Share

Bab 9

Author: Hisa NK
last update publish date: 2026-10-23 13:07:36

PLAK!

Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri pria yang selalu menghina Daren. Suaranya terdengar jelas. Pak Wisnu tersungkur ke samping, memegangi pipinya yang mendadak panas dan memerah. Seluruh karyawan dan sekuriti yang berdiri di sana mendadak membeku, mata mereka membelalak hampir melompat keluar dari tempatnya.

“Kurang ajar kamu, Wisnu!” bentak Pak Hermawan. “Kamu tahu sedang bicara dengan siapa, hah?!”

Pak Wisnu meringis kebingungan, matanya berkaca-kaca menatap atasannya. “P-Pak Dir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sistem Pengali Kekayaan: OB Jadi Triliuner   Bab 9

    PLAK!Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri pria yang selalu menghina Daren. Suaranya terdengar jelas. Pak Wisnu tersungkur ke samping, memegangi pipinya yang mendadak panas dan memerah. Seluruh karyawan dan sekuriti yang berdiri di sana mendadak membeku, mata mereka membelalak hampir melompat keluar dari tempatnya.“Kurang ajar kamu, Wisnu!” bentak Pak Hermawan. “Kamu tahu sedang bicara dengan siapa, hah?!”Pak Wisnu meringis kebingungan, matanya berkaca-kaca menatap atasannya. “P-Pak Dirut... kenapa Bapak nampar saya? Dia itu cuma Daren, OB lantai 4 yang kemarin kabur—”“DIAM KAMU, BANGSAT!” potong Pak Hermawan histeris. Ia tidak lagi memedulikan Pak Wisnu. Dengan tubuh membungkuk, Pak Hermawan berjalan cepat mendekati Daren, lalu mengulurkan kedua tangannya penuh penghormatan.“S-Selamat pagi, Pak Daren... Maafkan atas ketidaknyamanannya. Saya atas nama seluruh direksi Astra Group memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan bawahan kami yang tidak tahu aturan ini!” ujar P

  • Sistem Pengali Kekayaan: OB Jadi Triliuner   Bab 8

    “Aduuuh, Salmah! Daren! Ya ampun, Tante nggak nyangka banget!” Bu RT tersenyum manis. “Tante dari luar udah curiga, ini mobil mewah pasti punya kamu, Nak. Daren kan anak baik, rajin, pinter lagi dari kecil! Kelihatan banget calon orang sukses!”Daren berbalik pelan. Matanya dingin menatap Bu RT yang kini tersenyum pamer gigi.Dulu, wanita inilah yang berkali-kali mengetuk pintu rumahnya malam-malam sambil berteriak menagih utang beras dengan nada menghina di depan warga lain. Sekarang, wajah itu berubah manis. Munafik. “Ada perlu apa ya, Bu RT?” tanya Daren datar, tanpa menyisakan ramah sedikit pun.Senyum Bu RT agak kaku melihat respon dingin Daren, tapi ia cepat menutupi rasa canggungnya. “Ini lho, Ren... Tante cuma mau silaturahmi. Sekalian mau bilang, kalau Salmah sama Rina butuh bantuan buat pindahan, anak Tante yang cowok bisa bantu angkut-angkut barang. Oiya, denger-denger Daren sukses banget ya di kota? Bisnis apa sih, Ren? Bisa kali ajak-ajak anak Tante yang masih nganggur..

  • Sistem Pengali Kekayaan: OB Jadi Triliuner   Bab 7

    “A-apa maksudnya, Mas?” Pak Perkasa mulai berdiri dari kursinya, wajahnya memucat.“Rekening si Daren itu terdaftar di bawah proteksi Enkripsi Khusus Tingkat Tinggi! Statusnya Investor VIP Internasional yang dilindungi hukum perbankan global! Tadi direksi bank pusat langsung nelepon saya, bilang kalau kita berani sentuh atau usik orang itu lagi, bukan cuma saya yang dipenjara, tapi SELURUH izin bisnis milik keluargamu bakal dicabut dan dibekukan hari ini juga!”Brak!Sambungan telepon diputus secara kasar dari seberang.Ponsel di tangan Pak Perkasa hampir terjatuh. Wajah pria paruh baya yang tadi begitu angkuh kini pucat pasi.Rendy membelalakkan mata, lidahnya kelu. “P-Papa, i-ini nggak mungkin, kan? Daren itu cuma mantan OB!”Belum sempat Pak Perkasa menjawab, sekretaris pribadinya menerobos masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Wajah wanita itu panik luar biasa.“Bapak! Gawat, Pak!” teriak sekretaris itu seraya menyodorkan sebuah tablet. "Kolega kita di Astra Group baru saja

