로그인“A-apa maksudnya, Mas?” Pak Perkasa mulai berdiri dari kursinya, wajahnya memucat.
“Rekening si Daren itu terdaftar di bawah proteksi Enkripsi Khusus Tingkat Tinggi! Statusnya Investor VIP Internasional yang dilindungi hukum perbankan global! Tadi direksi bank pusat langsung nelepon saya, bilang kalau kita berani sentuh atau usik orang itu lagi, bukan cuma saya yang dipenjara, tapi SELURUH izin bisnis milik keluargamu bakal dicabut dan dibekukan hari ini juga!” Brak! Sambungan telepon diputus secara kasar dari seberang. Ponsel di tangan Pak Perkasa hampir terjatuh. Wajah pria paruh baya yang tadi begitu angkuh kini pucat pasi. Rendy membelalakkan mata, lidahnya kelu. “P-Papa, i-ini nggak mungkin, kan? Daren itu cuma mantan OB!” Belum sempat Pak Perkasa menjawab, sekretaris pribadinya menerobos masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Wajah wanita itu panik luar biasa. “Bapak! Gawat, Pak!” teriak sekretaris itu seraya menyodorkan sebuah tablet. "Kolega kita di Astra Group baru saja mengumumkan pemegang saham mayoritas baru yang membeli 40% saham mereka pagi ini, tunai!” Pak Perkasa menyambar tablet dengan tangan gemetar. Matanya meneliti surat keputusan akuisisi saham yang baru saja terbit di berita bursa saham. Di kolom nama Pemilik Saham Utama dan Komisaris Baru Gedung Astra Plaza, tertera satu nama singkat dengan huruf tebal berwarna hitam: DAREN Di saat yang sama, ponsel Rendy di dalam saku celananya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal. Rendy membukanya dengan jari gemetar. “Pagi, Rendy. Gimana tidurmu semalam? Sekarang giliran aku yang beli gedung tempat kerja lama dan perusahaan keluargamu.” *** Pagi itu, sinar matahari baru saja menembus jendela kaca penthouse milik Daren. Pemandangan seluruh sudut kota membentang megah di bawah kaki, namun fokus Daren sepenuhnya tertuju pada wanita yang melahirkannya. “Daren? Ini beneran kamu, Nak?” Suara lembut sang ibu bergetar dari balik gagang telepon. “Iya, Ma. Ini Daren,” sahut Daren dengan nada bicara yang melunak dibanding saat ia berhadapan dengan lawan-lawannya di dunia bisnis. “Nanti sore Daren pulang ke kampung. Ada beberapa hal yang harus Daren urus di sana.” “Aduh, Nak... kamu nggak usah repot-repot pulang dulu kalau lagi sibuk,” jawab ibunya cemas. “Uang yang kamu kirim kemarin aja udah lebih dari cukup. Bu RT sama tetangga pada kaget pas Mama lunasi semua kasbon warung sekaligus. Mama malah takut kamu dikejar-kejar orang gara-gara uang sebanyak itu.” Daren tersenyum tipis. “Tenang aja, Ma. Daren pulang bukan cuma mau jenguk Mama sama Rina, tapi mau bawa Mama sama Adik pindah ke kota.” “P-pindah? Tapi, Daren—” “Udah ya, Ma. Daren jalan sekarang.” Daren mematikan panggilan sebelum ibunya sempat melayangkan belasan pertanyaan. Ia berbalik, melangkah menuju garasi khusus apartemen tempat sebuah mobil SUV mewah serba hitam yang baru disewakan lengkap dengan sopir pribadi sudah menunggunya. Hari ini, ia tidak hanya ingin menjemput keluarga, tetapi juga ingin menutup lembaran kelam masa lalunya di kampung halaman. Perjalanan menempuh waktu sepuluh jam dari pusat kota menuju Dusun Sukamaju, sebuah kampung kecil yang dikelilingi galengan sawah dan jalanan berbatu yang sempit. Bagi