LOGINLampu-lampu di lorong Sektor Zero-Six berkedip dengan ritme yang tidak stabil, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding beton yang berjamur. Liu Xue Lan duduk di sebuah kursi besi lipat di depan pintu laboratorium, tangannya yang masih mati rasa karena kedinginan menggenggam segelas air hangat yang diberikan oleh seorang anak kecil secara sembunyi-sembunyi tadi. Di seberang lorong, penduduk bunker—yang kini menyebut diri mereka Faksi Terbuang—berkumpul dengan gumaman rendah. Mereka menatap Xue Lan bukan dengan rasa kagum, melainkan dengan rasa jijik yang murni. Bagi mereka, Xue Lan adalah simbol dari teknologi yang merenggut nyawa keluarga mereka di permukaan. Pria tua dengan luka bakar, yang kini dikenal sebagai Elder Thorne, melangkah maju. Ia meletakkan sebuah alat hitung geiger tua di atas meja di hadapan Xue Lan. "Persediaan oksigen kami hanya cukup untuk dua minggu jika kami membagi rata. Dengan kedatangan kalian, dan mesin-mesin yang menyedot daya dari genera
Badai salju di pinggiran utara Detroit bukan lagi fenomena alam biasa. Butiran es yang turun memiliki struktur heksagonal yang tidak sempurna, sering kali membawa serpihan logam mikroskopis yang berpendar redup—sisa-sisa satelit Aegis yang terbakar di atmosfer. Li Lan memimpin di depan, menggunakan pedang vibrasinya yang tumpul untuk menebas semak-semak beku yang menutupi jalur kereta api tua. Di belakangnya, Liu Xue Lan menyeret sebuah tandu darurat yang dibuat dari pelat pintu mobil dan kabel baja. Di atas tandu itu, Shen Long terbaring diam, tertutup oleh jubah termal yang sisa energinya hampir habis. "Tahan... sedikit lagi," gumam Xue Lan. Suaranya hampir hilang ditelan deru angin. Alur merambat sangat lambat saat narasi mendeskripsikan setiap inci perjalanan mereka. Salju yang setinggi lutut membuat setiap langkah menjadi perjuangan kinetik yang melelahkan. Xue Lan merasakan otot pahanya mulai mengalami kram hebat, namun ia terus memaksa kakinya bergerak. Ia tidak lagi melihat
Cahaya aurora yang dihasilkan oleh ledakan satelit Aegis mulai memudar, digantikan oleh langit yang berwarna abu-abu pekat. Debu perak yang menyelimuti Detroit kini bercampur dengan salju pertama yang turun—bukan salju putih yang murni, melainkan butiran kristal beku yang membawa residu kimiawi dari atmosfer yang baru saja dirobek oleh energi orbital. Liu Xue Lan berlutut di atas reruntuhan aspal yang masih mengeluarkan uap panas. Kedua tangannya, yang kini gemetar hebat karena kelelahan saraf, mencengkeram bahu Shen Long. Pria itu masih terbaring kaku, separuh tubuhnya terjepit di bawah lempengan logam unit Purifier yang telah padam. Wajah Shen Long tidak lagi menunjukkan amarah; hanya ada pucat yang menakutkan dan napas yang sesekali terhenti. "Long... kumohon, jangan sekarang," bisik Xue Lan. Suaranya pecah, ditelan oleh angin dingin yang mulai menderu di antara gedung-gedung pencakar langit yang meranggas. Alur merambat sangat lambat saat narasi mendeskripsikan upaya Xue Lan un
Di permukaan Detroit yang hancur, waktu seolah-olah membeku bagi Li Lan. Unit Purifier alien di depannya telah mengunci target. Lensa optik raksasa pada "wajah" laba-laba mekanis itu berputar cepat, melakukan kalibrasi akhir untuk meriam plasma yang terletak di bagian bawah perutnya. Udara di sekitar moncong meriam tersebut mulai berderak, menciptakan distorsi visual akibat panas yang terkonsentrasi secara ekstrem. Li Lan memeluk drone medis itu di dadanya. Ia tidak berlari. Ia tahu bahwa dalam jarak sedekat ini, kecepatan manusia tidak akan pernah melampaui kecepatan cahaya plasma. Ia hanya bisa menatap lensa merah itu dengan keberanian seorang prajurit yang telah menerima takdirnya. Namun, di bawah kakinya, tutup lubang got yang tadinya diam tiba-tiba bergetar hebat. BOOM! Tutup besi seberat ratusan kilogram itu meluncur ke udara seperti proyektil, menghantam kaki depan sang Purifier tepat saat meriam plasmanya melepaskan tembakan. Tembakan ungu yang mematikan itu meleset bebera
