首頁 / Urban / Sistem Sign-In Harian / 23. Teknik yang Seharusnya Punah

分享

23. Teknik yang Seharusnya Punah

作者: KoTz
last update publish date: 2026-07-15 21:41:52

Di bawah penerangan lampu neon yang memancarkan cahaya hijau pucat, suasana ruangan itu terasa sangat mencekam. Anehnya, tidak ada satu pun jenazah yang tergeletak di atas meja, melainkan hanya deretan laci logam tebal yang tertanam di sepanjang dinding.

Darwin memberikan instruksi kepada petugas jaga di sudut ruangan. "Laci dua dua nol tiga."

Setelah nomor itu diketikkan, sebuah laci logam meluncur keluar dari dinding dengan suara mesin yang halus, persis seperti peti mati modern. Beberapa p
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Sistem Sign-In Harian   32. Misi Mencari Sandra

    Di dalam ruangan, Pak Indra terlihat menatap selembar kertas dengan wajah kusut. Ia bahkan tidak sadar Reyhan sudah berdiri di depan mejanya."Pak Indra, serius sekali?" tegur Reyhan.Indra mendongak terkejut. "Rey. Kamu sudah datang. Ini surat tagihan dari bank. Kita punya tunggakan utang tiga miliar rupiah," desah Indra dengan wajah muram."Utang tiga miliar? Kok bisa mendadak begini?" tanya Reyhan cemas."Ini ulah Maya. Dia menggelapkan uang kas perusahaan sebesar tiga miliar tanpa sepengetahuanku," jawab Indra seraya tersenyum getir."Lalu apa rencana kamu sekarang?" tanya Reyhan. Ia duduk di sofa dan menyodorkan sebatang rokok kepada Indra maupun Hendra."Aku tidak akan melaporkannya ke RIC. Biar bagaimanapun, aku berutang nyawa pada mendiang adiknya," desah Indra sambil menerima rokok tersebut. Isapan pertamanya langsung membuatnya terbatuk.Setelah minum air, Indra menatap Reyhan. "Jangan panik. Aku yang akan mengganti tiga miliar itu. Sahamku di sini kan lumayan besar," tutur

  • Sistem Sign-In Harian   31. Jalan yang Berbeda

    "Pak, apa Anda benar-benar tidak tahu ke mana Sandra pergi?" tanya Reyhan pelan."Jujur saja, aku tidak tahu," jawab Darwin. "Kamu harus mengerti kalau penugasan internal anggota RIC sangat dirahasiakan.""Dirahasiakan? Tapi Sandra memegang kartu identitas Agent Senior S.I.A. Setidaknya Anda tahu dia berasal dari kesatuan mana, kan?" sambung Reyhan penasaran. Sebuah tebakan baru mulai terbentuk di kepalanya."S.I.A.?" Darwin terkejut Reyhan mengetahui identitas Sandra. "S.I.A., Satuan Intelligence Agency. Itu di luar wewenangku. Bahkan aku tidak punya akses ke sana. Sudahlah, cukup sampai di sini pertanyaannya. Aku masih punya setumpuk tugas," sahut Darwin, secara halus mengusir Reyhan dari ruangannya.Darwin menghela napas melihat sosok Reyhan yang berjalan menjauh. "Sandra, kamu yakin mau melepaskan dia?"Begitu kalimat itu terucap, Sandra melangkah keluar dari ruang istirahat Darwin."Terima kasih, Om Darwin. Tapi dunia kami memang berbeda. Lebih baik aku memutus semuanya dari awal

  • Sistem Sign-In Harian   30. Pagi Setelah Malam Itu

    Rembulan bersembunyi di balik dahan-dahan, seolah enggan mengintip panasnya kamar itu."Kau... kau berat," Sandra mengoceh di sela desahan. Kata-katanya masih kental oleh alkohol, tidak sepenuhnya sadar, tapi juga tidak sepenuhnya mabuk.Reyhan ingin menjawab, tapi otaknya tidak mampu merangkai kata. Alkohol dan sensasi yang menjalar dari setiap titik kontak tubuh mereka membuatnya hanya bisa fokus pada ritme. Naik. Turun. Lambat, lalu cepat, lalu lambat lagi, karena ia sendiri tidak yakin apakah ia ingin segera menyelesaikan ini atau memperpanjangnya hingga pagi."Jangan berhenti," bisik Sandra. Kali ini tangannya yang tadi hanya mencengkeram sprei kini berpindah ke punggung Reyhan. Kuku-kukunya menelusuri tulang belakangnya, meninggalkan jejak merah samar yang mungkin akan menjadi satu-satunya bukti bahwa malam ini benar-benar terjadi.Di luar, hujan mulai turun. Rintiknya mengetuk kaca jendela seperti jari-jari kecil yang ingin masuk."Kamu... Reyhan, kan?" Sandra tiba-tiba bertany

