로그인"Ikut aku. Akan kutunjukkan padamu apa yang kumaksud dengan mencari informan bawah tanah tanpa harus menjual jiwamu pada iblis," putus Hendra tegas.Mengetahui Reyhan masih dilingkupi keraguan yang keras kepala, Hendra merebut kunci mobil dari saku Reyhan. Ia menarik lengan sahabatnya itu dan membawanya keluar dari klub.Kali ini Hendra yang mengambil alih kemudi. Ia membawa mobil mewah Reyhan meninggalkan pusat kota yang gemerlap, melaju menembus malam menuju pinggiran kota yang makin lama makin minim penerangan.Setengah jam kemudian, mobil berhenti di ujung sebuah gang sempit. Reyhan melangkah turun, menatap kebingungan pada deretan kompleks rumah susun kumuh yang cat dindingnya sudah mengelupas parah di hadapannya."Sudah tiga tahun sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di tempat keparat ini," gumam Hendra, suaranya nyaris terdengar seperti embusan angin. Ia menarik napas panjang, menatap gedung lusuh itu dengan sorot mata penuh beban. "Tapi demi kamu, Rey... aku rela membuka
"Bayar informan?" gumam Reyhan mengulang kalimat itu. Seketika, sebuah nama melintas di kepalanya. Seseorang yang menguasai jaringan gelap kota ini."Ikut aku sebentar," ajak Reyhan seraya menarik lengan kemeja Hendra."Tidak mau. Aku ada tumpukan pekerjaan. Aku ini karyawan teladan yang baru bekerja sehari," protes Hendra, meski matanya kembali mencuri pandang ke luar ruangan."Oh, benarkah? Karyawan teladan? Kalau begitu menetaplah di sini dan selesaikan laporanmu. Elsa, kamu ikut aku keluar!" goda Reyhan dengan suara sedikit dikeraskan, sengaja melepaskan cengkeramannya.Mendengar nama Elsa disebut, Hendra langsung melompat dari kursi bak disengat lebah. "Tunggu! Aku saja yang ikut denganmu. Biarkan Elsa tetap di sini menyelesaikan tugasnya!" potong Hendra cepat."Kamu pikir aku tidak bisa membaca isi kepalamu?" cibir Reyhan sambil menggeleng pelan.Sejak melangkah masuk ke kantor, Reyhan sudah menyadari gelagat Hendra. Sore itu saja, pemuda itu kelewat bersemangat, repot-repot men
Di dalam ruangan, Pak Indra terlihat menatap selembar kertas dengan wajah kusut. Ia bahkan tidak sadar Reyhan sudah berdiri di depan mejanya."Pak Indra, serius sekali?" tegur Reyhan.Indra mendongak terkejut. "Rey. Kamu sudah datang. Ini surat tagihan dari bank. Kita punya tunggakan utang tiga miliar rupiah," desah Indra dengan wajah muram."Utang tiga miliar? Kok bisa mendadak begini?" tanya Reyhan cemas."Ini ulah Maya. Dia menggelapkan uang kas perusahaan sebesar tiga miliar tanpa sepengetahuanku," jawab Indra seraya tersenyum getir."Lalu apa rencana kamu sekarang?" tanya Reyhan. Ia duduk di sofa dan menyodorkan sebatang rokok kepada Indra maupun Hendra."Aku tidak akan melaporkannya ke RIC. Biar bagaimanapun, aku berutang nyawa pada mendiang adiknya," desah Indra sambil menerima rokok tersebut. Isapan pertamanya langsung membuatnya terbatuk.Setelah minum air, Indra menatap Reyhan. "Jangan panik. Aku yang akan mengganti tiga miliar itu. Sahamku di sini kan lumayan besar," tutur
"Pak, apa Anda benar-benar tidak tahu ke mana Sandra pergi?" tanya Reyhan pelan."Jujur saja, aku tidak tahu," jawab Darwin. "Kamu harus mengerti kalau penugasan internal anggota RIC sangat dirahasiakan.""Dirahasiakan? Tapi Sandra memegang kartu identitas Agent Senior S.I.A. Setidaknya Anda tahu dia berasal dari kesatuan mana, kan?" sambung Reyhan penasaran. Sebuah tebakan baru mulai terbentuk di kepalanya."S.I.A.?" Darwin terkejut Reyhan mengetahui identitas Sandra. "S.I.A., Satuan Intelligence Agency. Itu di luar wewenangku. Bahkan aku tidak punya akses ke sana. Sudahlah, cukup sampai di sini pertanyaannya. Aku masih punya setumpuk tugas," sahut Darwin, secara halus mengusir Reyhan dari ruangannya.Darwin menghela napas melihat sosok Reyhan yang berjalan menjauh. "Sandra, kamu yakin mau melepaskan dia?"Begitu kalimat itu terucap, Sandra melangkah keluar dari ruang istirahat Darwin."Terima kasih, Om Darwin. Tapi dunia kami memang berbeda. Lebih baik aku memutus semuanya dari awal
Rembulan bersembunyi di balik dahan-dahan, seolah enggan mengintip panasnya kamar itu."Kau... kau berat," Sandra mengoceh di sela desahan. Kata-katanya masih kental oleh alkohol, tidak sepenuhnya sadar, tapi juga tidak sepenuhnya mabuk.Reyhan ingin menjawab, tapi otaknya tidak mampu merangkai kata. Alkohol dan sensasi yang menjalar dari setiap titik kontak tubuh mereka membuatnya hanya bisa fokus pada ritme. Naik. Turun. Lambat, lalu cepat, lalu lambat lagi, karena ia sendiri tidak yakin apakah ia ingin segera menyelesaikan ini atau memperpanjangnya hingga pagi."Jangan berhenti," bisik Sandra. Kali ini tangannya yang tadi hanya mencengkeram sprei kini berpindah ke punggung Reyhan. Kuku-kukunya menelusuri tulang belakangnya, meninggalkan jejak merah samar yang mungkin akan menjadi satu-satunya bukti bahwa malam ini benar-benar terjadi.Di luar, hujan mulai turun. Rintiknya mengetuk kaca jendela seperti jari-jari kecil yang ingin masuk."Kamu... Reyhan, kan?" Sandra tiba-tiba bertany
"Tentu saja. Jangan coba-coba main-main dengan kami." "Kalau begitu, tangkap ini." Reyhan melemparkan mantel Sandra ke udara, siap memberi pelajaran kepada mereka. Tapi saat mantel itu melayang turun, sebuah kartu identitas RIC meluncur keluar dari sakunya, diikuti oleh sebuah pistol hitam mengilap. Melihat moncong senjata api itu, mereka tersandung mundur. Wajah mereka pucat seketika, seolah baru saja melihat hantu. Pria berambut cepak yang pertama angkat bicara. Suaranya bergetar hebat. "Ba... Bang, itu pistol beneran?" Pria berotot itu menelan ludah kasar. Tatapan congkaknya lenyap dalam sekejap mata. Reyhan sendiri mengangkat alis, sama terkejutnya. Ia melirik ke arah Sandra yang masih terlelap di dalam mobil. "Wanita ini ternyata membawa pistol di balik mantelnya?" gumam Reyhan. Ia membungkuk, memungut pistol itu, lalu mendongak menatap mereka yang sudah mundur beberapa langkah. "Jadi, kita masih mau lanjutkan negosiasi seratus juta tadi?" tanya Reyhan pelan, namun penuh i







