首頁 / Fantasi / Sisa Takdir / BAB 1 JEJAK YANG TERHAPUS

分享

Sisa Takdir
Sisa Takdir
作者: Rayna Velyse

BAB 1 JEJAK YANG TERHAPUS

作者: Rayna Velyse
last update publish date: 2024-12-08 21:50:43

Hujan deras mengguyur kota tua dengan derasnya. Jalan bebatuan basah memantulkan cahaya lentera yang tergantung disepanjang jalan. Udara malam terasa dingin, membawa aroma tanah basah dan kayu lapuk. Di tengah hiruk pikuk pasar malam yang hampir tutup, seorang pemuda berdiri dibawah naungan bayangannya, nyaris tak terlihat.

Dia adalah Elian, putra bungsu keluarga Silvercrest keluarga terhormat yang kini hanya menjadi dongeng di antara rakyat jelatah. Tubuhnya kurus, hampir terlihat rapuh, dengan wajah pucat yang kontras dengan gelapnya malam. Pakaiannya lusuh dan basah kuyup, menempel erat di tubuhnya yang tidak bertenaga. Namun, dibalik penampilannya yang lemah, ada tatapan tajam dari mata merahnya yang menyala, seperti api yang menolak untuk padam.

Langkah-langkahnya pelan dan tidak stabil, ketika dia melewati pasar malam yang hampir sepi. Lentera-lentera yang tergantung bergoyang tertiup angin, memberikan gambaran sekilas bayangan kondisi tubuhnya yang jauh dari sempurna.

“Kenapa kau masih disini, anak muda?” suara serak seorang pedagang tua terdengar dari salah satu gerobak kecil yang hampir kosong.

Elian menoleh perlahan, matanya menangkap sosok pria berusia paruh baya di balik sebuah gerobak kecil yang hampir kosong. Wajah pria itu tampak letih, tetapi ada kehangatan samar dalam pandangannya.

Elian tersenyum, tangannya yang bergetar merogoh sakunya , memperlihatkan koin perak yang memantulkan cahaya remang-remang. “Aku hanya butuh sesuatu untuk bertahan malam ini,” katanya pelan, hampir tidak terdengar di antara hujan yang berderai.

Pedagan itu menatap tubuh kurus dan pucatnya, lalu menyerahkan sepotong roti keras. “Kau harus menjaga dirimu,” Gumannya. “Kau terlihat seperti angin saja bisa menjatuhkanmu kapanpun."

Elian menerima roti itu dengan tangan yang gemetar dan tersenyum tipis "Terimakasih". Dengan roti ditangan, dia melangkah pergi meninggalkan pasar yang semakin sunyi. Setiap langkahnya sebuah perjuangan untuknya. Bayangan panjang mengikutinya seperti teman setia, meski terasa sepi dan dingin.

Hujan terus mengguyur tubuhnya yang ringkih, membuat dinginya meresap hingga ke tulang. Di balik keremangan kota, ada sesuatu yang bergetar dihatinya, sebuah ingatan yang tak ingin dia hadapi. Wajah-wajah masa lalu muncul dibenaknya, bersama dengan bisikan yang terus menyiksa pikirannya.

“Kau seharusnya mati Elian. Kau bahkan tak pantas hidup."

Dia mengepalkan tangan, kuku-kukunya menancap dalam di kulit telapak tangannya sendiri. Tidak, dia tidak akan menyerah. Elian menolak untuk mempercayai kata-kata itu. Takdirnya belum selesai, tidak sampai dia membalas semua luka yang pernah ditorehkan. Tidak sampai dia menebus penyesalan yang menghantuinya setiap malam.

Langkahnya membawa dia ke gang sempit ujung kota tempat yang gelap dan nyaris terlupakan, tempat segala yang hanya dikenal oleh mereka yang menyembunyikan dosa. Bau apak dan tanah basah menyambutnya. Di sana, dia diam di sebuah pintu tua berdiri, kayunya using dan tertutup rapat, dengan simbol yang familiar terukir di permukaannya.

Elian berhenti sejenak, mengamati ukiran simbol itu dengan mata yang menyipit. Hujan mengalir deras diwajahnya, tapi simbol itu tetap jelas. Lingkaran kasar dengan garis bersilangan ditengah, tanda yang tampak bisa bagi kebanyakan orang. Tapi bagi Elian, itu adalah jejak penghianatan.

Jantungnya berdegup keras. Tangannya terulur, menyentuh permukaan pintu kayu yang dingin dan basah. Sentuhannya membuat ingatan-ingatan lama muncul, seperti potongan-potongan gambar yang buram. Dia bisa melihat wajah-wajah itu lagi orang-orang yang dia pikir bisa dipercaya. Senyum mereka yang hangat, janji-janji yang mereka buat, dan pada akhirnya, penghianatan yang tak termaafkan. Di balik kayu basah ini, segalanya dimulai. Di tempat ini, dia kehilangan segalanya.

