah terlambat.

BAM!

Benturan keras mengguncang seluruh tubuhnya. Sabuk pengaman menahan dadanya, tapi kepalanya terbentur ke setir dengan kuat. Suara dentuman itu diikuti derit logam dan kaca.

Mobil berhenti mendadak.

Sunyi sesaat. Hanya suara hujan dan detak jantung Selin yang terasa sangat kencang.

“Ya Allah, tolong aku. . .” Napasnya memburu.

Tangannya gemetar saat mencoba bergerak. Kepala pusing. Ia meraba dahinya, sedikit perih — darah segar mengalir. Rasa nyeri hebat menyambar. Dunia seketika gelap, lalu kesadaran Selin lenyap.

Suara sirene memecah jalan yang semula sepi. Mobil patroli berhenti tak jauh dari mobil Selin yang ringsek di bagian depan. Dua polisi turun cepat, disusul petugas medis yang membawa tas darurat. Salah satu dari mereka mengetuk kaca jendela pengemudi, memanggil berulang kali, berharap ada respons. Tidak ada.

“Korban pingsan. Pintu terkunci dari dalam,” ujar seorang polisi sambil mencoba membuka pintu yang tak bergeming.

Keputusan diambil tanpa banyak bicara. Petugas medis memberi isyarat, dan salah satu polisi mengambil alat pemecah kaca dari mobil patroli. Kaca samping dihantam sekali—retak—lalu dihantam lagi hingga pecah seluruhnya.

Hujan dan serpihan kaca jatuh ke aspal, bercampur dengan

napas tegang orang-orang di sekeliling.

Tangan-tangan sigap masuk melalui jendela yang terbuka. Mesin dimatikan, sabuk pengaman dilepas perlahan agar tubuh Selin tak tertarik mendadak. Mereka menopang kepalanya, menjaga lehernya tetap lurus. Dengan hati-hati, pintu akhirnya bisa dibuka dari dalam.

Tubuh Selin diangkat perlahan keluar dari mobil, diletakkan di atas tandu. Wajahnya pucat, bibirnya dingin, dan matanya tetap terpejam.

Di tengah kilatan lampu biru dan merah, ambulans menutup pintunya. Sirene kembali meraung, membawa Selin pergi, meninggalkan mobil ringsek itu sendirian di pinggir jalan.

Di kantor Papa Selin, Ardan Permana sedang berdiskusi dengan Dika. Berkas - berkas masih terbuka dimeja, layar laptop masih menyala.

“Pak. . .” Suara sekertaris bergetar halus, “ barusan ada telepon dari kepolisian lalu lintas Polda Jabar.”

Ardan menoleh. “Ada apa?”

“Putri Bapak. . . Mbak Selin mengalami kecelakaan, saat ini sudah di bawa ke rumah sakit terdekat.”

Udara di ruangan itu seakan membeku. Dika berdiri lebih dulu.

“Apa maksudnya kecelakaan? Kondisinya bagaimana?”

Sekretaris itu menggeleng pelan. “Belum ada detail lengkap, Mas. Hanya diminta keluarga segera ke rumah sakit.”

Papa Selin meraih ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Kacamata yang sedari tadi bertengger di hidungnya dilepas, napasnya tertahan.

“Rumah sakit mana?”

Nama rumah sakit itu disebutkan. Papa Selin mengangguk singkat, lalu menoleh ke Dika.

“Kita berangkat sekarang.”

Di rumah, Mama Selin sedang menonton televisi di ruang keluarga ketika ponselnya bergetar di atas meja. Nama Papa Selin muncul di layar. Entah kenapa, sebelum diangkat, dadanya sudah terasa sesak.

“Assalamualaikum,” ucapnya pelan.

Di seberang sana, suara Papa Selin terdengar ditahan.

“Ma. . . Selin kecelakaan.”

Tangan Mama Selin langsung melemah.

“Selin kecelakaan Pa? Ya Allah. . . Lalu sekarang bagaimana kondisinya Pa?”

“Papa juga belum tau Ma, tapi katanya Selin sudah dibawa ke Rumah Sakit. Papa sama Dika lagi jalan pulang. Mama siap-siap, ya. Papa jemput Mama, kita langsung ke Bandung.”

Air mata Mama Selin jatuh tanpa sempat dicegah.

“Iya, Pa. Mama tunggu di rumah.”

Telepon ditutup. Ruang keluarga yang biasanya hangat terasa sunyi. Mama Selin menutup wajahnya dengan kedua tangan, berdoa lirih di sela isak tangis yang tak bisa lagi ditahan.

Diwaktu yang sama, Dika menghubungi Rendra ketika ia baru saja menyelesaikan rapatnya.

