Masuk
Sekujur tubuh Catherine Percy luruh di atas lantai yang dingin. Baru saja sepupunya memaksa sang paman untuk menjualnya pada seorang baron tua demi melunasi hutang judi.
Gagasan ini seperti palu kematian yang menghantam jiwa. "Coba ayah pikirkan. Kita akan kaya raya begitu baron Cecil memberi mas kawin." Pamannya mendebat. "Catherine tak akan setuju. Umur baron Cecil terlalu tua. Lebih cocok jadi kakeknya." Catherine nyaris tertawa. Kalau cuma tua tak mengapa. Baron Cecil sudah kawin cerai berulang kali. Usia istrinya rata-rata separuh umurnya. Pernah juga terdengar kabar kalau baron ini terjangkit penyakit kelamin. "Siapa yang peduli tentang pendapatnya. Anggap saja balas jasa karena. Selama ini kita sudah menampungnya." Air mata Caroline jatuh begitu saja. Ayah kandungnya adalah Earl of Pembroke yang ketiga. Ketika umurnya baru tujuh tahun, kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan ketika mau menghadiri pesta musim semi di London. Kereta yang mereka tumpangi terjungkal ke dalam jurang. Ada dugaan kalau semuanya sudah direncanakan. Sepuluh tahun sudah berlalu tetapi pihak berwenang belum juga menemukan titik terang. Karena ayahnya tak punya anak laki-laki, maka gelar beserta seluruh aset jatuh ke tangan sang paman. Hanya harta pribadi ayahnya yang diwariskan untuknya. Bisa diklaim ketika umurnya tujuh belas tahun. Pintu ruang perpustakaan tiba-tiba terkuak. Lewat celah sempit tempatnya mengintip, Catherine melihat bibinya masuk dengan wajah masam. Gaun sutra yang indah tampak menjuntai dengan sulaman mawar kelopak besar. Gaun ini baru sampai semalam. Dalam rangka pamer, bibinya sudah bersiap sejak pagi untuk berkunjung ke kediaman keluarga lain. Sebab itu, perdebatan antara anak dan suami, cukup membuatnya terganggu. "Sekelompok lelaki pengacau. Masih pagi dan kalian sudah bikin keributan." Suara sepupunya mendadak lembut. "Ibu, tolong jangan marah. Anda harus menolong saya. Kalau tidak, saya akan dipenjara." "Oh, Edgar sayang. Jangan bicara sembarangan. Memangnya siapa yang berani bertindak kasar pada putraku?" Sepupunya mendekat lalu memijit bahu bibinya. Namun belum sempat dia bercerita, pamannya sudah lebih dulu buka mulut. "Dia kalah judi. Sekarang utangnya hampir dua puluh ribu poundsterling." Wajah tersenyum bibinya mendadak beku. Matanya menatap Edgar tak percaya. Butuh sekian menit agar mulut itu bisa bersuara. "Kau mau membunuhku? Bagaimana kita hidup sekarang? Para penagih hutang akan datang dan berlomba-lomba mempermalukan kita." Sejurus kemudian terdengar bunyi pukulan diikuti raung kesakitan Edgar. Bibi rupanya sangat marah hingga sanggup memukul buah hati. "Ibu, jangan marah dulu. Masalah ini bukannya tanpa solusi." Nafas Edgar tersengal saat melanjutkan kalimatnya. "Sebenarnya... baron Cecil akan berkunjung kemari. Anda juga tahu bahwa beliau sangat kaya dan berpengaruh." "Jangan bertele-tele. Katakan apa maumu?" "Bagaimana kalau... Catherine kawin dengannya? Bukankah semua masalah akan teratasi? Beliau adalah pemilik tanah terluas di Bath. Mustahil tak bisa memberi mas kawin yang besar." Ruangan kembali hening. Saat Catherine menahan rasa sesak di dadanya, bibinya bertanya dengan hati-hati. "Sudah berapa banyak yang kalian bicarakan?" "Memangnya kenapa?" ujar Edgar tak sabar "Bodoh! Aku menyuruh anak yatim itu membersihkan perpustakaan. Jangan-jangan dia masih di sini." "Tidak mungkin!" raung paman. "Waktu kami kemari tempat ini sudah kosong." Ketakutan bibi berganti kemarahan. "Keponakanmu memang pemalas. Sudah hidup menumpang tetapi tidak tahu diri. Setiap hari hanya makan dan tidur, seolah ada yang gratis di dunia." Bibinya menyerocos tanpa henti sementara Catherine beringsut sambil membekap mulut agar isaknya tidak terdengar. Makan tidur katanya? Setiap hari dia bangun paling awal dan tidur paling larut demi membantu pekerjaan rumah. Hidupnya bahkan lebih buruk dari pelayan. Setidaknya, pelayan dapat gaji. Makanan dan pakaian yang dia dapat cuma sisa yang tidak diinginkan sepupunya. Padahal dia