MasukSorenya, Catherine baru saja meletakkan hidangan terakhir di atas meja ketika Inggrid yang baru pulang dari jamuan minum teh memanggilnya ke aula tengah.
Dia membungkuk sedikit sebelum berdiri tegak di hadapan istri pamannya. "Ya, My lady. Ada apa memanggil saya?" Selama tinggal di manor, Inggrid mewajibkannya memanggil dengan gelar kehormatan. Katanya agar penyamaran Catherine berhasil. "Apa kau sudah mengerjakan apa yang kusuruh tadi pagi?" "Ya, My lady. Saya sudah membersihkannya." "Bohong! Tadi pagi aku ke perpustakaan, kau tak ada di sana." "Anda bisa meminta yang lain memeriksanya, My lady." Inggrid mengamati wajahnya dengan seksama. Walau Catherine membungkuk sedikit, namun raut muka dan nada suaranya yang tenang tidak menyiratkan kepalsuan. Lagi pula selama tinggal di manor, keponakan ini selalu jujur dan naif. Meski begitu, Inggrid masih mau memastikan. "Kalau begitu, apa kau mendengar percakapan antara pamanmu dan aku?" Kedua tangan Catherine mengepal. Seumur-umur dia selalu hidup patuh. Sebab itu, mulutnya terasa berat untuk bohong. "Percakapan yang mana, My lady?" ujarnya pura-pura bingung. "Waktu saya ke sana, perpustakaan masih kosong. Sampai saya selesai membersihkan rak yang berdebu, tak ada siapa-siapa yang datang." "Kau tidak sedang menipuku, kan?" Tatapan mata Inggrid begitu tajam. Catherine yang dulu akan mengkeret ketakutan. Rasa benci terhadap kekejaman orang-orang ini, membuat rasa itu pudar. "Mana mungkin saya berani." Dia cepat-cepat menambahkan dengan nada sedikit menjilat. "Anda begitu baik selama ini. Saya tak mungkin tega membohongi anda." Sepupunya yang bernama Meredith tertawa keras. Tatapannya mencela penampilan Catherine dari ujung kaki ke rambut. "Itu belum seberapa. Kebaikan ibu padamu akan sangat terasa ketika pesta debut Caroline." Paman dan bibinya punya tiga anak. Si sulung adalah Edgar yang berumur dua puluh satu. Anak kedua bernama Meredith. Umurnya tujuh belas tahun dan sudah bertunangan dengan putra sulung seorang Earl. Si bungsu Caroline baru lima belas tahun. Akan melangsungkan pesta debut minggu depan. Saat mendengar perkataan kakaknya, si bungsu terkikik geli memamerkan sepasang lesung pipi yang manis. "Pada saat itu, aku juga tak akan bisa menyaingi keberuntungan sepupu." "Tentu saja tidak. Semua orang punya keberuntungan masing-masing." Inggrid memandang kedua putrinya dengan rasa bangga seorang ibu. "Putriku yang berharga tentu tak bisa dibandingkan dengan anak gadis orang lain." Ketiganya tertawa renyah seolah sosok yang mereka rendahkan tak ada di sana. Semakin kejam mereka menghina, makin dingin perasaan Catherine. Apakah hanya kedua sepupunya yang berharga? Dia juga adalah putri yang dibanggakan kedua orang tuanya. Entah bagaimana perasaan mereka di alam baka kalau melihatnya ditindas setiap hari. Tawa dan hinaan akhirnya berhenti ketika Inggrid kelaparan. "Anak-anak, ayo makan. Jangan sampai badan kalian kurus seperti gelandangan." Dia menoleh ke arah Catherine yang berdiri termangu. "Apa lagi yang kau tunggu? Cepat layani kami makan." Catherine menurut dalam diam. Seperti biasa, meja makan hanya diisi kaum wanita kalau tidak ada jamuan penting. Edward dan Edgar lebih suka menghabiskan waktu di luar dengan permainan judi dan mabuk-mabukan. "Apa kau yang membuat pai ini? Kenapa rasanya seperti karet?" Gerutuan bibinya dianggap Catherine seperti angin lalu. Setiap hari, seisi keluarga selalu mencemooh masakannya tetapi tetap saja dimakan sampai habis. "Kau bisu? Kenapa tak menjawab pertanyaan ibuku?" Meredith menyiramkan segelas air. Catherine mengusap wajahnya yang basah dan menatap mata sepupunya dengan tatapan dingin yang asing. Mulutnya tetap terkunci rapat, seolah tak ada orang lain di sana. "Ibu, lihat. Dia mulai kurang ajar." Meredith mulai mengadu. "Kalau terus begini, bagaimana tanggapan orang terhadap keluarga kita? Seperti tidak diajari saja." "Betty!" Inggrid memanggil kepala pelayan. "Beri dia pelajaran agar ke depannya lebih tahu diri." Wanita yang dipanggil Inggrid adalah kepala pelayan manor yang juga bekas pelayan kepercayaan ibunya. Berusia awal lima puluhan dengan tubuh kurus. Mukanya tirus dengan rambut