Daren, setiap meter jalanan ini menyimpan memori pahit. Di gang inilah dulu ia berjalan sambil menundukkan kepala, mendengar bisik-bisik tetangga yang menyebutnya 'anak haram bule' atau 'anak tanpa bapak'. Di gang ini pula ibunya sering menangis di balik pintu kayu yang lapuk karena dihina tidak bisa memberi makan anak-anaknya. *** Deru mesin SUV mewah bertenaga besar perlahan memasuki gang sempit langsung menyedot perhatian warga. Beberapa ibu-ibu yang sedang merumpi di depan warung Bu RT langsung menghentikan obrolan. Anak-anak kecil berlarian mengejar mobil hitam mengilap yang tampak asing dan terlalu megah untuk kawasan kumuh tersebut. “Waduh, mobil siapa itu ya? Mengilap banget!” tanya Bu RT sambil menyipitkan mata, menepis debu jalanan dari daster sederhananya. “Paling mobil pejabat yang mau blusukan, Bu,” celetuk tetangga sebelah. “Mana ada orang kaya yang mau datang ke gang buntu kayak gini.” Mobil SUV itu berhenti tepat di pelataran tanah rumah berdinding papan kayu milik keluarga Daren. Pintu penumpang bagian belakang terbuka. Seorang pria muda bersetelan pakaian kasual kelas atas—kaos polos berkualitas tinggi, celana bahan rapi, serta sepatu kulit yang bersih—melangkah keluar. Seluruh warga yang menonton di pinggir jalan mendadak bungkam. “L-lho?! I-itu si Daren, kan?!” jerit Bu RT dengan mata membelalak hampir keluar. “Anak si Salmah yang kerja jadi OB?!” “Masa sih si Daren?! Kok gayanya kayak anak konglo gitu?!” warga lainnya saling berbisik dengan wajah syok. Daren mengabaikan pandangan melongo dari orang-orang yang dulu rajin menyindir. Ia menyuruh sopir pribadinya menunggu di luar, lalu melangkah menuju pintu depan rumah kayu yang ternganga pelan. “Assalamu'alaikum, Ma... Rina...” Seorang remaja perempuan berseragam SMA kusam berlari keluar dari kamar dalam. Itu Rina, adik kandung Daren yang berusia tujuh belas tahun. Matanya melebar penuh rasa tidak percaya saat menatap sosok kakak laki-lakinya yang berdiri tegap di ambang pintu. “Mas Daren?!” jerit Rina girang sambil memeluk erat pinggang kakaknya. “Mas, ini beneran Mas Daren? Kok beda banget? Ganteng banget kayak di sinetron!” Daren mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. “Abang siapa dulu dong? Gimana sekolahnya?” “Alhamdulillah, lancar, Mas. Tapi, Mas beneran kirim uang puluhan juta kemarin? Ibu sampai nangis-nangis gara-gara takut Mas jualan yang nggak-nggak!” Dari balik kelambu kamar, muncul Bu Salmah. Wanita paruh baya itu tampak kurus dengan garis-garis lelah yang terukir jelas di wajahnya. Langkahnya gemetar mendatangi Daren. Tanpa bersuara, ia langsung memeluk anak sulungnya sambil terisak pelan. “Daren... Nak, kamu nggak ngapa-ngapain, kan? Kamu nggak kejerat pinjol atau ikutan orang jahat, kan?” Daren merengkuh bahu ibunya. Kehangatan ini adalah alasan utamanya terus melangkah. “Nggak, Ma. Daren sukses di kota. Daren dapat rezeki besar dari proyek yang Daren pegang. Sekarang, Mama sama Rina nggak usah mikirin utang atau beras lagi.” Daren merogoh ponselnya, lalu menatap Rina. “Rina, sekolah kamu yang lama nggak usah dilanjutin lagi ya. Mas udah daftarin kamu di sekolah internasional paling bagus. Hari ini kita semua pindah ke apartemen.” Bu Salmah tersentak. “L-lho, pindah sekarang? Rumah ini gimana, Nak?” “Rumah ini bakal Mas bedah total,” jawab Daren. “Mas bakal bangun rumah paling bagus biar semua orang nggak hina kita lagi. Jadi sekarang Mama sama Rina tinggal bareng Mas.” Belum sempat Bu Salmah menjawab, suara langkah kaki yang heboh terdengar dari arah pintu. Bu RT beserta dua tetangga yang paling sering menyindir keluarga Daren masuk tanpa diundang dengan senyum mengembang yang terlihat dipaksakan.