เข้าสู่ระบบ“Masih berani angkat telepon dari aku, Ren?”
Daren melepas jaket kulit cokelatnya lalu melemparnya ke atas tempat tidur king-size kamar hotel. Telepon masuk dari nomor Rendy yang baru saja ia dapatkan dari pesan gertakan beberapa menit lalu, langsung ia angkat tanpa rasa ragu. “Jangan belagu kamu, Daren!” Suara Rendy di seberang sana terdengar tertahan, tapi sarat dengan ancaman. “Ayahku udah telepon kenalannya di Polda sama direksi bank. Besok pagi, rekening kamu bakal dibekukan. Kamu punya waktu sampai besok buat ngaku dari mana uang itu, atau kamu bakal dijemput paksa!” Daren menatap pantulan dirinya di jendela kaca hotel. “Bagus. Berarti kamu punya waktu sampai besok pagi buat nikmatin rasa bangga jadi anak pejabat. Jangan sampai malam ini kamu nggak bisa tidur nyenyak, Ren.” “Bangsat! Kamu—” Tut. Daren mematikan panggilan secara sepihak. Tanpa membuang waktu, ia membuka layar Sistem yang masih memancarkan cahaya merah peringatan. [MISI BARU: BUKTIKAN KEKUASAAN!] Batas Waktu: 11 Jam 42 Menit. Tugas: Beli Aset Properti/Usaha Senilai Minimal Rp250.000.000! Hadiah Misi: Pembukaan Fitur [Pembersihan Jejak Hukum & Identitas VIP]. “Beli properti dalam hitungan jam kalau rumah biasa makan waktu urus sertifikat. Yang paling cepat jelas unit apartemen ready stock,” gumam Daren pada dirinya sendiri. Ia mengambil kunci motor, kembali mengenakan jaket kulitnya, lalu melangkah keluar dari kamar hotel. Kawasan Grand Sky Residence berdiri megah di pusat bisnis kota. Kompleks apartemen ultra-luxury itu menyala terang dengan deretan lampu LED elegan di sepanjang jalurnya. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi marketing gallery 24 jam milik pengembang masih beroperasi khusus untuk calon pembeli kelas atas. Suara raungan halus motor matic sport baru milik Daren memecah kesunyian area parkir VIP. Seorang petugas keamanan yang berjaga di depan pintu kaca segera membuka sambil mengangguk sopan. Di dalam ruangan seorang agen properti wanita berparas jelita dengan pakaian kantor serba minim tampak terkejut melihat kedatangan tamu di larut malam. Ia segera berdiri dari balik mejanya, merapikan rok, lalu tersenyum ramah. “Selamat malam, Pak. Selamat datang di Grand Sky Residence. Ada yang bisa saya bantu malam ini?” panggil agen tersebut, name tag di dadanya bertuliskan 'Sisca'. “Saya butuh unit yang bisa langsung balik nama atau serah kunci malam ini juga,” sahut Daren tanpa basa-basi. Suaranya tenang, mengarah langsung ke inti tujuan. Sisca menaikkan alisnya sedikit. Ia sering berhadapan dengan pengusaha kaya, tapi pria muda di hadapannya ini memiliki pembawaan yang sangat unik—tenang, tanpa basa-basi. “Baik, Pak. Untuk unit ready yang tersedia malam ini, kami memiliki tipe Junior Penthouse di lantai 28. Luasnya 120 meter persegi, pemandangan city view tanpa penghalang, dilengkapi furnitur impor penuh, serta private elevator,” jelas Sisca cepat sambil menunjukkan maket digital di layar tabletnya. “Berapa harganya?” tanya Daren singkat. “Harga tunai untuk unit tersebut di angka Rp1.850.000.000, Pak. Sudah termasuk biaya pengurusan legalitas awal dan pengelolaan tahun pertama.” Sisca sengaja memperhatikan ekspresi Daren saat menyebutkan angka miliaran itu. “Proses transaksinya bisa selesai malam ini juga via transfer atau QRIS perbankan?” Sisca hampir tersedak ludahnya sendiri. “A-apa, Pak? B-bisa... kami memiliki terminal pembayaran yang terhubung langsung ke korporat. Tapi apa Bapak tidak mau survey unitnya dulu?” “Nanti saja