تسجيل الدخول"Hanya orang biasa. Saya kebetulan pernah membaca jurnal toksikologi tentang zat tersebut," jawab Reyhan merendah. "Dokter Kemal, kemampuannya bukan sekadar teori," sela Lia cepat. "Di pesawat, dia berhasil mengidentifikasi pasien kanker lambung hanya melalui observasi fisik. Dia juga mengeluarkan gumpalan darah yang menyumbat pernapasan pasien hanya dengan menekan beberapa titik saraf di punggung." Alis Dokter Kemal terangkat tinggi. "Begitu? Anak muda, kau mempraktikkan ilmu kedokteran?" "Hanya memahami dasar-dasarnya. Di depan kardiolog sehebat Dokter Kemal, ilmu saya belum ada artinya," jawab Reyhan tenang. Ia sudah membaca profil Dokter Kemal. Pria ini adalah ahlinya kasus-kasus mustahil di negeri ini. Tidak ada untungnya bersikap arogan. "Baiklah, mari kita uji logikamu. Karena kau paham cara kerja Katinon, bagaimana solusi medis untuk membersihkannya dari tubuh pasien?" tantang Dokter Kemal. Reyhan tidak membuang waktu berpikir. "Untuk pengguna dengan fisik prima, solusiny
"Hentikan!" Dua orang menerobos maju dari arah ruang tengah. Seorang wanita paruh baya, ibu Enzo, langsung berdiri melindungi putranya yang masih terjerembap di lantai marmer, sementara seorang pengawal pribadi berdiri di dekatnya."Bibi, aku baru saja memberinya sedikit pelajaran atas namamu," ujar Alex. Suaranya sedingin es."Anakku tidak butuh pelajaran darimu. Kau tidak memegang kendali di keluarga ini, Alex!" bantah ibu Enzo sengit."Ini bukan soal kendali. Putra kesayanganmu ini membawa masuk orang asing yang baru saja meracuni kakek. Bibi ingin membenarkan tindakan itu? Atau Bibi mau aku menyeretmu ke dalam masalah ini juga?" ancam Alex, aura intimadasinya membuat udara di lorong itu terasa berat.Enzo memegangi rahangnya yang memar, akhirnya menangkap arah pembicaraan. "Omong kosong apa ini, Alex?! Aku membawa spesialis dari luar negeri untuk menyelamatkan Kakek! Mereka menyuntikkan obat kelas satu, dan Kakek sendiri merasa jauh lebih baik setelahnya!""Kalau begitu hubungi s
"Menarik," gumam Reyhan pelan. Sepertinya keluarga Di Stefano memang tidak main-main. Dokter Kemal ini bukan sekadar dokter spesialis biasa, melainkan ahli medis hibrida yang sangat langka.Dengan santai namun hati-hati, Reyhan mengangkat kedua koper dengan kedua tangannya, sementara koper ketiga ia jepit dengan aman di bawah lengan, sama sekali tidak terlihat kesulitan meskipun otot di balik kemejanya sedikit menegang.Melihat cara Reyhan menyeimbangkan beban tanpa membuat koper itu berbenturan, sorot mata Dokter Kemal sedikit melunak, meski wajahnya tetap datar. "Bawa ke kamar pasien. Jangan sampai ada yang jatuh.""Siap, Komandan," sahut Reyhan santai, lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Lia yang sedang menatapnya dengan tatapan setengah takjub dan setengah geli."Berhentilah tebar pesona dan cepat jalan, Kuli Tampan," desis Lia pelan saat Reyhan melintas di dekatnya."Setelah urusan ini selesai, kau berutang satu pijatan padaku, Sayang," bisik Reyhan tepat di telinga Lia, seb
Aula berukuran lima puluh meter persegi itu sarat akan elemen kayu solid, dengan balok-balok langit-langit yang dibiarkan terekspos. Perabotannya ditata sedemikian rupa hingga menyatu sempurna dengan ruangan. "Ini semua kayu jati utuh?" gumam Reyhan, mengusap permukaan meja ukir. "Mungkin saja. Yang jelas harganya cukup untuk membuat ginjal orang biasa bergetar," jawab Lia acuh tak acuh. Reyhan beranjak ke dekat jendela, memandangi kolam di kejauhan sambil meresapi ketenangan tempat itu. Rasanya sangat melegakan setelah sekian lama terjebak dalam kebisingan kota. "Kalian sudah datang," sapa Ecca lembut saat melangkah memasuki aula samping tak lama kemudian. "Kak Ecca, bagaimana keadaan Kakek?" Lia langsung berdiri. "Penyakit lamanya kambuh. Dokter Kemal akan segera tiba. Kalian harus ikut denganku ke depan untuk menyambut beliau," ajak Ecca. "Apa pantas orang luar sepertiku ikut nimbrung menyambut tamu penting keluarga kalian?" tanya Reyhan, merasa posisinya hanya sekadar teman
Lia mendengus, walau sudut bibirnya sedikit berkedut menahan senyum. "Hentikan bualanmu. Serius, Rey. Sejauh mana keahlian medismu? Kemampuanmu itu bisa sangat berguna saat kita menjenguk kakek Ecca nanti."Reyhan bersandar santai di kursinya, memamerkan senyum nakal andalannya. "Aku lebih suka tidak mengobral bakatku secara cuma-cuma, Sayang. Keluarga Ecca pasti sudah menyewa spesialis berbayaran fantastis. Pria tampan sepertiku ini bahkan tidak dilirik untuk dijadikan asisten dokternya.""Masuk akal juga," gumam Lia, akhirnya menyerah dan menangkap maksud keengganan Reyhan.Begitu mereka keluar dari bandara, sebuah SUV hitam mengilap telah menunggu. Rio duduk di balik kemudi.Begitu masuk ke dalam mobil, Reyhan menyalakan sebatang rokok. Lewat kaca spion tengah, ia menatap Rio dengan sorot mata yang tajam, namun diiringi senyuman yang sulit diartikan. "Rio... sepertinya kita perlu bicara dari hati ke hati soal hobimu meretas data pribadiku."Merasakan aura dingin yang mencekik dari
"Kita sudah mendarat?" tanya Reyhan grogi, mengusap matanya."Belum. Ada keributan di luar kabin kita. Ayo lihat." Tanpa menunggu persetujuan, Lia menarik lengan baju Reyhan dan menyeretnya ke arah lorong.Di kabin kelas ekonomi, para penumpang tampak berdiri dan berkerumun. Beberapa pramugari berlari panik membawa kotak P3K."Apakah ada dokter di penerbangan ini? Kami butuh bantuan medis darurat!" seru pramugari kepala dengan suara bergetar.Mendengar itu, insting Reyhan langsung bekerja. Ia melepaskan pegangan Lia dan melangkah maju membelah kerumunan."Apa yang kau lakukan?" bisik Lia, menahan bahu Reyhan.Reyhan menoleh ke belakang, menatap Lia dengan senyum nakal. "Menyelamatkan nyawa, Sayang. Sabar sebentar, aku ini dokter."Lia mengerutkan dahi, bingung dengan klaim tersebut. Namun Reyhan sudah menerobos masuk ke pusat kerumunan.Di lantai kabin, seorang pria tua terbaring dengan napas tersengal. Wajahnya pucat pasi. Reyhan berjongkok di sampingnya dengan gerakan taktis. Tangan