adalah pewaris sesungguhnya. Hanya karena terlahir perempuan, makanya tak punya hak jadi seorang Earl. Satu-satunya alasan bibi masih menahannya pasti karena surat wasiat almarhum ayahnya yang mengatakan bahwa harta perwalian baru boleh dicairkan ketika umurnya sudah tujuh belas tahun. Kalau tidak, mungkin saja dia sudah dilempar ke jalanan. "Ibu, bisakah kita fokus pada masalah penting saja?" Edgar menghentikan ocehan ibunya yang tak kunjung siap. "Waktuku tak banyak." Barulah bibinya menarik nafas panjang. "Tentu saja kita harus melakukan itu. Sayang sekali jika Catherine dibesarkan secara cuma-cuma." "Jangan terlalu kejam Inggrid. Catherine satu-satunya anak kakakku." Pamannya membantah perkataan bibi. "Lagi pula, semua yang kita nikmati sekarang adalah hak-nya." "Tutup mulutmu, Edward." Bibinya menyahut lebih keras. "Memangnya berapa lama kita bisa bertahan dengan situasi keuangan? Jangan berlagak suci. Kita semua ada dalam perahu yang sama." Oh, betapa Catherine mau membujuk pamannya agar menolak keinginan bibi Inggrid. Sayang sekali, semua ini cuma angan-angan. Meski dalam pamannya mungkin masih tersisa sedikit kasih sayang kekeluargaan, kepentingan pribadi tetap yang paling utama. "Terserah kalian saja. Tapi aku tak mau terlibat." "Hmph, dasar pengecut." Inggrid menyahut suaminya ketus sebelum melanjutkan perbincangan dengan putranya mengenai rencana mereka. "Untuk sekarang, ibu dan kedua adikku baik-baik saja pada Catherine agar dia tak curiga." Bibi Inggrid memotong perkataan sepupunya. "Dasar tolol! Justru kita harus bersikap biasa saja. Lagi pula, yatim itu sangat bodoh. Selalu menuruti kata-kataku. Kalau pun disuruh lompat ke jurang, dia akan melakukannya tanpa ragu." Hati Catherine mendadak dingin. Bibi Inggrid menanamkan padanya bahwa orang yang merencanakan kecelakaan orang tuanya masih berkeliaran dan sedang mengincar nyawanya. Agar aman, dia harus menyamar. Tak diizinkan keluar atau bertemu orang lain. Setiap kali ada tamu yang berkunjung, Inggrid akan mengenalkannya sebagai salah satu kerabat jauh dari kampung. Bibinya bilang, statusnya akan berubah ketika situasi sudah aman. Sekarang, mendengar beliau bicara begitu kejam, ternyata dia cuma dimanfaatkan jadi babu gratis. "Kalau kalian terus bersikap kejam, takutnya dia kabur. Kalau sampai terjadi, bagaimana menyelesaikan masalah ini?" Bibi Inggrid langsung menepis keraguan sepupunya. "Aku sudah bilang dia terlalu bodoh untuk itu. Sekarang tenanglah dan jangan coba-coba berjudi lagi. Kalau tidak, aku akan membunuhmu dengan tangan sendiri." Sejurus kemudian, bibinya mulai menguap. "Aku pergi dulu. Teman-teman sudah menungguku untuk mengobrol." Ketika semua orang sudah pergi, Catherine terduduk lemah, memeluk kedua lututnya dalam kesunyian yang pahit. Sadar hidup menumpang, dia selalu bersikap baik. Menyenangkan hati semua orang sampai merasa amat lelah. Orang yang dianggapnya kerabat selalu merendahkan, bahkan pelayan di manor juga bersikap kurang ajar. Pada akhirnya, hanya nasib buruk yang mengejarnya terus-menerus. "Ayah, ibu, maafkan aku. Tidak sudi lagi jadi anak baik.""Jangan-jangan Baron Cecil di sini," gumam Catherine pada diri sendiri. Lekas dia melongok ke bawah, lewat jendela perancis yang menghadap ke jalan utama. Kereta-kereta para bangsawan tampak memasuki pekarangan sementara pelayan lalu-lalang menyambut tamu yang datang. Suara musik yang terdengar samar juga menceritakan dengan jelas betapa meriah pesta di bawah sana. Sepertinya ada perjamuan besar di manor. "Aku harus cepat," gumamnya lagi. Caroline menatap nanar ke sekeliling ruangan, mencari apapun yang bisa dipakai untuk melarikan diri lewat jendela. Rupanya nihil. Dalam keputus-asaan, dia menggedor pintu kamar sekeras-kerasnya. Selang beberapa menit, seorang pelayan membuka pintu dari luar. "Ada apa bikin keributan? Tidakkah kau tahu hari ini pesta debut lady Caroline?" Barulah Catherine sadar apa yang terjadi. Sejak bulan lalu, bibinya sudah merencanakan pesta ini dengan matang. Caroline adalah putri countess Inggrid yang paling cantik. Sebab itu harapan besar untuk