  • Sistem Pengali Kekayaan: OB Jadi Triliuner   Bab 6

    “Masih berani angkat telepon dari aku, Ren?”Daren melepas jaket kulit cokelatnya lalu melemparnya ke atas tempat tidur king-size kamar hotel. Telepon masuk dari nomor Rendy yang baru saja ia dapatkan dari pesan gertakan beberapa menit lalu, langsung ia angkat tanpa rasa ragu.“Jangan belagu kamu, Daren!” Suara Rendy di seberang sana terdengar tertahan, tapi sarat dengan ancaman. “Ayahku udah telepon kenalannya di Polda sama direksi bank. Besok pagi, rekening kamu bakal dibekukan. Kamu punya waktu sampai besok buat ngaku dari mana uang itu, atau kamu bakal dijemput paksa!”Daren menatap pantulan dirinya di jendela kaca hotel. “Bagus. Berarti kamu punya waktu sampai besok pagi buat nikmatin rasa bangga jadi anak pejabat. Jangan sampai malam ini kamu nggak bisa tidur nyenyak, Ren.”“Bangsat! Kamu—”Tut.Daren mematikan panggilan secara sepihak. Tanpa membuang waktu, ia membuka layar Sistem yang masih memancarkan cahaya merah peringatan.[MISI BARU: BUKTIKAN KEKUASAAN!]Batas Waktu: 11 J

  • Sistem Pengali Kekayaan: OB Jadi Triliuner   Bab 5: Tuduhan Tanpa Bukti

    “Kamu mencuri uang kantor? Atau kamu ikut jaringan uang haram? Atau ada tante girang kaya raya yang lagi biayai hidupmu?”Daren tidak membalas tuduhan sampah itu. Dia hanya berdiri tegap, menatap Rendy dengan mata yang dingin. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada rasa takut. Hanya ketenangan yang justru membuat suasana semakin berat. Cahaya lampu showroom yang putih dan terang jatuh tepat di wajahnya, memperlihatkan garis rahang yang mengeras tanpa emosi. Beberapa staf di kejauhan pura-pura sibuk, tapi mata mereka sesekali melirik ke arah kedua pria itu.Melihat Daren yang tak terpancing, Rendy menyunggingkan senyum penuh ancaman. Sudut bibirnya terangkat, tapi matanya tetap tajam. Ia menggeser badannya. “Oke. Kalau kamu mau main rahasia-rahasiaan, saya akan cari tahu sendiri. Keluarga saya punya banyak kenalan pejabat di kepolisian dan pihak direksi perbankan. Kalau uang yang kamu pakai ini uang kotor atau hasil kejahatan, cepat atau lambat kamu bakal membusuk di penjara.”“Sil

  • Sistem Pengali Kekayaan: OB Jadi Triliuner   Bab 4: Kecurigaan di Showroom

    “Daren, jangan ungkit masa lalu lagi, Nak,” terisak pelan. “Itu semua salah Mama. Mama yang bodoh dan terlalu percaya sama orang bule brengsek itu.”Daren mengepalkan tangan kirinya. Bayangan masa kecilnya yang selalu dihina sebagai anak haram dan dinistakan tetangga kembali berputar. “Iya, Ma. Daren minta maaf,” bisik Daren. “Daren janji bakal terus kerja keras, biar Mama bahagia.”Di seberang sana, terdengar suara ibunya yang masih terisak. “Ya, Nak. Mama percaya sama kamu. Jangan lupa sholat.”“Iya, Ma. Daren pamit. Assalamu'alaikum.”“Waalaikumsalam, Nak…”Panggilan berakhir. Daren menatap layar ponselnya sejenak. Saldonya berkurang menjadi Rp257.557.400. Sebuah senyuman tulus akhirnya terukir di wajahnya. Untuk pertama kalinya, dia bisa mengirimkan uang tanpa harus pusing memikirkan sisa beras dan tunggakan kontrakan. Daren bangkit berdiri, lalu berjalan menyeberangi jalan raya menuju sebuah dealer sepeda motor.Begitu melangkah masuk, seorang salesman muda yang berdiri di deka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status