Home / Urban / Sistem Sign-In Harian / 27. Malam Para Pecundang

Share

27. Malam Para Pecundang

Author: KoTz
last update publish date: 2026-07-17 22:09:30

Reyhan segera menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Dari dalam saku jaketnya, ia mengeluarkan selembar cek dengan nominal fantastis. Pandangannya tertuju lama pada deretan angka tersebut.

"Rania Maheswari... siapa kamu sebenarnya?" gumamnya pelan.

Pikirannya tenggelam hingga akhirnya matanya terpejam. Reyhan pun tertidur pulas.

**

Reyhan terbangun saat lampu-lampu jalan telah menyala. Langit di luar jendela tampak gelap. Setelah membasuh wajah, ia bersiap keluar untuk mencari makan.

Telepon gengga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sistem Sign-In Harian   30. Pagi Setelah Malam Itu

    Rembulan bersembunyi di balik dahan-dahan, seolah enggan mengintip panasnya kamar itu."Kau... kau berat," Sandra mengoceh di sela desahan. Kata-katanya masih kental oleh alkohol, tidak sepenuhnya sadar, tapi juga tidak sepenuhnya mabuk.Reyhan ingin menjawab, tapi otaknya tidak mampu merangkai kata. Alkohol dan sensasi yang menjalar dari setiap titik kontak tubuh mereka membuatnya hanya bisa fokus pada ritme. Naik. Turun. Lambat, lalu cepat, lalu lambat lagi, karena ia sendiri tidak yakin apakah ia ingin segera menyelesaikan ini atau memperpanjangnya hingga pagi."Jangan berhenti," bisik Sandra. Kali ini tangannya yang tadi hanya mencengkeram sprei kini berpindah ke punggung Reyhan. Kuku-kukunya menelusuri tulang belakangnya, meninggalkan jejak merah samar yang mungkin akan menjadi satu-satunya bukti bahwa malam ini benar-benar terjadi.Di luar, hujan mulai turun. Rintiknya mengetuk kaca jendela seperti jari-jari kecil yang ingin masuk."Kamu... Reyhan, kan?" Sandra tiba-tiba bertany

  • Sistem Sign-In Harian   29. Vila di Bukit Seruni

    "Tentu saja. Jangan coba-coba main-main dengan kami." "Kalau begitu, tangkap ini." Reyhan melemparkan mantel Sandra ke udara, siap memberi pelajaran kepada mereka. Tapi saat mantel itu melayang turun, sebuah kartu identitas RIC meluncur keluar dari sakunya, diikuti oleh sebuah pistol hitam mengilap. Melihat moncong senjata api itu, mereka tersandung mundur. Wajah mereka pucat seketika, seolah baru saja melihat hantu. Pria berambut cepak yang pertama angkat bicara. Suaranya bergetar hebat. "Ba... Bang, itu pistol beneran?" Pria berotot itu menelan ludah kasar. Tatapan congkaknya lenyap dalam sekejap mata. Reyhan sendiri mengangkat alis, sama terkejutnya. Ia melirik ke arah Sandra yang masih terlelap di dalam mobil. "Wanita ini ternyata membawa pistol di balik mantelnya?" gumam Reyhan. Ia membungkuk, memungut pistol itu, lalu mendongak menatap mereka yang sudah mundur beberapa langkah. "Jadi, kita masih mau lanjutkan negosiasi seratus juta tadi?" tanya Reyhan pelan, namun penuh i

  • Sistem Sign-In Harian   28. Badut dalam Cerita Mereka

    "Ternyata aku hanya badut dalam cerita mereka," desah Hendra pelan. Suaranya terdengar getir."Sudahlah, lupakan. Itu bukan salahmu. Dia yang mempermainkanmu," hibur Reyhan. Tangannya tetap mantap menggenggam kemudi.Hendra tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, membiarkan lampu-lampu kota bergerak cepat seperti kilasan kenangan yang pahit.***Tak lama kemudian, Reyhan memarkir Bugatti di Bar. Ia menggiring Hendra masuk ke dalam, lengannya melingkar di bahu sahabatnya itu. Mereka memilih bilik kosong di sudut, dan Reyhan memberi isyarat kepada bartender untuk membawa beberapa minuman.Sandra tiba beberapa menit kemudian, masih dengan koper kecil di tangannya. Ia langsung duduk tanpa basa-basi dan meraih sebotol bir yang sudah terbuka."Bersulang dan tidak berhenti sampai mabuk," seru Sandra, meneguk langsung dari botol.Reyhan mengamatinya dari seberang meja, benar-benar bingung."Uhuk, uhuk," Sandra terbatuk sedetik kemudian. Rupanya ia tidak terbiasa menenggak minuman ke

