MasukAyah Nanang menatap anaknya dari ujung kepala sampai kaki, lalu mendekat dan mengendus setiap sisi dari tubuh Nanang.
“Nang, Bapak tuh ngga bodoh, bau parfum cewek nempel banget di badan kamu.”
Nanang menggaruk kepala, mencoba bersikap santai. “Ya ampun, Pak. Cuma nemenin temen kok, hehe.”
“Temen?” Suara Ayahnya Menurun, masih curiga dengan anaknya.
“Iya, Pak. temen aja kok.”
Ibu Nanang keluar dari dapur karna
Ia lalu bangkit dari duduknya untuk menjalankan skenario yang sudah ia siapkan.“Ning, kamu mau minum apa?” tanya Risa basa-basi.“Aku sih biasa, kopi saja, Ris,” jawab Ningsih dengan suara yang sengaja dibuat manja.“Duh, di dapur kopi sepertinya habis. Ya sudah, kamu tunggu dulu ya di sini, aku ke warung depan sebentar,” ucap Risa yang langsung bergegas keluar tanpa menunggu jawaban,Meninggalkan Nanang dan Ningsih dalam keheningan yang menyesakkan.Begitu pintu tertutup, efek Sirup tahan banting itu meledak dalam tubuh Nanang.Darahnya terasa mendi dih, dan fokusnya benar-benar hilang.“Nang... kamu kenapa? Kok menatap Kakak seperti itu?” tanya Ningsih, berpura-pura polos meski matanya berkilat nakal.“Kak Ningsih... makin cantik saja,” desis Nanang dengan napas yang mulai memburu.“Ah, masa sih, Nang?” Ningsih memancing lagi.“Serius
Nanang baru saja membanting tubuhnya ke sofa. Peluh membasahi keningnya setelah seharian berkeliling mencari kosan, namun hasilnya nihil.Tidak ada yang cocok sama sekali."Sial, masa iya gue harus terus tinggal di sini bareng Tante yang hipernya minta ampun itu?"gumam Nanang kesal sambil menatap langit-langit rumah.TOK!... TOK!... TOK..."Nang, buka pintunya. Ini Tante!"Nanang mendengus."Baru aja diomongin, sudah muncul orangnya," gumamnya malas sambil bangkit membukakan pintu.Begitu pintu terbuka, sosok Risa berdiri di sana. Namun, ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang sangat Nanang kenal yaitu Ningsih.Sebagai instruktur senam, Ningsih memiliki bentuk tubuh yang atletis dan wajah yang menawan, selalu berhasil membuat pria di lingkungan itu menoleh dua kali.“Om kamu sudah berangkat, Nang?” tanya Risa sambil melongok ke dalam.“Sudah, Tan. T
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Risa melangkah keluar dengan penampilan yang cukup mencolok.Ia sudah mengenakan setelan baju senam yang sangat ketat, memperlihatkan lekuk tubuh matangnya yang masih berbekal sisa - sisa kehangatan semalam.Mendengar percakapan mereka, Risa langsung menyambar dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin.“Iya Nang... mending kamu tinggal di sini saja. Rumah ini sepi banget loh kalau nggak ada kamu,” ucap Risa.Kalimatnya terdengar seperti perhatian seorang Tante, namun bagi Nanang, itu adalah undangan terbuka menuju bahaya.“Tuh, dengerin kata Tante kamu,” timpal Om Iwan, memberikan dukungan penuh tanpa rasa curiga sedikit pun.Nanang hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya.“Ya... gimana nanti saja lah, Om.”Di balik wajah tenangnya, pikiran Nanang justru berkecamuk.Maaf ya Tan, bukannya Nanang nggak mau hemat, tapi k