setelah lunas. Siapkan dokumen pembayarannya sekarang,” perintah Daren lugas. Daren merogoh ponsel barunya. Misi Sistem membutuhkan pembelian minimal Rp250 juta, tetapi batas transaksi tunggal milik Daren saat ini berada di angka Rp150.000.000 Level 3. “Mbak Sisca, bisakah pembayarannya saya bagi menjadi beberapa kali transaksi langsung di tempat?” Sisca mengangguk cepat meski masih diliputi rasa tidak percaya. “Sangat bisa, Pak! Kita bisa bagi menjadi beberapa klaster gesek atau transfer ID.” “Bagus. Buatkan pemecahan pembayaran sebesar Rp150.000.000 per transaksi sampai totalnya terpenuhi.” Sisca bekerja dengan jari gemetar di atas papan ketik komputer kasir VIP. Beberapa menit kemudian, kode transaksi pertama muncul di layar terminal EDC edisi khusus perbankan utama. Daren memindai kode tersebut dengan aplikasi banknya. Bip! [Transaksi Berhasil: Rp150.000.000] Detik itu juga, ponsel di saku Daren bergetar hebat. [BANK NOTIFICATION] Transfer Masuk: +Rp4.500.000.000 dari [SYSTEM REWARD] (Pengali 30x). Saldo Anda saat ini: Rp5.712.807.400. Daren menahan senyum tipisnya. Uang yang ia keluarkan Rp150 juta, tapi Sistem menggantinya tiga puluh kali lipat menjadi Rp4,5 Miliar secara instan! Sisca mencetak struk pertama dengan mata membelalak. “T-transaksi pertama masuk, Pak!” “Lanjut yang kedua,” kata Daren santai. Bip! [Transaksi Berhasil: Rp150.000.000] [BANK NOTIFICATION] Transfer Masuk: +Rp4.500.000.000 dari [SYSTEM REWARD]. Saldo Anda saat ini: Rp10.062.807.400. Satu demi satu transaksi diselesaikan Daren hingga total pembayaran Rp1,85 Miliar untuk unit apartemen mewah tersebut lunas tanpa celah. Dalam proses membelanjakan Rp1,85 Miliar secara bertahap itu, saldo rekening Daren justru menggelembung ekstrem menembus angka Rp50 Miliar lebih! Tepat ketika Sisca menyerahkan kartu akses emas dan berkas kwitansi pelunasan dengan tangan gemetar, layar ponsel Daren mendadak bergetar panjang dengan kilatan cahaya emas bergelombang. [MISI UTAMA SELESAI!] [Pembelian Aset Properti Terverifikasi: Unit Penthouse Grand Sky Residence!] [FITUR KHUSUS DIBANGKITKAN: Pembersihan Jejak Hukum & Identitas VIP!] [Proses Mengaktifkan Fitur...] Sistem sedang menyuntikkan enkripsi enkripsi tingkat tinggi ke seluruh server perbankan nasional. Seluruh histori transaksi Daren secara otomatis diubah statusnya menjadi: [TRANSAKSI RAHASIA NEGARA / INVESTOR VIP DIPLOMATIK]. Pihak kepolisian, bank, atau pihak swasta mana pun yang mencoba melacak atau membekukan rekening pengguna secara ilegal akan secara otomatis terkena blokir balik sistem perbankan internasional! Melihat notifikasi itu, Daren menghela napas lega. Fondasi pertahanannya kini sudah benar-benar kokoh. Gertakan Rendy dan jaringan keluarganya baru saja berubah menjadi lelucon tak berguna. *** Keesokan harinya, pukul delapan pagi. Rendy berdiri di ruang kerja ayahnya yang megah di lantai atas kantor perkebunan milik keluarg. Di belakang meja kayu jati besar, duduk Pak Perkasa—pria paruh baya yang semalam bersama Rendy di showroom mobil. “Papa udah hubungi teman Papa di Kepolisian sama Bank Mandiri?” tanya Rendy tak sabar. Matanya merah, jelas kurang tidur karena memikirkan Daren semalaman. Pak Perkasa menyesap kopinya dengan tenang, lalu tersenyum sinis. “Sudah. Teman Papa di bagian penyidikan kejahatan keuangan langsung turun tangan tadi jam tujuh pagi. Dia bakal langsung bekukan rekening si Daren itu dan terbitin surat panggilan.” “Bagus! Aku mau lihat muka melasnya pas dibawa polisi!” kekeh Rendy