Ponselnya bergetar. Lalu mengangkatnya.

“Hallo Ren, maaf aku mengganggu ?”

“Iya Mas Dika, ada apa?”

“Ren. . . Selin kecelakaan di Bandung.”

Nama itu membuat tubuh Rendra menegang seketika.

“Astaga Selin. . . Lalu gimana kondisinya sekarang, Mas?”

“Kita semua belum tau gimana keadaanya saat ini. Aku, Papa sama Mama, secepatnya langsung berangkat ke Bandung sekarang.”

Rendra menutup mata sesaat. Dadanya terasa dihantam keras.

“Oke Mas, sharelok tempatnya. Aku akan kesana sekarang.”

Telepon terputus. Rendra berdiri terpaku beberapa detik sebelum akhirnya meraih jasnya. Langkahnya cepat, wajahnya tenang, tapi pikirannya kacau.

Dalam waktu kurang dari satu jam, Rendra sudah berada di jalan tol menuju Bandung, menyetir dengan kecepatan maksimal yang masih aman. Hujan masih turun deras, tapi ia tak peduli. Di pikirannya hanya satu — Selin.

“Selin... semoga kamu baik - baik saja.” gumamnya sendirian di dalam mobil, matanya berkaca-kaca.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sisa Rasa   Bab 6 : Gegar Otak Ringan

    Setibanya di IGD Rumah Sakit Bandung, masuklah mama Sekar, dengan wajah pucat dan mata merah. Di belakangnya ada Kak Dika dan Pak Ardan, Papa Selin yang biasanya tenang, tapi kali ini alisnya berkerut dalam dan langkahnya cepat. Mereka berdua langsung menuju ke arah ranjang Selin.“Ya Allah Selin. . .” Mama Sekar yang melihat putrinya terbaring dengan dahi yang di perban dan selang infus di tangan kirinya langsung memeluk putrinya pelan, air matanya menetes di bahu Selin. Suaranya bergetar.Sedangkan Papa Selin yang berada di sebelahnya mengusap punggung istrinya untuk menenangkan. Dika yang berdiri di sisi lain ranjang dengan mata berkaca kaca tak kuasa melihat adiknya yang biasanya ceria kini terbaring lemah tak berdaya.Selin, yang masih setengah sadar akibat obat penghilang rasa sakit, merasakan ada tangan hangat menggenggamnya. Ia membuka mata perlahan. Bayangan kabur perlahan membentuk wajah yang sangat ia kenali.“Ma. . . ma ?” bisiknya lemah. Mama Sekar tersenyum di antara air

  • Sisa Rasa   Bab 5 : Musibah Datang Tiba - Tiba

    Pagi itu hujan belum turun, tapi langit Jakarta masih mendung sejak subuh tadi. Selin berdiri di depan cermin, merapikan tambutnya yang di curly.Setelan abu- abu muda sudah melekat rapi di tubuhnya. Ini bukan pertama kalinya rapat di Bandung, tapi entah kenapa hari ini rasanya berbeda.Ia meraih tas kerjanya, memastikan laptop dan dokumen ada didalam. Mama sempat menyadarkan susu hangat sebelum Selin berangkat.“Hati - hati di jalan dek, Bandung lagi sering hujan,” pesan mamanya.“Iya Ma,” jawab Selin sambil mencium tangan dan pipi mamanya.Ia duduk di kursi pengemudi mobilnya, sebuah Honda Jazz putih yang sudah lima tahun menemani perjalanannya. Mobilnya melaju keluar dari rumah menuju ke rumah temannya, Dina.Di sebelahnya, Dina, rekan kerjanya yang cerewet sedang mengoceh tentang presentasi yang akan mereka sampaikan di kantor klien di Bandung.“Sel, kamu yakin bawa mobil sendiri? Kan bisa naik kereta, lebih santai,” kata Dina sambil mengunyah roti ta

  • Sisa Rasa   Bab 4 : Pertemuan mereka pertama tanpa orang tua

    Sejak pagi, Selin sudah duduk didepan meja komputernya. Jarinya bergerak diatas keyboard, namun bayangan tentang Rendra terus berputar diotaknya, setelah 3 hari diumumkannya perjodohan itu.Wajahnya yang tenang.Sikapnya yang dingin.Seolah aku cuma orang asing.“Kenapa sih harus dia,” gumam Selin pelan, nyaris tak bersuara.Selin menghela napas, lalu menggeser duduknya. Ia mencoba fokus kembali. Ini jam kerja, bukan saatnya mengingat mantan yang tiba-tiba berubah jadi calon suami.Ia kembali mengetik. Beberapa menit berlalu, Selin berhasil menyelesaikan satu halaman penuh. Ia tersenyum kecil. Lalu membaca judul filenya. Seketika senyum itu pun hilang. Karena disudut kanan layar, tanpa disadari, ia menamai file itu :Draft - RBuru - buru ia menghapus huruf itu dan menggantinya dengan nama yang benar.“Astaga, aku udah gila ini,” bisikku pelan.Tapi jauh di dalam hati, aku tahu masalahnya bukan karena aku kepikiran Rendra.Masalahnya karen