Sensasi hangat, licin, dan jepitan dinding belakang Risa membuat Nanang merasa seperti sedang terbang ke langit ke tujuh.“Enak, Tan?” bisik Nanang dengan napas memburu di telinga Risa.“Enak banget, Nanang... terusss, jangan berhenti!” balas Risa dengan suara serak yang penuh gairah.PLOK... PLOK... PLOK...Hentakan kulit bertemu kulit memenuhi keheningan kamar malam itu.Mereka seolah lupa atau mungkin malah sengaja menantang bahaya, karena di kamar sebelah, Om Iwan sedang tertidur lelap.Setiap hujaman Nanang membuat ranjang berderit halus, menambah sensasi ngeri sekaligus nikmat dalam perselingkuhan yang semakin gila ini.Nanang bener-bener menghajar Risa tanpa ampun! Om Iwan kalau sampai terbangun sedikit saja pasti bakal tamat riwayat mereka.Saat Permen Nanang sudah berada di titik di dih dan siap meledak, Nanang berniat mencabutnya.Namun dengan refleks kilat, Risa bangkit dan menahannya.“Stop! Jangan dulu keluar, Nanang!”Risa langsung merunduk, mengulum habis Permen raksasa
Nanang kelojotan setengah mati di atas kasur.Sensasi dari Kain yang meraba urat-urat Permennya benar-benar nyata, mengirimkan gelombang nikmat yang membuat otaknya seolah mau pecah.“Gimana, Nanang? Celana dalam Tante enak, kan?” bisik Risa, suaranya serak menahan gairah.“Enak... enak banget, Tan... terusss!” racau Nanang dengan mata terpejam rapat.Sambil terus memompa Permen Nanang dengan kain itu, Risa merunduk, menjilati dan Menggigit kecil kelereng Nanang, memberikan serangan ganda yang membuat Nanang hampir mencapai puncaknya.“Aahhh... stop, Tan! Stop! Mau keluar nih!” teriak Nanang tertahan.Risa menyeringai puas, lalu melempar celana dalam itu ke lantai begitu saja.Namun, tiba-tiba keadaan berbalik. Nanang yang sudah dikuasai nafsu mendadak bangkit.Dengan satu dorongan bertenaga, ia membalikkan posisi hingga Risa terbaring di bawahnya.Nanang langsung menerjang, menyedot k
Nanang mengangkat tangannya, berusaha memberi jarak.Keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipisnya, jantungnya berdegup seperti genderang perang."Jangan, Tan... jangan di sini," bisiknya parau.Namun, Risa sudah kehilangan akal sehat. Baginya,Penolakan Nanang justru seperti bumbu yang membakar gairahnya.Tanpa memedulikan gemetar di tubuh pemuda itu, Risa menyeret Nanang masuk ke dalam kamarnya sendiri.CEKLEK.Suara kunci pintu yang diputar Risa terdengar seperti vonis mati bagi pertahanan Nanang.Risa benar-benar nekat, ia tak peduli sedikit pun meski ayah Nanang mungkin saja terbangun di kamar sebelah.“Kalau di kamar mandi atau dapur kamu nggak mau, ya sudah... kita main di kamar kamu saja,” ucap Risa dengan suara rendah yang menggetarkan nyali.Nanang hanya bisa terpaku, lidahnya kelu saat tangan terampil Risa mulai mempreteli kancing kemeja kerjanya satu per sat
Sementara itu, di layar ponselnya yang retak, Inara menatap siaran itu dengan tatapan tajam.Ia melihat bagaimana Elisa begitu lihai memancing ikan-ikan besar di internet.“Cuih, sok misterius banget,” batin Inara sinis.Tangannya mulai mengetik di kolom komentar dengan akun
Malam semakin larut, namun Elisa justru semakin sibuk.Ia terlihat cekatan menata posisi kamera dan mengatur pencahayaan di sudut ruangan, memastikan semuanya sempurna karena sesi live akan segera dimulai.Nanang, yang tubuhnya sudah kembali segar setelah beristirahat, berdiri di am
Elisa mulai menuangkan sabun cair ke telapak tangannya dan menyabuni tubuh Nanang dengan gerakan sensual.Nanang yang sudah berada di puncak gairah tak tinggal diam.Ia segera meraih dan meremas gunung kembar Elisa yang basah dan llcin karena busa sabun.“Aaahhh... Enak
Suasana di depan toilet mendadak dingin. Wanita itu keluar dengan napas yang masih sedikit memburu, tangannya dengan cekatan merapikan sisa-sisa lipatan legging-nya yang tadi sempat melorot.Ia langsung disambut pemandangan yang tak mengenakkan.Doni sedang berdiri menunduk lesu di







