เข้าสู่ระบบ21:13. Lapas Maram ....Ketika seorang pedofil meminta pembebasan, ketika seorang bandit meminta keringanan hukuman, dan saat para napi yang tidak mendapatkan jatah amnesti atas terlaksananya revolusi desa Aswad memohon pertolongan kepada sang Auranias Cahaya sejak saat itulah Kael telah diam-diam pindah tempat. Mengorek-ngorek sejauh mana ia bisa memperoleh informasi kredibel untuk menunaikan tujuannya, sementara suasana lapas turut berganti seiring tiap-tiap narapidana politik terdengar kembali bergerak.Di mana orang-orang yang terlibat dalam revolusi desa Aswad berencana bertemu di sini. Di sebuah ruangan beraroma melati nan hangat, bercat monokromatik (hitam-putih) tanpa jendela, dengan pendaran cahaya keputihan yang menyoroti tiap-tiap perabotan mahal. Tepatnya pada lapas Maram bagian desa Abyad, ruangan khusus yang dimiliki petugas lapas untuk melayani setiap napi istimewa. Sebagai langkah mengejawantahkan rencananya, Ketua El terpaksa meminta bantuan Kanti untuk pekerjaan baru
Benturan sepasang tongkat besi telah sewenang-wenang memicu bising, bahkan terus berdentang cepat nan merentet. Bersumber langsung dari sepasang anggota militer nasional yang kelihatan sibuk bertempur menangani dua anggota Militer-Adat. Pun sebagai kenyataan yang memastikan kalau area pesisir pantai kali ini tengah dihuni oleh orang-orang yang punya kesamaan tujuan.“HYAAT ...!” Seorang anggota Militer-Adat menghadiahkan sabetan tongkat besinya menuju leher anggota militer nasional.Tapi, cukup dengan satu gerakan menunduk yang kecepatannya nyaris melampaui mata dapat memandang target berhasil menghindar. Belum beres dengan itu, masing-masing mereka mengejawantahkan hasil kombinasi ilmu Aura dan pendidikan kemiliteran, membawa pertempuran ketahap yang tidak sederhana, meski sejak awal pun gerakan-gerakan lihai mereka justru terkesan menahan diri dari melukai secara mematikan. Sementara dari sudut pandang lain, pada saat yang sama sepasang sejoli kedapatan duduk asyik di kursi alumin
11:05. Desa Aswad ....Di bawah kolong langit yang mendung sejumlah anak sibuk mengulik keilmuan Aura.“... ayo semangat! Semangat!”Berhubung mata pelajaran ilmu Aura sering diabaikan di masa Niraja Gunta memaksa seorang guru menginstruksikan seluruh muridnya berlatih mengejar ketertinggalan sebagaimana tuntutan kurikulum standar Majelis Utama-Aura. “... perhatikan bagaimana napas kalian harus selalu terkondisi rileks. Sebab cuman itu cara tergampang agar Aura kalian terkendali selalu!”Sury adalah anak yang ditunjuk sebagai pembimbing para murid. Semata-mata dia terpilih bukan karena lebih pandai dalam materi ilmu Aura kali ini, justru hanya Sury satu-satunya anak yang berani mengambil peran itu. Sekalipun segelintir murid yang lebih awal menguasai ilmu terkait memilih sibuk bermain di dalam kelas. Berikut dengan guru yang bersangkutan yang menikmati waktunya lewat pekerjaan yang lebih mampu menyuburkan dompetnya. Dan karena itulah beliau membolos.“... ayo, kalian pasti mampu!”
Enggan terlelap jauh kedalam perasaannya yang mendingin menuntun Cyka pulang ke tempat di mana dia sekarang bisa merasa aman; penginapan di sudut timur kota Auroran. 21:19.Dia segera merebahkan diri di kasur, melemaskan otot-ototnya dan sejenak menenangkan diri. Menatap langit-langit yang kosong tanpa memikirkan apapun, dengan cahaya lampu putih terang yang sedikit menyilaukan matanya.Sementara di samping kasur rupa-rupanya Elaria sedari tadi direpotkan dalam tugas menyiapkan makan malam, dan kedatangan Cyka yang kemalaman bahkan sempat dihadiahi teguran darinya. Teguran yang khawatir akan keselamatan Cyka pastinya. Cyka tidak bisa mengelak atau mengingkarinya, karena dimatanya, seorang teman yang bisa menerima segala kekurangannya hampir selalu layak didengar. Mengesampingkan itu, ia dengan entengnya justru menceritakan apa yang sempat ditemukan selama rutinitasnya, “Kamu tau nggak? Aku ketemu kumbang-kumbang cantik loh! Kalau kagak salah, kira-kira ada tiga kumbang yang kalau k
Kota Auroran ....Jepretan kamera polaroid berhasil menangkap satu objek berbentuk kumbang hias. Mengabaikan banyaknya jenis kumbang maupun serangga-serangga hias yang terawat dalam tempatnya masing-masing. Seekor kumbang dua tanduk dengan corak belang keperakan yang mengilap jika terpindai cahaya menjadi satu-satunya serangga yang sanggup memancingnya memaksimalkan alat potretnya.“... kayaknya ini udah bagus deh.” Cyka memastikan hasil pemotretannya dengan mengangkat foto sedekat yang dibutuhkannya. Mengamatinya dalam waktu sebentar, berharap hasilnya cukup untuk dikatakan sempurna, tapi setelah pengecekan itu beres yang dia temukan sayangnya masih berupa kekurangan. “HHAAHH ... masih aja begini ....”Sore itu pukul 16:44, salju tengah meliburkan keberadaannya dan layar langit sedang merona kejinggaan, sementara Cyka sengaja mampir di pasar ini untuk tidak melewatkan kesempatan memenuhi kepentingan hobinya. Namun, posisinya sekarang yang berdiri di dalam toko serangga hias justru di
14:11. Kota Dream ....Beres dari menangani segelintir pembenci Eriel, Ixia, Una dan Aon bersyukur bisa kembali menemani keberadaan Arunika. Mereka dengan suasana hati yang bugar kini menikmati waktu di bibir pantai dekat apartemen Drim, diikuti oleh Hiro dan keempat pengawalnya. Cakrawala yang biru kehijauan dan pasir pantai yang hangat diresapi betul bukan hanya oleh mereka melainkan diikuti sedikit pengunjung yang punya keinginan mencicipi suasana lebih hangat dari normalnya.Belakangan ini Una, Ixia dan Aon sulit lepas dari kesibukan mengurus kehidupannya masing-masing. Penyelidikan terhadap Renaus maupun investigasi seberapa berbahayanya Auranias Cahaya Kael De Rigel sebabnya masih dalam jadwal tunggu yang hendak dibereskan. Namun, tentu soal berita kejahatan Renaus kepada keluarga Eriel entah adakah sudah diketahui Hiro atau belum, apalagi konon katanya rumor bisa lebih cepat menyebar ketimbang berita konkretnya. Tetapi, dengan itu Ixia, Una dan Aon tidak harus dilanda kaget yan