  • Sistem Sign-In Harian   27. Malam Para Pecundang

    Reyhan segera menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Dari dalam saku jaketnya, ia mengeluarkan selembar cek dengan nominal fantastis. Pandangannya tertuju lama pada deretan angka tersebut. "Rania Maheswari... siapa kamu sebenarnya?" gumamnya pelan. Pikirannya tenggelam hingga akhirnya matanya terpejam. Reyhan pun tertidur pulas. ** Reyhan terbangun saat lampu-lampu jalan telah menyala. Langit di luar jendela tampak gelap. Setelah membasuh wajah, ia bersiap keluar untuk mencari makan. Telepon genggamnya berdering tepat ketika semangkuk mi instan panas diletakkan di atas meja. Suara Hendra yang panik terdengar dari seberang. "Rey, jemput aku di kantor RIC sekarang." Alis Reyhan bertaut. "Kantor RIC? Kamu ditahan?" "Iya," jawab Hendra singkat. Mi instan yang masih mengepul itu pun ditinggalkan. Reyhan segera masuk ke mobil dan melaju cepat sembari menggerutu. Siang hari ia yang berurusan dengan penyidik, kini giliran Hendra pada malam harinya. Di area parkir kantor RIC, Reyhan berpapasan

  • Sistem Sign-In Harian   26. Hadiah Satu Miliar

    Sandra berdiri kaku, ujung laras senjatanya masih mengepulkan asap tipis."Panggil ambulans, bawa dia ke rumah sakit!" perintah Darwin seraya memberi isyarat kepada anak buahnya."Kenapa kamu menarik pelatuk?" tanya Darwin dengan tatapan tajam.Sandra hanya membisu seraya menundukkan kepalanya.Setelah mengamankan lokasi, Darwin dan timnya bergegas menggotong tubuh Kevin keluar."Terima kasih. Kapan-kapan aku traktir makan," ucap Reyhan sembari menyelipkan secarik kertas ke telapak tangan Sandra.Penyidik itu menggenggam kertas tersebut tanpa bersuara, lalu berbalik menyusul rekan-rekannya.Pintu kontrakan tertutup kembali. Reyhan merapikan sisa kekacauan di ruang tamu. "Hari yang sangat padat. Orang bebas datang dan pergi, padahal tempatku ini sempit, tidak akan cukup menampung semua drama mereka," kekehnya getir."Tuan Rey, kita bertemu lagi," sapa sebuah suara dari sudut ruangan.Reyhan membalikkan badan. "Jason. Kalau boleh jujur, aku sangat berharap kita tidak perlu bertemu lagi,

  • Sistem Sign-In Harian   25. Topeng Sang Pewaris

    "Kamu bohong lagi?" tanya Sandra seraya bersiap menarik senjatanya. "Tahan dulu, biar aku tunjukkan sedikit trik," sela Reyhan sambil meletakkan telapak tangannya di bahu jenazah Kakek Abas. Reyhan menyalurkan kekuatannya secara mendadak. Seketika, bercak merah tua merembes dari balik dada jenazah tersebut, tepat di atas letak jantung. "Ini..." gumam Sandra terkejut. "Tuan Rey, apa maksudnya ini?" tanya Darwin yang berusaha tetap tenang meski matanya terlihat heran. "Tenaga dalam," jawab Reyhan singkat. "Tenaga dalam?" ulang Darwin memastikan pendengarannya. "Benar. Teknik penyaluran kekuatan kuno yang sulit dicerna oleh logika manusia modern," jelas Reyhan. "Jangan mengada-ada, Reyhan. Kekuatan semacam itu cuma mitos di film aksi," protes Sandra tidak terima. "Dengar, tenaga dalam itu ilmu menyalurkan energi secara terarah. Kalau pukulan fisik biasa, dampaknya cuma merusak permukaan kulit dan tulang. Tapi tenaga dalam bisa menembus jauh ke dalam, menghancurkan organ tanpa me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status