
Sistem Sign-In Harian
Reyhan Pradipta hanyalah pemuda biasa yang terjebak dalam kerasnya realita. Lulus dengan nilai tinggi ternyata tidak ada artinya tanpa koneksi dan uang. Hidupnya stagnan sebagai karyawan bergaji UMR, terhimpit tagihan kos bulanan, dan selalu menjadi sasaran cibiran di lingkaran sosialnya. Di mata orang-orang, terutama mantan teman sekelasnya yang terlahir sebagai anak konglomerat seperti Reno, Reyhan hanyalah pecundang tanpa masa depan.
‡
‡
Namun, roda nasib berputar dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Sebuah suara mekanis misterius mendadak mengubah jalan hidupnya selamanya.
‡
‡
[Ding! Sistem Sign-In berhasil diaktifkan.]
‡
‡
Hanya dengan melakukan sign-in setiap hari, Reyhan bisa mengklaim hadiah acak dengan nilai yang tidak masuk akal. Hari pertama, sepuluh miliar rupiah mendarat mulus di rekening banknya. Hari kedua, sebuah hypercar Bugatti La Voiture Noire langka seharga hampir dua ratus miliar menunggunya di area parkir.
‡
‡
Uang tunai tanpa batas, properti mewah, saham perusahaan raksasa, semuanya kini berada dalam genggamannya hanya dengan satu sentuhan jari.
‡
‡
Berbekal kekayaan yang menembus nalar dan identitas baru yang terus meningkat, Reyhan melangkah keluar dari bayang-bayang kemiskinan. Orang-orang materialistis yang dulu merendahkannya kini harus menelan ludah mereka sendiri. Mantan teman yang meremehkannya, kaum elite yang sombong, hingga tokoh-tokoh besar dunia perlahan akan menyaksikan kelahiran seorang penguasa baru.
‡
‡
Ini bukan sekadar cerita tentang orang miskin yang mendadak kaya. Ini adalah perjalanan Reyhan Pradipta menaklukkan dunia, menghancurkan kesombongan orang-orang di sekitarnya, satu sign-in setiap harinya.
Read
Chapter: 9. Fase Inersia"Kalau aku tidak mau?" balas Reyhan. Ia menyentil abu rokoknya ke dalam asbak kristal dengan gerakan yang teramat santai, menantang balik ancaman maut Wisnu menggunakan sorot matanya yang tak kalah tajam."Haha, kamu yakin mau nolak?!" Wisnu terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat kalap dan membawa hawa kematian. "Kalau sampai aku nyuruh anak buahku yang turun tangan, resikonya nggak bakal sesederhana satu jari kelingking. Lebih baik kamu pikiran baik-baik sebelum memberikan jawaban terakhir."Bilah pisau yang menancap di atas meja kayu itu memantulkan kilau mengerikan. Hawa pembunuhan yang menguar dari Wisnu dan barisan pengawalnya membuat tekanan udara di dalam ruang VVIP tersebut terasa mencekik.Siska, yang sejak tadi meringkuk memeluk lututnya, sudah tidak sanggup lagi menahan rasa takutnya. Batas kewarasannya hancur. Gadis itu tiba-tiba bangkit berdiri dengan napas memburu. Wajahnya yang pucat pasi kini beralih menatap Reyhan dengan sorot mata bersalah."Reyhan! Kamu bener-ben
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: 8. Ultimatum Tuan Muda WisnuTanpa berpikir dua kali, Reyhan menerjang masuk.Begitu masuk pemandangan di dalam ruangan sukses membuat darahnya mendidih. Hana tengah meronta di dalam dekapan seorang pria, bajunya terlihat ditarik kusut. Pemuda tidak dikenal itu menyeringai bodoh, aroma alkohol menguar begitu kuat dari tubuhnya. Di sudut lain, Siska meringkuk ketakutan sambil memeluk lutut di sudut sofa."Rey, tolongin aku!" jerit Hana putus asa begitu melihat kedatangan Reyhan. Ia memanggil nama pemuda itu layaknya satu-satunya tali penyelamat yang ia miliki.Tanpa sedikit pun keraguan, Reyhan melesat maju. Ia melayangkan satu tendangan telak ke arah pemuda mabuk tersebut. Tubuh pemuda itu terlempar ke belakang hingga mulutnya menghantam tepi meja marmer. Darah segar seketika mengucur membasahi dagunya.Begitu cengkeramannya terlepas, Hana langsung berlari dan bersembunyi di balik punggung Reyhan layaknya anak kecil yang ketakutan. Reyhan bisa merasakan jemari gadis itu gemetar hebat saat mencengkeram punggungnya