  • Sisa Rasa   BAB 3 — Setelah Makan Malam Itu

    Perjalanan pulang rasanya aneh.Bukan karena macet. Bukan juga karena capek. Tapi karena kepala Selin terlalu penuh. Ia duduk di kursi belakang, menyandarkan kepala ke kaca mobil, menatap lampu jalan yang lewat satu-satu. “Papa senang banget tadi,” suara Papa memecah sunyi. “Om Ardi itu orangnya baik. Dan Rendra juga kelihatannya matang.” Selin mengangguk kecil. “Hm.” Mama ikut menimpali, nadanya ringan. “Mama kira kamu bakal lebih kaget, Lin. Tapi kamu kelihatan tenang.” Selin nyaris tertawa. Tenang apanya. Raka melirik lewat spion. “Aku juga kaget. Kirain bakal dikenalin sama orang asing, taunya teman sekolah.” “Iya. Aku juga gak nyangka.” Raka terkekeh pelan. “Ya… dunia emang sempit.” Papa berdehem kecil. “Yang penting sekarang kita pikir kedepan.” Ke depan. Kata itu bikin dada Selin agak sesak. Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Selin turun paling duluan, langkahnya cepat. Ia nggak nunggu siapa pun, langsung masuk dan naik ke kamar. Begitu pintu kamar tertutup,

  • Sisa Rasa   BAB 2 — Gila, Ternyata Itu Kamu

    Restoran itu terlalu rapi untuk suasana hati Selin malam ini.Lampu temaram yang hangat. Aroma makanan mahal. Musik yang mengalun pelan, menenangkan tapi justru bikin jantung Selin makin terdengar jelas di telinganya sendiri.Ia berjalan di belakang Papa dan Mama, sementara Raka menyusul di sampingnya. Langkah Selin melambat tanpa sadar.Ada perasaan aneh sejak tadi. Kayak mau ketemu sesuatu yang nggak siap dia hadapi.“Private room-nya sebelah sini Pak,” kata pelayan sambilmembuka pintu geser kayu.Selin menarik napas.Begitu pintu terbuka—Langkahnya berhenti.Bukan karena ruangan itu penuh orang dewasa berwibawa. Bukan juga karena suasana formal yang bikin tegang.Tapi karena satu wajah di sudut ruangan itu.Wajah yang seharusnya sudah terkunci rapi di masa lalu.Wajah yang —tidak pernah ia duga akan muncul di sini.Selin refleks mundur setengah langkah.Cowok itu juga membeku.Tatapan mereka bertemu.Hanya satu detik. Tapi cukup untuk membuat dada Selin sesak.Kenapa dia?Dari s

  • Sisa Rasa   Bab 1 : Tanpa Peringatan

    “KAMU PULANG JAM BERAPA TADI MALAM?!”Belum lima menit Selin membuka mata, suara Mamanya, Sekar sudah naik satu oktaf dari balik pintu kamar.Selin meringkuk di bawah selimut, rambutnya acak-acakan, wajah kusut, mata masih berat. Ia mengedip dua kali. “Jam. . . dua?” Suaranya serak. “kayaknya.” “KAYAKNYA?!” Mama meledak.Selin menarik selimut lebih tinggi, seolah kain itu bisa menyelamatkannya dari ceramah pagi.“Selina Athalia Putri.” Mama melangkah masuk, berdiri di samping ranjang. “Kamu itu anak perempuan. Pulang jam dua pagi, nyetir sendiri. Kamu pikir Mama nggak capek mikir?”Selin menggaruk kepala. “Ma… itu cuma nongkrong. Bukan tawuran.”“Cuma nongkrong kok bisa pulang jam dua pagi?” Sekar bertanya cepat.“Ngumpul biasa aja,” jawab Selin mendengus kecil.Mama memijat pelipis. “Lin… Papa Mama itu capek banget ngadepin kamu. Kamu anak baik sebenarnya, tapi kelakuan kamu—susah banget diatur.”Belum sempat Selin membalas, Papa sudah muncul di ambang pintu sambil membawa gelas ko

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status