เข้าสู่ระบบWajah Kakek Theo pucat pasi bak pualam, indikasi jelas dari kegagalan sistemik yang menggerogoti tubuhnya. Tanpa ritme elektrokardiogram (EKG) yang terus berdenging konstan pada monitor, Reyhan mungkin mengira pria sepuh itu sudah tak bernapas."Rey, ini rekam medis dan hasil laboratorium terakhir dari Dokter Kemal. Tolong periksa," ujar David menyodorkan sebuah tablet medis.Reyhan menggulir layar cekatan, memindai rentetan parameter klinis. Fokusnya terhenti saat matanya menangkap anomali pada profil hematologi sang kakek. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendur. Ia mendaratkan tiga jarinya menekan arteri radialis Kakek Theo, menghitung frekuensi serta kekuatan denyut nadi pria tersebut."Apa-apaan ini?" Sekelompok dokter spesialis melangkah mendekat. Bisik-bisik keheranan mereka lekas berubah menjadi interogasi tajam menyasar Reyhan."Semuanya tenang, dia ini murid langsung Dokter Kemal. Dia sedang melakukan observasi klinis tambahan," David berusaha meredam keributan, memasang t
Keesokan paginya, Sandra membangunkan Reyhan. Ia memberitahu bahwa David sudah menunggu di lobi hotel cukup lama. Mendengar itu, Reyhan terpaksa menyeret tubuhnya dari ranjang. Tentu saja, proses berpakaian mereka diwarnai sedikit kekacauan canggung. "Simpan sedikit tenagamu, Anak Muda," sindir David dengan senyum penuh arti saat mereka akhirnya bertemu, membuat telinga Reyhan langsung memerah. Sandra yang berdiri di sebelahnya hanya menunduk dalam, tangannya diam-diam melayangkan cubitan maut ke pinggang Reyhan. Pesannya sangat jelas: Kalau kau tidak bertingkah macam-macam semalam, Kak David tidak akan punya bahan untuk menyindir kita. Wajah David seketika berubah serius. "Rey, waktunya pulang bersamaku. Ingat baik-baik kondisi kakekku. Pintu Keluarga Narendra hanya akan terbuka untukmu setelah beliau sadar. Kalau kau gagal, jangan harap bisa melangkahkan kaki ke kediaman kami, dan Sandra... dia mungkin akan dicoret dari silsilah keluarga," ancam David dingin, menegaskan taruhan
"Lalu kenapa dia tidak bergabung dengan lingkaran kalian?" tanya Reyhan semakin penasaran. "Pertama, karena ada Rebecca. Ecca itu menyukai Ashford, sementara Ashford mengejar Rania. Drama cinta segitiga semacam itu tidak sehat kalau dicampur dalam satu tongkrongan. Kedua, level Rania sudah jauh berbeda. Dia tidak punya waktu bergaul dengan anak-anak bawang macam kami," jelas Kai terang-terangan. "Benar. Kami sudah pernah mencicipi permainannya dulu, dan kami kalah telak. Nasihatku, sebaiknya kau jaga jarak darinya," tambah Rio yang sedari tadi diam. Jelas, Rania meninggalkan trauma tersendiri baginya. Setelah percakapan panjang itu, Reyhan yang tubuhnya masih memulihkan luka, mulai didera kantuk. Ia tertidur lelap dan baru benar-benar terbangun saat pesawat mendarat di Ibukota. Kali ini, Reyhan memilih untuk tidak ikut rombongan ke kediaman Keluarga Di Stefano. Ia memutuskan bermalam di hotel pusat kota, dengan rencana kembali ke kota asalnya besok untuk memeriksa kondisi kakek Sa
Reyhan sama sekali tidak menyadari bahwa Dokter Kemal tengah digerogoti penyakit mematikan yang tak kasatmata. Penyakit itu tak menunjukkan gejala fisik apa pun dan hanya bisa dideteksi melalui pemeriksaan medis khusus. Jelas sudah, Dokter Kemal telah menyembunyikan keadaannya. "Ethan, sudah berapa lama kau mengabdi bersamaku?" tanya Dokter Kemal dengan suara parau. Ia menarik napas dalam beberapa kali, berusaha menenangkan tubuhnya yang mulai gemetar samar. "Tujuh tahun mendampingi Dokter secara langsung, sebelum akhirnya saya dipindahtugaskan. Kalau dihitung secara keseluruhan, sudah lebih dari dua puluh tahun," jawab Ethan tenang. "Dua puluh tahun lebih..." gumam Dokter Kemal pilu. "Berapa kalikah seseorang bisa memiliki siklus dua puluh tahun dalam hidupnya? Kau telah memikul beban yang begitu berat. Pasti sangat tidak mudah." "Semua itu bukan beban bagi saya, Dok." "Semuanya akan segera terungkap. Aku sungguh tidak menyangka, di penghujung usiaku, aku masih berkesempatan men
"Apa Anderson rela melepas monopoli pasar domestik begitu saja? Vakumnya dari kekuasaan mendadak begini pasti memicu perebutan wilayah." Kening Jonathan berkerut dalam."Kau berpikir terlalu rumit. Fokus mereka hanya bergeser. Anderson mustahil melepaskan cengkeramannya di Ibukota. Ini tanah pertumpahan darahnya, saksi bisu masa muda dan kebrutalannya membangun dinasti."Pembicaraan mereka terhenti. Jonathan mulai merangkai kepingan teka-teki tersebut, meski insting politiknya masih butuh penajaman lebih lanjut. Kakek Cross sendiri diam-diam menaruh respek pada pergerakan gila Anderson. Terlepas dari segala risiko kehancuran, fakta bahwa Ryan berhasil kembali bernapas membuktikan pemuda itu memiliki kapasitas penuh memimpin armada Yudistira.Malam bergulir senyap. Menjelang fajar, Reyhan menyempatkan diri mengecek kondisi Dokter Kemal.Beruntung, proyektil peluru yang ditembakkan Ryan murni hanya menembus jaringan lunak subkutan, sama sekali tidak mengoyak struktur osteologis atau mem
Hujan menderas di luar jendela, menyajikan simfoni alam yang meredam kebisingan dunia, menciptakan suasana intim bagi Reyhan dan Sandra. Gadis itu menyandarkan kepala di dada bidang Reyhan, membiarkan jemarinya bermain nakal menelusuri garis otot perut pria tersebut, sengaja menghindari area perban penutup luka."Biar aku panggilkan pelayan untuk membawakanmu bubur hangat," tawar Sandra lembut."Nggak usah," tolak Reyhan bersuara serak. "Ada kamu di sini sudah lebih dari cukup."Sandra mendongak, menyipitkan mata ke arahnya. "Pintar sekali merayu. Aku baru sadar, aslinya kamu ini jauh dari definisi pria baik-baik.""Baru sadar?" Reyhan menyeringai tipis, membelai puncak kepala Sandra. "Sayangnya kamu sudah terlambat buat mundur."Sandra terdiam. "Rey, soal penyakit kakekku...""Aku tahu arah pikiranmu," sela Reyhan cepat. "Kondisi Dokter Kemal sudah stabil. Jangan remehkan kemampuanku juga. Begitu urusan di sini beres, aku pasti turun tangan menyembuhkan kakek kita.""Kakek kita? Ena