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: 7. Ambruk Tanpa PerlawananTidak ada lagi yang berbicara. Reyhan kembali duduk di sudut sofa, sementara Hana masih berdiri di tempatnya. Melihat suasana semakin canggung, Siska akhirnya angkat bicara, berusaha membujuk sahabatnya. "Tuh, denger sendiri kan? Rey aja nyuruh santai. Udah, duduk lagi sini," paksa Siska seraya menarik Hana kembali ke atas sofa empuk tersebut. Reyhan memisahkan diri dan memilih duduk di sofa sudut. Pikirannya melayang. Sosok Hana pernah menjadi pusat semestanya semasa kuliah. Sebuah angan-angan indah yang ia simpan sangat dalam. Namun, seiring kerasnya hantaman realita, perasaan itu telah lama mati. Matinya harapan tersebut bukan karena ia mendadak menjadi miliarder, melainkan karena ia sudah terlalu paham bagaimana dunia menilai manusia dari isi dompetnya. "Lagi mikir apaan?" bisik Hana. Gadis itu tiba-tiba duduk di sebelah Reyhan, mengabaikan Siska yang sedang sibuk memegang mikrofon karaoke. "Nggak ada," jawab Reyhan pendek. "Rey, aku mau nanya sesuatu. Tolong jawab yang j
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: 6. Bidadari di Royal SuiteSiska kembali duduk di sofa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Jahat banget sih kamu, Rey! Muka udah serius gitu, siapa yang nggak jantungan coba?" gerutunya sambil mengerucutkan bibir. Hendra tertawa lepas seraya bersandar di sandaran sofa. "Aku juga hampir percaya tadi. Habisnya, mukamu datar banget kayak pembunuh bayaran beneran." Hana ikut tertawa pelan. "Lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi ya, Rey. Jantungku rasanya mau copot." "Iya, iya, sori. Anggap aja pemanasan sebelum kita nyanyi," balas Reyhan santai. Ia mengambil tablet digital yang terletak di atas meja marmer untuk memesan hidangan. "Sekarang kalian mau pesen apa? Kita pesan sepuasnya, mumpung portofolioku lagi hijau-hijaunya." Reyhan mulai menelusuri layar tablet tersebut. Tanpa perlu melihat deretan harga di sebelah kanan layar, ia memasukkan beberapa botol sampanye vintage edisi terbatas, sebotol wiski premium, sepiring kaviar kualitas terbaik, dan berbagai hidangan mewah lainnya ke d
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: 5. Kejutan di Ruang VIPBelum sempat Hendra mengiyakan ajakan Reyhan untuk masuk, Siska sudah lebih dulu maju. "Rey, aku mau dong ngerasain duduk di mobil ratusan miliar!" seru Siska dengan mata berbinar. Ia langsung melangkah maju menggeser Hendra dan mendekati Bugatti tersebut. "Boleh aja. Sini naik," jawab Reyhan santai. Siska baru saja hendak membuka pintu, tetapi gerakannya terhenti saat menyadari sesuatu. Ia mengintip ke dalam kabin dan melihat hanya ada satu kursi penumpang di sebelah kursi pengemudi. Gadis itu menoleh ke arah Hana. Sebagai teman yang peka, Siska tahu betul bahwa Reyhan sejak dulu memendam rasa kagum pada primadona kelas mereka itu. "Eh, ternyata kursinya cuma dua. Ya udah, kursi penumpangnya buat Hana aja," ucap Siska cepat. Ia menahan rasa mindernya dengan tawa ringan, lalu menatap Reyhan. "Tapi Rey, aku pinjem kursinya bentar buat muter pelataran hotel, ya? Penasaran banget rasanya!" "Boleh. Ayo masuk," balas Reyhan sambil tersenyum. Siska kegirangan. Ia masuk ke dalam h
Last Updated: 2026-06-06
Chapter: 4. Tamparan Keras Untuk Sang Tuan Muda"Tampaknya gelar mahasiswa terbaik kurang disukai di sini," ucap Reyhan santai. Ia sama sekali tidak terpancing oleh ejekan Reno dan komplotannya. "Kalian menertawakanku, padahal dulu nilai kalian hancur berantakan. Ini sama saja seperti karyawan bergaji kecil yang merasa lebih pintar dari atasannya. Menurut kalian itu masuk akal?" Kalimat blak-blakan itu meluncur tanpa beban. Reyhan enggan berbasa-basi. Sindiran telaknya sukses membuat Wira dan yang lainnya bungkam seribu bahasa. "Sudah, sudah, jangan tegang begini. Kita kan jarang bisa kumpul, dinikmati saja acaranya," sela Siska cepat, berusaha mencairkan suasana. "Benar kata Siska. Momen ini spesial. Kita lupakan dulu masalah lama," sahut Hana diiringi senyum lembut. Primadona kampus itu menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Reyhan, kamu duduk di sini saja, sebelahku." Mendengar tawaran Hana, wajah Wira dan teman-temannya langsung pias menahan kesal. "Han, Reyhan kan laki-laki. Laki-laki tempatnya di meja sana, dekat minum
Last Updated: 2026-06-06