coklat gelap. Begitu mendapat panggilan Inggrid, Betty bergegas melayangkan tamparan bertubi-tubi. Meski wajahnya sudah babak belur tetapi Catherine bergeming. Dia menatap Betty dengan kebencian yang tidak ditutupi. Sementara itu, kedua sepupu tertawa-tawa melihatnya diperlakukan seperti binatang. "Bagaimana? Sudah paham posisimu sekarang?" ujar Inggrid seraya mengusap mulut dengan serbet basah. "Aku berbuat begini juga agar kau tahu aturan. Ke depannya tidak mempermalukan keluarga. Bagaimana pun, manor ini masih tempat tinggal seorang Earl." Lucu sekali! Mereka mencelanya setiap hari tanpa menyadari kelakuan siapa yang lebih busuk. Sekarang, dia tak punya kuasa untuk menentang. Takutnya, bibi dan kedua sepupu akan membuatnya kelaparan seperti yang sudah-sudah. Untuk menjalankan rencana besar, dia butuh tenaga yang banyak. "Ibu, besok tunanganku akan datang. Bisakah gadis rendahan ini menyajikan teh dan membuat pai untuk kami?" ujar Meredith pamer. Umur mereka hampir sama, tetapi Catherine hanya gadis yatim menyedihkan yang belum punya pengunjung. Kecil sekali kemungkinan akan ada yang melamarnya. Kediaman ini mungkin tidak sehebat dulu tetapi pamannya tetaplah seorang Earl. Dengan posisi dan aset keluarga masih sanggup menggaji banyak pelayan. Meredith hanya mau mempermalukannya saja. "Tentu saja harus. Orang biasa memang harus bekerja keras biar bisa makan." Jawaban Inggrid nyaris membuat Catherine muntah. Ketiga orang ini hanya tahu bersenang-senang sepanjang hari tetapi masih tetap makan tanpa tahu malu. Dan bicara tentang latar belakang? Justru Inggrid yang berasal dari rakyat jelata. Orang tua bibinya hanyalah pemilik sebuah kedai minuman. Karena pamannya menjadi Earl saja maka bibinya berhak menyandang gelar Countess. "Kak, kenapa harus meminta dia?" cetus Caroline masam. "Wajahnya begitu jelek dan lusuh. Aku yakin tuan Stuart pasti mau muntah melihatnya." "Tak apa. Dia hanya perlu muncul sesekali. Tak akan menggangu ketenangan." Setelah puas makan dan menghinanya, orang-orang ini pun beranjak. Mengabaikan harga diri, Catherine lekas mengambil sisa-sisa makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. Kalau terlambat sedikit, semuanya pasti akan dihabiskan pelayan. Hanya dalam hitungan detik, Betty dan tiga pelayan lain datang. Dengan kasar, mereka mendorongnya ke belakang. "Dasar tak tahu malu!" maki Betty geram. "Bisa-bisanya gadis bangsawan makan seperti hewan. Sungguh sial keluarga Percy punya keturunan sepertimu." "Hahaha, lihat wajahnya. Mirip gelandangan yang tak pernah makan apa-apa." "Kenapa diam saja? Biasanya mulut Anda begitu cerdas menjawab." Catherine hanya mengusap wajah dan menatap mereka satu persatu. Orang yang paling dia benci adalah Betty. Dulu ibunya memperlakukan wanita ini dengan baik, seperti keluarga sendiri. Tetapi lihat balasannya. Begitu dapat majikan baru, Betty tak sungkan menindas. "Suatu saat kalian akan menyesal," gumamnya seraya beranjak pergi. Kakinya yang lelah berhenti di ambang pintu kamar paling kecil di bagian belakang manor. Aroma kotoran kuda dan babi bisa tercium dari sini. Sebelum jadi kamarnya, tempat ini memang gudang penyimpanan makanan hewan. Dia membasuh wajah dan tubuh sedikit sebelum menyalakan lilin yang tinggal sedikit. Dia membaca buku berbahasa Latin yang diam-diam diambil dari perpustakaan keluarga. Catherine baru terpejam ketika malam sudah larut."Jangan-jangan Baron Cecil di sini," gumam Catherine pada diri sendiri. Lekas dia melongok ke bawah, lewat jendela perancis yang menghadap ke jalan utama. Kereta-kereta para bangsawan tampak memasuki pekarangan sementara pelayan lalu-lalang menyambut tamu yang datang. Suara musik yang terdengar samar juga menceritakan dengan jelas betapa meriah pesta di bawah sana. Sepertinya ada perjamuan besar di manor. "Aku harus cepat," gumamnya lagi. Caroline menatap nanar ke sekeliling ruangan, mencari apapun yang bisa dipakai untuk melarikan diri lewat jendela. Rupanya nihil. Dalam keputus-asaan, dia menggedor pintu kamar sekeras-kerasnya. Selang beberapa menit, seorang pelayan membuka pintu dari luar. "Ada apa bikin keributan? Tidakkah kau tahu hari ini pesta debut lady Caroline?" Barulah Catherine sadar apa yang terjadi. Sejak bulan lalu, bibinya sudah merencanakan pesta ini dengan matang. Caroline adalah putri countess Inggrid yang paling cantik. Sebab itu harapan besar untuk