“Aduuuh, Salmah! Daren! Ya ampun, Tante nggak nyangka banget!” Bu RT tersenyum manis. “Tante dari luar udah curiga, ini mobil mewah pasti punya kamu, Nak. Daren kan anak baik, rajin, pinter lagi dari kecil! Kelihatan banget calon orang sukses!”Daren berbalik pelan. Matanya dingin menatap Bu RT yang kini tersenyum pamer gigi.Dulu, wanita inilah yang berkali-kali mengetuk pintu rumahnya malam-malam sambil berteriak menagih utang beras dengan nada menghina di depan warga lain. Sekarang, wajah itu berubah manis. Munafik. “Ada perlu apa ya, Bu RT?” tanya Daren datar, tanpa menyisakan ramah sedikit pun.Senyum Bu RT agak kaku melihat respon dingin Daren, tapi ia cepat menutupi rasa canggungnya. “Ini lho, Ren... Tante cuma mau silaturahmi. Sekalian mau bilang, kalau Salmah sama Rina butuh bantuan buat pindahan, anak Tante yang cowok bisa bantu angkut-angkut barang. Oiya, denger-denger Daren sukses banget ya di kota? Bisnis apa sih, Ren? Bisa kali ajak-ajak anak Tante yang masih nganggur..
“A-apa maksudnya, Mas?” Pak Perkasa mulai berdiri dari kursinya, wajahnya memucat.“Rekening si Daren itu terdaftar di bawah proteksi Enkripsi Khusus Tingkat Tinggi! Statusnya Investor VIP Internasional yang dilindungi hukum perbankan global! Tadi direksi bank pusat langsung nelepon saya, bilang kalau kita berani sentuh atau usik orang itu lagi, bukan cuma saya yang dipenjara, tapi SELURUH izin bisnis milik keluargamu bakal dicabut dan dibekukan hari ini juga!”Brak!Sambungan telepon diputus secara kasar dari seberang.Ponsel di tangan Pak Perkasa hampir terjatuh. Wajah pria paruh baya yang tadi begitu angkuh kini pucat pasi.Rendy membelalakkan mata, lidahnya kelu. “P-Papa, i-ini nggak mungkin, kan? Daren itu cuma mantan OB!”Belum sempat Pak Perkasa menjawab, sekretaris pribadinya menerobos masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Wajah wanita itu panik luar biasa.“Bapak! Gawat, Pak!” teriak sekretaris itu seraya menyodorkan sebuah tablet. "Kolega kita di Astra Group baru saja
“Masih berani angkat telepon dari aku, Ren?”Daren melepas jaket kulit cokelatnya lalu melemparnya ke atas tempat tidur king-size kamar hotel. Telepon masuk dari nomor Rendy yang baru saja ia dapatkan dari pesan gertakan beberapa menit lalu, langsung ia angkat tanpa rasa ragu.“Jangan belagu kamu, Daren!” Suara Rendy di seberang sana terdengar tertahan, tapi sarat dengan ancaman. “Ayahku udah telepon kenalannya di Polda sama direksi bank. Besok pagi, rekening kamu bakal dibekukan. Kamu punya waktu sampai besok buat ngaku dari mana uang itu, atau kamu bakal dijemput paksa!”Daren menatap pantulan dirinya di jendela kaca hotel. “Bagus. Berarti kamu punya waktu sampai besok pagi buat nikmatin rasa bangga jadi anak pejabat. Jangan sampai malam ini kamu nggak bisa tidur nyenyak, Ren.”“Bangsat! Kamu—”Tut.Daren mematikan panggilan secara sepihak. Tanpa membuang waktu, ia membuka layar Sistem yang masih memancarkan cahaya merah peringatan.[MISI BARU: BUKTIKAN KEKUASAAN!]Batas Waktu: 11 J