Elian menutup matanya menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Jantungnya berdegup kencang, “Ini hanya permulaan,” Gumannya. Suaranya hampir tenggelam oleh gemuruh hujan. Dengan dorongan kecil, pintu itu mulai terbuka, mengungkapkan kegelapan pekat yang menunggunya di dalam.

Pintu itu bergeser perlahan, mengungkapkan kegelapan pekat yang menunggu didalam. Di balik pintu itu, udara terasa lebih dingin, seolah-olah malam itu sendiri menolak untuk menyentuh tempat ini. Namun, Elian tidak mundur. Dia melangkah masuk, membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya sepenuhnya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Sisa Takdir   BAB 175

    “Elian.” Suara itu mengalun lembut, nyaris seperti nyanyian angin malam yang berbisik di antara dedaunan. Langit malam membentang pekat, dihiasi bintang-bintang redup yang bersembunyi di balik kabut tipis, seolah langit sendiri enggan mengganggu keheningan suci malam itu. Udara membawa aroma tanah basah dan bunga liar, seakan bumi pun menahan napas menanti sesuatu yang suci. Elian menoleh perlahan, dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat matanya menangkap sosok itu. Itu wajah yang menghantuinya dalam doa dan mimpi. Sosok yang pernah menjulurkan tangan ketika ia terperosok paling dalam. Ia berdiri di bawah cahaya bulan, gaunnya putih berkilau, menyapu tanah seperti embun yang mengalir perlahan di rerumputan dini hari. Kabut tipis mengitari kakinya, membuatnya terlihat seolah tak menyentuh bumi. Cahaya bulan menari di sekitar tubuhnya, membentuk siluet samar seperti bayangan dewi dari legenda yang terlupakan. Setiap langkahnya tidak meninggalkan jeja

  • Sisa Takdir   BAB 174

    Malam telah larut. Jam berdetak pelan di dinding kamar, mengiringi suasana sunyi yang begitu pekat. Api di perapian tinggal bara merah yang sesekali berkeretak pelan. Cahaya remangnya menari lembut di dinding, menyatu dengan bayang-bayang tubuh yang tertidur lelah di sudut ruangan. Elian menggerang pelan. Matanya terbuka perlahan, beradaptasi dengan remang cahaya. Pandangannya sempat kabur, tapi nyeri yang tiba-tiba menghujam perutnya membuat kesadarannya sepenuhnya kembali. Bekas tusukan pedang Azrael masih meninggalkan jejak rasa perih yang dalam. Ia menahan napas, menggertakkan giginya perlahan, membiarkan rasa sakit itu lewat sebelum kembali bernapas lega. Ia menoleh ke kanan. Suara napas pelan menyambutnya. Ethan tertidur di kursi di samping ranjangnya, dengan tubuh sedikit membungkuk ke depan, tangan tergantung lemas di sisi kursi. Rambutnya berantakan, dan ada bekas kelelahan di wajahnya. Sementara itu, Caine ter

  • Sisa Takdir   BAB 173

    Langit masih menyimpan sisa mendung ketika rombongan pasukan kerajaan kembali pulang. Langkah kaki kuda terdengar teratur di sepanjang jalan berbatu, mengiringi tubuh-tubuh letih yang kembali dari medan pertempuran. Tidak ada sorak kemenangan, tidak pula suara gempita. Hanya senyap yang menyertai kepulangan mereka, diselimuti duka atas nyawa-nyawa yang tertinggal di tanah asing. Di antara barisan panjang itu, kereta khusus berlapis pelindung berjalan dengan pelan di tengah rombongan. Di dalamnya, tubuh Elian terbaring lemah, masih belum sadar. Kulitnya pucat, nafasnya teratur namun lirih, dan dahi dingin karena demam yang belum juga surut. Ethan duduk di dalam, tepat di sampingnya. Tangan Elian tak pernah lepas dari genggamannya, seolah jika ia mengendur sedikit, Elian akan menghilang dari dunia ini. Wajah Ethan tak menunjukkan ekspresi apa-apa, tapi matanya merah dan sembab. Ia belum tidur sejak pertempuran itu berakhir. Di depan kereta, Cain