Lorong vertikal itu terasa seperti tenggorokan raksasa beton yang pengap. Li Lan mengatur napasnya, mencoba menstabilkan sensor pada pergelangan tangannya yang terus menangkap sinyal ping terputus-putus dari The Sovereign Mind. Di belakangnya, Shen Long masih mendekap Liu Xue Lan, menahan tubuh mereka agar tidak merosot di dinding lorong yang licin oleh lumut dan rembesan air danau. "Aku harus keluar," bisik Li Lan. Suaranya datar, namun ada getaran urgensi yang tidak bisa ia sembunyikan. "Shia Yue butuh DNA-ku untuk mengaktifkan Lazarus Breach. Tanpa itu, satelit Aegis hanya akan jadi rongsokan di atas kepala kita." Shen Long mendongak, matanya yang lelah menatap Li Lan. "Kau akan keluar ke sana sendirian? Tanpa pelindung? Drone-drone itu masih menyisir area ini, Lan." "Mereka mencari energi Void dan tanda tangan saraf Seraphim," balas Li Lan sambil memeriksa magazen terakhirnya. "Darah manusia murni sepertiku adalah satu-satunya hal yang tidak mereka prioritaskan. Itu adalah kele
Bunker bawah tanah Detroit tidak lagi menjadi tempat perlindungan; ia telah berubah menjadi perangkap maut. Suara berderit dari beton yang menahan jutaan ton air Danau Erie di atasnya terdengar seperti jeritan logam yang sekarat. Air yang masuk melalui pipa-pipa yang pecah kini sudah mencapai pinggang, membawa aroma tajam ozon dan karat yang menyengat indra penciuman. Shen Long membantu Liu Xue Lan turun dari meja bedah. Meskipun sistem saraf Xue Lan telah dibersihkan dari filamen Seraphim, tubuhnya masih terasa seringan bulu dan rapuh seperti kaca. Setiap kali kakinya menyentuh air yang dingin, ia sedikit menggigil, matanya yang baru saja pulih mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu darurat yang berkedip. "Tahan... pelan-pelan," bisik Shen Long, tangannya melingkar kuat di pinggang Xue Lan. Li Lan berdiri di dekat pintu keluar yang hancur, matanya terus mengawasi langit-langit yang mulai meretakkan debu semen ke arah mereka. "Long, kita tidak punya waktu untuk berjalan. Str
Semua orang bertanya - tanya tentang maksud perkataan shen long.. ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.. "selamat pagi tuan Lao.. aku sedang berada di bank.. apakah kau bisa kemari?" Tanya shen long "selamat pagi tuan Shen.. aku juga sedang berada di bank untuk inspeksi rutin p
Shen long mengantar shia yue untuk pulang kerumahnya yang berlokasi diperumahan Rose Gold.. tiba disana shen long mengantarnya hingga kedepan halaman rumahnya.. "terima kasih telah mengantarkanku.. apakah kau tidak ingin singgah sebentar? Ayahku pasti senang mendapat kunjungan darimu" ucap shia yue
Setelah gadis itu menghapus semua bukti yang ada dibawah pengawasan shen long.. ia menyimpan kembali kameranya.. "baiklah.. sesuai kesepakatan.. aku akan pergi sekarang.. aku harap kita akan bertemu lagi.. hanya saja dikeadaan yang lebih normal" ucap shen long kemudian berbalik dan menghilang dari
begitu berada didalam.. shia yie tanpa basa basi langsung mendorong shen long ke arah ranjang hingga membuatnya terduduk disana.. jangan kemana - mana dan tunggu aku disitu.. aku akan mandi lebih dulu" ucap shia yue kemudian meletakkan tasnya diatas meja dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.. she