“Kamu mencuri uang kantor? Atau kamu ikut jaringan uang haram? Atau ada tante girang kaya raya yang lagi biayai hidupmu?”Daren tidak membalas tuduhan sampah itu. Dia hanya berdiri tegap, menatap Rendy dengan mata yang dingin. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada rasa takut. Hanya ketenangan yang justru membuat suasana semakin berat. Cahaya lampu showroom yang putih dan terang jatuh tepat di wajahnya, memperlihatkan garis rahang yang mengeras tanpa emosi. Beberapa staf di kejauhan pura-pura sibuk, tapi mata mereka sesekali melirik ke arah kedua pria itu.Melihat Daren yang tak terpancing, Rendy menyunggingkan senyum penuh ancaman. Sudut bibirnya terangkat, tapi matanya tetap tajam. Ia menggeser badannya. “Oke. Kalau kamu mau main rahasia-rahasiaan, saya akan cari tahu sendiri. Keluarga saya punya banyak kenalan pejabat di kepolisian dan pihak direksi perbankan. Kalau uang yang kamu pakai ini uang kotor atau hasil kejahatan, cepat atau lambat kamu bakal membusuk di penjara.”“Sil
“Daren, jangan ungkit masa lalu lagi, Nak,” terisak pelan. “Itu semua salah Mama. Mama yang bodoh dan terlalu percaya sama orang bule brengsek itu.”Daren mengepalkan tangan kirinya. Bayangan masa kecilnya yang selalu dihina sebagai anak haram dan dinistakan tetangga kembali berputar. “Iya, Ma. Daren minta maaf,” bisik Daren. “Daren janji bakal terus kerja keras, biar Mama bahagia.”Di seberang sana, terdengar suara ibunya yang masih terisak. “Ya, Nak. Mama percaya sama kamu. Jangan lupa sholat.”“Iya, Ma. Daren pamit. Assalamu'alaikum.”“Waalaikumsalam, Nak…”Panggilan berakhir. Daren menatap layar ponselnya sejenak. Saldonya berkurang menjadi Rp257.557.400. Sebuah senyuman tulus akhirnya terukir di wajahnya. Untuk pertama kalinya, dia bisa mengirimkan uang tanpa harus pusing memikirkan sisa beras dan tunggakan kontrakan. Daren bangkit berdiri, lalu berjalan menyeberangi jalan raya menuju sebuah dealer sepeda motor.Begitu melangkah masuk, seorang salesman muda yang berdiri di deka
Daren keluar dari Executive Menswear dengan langkah yang jauh lebih ringan. Di tangan kanannya tergantung tas belanja mewah berwarna hitam mengkilap. Di tangan kiri, dua kantong plastik minimarket yang berisi sembako yang sudah terasa berat. Di belakangnya, manajer toko masih membungkuk-bungkuk. Rendy dan kekasihnya berdiri kaku di dekat etalase, wajah mereka pucat. Tak ada yang berani membuka mulut. Daren tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju koridor mal yang ramai.Di dekat eskalator, pandangannya melihat seorang pria kurus berbaju seragam abu-abu kusam. Office Boy mal. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Daren. Pria itu sedang membungkuk menyapu tumpahan minuman di lantai, sementara beberapa pengunjung lewat tanpa menoleh. Seorang ibu-ibu bahkan menggeser tasnya seolah takut tersentuh.Daren berhenti. Bayangan dirinya sendiri di pantry lantai 4 muncul jelas—kepala tertunduk, tangan gemetar, suara yang hanya bisa berbisik kata maaf apabila mendengar cemoohan. Ia mendekat.