"Memangnya kau siapa sampai aku harus mendengarmu?" Cuma pelayan tapi berani mengatur majikan." Alasan klise countess Inggrid membuat Catherine tersenyum sinis. Sesuai dugaan, bibinya tak siap berhadapan dengan hukum kalau sampai identitasnya terbongkar. "Seret wanita rendahan ini ke belakang." Dua pelayan bertubuh besar menghelanya ke gudang belakang. Tubuhnya dilempar seperti seonggok kain kering sebelum pintu kayu raksasa itu berdebam. Catherine terbaring lemah menatap langit-langit gudang penyimpanan yang mulai lapuk termakan usia. Rasa lelah juga frustasi membuatnya jatuh dalam lelap untuk beberapa saat. Dinginnya semburan air adalah hal yang membangunkan Catherine. Tak butuh waktu lama baginya untuk melihat pelaku penyiraman. Caroline Percy berdiri gagah dalam balutan gaun rumahan berwarna merah muda. Sementara dia melempar ember air ke sembarang arah, tangan yang satu lagi mengambil cambuk yang dipegang Betty. "Hei jalang! Masih bisa tidur setelah menggoda tunangan k
"Cepat bangun! Sungguh berperilaku seperti babi. Setiap hari bangunnya lama." Orang yang menggedor-gedor pintu kamar adalah Betty. Catherine menguap lebar dan melirik ke arah jendela. Melihat betapa gelap di luar sana, sepertinya belum jam enam pagi. Udara yang dingin membuat semua orang enggan untuk bangun tetapi dia sudah dipaksa untuk melakukan pekerjaan kasar. "Ada apa Betty?" ujarnya membuka gerendel pintu. "Orang akan mengiramu penagih hutang." Muka tirus Betty merah padam. Satu-satunya yang berhak menegur dengan keras hanyalah countess Inggrid bukan perempuan rendahan. Tangannya naik hendak menampar Catherine tetapi pemilik wajah sudah memiting lebih dulu. "Kau sudah berkaca sebelum menamparku?" bisik Catherine dingin. "Tak merasa bersalah pada ibuku, hmm?" "Lepaskan, Miss. Anda tak boleh bertindak kasar. Countess Inggrid akan murka." "Ha!" seru Catherine dramatis. "Kau masih ingat bahwa aku majikanmu." Betty semakin gusar tapi tak berani membantah. Countess masi
Sorenya, Catherine baru saja meletakkan hidangan terakhir di atas meja ketika Inggrid yang baru pulang dari jamuan minum teh memanggilnya ke aula tengah. Dia membungkuk sedikit sebelum berdiri tegak di hadapan istri pamannya. "Ya, My lady. Ada apa memanggil saya?" Selama tinggal di manor, Inggrid mewajibkannya memanggil dengan gelar kehormatan. Katanya agar penyamaran Catherine berhasil. "Apa kau sudah mengerjakan apa yang kusuruh tadi pagi?" "Ya, My lady. Saya sudah membersihkannya." "Bohong! Tadi pagi aku ke perpustakaan, kau tak ada di sana." "Anda bisa meminta yang lain memeriksanya, My lady." Inggrid mengamati wajahnya dengan seksama. Walau Catherine membungkuk sedikit, namun raut muka dan nada suaranya yang tenang tidak menyiratkan kepalsuan. Lagi pula selama tinggal di manor, keponakan ini selalu jujur dan naif. Meski begitu, Inggrid masih mau memastikan. "Kalau begitu, apa kau mendengar percakapan antara pamanmu dan aku?" Kedua tangan Catherine mengep
Sekujur tubuh Catherine Percy luruh di atas lantai yang dingin. Baru saja sepupunya memaksa sang paman untuk menjualnya pada seorang baron tua demi melunasi hutang judi. Gagasan ini seperti palu kematian yang menghantam jiwa. "Coba ayah pikirkan. Kita akan kaya raya begitu baron Cecil memberi mas kawin." Pamannya mendebat. "Catherine tak akan setuju. Umur baron Cecil terlalu tua. Lebih cocok jadi kakeknya." Catherine nyaris tertawa. Kalau cuma tua tak mengapa. Baron Cecil sudah kawin cerai berulang kali. Usia istrinya rata-rata separuh umurnya. Pernah juga terdengar kabar kalau baron ini terjangkit penyakit kelamin. "Siapa yang peduli tentang pendapatnya. Anggap saja balas jasa karena. Selama ini kita sudah menampungnya." Air mata Caroline jatuh begitu saja. Ayah kandungnya adalah Earl of Pembroke yang ketiga. Ketika umurnya baru tujuh tahun, kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan ketika mau menghadiri pesta musim semi di London. Kereta yang mereka tumpangi terjungka