Masuk"Ini murni berkaitan dengan cetak biru energi baru. Beliau pasti mencium pergerakan bisnis yang sedang kami rencanakan," jawab Reyhan lugas."Tebakan yang masuk akal. Namun, lain kali kunci rapat rahasia sebesar itu jika kau berhadapan dengannya. Dia memiliki ego patriot yang tidak bisa ditawar. Tanpa kehadiranku di sana, kau tidak akan bisa keluar dari gang itu dengan dokumenmu utuh," nasihat Dokter Kemal."Aku butuh kepastian mengenai seberapa jauh jangkauan kekuasaannya," tuntut Reyhan, mencoba menakar risiko ke depannya."Kau meremehkan sejarah, Anak Muda. Kakek Cross mendedikasikan darah dan tulang belulangnya untuk kedaulatan negara ini. Apa pun yang dianggapnya bermanfaat bagi fondasi negara, dia akan memastikannya berada di bawah kendalinya. Dia tidak pernah memedulikan kekayaan pribadi. Hari ini dia melepaskanmu murni karena menghormati wajah tuaku," urai Dokter Kemal sungguh-sungguh."Informasi yang sangat berharga. Aku akan lebih berhati-hati," Reyhan mencatat peringatan it
Reyhan mengekor di belakangnya. Matanya memindai interior ruangan cepat.Bukan ruang kerja mewah yang menyambutnya, melainkan ruangan berdesain minimalis yang sangat sederhana. Sebuah meja kayu kokoh, beberapa kursi tamu, dan dinding yang penuh sesak oleh deretan buku. Di balik meja, seorang pria tua dengan perawakan yang masih memancarkan wibawa tengah menunduk, sepenuhnya fokus menggoreskan pena kaligrafi.Mereka bertiga melangkah mendekat pelan-pelan. Pria tua itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari ujung penanya.Baru setelah tarikan garis terakhir diselesaikan, pria itu meletakkan alat tulisnya dan mendongak menatap para tamu."Goresan yang bertenaga. Kakek Cross, karya kaligrafimu semakin matang dimakan usia," puji Dokter Kemal santai."Waktu merampas banyak hal dariku. Ketajamanku tak lagi sama seperti saat masih muda dulu," balas Kakek Cross diiringi tawa kecil yang berwibawa. Ia beranjak dan mempersilakan tamunya duduk.Begitu mereka mengambil tempat, Kai segera u
"Analisis yang tajam. Memang baru satu halaman. Masih ada fragmen lain yang tersebar. Cetak biru energi baru ini baru bisa direkonstruksi secara utuh jika semua pecahannya disatukan," jawab Reyhan.Sebenarnya, Reyhan sendiri tidak menyadari adanya halaman lanjutan saat sistem pertama kali menjatuhkan item tersebut. Fakta itu baru ia ketahui setelah melakukan konfirmasi ulang dengan antarmuka sistemnya saat beristirahat tadi."Gila. Kau sadar seberapa brutal valuasi dari teknologi ini?" tanya Rio dengan suara tertahan. Sebagai pakar teknologi jaringan, ia melihat lebih dari sekadar inovasi, ini adalah revolusi yang akan meruntuhkan korporasi raksasa."Tentu saja. Itulah alasan utama aku memanggil kalian ke mari. Skala proyek ini terlalu masif untuk dikendalikan seorang diri. Beruntung, aku punya aliansi yang kompeten," senyum Reyhan mengembang. Ia menepuk bahu Kai dengan bersahabat.Setelah suasana perlahan mereda, Alex akhirnya mengambil sikap. "Jadi, kau berniat menggunakan teknologi
"Teori medis itu kadang malah membunuh pasien, Dok." Reyhan menunjuk sudut grafik EKG. "Lihat gelombang P di detik keempat. Ada anomali yang tertutup dengan takikardia. Tuan Stefan menyembunyikan riwayat aritmia fatal. Kalau aku paksa memasukan vasodilator, pembuluh darahnya memang melebar, tapi jantungnya akan langsung berhenti berdetak."Kemal meneliti grafik tersebut dan menarik napas tak percaya. "Kau bisa melihat detail sekecil ini di tengah pendarahan hebat dan operasi saraf yang sedang jalan ketat?""Insting bertahan hidup, Dok. Ditambah sedikit bakat alami.""Alasan." Kemal menaruh kertasnya. "Aku sudah melacak nomor registrasimu. Lisensinya baru terbit tahun lalu. Tidak ada catatan residensi, hanya ada beberapa pasien yang kamu tarik dari maut, tidak mungkin dokter baru punya insting sebuas dirimu. Siapa kamu sebenarnya?"Reyhan tersenyum santai. "Daripada buang waktu mengurus masa laluku, lebih baik kita bahas tawaran apa yang mau Dokter berikan."Kemal menatap Reyhan lurus,
"Teori medis itu kadang malah membunuh pasien, Dok." Reyhan menunjuk sudut grafik EKG. "Lihat gelombang P di detik keempat. Ada anomali yang tertutup dengan takikardia. Tuan Stefan menyembunyikan riwayat aritmia fatal. Kalau aku paksa memasukan vasodilator, pembuluh darahnya memang melebar, tapi jantungnya akan langsung berhenti berdetak."Kemal meneliti grafik tersebut dan menarik napas tak percaya. "Kau bisa melihat detail sekecil ini di tengah pendarahan hebat dan operasi saraf yang sedang jalan ketat?""Insting bertahan hidup, Dok. Ditambah sedikit bakat alami.""Alasan." Kemal menaruh kertasnya. "Aku sudah melacak nomor registrasimu. Lisensinya baru terbit tahun lalu. Tidak ada catatan residensi, hanya ada beberapa pasien yang kamu tarik dari maut, tidak mungkin dokter baru punya insting sebuas dirimu. Siapa kamu sebenarnya?"Reyhan tersenyum santai. "Daripada buang waktu mengurus masa laluku, lebih baik kita bahas tawaran apa yang mau Dokter berikan."Kemal menatap Reyhan lurus,
Lia menyusul masuk dan memapah Dokter Kemal. "Dokter lebih baik istirahat. Kalau Reyhan tidak memandu, Dokter pasti sudah menyerah di sepuluh menit pertama, kan?" "Waktu seumur Dokter Reyhan, aku sanggup berdiri di ruang operasi tiga hari tanpa tidur, Nona," balas Dokter Kemal tak mau kalah, meski suaranya terdengar serak. Reyhan memaksakan diri duduk tegak, meringis pelan saat merasakan pegal menjalar di bahunya. Ia benar-benar kehabisan tenaga. "Aku butuh kertas. Ada resep yang harus diminum pasien." Alex buru-buru menyodorkan pena dan buku catatan kecil. Reyhan menerima pena itu, tapi jari-jarinya bergetar parah. Otot tangannya kram karena terlalu lama mempertahankan fokus tingkat tinggi. Ia menghela napas panjang dan meletakkan pena itu kembali ke meja. "Biar aku yang tulis, Rey. Kau sebutkan saja," Ecca segera mengambil alih, menyadari kondisi temannya. "Propranolol, empat puluh miligram, tiga kali sehari. Sediakan Naloxone nol koma empat miligram buat jaga-jaga kalau detak