"Memangnya kau siapa sampai aku harus mendengarmu?" Cuma pelayan tapi berani mengatur majikan." Alasan klise countess Inggrid membuat Catherine tersenyum sinis. Sesuai dugaan, bibinya tak siap berhadapan dengan hukum kalau sampai identitasnya terbongkar. "Seret wanita rendahan ini ke belakang." Dua pelayan bertubuh besar menghelanya ke gudang belakang. Tubuhnya dilempar seperti seonggok kain kering sebelum pintu kayu raksasa itu berdebam. Catherine terbaring lemah menatap langit-langit gudang penyimpanan yang mulai lapuk termakan usia. Rasa lelah juga frustasi membuatnya jatuh dalam lelap untuk beberapa saat. Dinginnya semburan air adalah hal yang membangunkan Catherine. Tak butuh waktu lama baginya untuk melihat pelaku penyiraman. Caroline Percy berdiri gagah dalam balutan gaun rumahan berwarna merah muda. Sementara dia melempar ember air ke sembarang arah, tangan yang satu lagi mengambil cambuk yang dipegang Betty. "Hei jalang! Masih bisa tidur setelah menggoda tunangan k
"Cepat bangun! Sungguh berperilaku seperti babi. Setiap hari bangunnya lama." Orang yang menggedor-gedor pintu kamar adalah Betty. Catherine menguap lebar dan melirik ke arah jendela. Melihat betapa gelap di luar sana, sepertinya belum jam enam pagi. Udara yang dingin membuat semua orang enggan untuk bangun tetapi dia sudah dipaksa untuk melakukan pekerjaan kasar. "Ada apa Betty?" ujarnya membuka gerendel pintu. "Orang akan mengiramu penagih hutang." Muka tirus Betty merah padam. Satu-satunya yang berhak menegur dengan keras hanyalah countess Inggrid bukan perempuan rendahan. Tangannya naik hendak menampar Catherine tetapi pemilik wajah sudah memiting lebih dulu. "Kau sudah berkaca sebelum menamparku?" bisik Catherine dingin. "Tak merasa bersalah pada ibuku, hmm?" "Lepaskan, Miss. Anda tak boleh bertindak kasar. Countess Inggrid akan murka." "Ha!" seru Catherine dramatis. "Kau masih ingat bahwa aku majikanmu." Betty semakin gusar tapi tak berani membantah. Countess masi
Sorenya, Catherine baru saja meletakkan hidangan terakhir di atas meja ketika Inggrid yang baru pulang dari jamuan minum teh memanggilnya ke aula tengah. Dia membungkuk sedikit sebelum berdiri tegak di hadapan istri pamannya. "Ya, My lady. Ada apa memanggil saya?" Selama tinggal di manor, Inggrid mewajibkannya memanggil dengan gelar kehormatan. Katanya agar penyamaran Catherine berhasil. "Apa kau sudah mengerjakan apa yang kusuruh tadi pagi?" "Ya, My lady. Saya sudah membersihkannya." "Bohong! Tadi pagi aku ke perpustakaan, kau tak ada di sana." "Anda bisa meminta yang lain memeriksanya, My lady." Inggrid mengamati wajahnya dengan seksama. Walau Catherine membungkuk sedikit, namun raut muka dan nada suaranya yang tenang tidak menyiratkan kepalsuan. Lagi pula selama tinggal di manor, keponakan ini selalu jujur dan naif. Meski begitu, Inggrid masih mau memastikan. "Kalau begitu, apa kau mendengar percakapan antara pamanmu dan aku?" Kedua tangan Catherine mengep
Sekujur tubuh Catherine Percy luruh di atas lantai yang dingin. Baru saja sepupunya memaksa sang paman untuk menjualnya pada seorang baron tua demi melunasi hutang judi. Gagasan ini seperti palu kematian yang menghantam jiwa. "Coba ayah pikirkan. Kita akan kaya raya begitu baron Cecil memberi mas kawin." Pamannya mendebat. "Catherine tak akan setuju. Umur baron Cecil terlalu tua. Lebih cocok jadi kakeknya." Catherine nyaris tertawa. Kalau cuma tua tak mengapa. Baron Cecil sudah kawin cerai berulang kali. Usia istrinya rata-rata separuh umurnya. Pernah juga terdengar kabar kalau baron ini terjangkit penyakit kelamin. "Siapa yang peduli tentang pendapatnya. Anggap saja balas jasa karena. Selama ini kita sudah menampungnya." Air mata Caroline jatuh begitu saja. Ayah kandungnya adalah Earl of Pembroke yang ketiga. Ketika umurnya baru tujuh tahun, kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan ketika mau menghadiri pesta musim semi di London. Kereta yang mereka tumpangi terjungka