puas. Namun, belum sempat tawa Rendy tuntas, telepon seluler milik Pak Perkasa di atas meja berdering nyaring. Nama yang tertera di layar adalah Kombes Heru - Reskrim. Pak Perkasa langsung menekan tombol speakerphone dengan gaya percaya diri. “Halo, Mas Heru! Gimana? Udah dikunci rekening si gelandangan itu?” Namun, suara di ujung telepon tidak terdengar santai. Suara itu terdengar sangat panik, tegang, dan dipenuhi keringat dingin. “Perkasa! Kamu mau bikin saya mati konyol, ya?!” bentak suara dari speakerphone itu. Pak Perkasa membeku. Rendy tersentak kaget. “L-Iho, Mas Heru? Ada apa ini? Kenapa malah marah-marah?” tanya Pak Perkasa kebingungan. “Anakmu itu nyuruh meriksa siapa, hah?!” teriak Kombes Heru dari balik telepon, suaranya sedikit bergetar ketakutan. “Baru saja tim IT Mabes sama Perbankan Pusat coba buka file data rekening atas nama Daren... server kami langsung kena sanksi sistem jaringan internasional! Pangkat saya nyaris dicopot detik ini juga!”“Aduuuh, Salmah! Daren! Ya ampun, Tante nggak nyangka banget!” Bu RT tersenyum manis. “Tante dari luar udah curiga, ini mobil mewah pasti punya kamu, Nak. Daren kan anak baik, rajin, pinter lagi dari kecil! Kelihatan banget calon orang sukses!”Daren berbalik pelan. Matanya dingin menatap Bu RT yang kini tersenyum pamer gigi.Dulu, wanita inilah yang berkali-kali mengetuk pintu rumahnya malam-malam sambil berteriak menagih utang beras dengan nada menghina di depan warga lain. Sekarang, wajah itu berubah manis. Munafik. “Ada perlu apa ya, Bu RT?” tanya Daren datar, tanpa menyisakan ramah sedikit pun.Senyum Bu RT agak kaku melihat respon dingin Daren, tapi ia cepat menutupi rasa canggungnya. “Ini lho, Ren... Tante cuma mau silaturahmi. Sekalian mau bilang, kalau Salmah sama Rina butuh bantuan buat pindahan, anak Tante yang cowok bisa bantu angkut-angkut barang. Oiya, denger-denger Daren sukses banget ya di kota? Bisnis apa sih, Ren? Bisa kali ajak-ajak anak Tante yang masih nganggur..
“A-apa maksudnya, Mas?” Pak Perkasa mulai berdiri dari kursinya, wajahnya memucat.“Rekening si Daren itu terdaftar di bawah proteksi Enkripsi Khusus Tingkat Tinggi! Statusnya Investor VIP Internasional yang dilindungi hukum perbankan global! Tadi direksi bank pusat langsung nelepon saya, bilang kalau kita berani sentuh atau usik orang itu lagi, bukan cuma saya yang dipenjara, tapi SELURUH izin bisnis milik keluargamu bakal dicabut dan dibekukan hari ini juga!”Brak!Sambungan telepon diputus secara kasar dari seberang.Ponsel di tangan Pak Perkasa hampir terjatuh. Wajah pria paruh baya yang tadi begitu angkuh kini pucat pasi.Rendy membelalakkan mata, lidahnya kelu. “P-Papa, i-ini nggak mungkin, kan? Daren itu cuma mantan OB!”Belum sempat Pak Perkasa menjawab, sekretaris pribadinya menerobos masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Wajah wanita itu panik luar biasa.“Bapak! Gawat, Pak!” teriak sekretaris itu seraya menyodorkan sebuah tablet. "Kolega kita di Astra Group baru saja
“Masih berani angkat telepon dari aku, Ren?”Daren melepas jaket kulit cokelatnya lalu melemparnya ke atas tempat tidur king-size kamar hotel. Telepon masuk dari nomor Rendy yang baru saja ia dapatkan dari pesan gertakan beberapa menit lalu, langsung ia angkat tanpa rasa ragu.“Jangan belagu kamu, Daren!” Suara Rendy di seberang sana terdengar tertahan, tapi sarat dengan ancaman. “Ayahku udah telepon kenalannya di Polda sama direksi bank. Besok pagi, rekening kamu bakal dibekukan. Kamu punya waktu sampai besok buat ngaku dari mana uang itu, atau kamu bakal dijemput paksa!”Daren menatap pantulan dirinya di jendela kaca hotel. “Bagus. Berarti kamu punya waktu sampai besok pagi buat nikmatin rasa bangga jadi anak pejabat. Jangan sampai malam ini kamu nggak bisa tidur nyenyak, Ren.”“Bangsat! Kamu—”Tut.Daren mematikan panggilan secara sepihak. Tanpa membuang waktu, ia membuka layar Sistem yang masih memancarkan cahaya merah peringatan.[MISI BARU: BUKTIKAN KEKUASAAN!]Batas Waktu: 11 J