  • Sisa Takdir   BAB 172

    Pagi datang lambat. Langit di luar tenda berubah dari hitam kelam menjadi abu-abu pucat, namun cahaya mentari belum cukup kuat menembus dinding kain. Angin sudah tidak melolong lagi, tapi udara tetap dingin, menusuk seperti belati halus. Embun mengembun di setiap sudut, membasahi tanah di bawah mereka. Ethan masih duduk dalam posisi yang sama. Ia belum tidur sedetik pun. Lengannya tetap memeluk Elian, menjaga suhu tubuh pemuda itu agar tidak terus merosot. Ia tahu tubuhnya sendiri mulai berteriak lelah, tapi dibanding rasa takut kehilangan Elian, nyeri itu tak berarti. Berkali-kali ia bertanya dalam diam, Apakah ia sudah cukup melindungi Elian? Atau hanya menjadi saksi bisu saat Elian kembali menderita? Ia bisa merasakan setiap detak lemah dari dada Elian, setiap hembusan napas yang nyaris menghilang, dan sesekali tubuh Elian menggigil meski sudah lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Tubuh Ethan sendiri terasa kaku, punggungnya nyeri, namun ia tak b

  • Sisa Takdir   BAB 171

    Tenda itu sunyi. Hanya suara napas Elian yang berat dan terputus-putus memenuhi ruang kecil itu. Api lentera berkedip pelan, memantulkan cahaya kuning pucat pada kulitnya yang semakin memutih. Dinding tenda tipis bergetar oleh angin malam yang melolong lirih di luar, menambah dingin menusuk yang meresap dari tanah lembap. Udara di dalam seperti tertahan padat, dingin, dan menggantungkan aroma logam samar dari darah yang mengering. Selimut wol tipis membungkus tubuhnya, namun tetap tak mampu menahan dingin yang menjalari tulangnya. Ujung-ujung jarinya membiru. Setiap detik yang berlalu, menggigilnya makin kuat. Elian membuka mata perlahan mata merahnya tampak kusam, sayu, dan nyaris kehilangan fokus. Ethan duduk di sebelahnya, tubuhnya membungkuk, satu tangan memegang tangan Elian yang dingin bagai es, sementara tangan satunya sibuk menyiapkan ramuan hangat yang diberikan Caine sebelumnya. “Elian… dengar aku.” Suara Ethan lembut namun tertekan. “Kau haru

  • Sisa Takdir   BAB 170

    “...Elian?” Suara Ethan lirih namun penuh tekanan emosi terdengar di antara deras hujan yang perlahan mulai reda. Elian membuka mata perlahan, kelopak matanya terasa berat, dan tubuhnya dingin seperti es. “Aku... baik-baik saja,” gumam Elian pelan, meski darah masih merembes dari luka di sisi perutnya. “Tidak, kau tidak baik-baik saja!” seru Caine, nyaris mengguncang tubuh Elian. “Luka tusuk ini dalam... terlalu dalam, dan darahmu tidak berhenti mengalir!” Elian mencoba tersenyum, tapi itu hanya membuatnya meringis. “Kalau aku bisa bicara... artinya aku belum mati, bukan?” “Bodoh...” desis Ethan. Ia merobek bagian bawah jubahnya tanpa ragu, lalu dengan cepat menekannya ke luka Elian yang masih mengucur darah. Ia tidak peduli tangan dan lututnya sudah berlumur merah. “Kau tidak boleh kehilangan lebih banyak darah...” ucapnya, nyaris seperti doa. “Tolong... bertahanlah...” Caine bergerak cepat, mengeluarkan ramuan d

  • Sisa Takdir   BAB 144

    Lorong batu itu seperti mulut naga gelap, sempit, dan seolah menghirup seluruh udara dari paru-paru Elian. Setiap langkahnya menggema pelan, seakan mengumumkan keberadaannya di tengah kekacauan yang baru saja meledak di belakang. Napasnya kasar, tubuhnya berguncang dengan setiap gerakan, tapi ia

  • Sisa Takdir   BAB 140

    Kain hitam masih membalut mata Elian, menyekat pandangannya dari dunia luar. Tak ada cahaya, tak ada bentuk. Hanya suara langkah kaki, derit ranting yang patah, dan deru napas yang berat. Mereka telah berjalan entah berapa lama. Tubuh Elian lunglai, setiap langkah seperti menyeret tulan

  • Sisa Takdir   BAB 135

    Langkah kaki Ethan menggema cepat di lorong kediaman Silvercrest. Nafasnya pendek, tubuhnya tegang, dan matanya terus mencari satu sosok Caine. Elian menghilang. Ethan menolak mempercayai itu pada awalnya, tapi kenyataannya terlalu jelas. Tidak ada tanda perlawanan, tidak ada

  • Sisa Takdir   BAB 134

    Byurrr. Air dingin menghantam kepala Elian dan langsung menyusup ke seluruh tubuhnya. Aliran itu begitu tiba-tiba, menusuk kulit dan tulangnya seperti sembilu, membuat tubuhnya menggigil hebat. Elian terbatuk keras, nyaris tersedak oleh air yang mengucur deras ke wajah dan lehernya.

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status