LOGIN"Teori medis itu kadang malah membunuh pasien, Dok." Reyhan menunjuk sudut grafik EKG. "Lihat gelombang P di detik keempat. Ada anomali yang tertutup dengan takikardia. Tuan Stefan menyembunyikan riwayat aritmia fatal. Kalau aku paksa memasukan vasodilator, pembuluh darahnya memang melebar, tapi jantungnya akan langsung berhenti berdetak."Kemal meneliti grafik tersebut dan menarik napas tak percaya. "Kau bisa melihat detail sekecil ini di tengah pendarahan hebat dan operasi saraf yang sedang jalan ketat?""Insting bertahan hidup, Dok. Ditambah sedikit bakat alami.""Alasan." Kemal menaruh kertasnya. "Aku sudah melacak nomor registrasimu. Lisensinya baru terbit tahun lalu. Tidak ada catatan residensi, hanya ada beberapa pasien yang kamu tarik dari maut, tidak mungkin dokter baru punya insting sebuas dirimu. Siapa kamu sebenarnya?"Reyhan tersenyum santai. "Daripada buang waktu mengurus masa laluku, lebih baik kita bahas tawaran apa yang mau Dokter berikan."Kemal menatap Reyhan lurus,
Lia menyusul masuk dan memapah Dokter Kemal. "Dokter lebih baik istirahat. Kalau Reyhan tidak memandu, Dokter pasti sudah menyerah di sepuluh menit pertama, kan?" "Waktu seumur Dokter Reyhan, aku sanggup berdiri di ruang operasi tiga hari tanpa tidur, Nona," balas Dokter Kemal tak mau kalah, meski suaranya terdengar serak. Reyhan memaksakan diri duduk tegak, meringis pelan saat merasakan pegal menjalar di bahunya. Ia benar-benar kehabisan tenaga. "Aku butuh kertas. Ada resep yang harus diminum pasien." Alex buru-buru menyodorkan pena dan buku catatan kecil. Reyhan menerima pena itu, tapi jari-jarinya bergetar parah. Otot tangannya kram karena terlalu lama mempertahankan fokus tingkat tinggi. Ia menghela napas panjang dan meletakkan pena itu kembali ke meja. "Biar aku yang tulis, Rey. Kau sebutkan saja," Ecca segera mengambil alih, menyadari kondisi temannya. "Propranolol, empat puluh miligram, tiga kali sehari. Sediakan Naloxone nol koma empat miligram buat jaga-jaga kalau detak
"Hanya orang biasa. Saya kebetulan pernah membaca jurnal toksikologi tentang zat tersebut," jawab Reyhan merendah. "Dokter Kemal, kemampuannya bukan sekadar teori," sela Lia cepat. "Di pesawat, dia berhasil mengidentifikasi pasien kanker lambung hanya melalui observasi fisik. Dia juga mengeluarkan gumpalan darah yang menyumbat pernapasan pasien hanya dengan menekan beberapa titik saraf di punggung." Alis Dokter Kemal terangkat tinggi. "Begitu? Anak muda, kau mempraktikkan ilmu kedokteran?" "Hanya memahami dasar-dasarnya. Di depan kardiolog sehebat Dokter Kemal, ilmu saya belum ada artinya," jawab Reyhan tenang. Ia sudah membaca profil Dokter Kemal. Pria ini adalah ahlinya kasus-kasus mustahil di negeri ini. Tidak ada untungnya bersikap arogan. "Baiklah, mari kita uji logikamu. Karena kau paham cara kerja Katinon, bagaimana solusi medis untuk membersihkannya dari tubuh pasien?" tantang Dokter Kemal. Reyhan tidak membuang waktu berpikir. "Untuk pengguna dengan fisik prima, solusiny
"Hentikan!" Dua orang menerobos maju dari arah ruang tengah. Seorang wanita paruh baya, ibu Enzo, langsung berdiri melindungi putranya yang masih terjerembap di lantai marmer, sementara seorang pengawal pribadi berdiri di dekatnya."Bibi, aku baru saja memberinya sedikit pelajaran atas namamu," ujar Alex. Suaranya sedingin es."Anakku tidak butuh pelajaran darimu. Kau tidak memegang kendali di keluarga ini, Alex!" bantah ibu Enzo sengit."Ini bukan soal kendali. Putra kesayanganmu ini membawa masuk orang asing yang baru saja meracuni kakek. Bibi ingin membenarkan tindakan itu? Atau Bibi mau aku menyeretmu ke dalam masalah ini juga?" ancam Alex, aura intimadasinya membuat udara di lorong itu terasa berat.Enzo memegangi rahangnya yang memar, akhirnya menangkap arah pembicaraan. "Omong kosong apa ini, Alex?! Aku membawa spesialis dari luar negeri untuk menyelamatkan Kakek! Mereka menyuntikkan obat kelas satu, dan Kakek sendiri merasa jauh lebih baik setelahnya!""Kalau begitu hubungi s
"Menarik," gumam Reyhan pelan. Sepertinya keluarga Di Stefano memang tidak main-main. Dokter Kemal ini bukan sekadar dokter spesialis biasa, melainkan ahli medis hibrida yang sangat langka.Dengan santai namun hati-hati, Reyhan mengangkat kedua koper dengan kedua tangannya, sementara koper ketiga ia jepit dengan aman di bawah lengan, sama sekali tidak terlihat kesulitan meskipun otot di balik kemejanya sedikit menegang.Melihat cara Reyhan menyeimbangkan beban tanpa membuat koper itu berbenturan, sorot mata Dokter Kemal sedikit melunak, meski wajahnya tetap datar. "Bawa ke kamar pasien. Jangan sampai ada yang jatuh.""Siap, Komandan," sahut Reyhan santai, lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Lia yang sedang menatapnya dengan tatapan setengah takjub dan setengah geli."Berhentilah tebar pesona dan cepat jalan, Kuli Tampan," desis Lia pelan saat Reyhan melintas di dekatnya."Setelah urusan ini selesai, kau berutang satu pijatan padaku, Sayang," bisik Reyhan tepat di telinga Lia, seb
Aula berukuran lima puluh meter persegi itu sarat akan elemen kayu solid, dengan balok-balok langit-langit yang dibiarkan terekspos. Perabotannya ditata sedemikian rupa hingga menyatu sempurna dengan ruangan. "Ini semua kayu jati utuh?" gumam Reyhan, mengusap permukaan meja ukir. "Mungkin saja. Yang jelas harganya cukup untuk membuat ginjal orang biasa bergetar," jawab Lia acuh tak acuh. Reyhan beranjak ke dekat jendela, memandangi kolam di kejauhan sambil meresapi ketenangan tempat itu. Rasanya sangat melegakan setelah sekian lama terjebak dalam kebisingan kota. "Kalian sudah datang," sapa Ecca lembut saat melangkah memasuki aula samping tak lama kemudian. "Kak Ecca, bagaimana keadaan Kakek?" Lia langsung berdiri. "Penyakit lamanya kambuh. Dokter Kemal akan segera tiba. Kalian harus ikut denganku ke depan untuk menyambut beliau," ajak Ecca. "Apa pantas orang luar sepertiku ikut nimbrung menyambut tamu penting keluarga kalian?" tanya Reyhan, merasa posisinya hanya sekadar teman