“Kamu mencuri uang kantor? Atau kamu ikut jaringan uang haram? Atau ada tante girang kaya raya yang lagi biayai hidupmu?”Daren tidak membalas tuduhan sampah itu. Dia hanya berdiri tegap, menatap Rendy dengan mata yang dingin. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada rasa takut. Hanya ketenangan yang justru membuat suasana semakin berat. Cahaya lampu showroom yang putih dan terang jatuh tepat di wajahnya, memperlihatkan garis rahang yang mengeras tanpa emosi. Beberapa staf di kejauhan pura-pura sibuk, tapi mata mereka sesekali melirik ke arah kedua pria itu.Melihat Daren yang tak terpancing, Rendy menyunggingkan senyum penuh ancaman. Sudut bibirnya terangkat, tapi matanya tetap tajam. Ia menggeser badannya. “Oke. Kalau kamu mau main rahasia-rahasiaan, saya akan cari tahu sendiri. Keluarga saya punya banyak kenalan pejabat di kepolisian dan pihak direksi perbankan. Kalau uang yang kamu pakai ini uang kotor atau hasil kejahatan, cepat atau lambat kamu bakal membusuk di penjara.”“Sil
“Daren, jangan ungkit masa lalu lagi, Nak,” terisak pelan. “Itu semua salah Mama. Mama yang bodoh dan terlalu percaya sama orang bule brengsek itu.”Daren mengepalkan tangan kirinya. Bayangan masa kecilnya yang selalu dihina sebagai anak haram dan dinistakan tetangga kembali berputar. “Iya, Ma. Daren minta maaf,” bisik Daren. “Daren janji bakal terus kerja keras, biar Mama bahagia.”Di seberang sana, terdengar suara ibunya yang masih terisak. “Ya, Nak. Mama percaya sama kamu. Jangan lupa sholat.”“Iya, Ma. Daren pamit. Assalamu'alaikum.”“Waalaikumsalam, Nak…”Panggilan berakhir. Daren menatap layar ponselnya sejenak. Saldonya berkurang menjadi Rp257.557.400. Sebuah senyuman tulus akhirnya terukir di wajahnya. Untuk pertama kalinya, dia bisa mengirimkan uang tanpa harus pusing memikirkan sisa beras dan tunggakan kontrakan. Daren bangkit berdiri, lalu berjalan menyeberangi jalan raya menuju sebuah dealer sepeda motor.Begitu melangkah masuk, seorang salesman muda yang berdiri di deka
Daren keluar dari Executive Menswear dengan langkah yang jauh lebih ringan. Di tangan kanannya tergantung tas belanja mewah berwarna hitam mengkilap. Di tangan kiri, dua kantong plastik minimarket yang berisi sembako yang sudah terasa berat. Di belakangnya, manajer toko masih membungkuk-bungkuk. Rendy dan kekasihnya berdiri kaku di dekat etalase, wajah mereka pucat. Tak ada yang berani membuka mulut. Daren tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju koridor mal yang ramai.Di dekat eskalator, pandangannya melihat seorang pria kurus berbaju seragam abu-abu kusam. Office Boy mal. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Daren. Pria itu sedang membungkuk menyapu tumpahan minuman di lantai, sementara beberapa pengunjung lewat tanpa menoleh. Seorang ibu-ibu bahkan menggeser tasnya seolah takut tersentuh.Daren berhenti. Bayangan dirinya sendiri di pantry lantai 4 muncul jelas—kepala tertunduk, tangan gemetar, suara yang hanya bisa berbisik kata maaf apabila mendengar cemoohan. Ia mendekat.