  • Sistem Sign-In Harian   29. Vila di Bukit Seruni

    "Tentu saja. Jangan coba-coba main-main dengan kami." "Kalau begitu, tangkap ini." Reyhan melemparkan mantel Sandra ke udara, siap memberi pelajaran kepada mereka. Tapi saat mantel itu melayang turun, sebuah kartu identitas RIC meluncur keluar dari sakunya, diikuti oleh sebuah pistol hitam mengilap. Melihat moncong senjata api itu, mereka tersandung mundur. Wajah mereka pucat seketika, seolah baru saja melihat hantu. Pria berambut cepak yang pertama angkat bicara. Suaranya bergetar hebat. "Ba... Bang, itu pistol beneran?" Pria berotot itu menelan ludah kasar. Tatapan congkaknya lenyap dalam sekejap mata. Reyhan sendiri mengangkat alis, sama terkejutnya. Ia melirik ke arah Sandra yang masih terlelap di dalam mobil. "Wanita ini ternyata membawa pistol di balik mantelnya?" gumam Reyhan. Ia membungkuk, memungut pistol itu, lalu mendongak menatap mereka yang sudah mundur beberapa langkah. "Jadi, kita masih mau lanjutkan negosiasi seratus juta tadi?" tanya Reyhan pelan, namun penuh i

  • Sistem Sign-In Harian   28. Badut dalam Cerita Mereka

    "Ternyata aku hanya badut dalam cerita mereka," desah Hendra pelan. Suaranya terdengar getir."Sudahlah, lupakan. Itu bukan salahmu. Dia yang mempermainkanmu," hibur Reyhan. Tangannya tetap mantap menggenggam kemudi.Hendra tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, membiarkan lampu-lampu kota bergerak cepat seperti kilasan kenangan yang pahit.***Tak lama kemudian, Reyhan memarkir Bugatti di Bar. Ia menggiring Hendra masuk ke dalam, lengannya melingkar di bahu sahabatnya itu. Mereka memilih bilik kosong di sudut, dan Reyhan memberi isyarat kepada bartender untuk membawa beberapa minuman.Sandra tiba beberapa menit kemudian, masih dengan koper kecil di tangannya. Ia langsung duduk tanpa basa-basi dan meraih sebotol bir yang sudah terbuka."Bersulang dan tidak berhenti sampai mabuk," seru Sandra, meneguk langsung dari botol.Reyhan mengamatinya dari seberang meja, benar-benar bingung."Uhuk, uhuk," Sandra terbatuk sedetik kemudian. Rupanya ia tidak terbiasa menenggak minuman ke

  • Sistem Sign-In Harian   27. Malam Para Pecundang

    Reyhan segera menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Dari dalam saku jaketnya, ia mengeluarkan selembar cek dengan nominal fantastis. Pandangannya tertuju lama pada deretan angka tersebut. "Rania Maheswari... siapa kamu sebenarnya?" gumamnya pelan. Pikirannya tenggelam hingga akhirnya matanya terpejam. Reyhan pun tertidur pulas. ** Reyhan terbangun saat lampu-lampu jalan telah menyala. Langit di luar jendela tampak gelap. Setelah membasuh wajah, ia bersiap keluar untuk mencari makan. Telepon genggamnya berdering tepat ketika semangkuk mi instan panas diletakkan di atas meja. Suara Hendra yang panik terdengar dari seberang. "Rey, jemput aku di kantor RIC sekarang." Alis Reyhan bertaut. "Kantor RIC? Kamu ditahan?" "Iya," jawab Hendra singkat. Mi instan yang masih mengepul itu pun ditinggalkan. Reyhan segera masuk ke mobil dan melaju cepat sembari menggerutu. Siang hari ia yang berurusan dengan penyidik, kini giliran Hendra pada malam harinya. Di area parkir kantor RIC, Reyhan berpapasan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status