Share

Hinaan Sepupu

Penulis: Auphi
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-10 13:04:34

Sorenya, Catherine baru saja meletakkan hidangan terakhir di atas meja ketika Inggrid yang baru pulang dari jamuan minum teh memanggilnya ke aula tengah.

Dia membungkuk sedikit sebelum berdiri tegak di hadapan istri pamannya. "Ya, My lady. Ada apa memanggil saya?"

Selama tinggal di manor, Inggrid mewajibkannya memanggil dengan gelar kehormatan. Katanya agar penyamaran Catherine berhasil.

"Apa kau sudah mengerjakan apa yang kusuruh tadi pagi?"

"Ya, My lady. Saya sudah membersihkannya."

"Bohong! Tadi pagi aku ke perpustakaan, kau tak ada di sana."

"Anda bisa meminta yang lain memeriksanya, My lady."

Inggrid mengamati wajahnya dengan seksama.

Walau Catherine membungkuk sedikit, namun raut muka dan nada suaranya yang tenang tidak menyiratkan kepalsuan. Lagi pula selama tinggal di manor, keponakan ini selalu jujur dan naif.

Meski begitu, Inggrid masih mau memastikan.

"Kalau begitu, apa kau mendengar percakapan antara pamanmu dan aku?"

Kedua tangan Catherine mengepal. Seumur-umur dia selalu hidup patuh. Sebab itu, mulutnya terasa berat untuk bohong.

"Percakapan yang mana, My lady?" ujarnya pura-pura bingung. "Waktu saya ke sana, perpustakaan masih kosong. Sampai saya selesai membersihkan rak yang berdebu, tak ada siapa-siapa yang datang."

"Kau tidak sedang menipuku, kan?"

Tatapan mata Inggrid begitu tajam. Catherine yang dulu akan mengkeret ketakutan. Rasa benci terhadap kekejaman orang-orang ini, membuat rasa itu pudar.

"Mana mungkin saya berani." Dia cepat-cepat menambahkan dengan nada sedikit menjilat. "Anda begitu baik selama ini. Saya tak mungkin tega membohongi anda."

Sepupunya yang bernama Meredith tertawa keras. Tatapannya mencela penampilan Catherine dari ujung kaki ke rambut.

"Itu belum seberapa. Kebaikan ibu padamu akan sangat terasa ketika pesta debut Caroline."

Paman dan bibinya punya tiga anak. Si sulung adalah Edgar yang berumur dua puluh satu. Anak kedua bernama Meredith. Umurnya tujuh belas tahun dan sudah bertunangan dengan putra sulung seorang Earl. Si bungsu Caroline baru lima belas tahun. Akan melangsungkan pesta debut minggu depan.

Saat mendengar perkataan kakaknya, si bungsu terkikik geli memamerkan sepasang lesung pipi yang manis. "Pada saat itu, aku juga tak akan bisa menyaingi keberuntungan sepupu."

"Tentu saja tidak. Semua orang punya keberuntungan masing-masing." Inggrid memandang kedua putrinya dengan rasa bangga seorang ibu. "Putriku yang berharga tentu tak bisa dibandingkan dengan anak gadis orang lain."

Ketiganya tertawa renyah seolah sosok yang mereka rendahkan tak ada di sana.

Semakin kejam mereka menghina, makin dingin perasaan Catherine. Apakah hanya kedua sepupunya yang berharga? Dia juga adalah putri yang dibanggakan kedua orang tuanya. Entah bagaimana perasaan mereka di alam baka kalau melihatnya ditindas setiap hari.

Tawa dan hinaan akhirnya berhenti ketika Inggrid kelaparan. "Anak-anak, ayo makan. Jangan sampai badan kalian kurus seperti gelandangan."

Dia menoleh ke arah Catherine yang berdiri termangu. "Apa lagi yang kau tunggu? Cepat layani kami makan."

Catherine menurut dalam diam.

Seperti biasa, meja makan hanya diisi kaum wanita kalau tidak ada jamuan penting. Edward dan Edgar lebih suka menghabiskan waktu di luar dengan permainan judi dan mabuk-mabukan.

"Apa kau yang membuat pai ini? Kenapa rasanya seperti karet?"

Gerutuan bibinya dianggap Catherine seperti angin lalu. Setiap hari, seisi keluarga selalu mencemooh masakannya tetapi tetap saja dimakan sampai habis.

"Kau bisu? Kenapa tak menjawab pertanyaan ibuku?"

Meredith menyiramkan segelas air. Catherine mengusap wajahnya yang basah dan menatap mata sepupunya dengan tatapan dingin yang asing. Mulutnya tetap terkunci rapat, seolah tak ada orang lain di sana.

"Ibu, lihat. Dia mulai kurang ajar." Meredith mulai mengadu. "Kalau terus begini, bagaimana tanggapan orang terhadap keluarga kita? Seperti tidak diajari saja."

"Betty!" Inggrid memanggil kepala pelayan. "Beri dia pelajaran agar ke depannya lebih tahu diri."

Wanita yang dipanggil Inggrid adalah kepala pelayan manor yang juga bekas pelayan kepercayaan ibunya. Berusia awal lima puluhan dengan tubuh kurus. Mukanya tirus dengan rambut coklat gelap.

Begitu mendapat panggilan Inggrid, Betty bergegas melayangkan tamparan bertubi-tubi. Meski wajahnya sudah babak belur tetapi Catherine bergeming. Dia menatap Betty dengan kebencian yang tidak ditutupi.

Sementara itu, kedua sepupu tertawa-tawa melihatnya diperlakukan seperti binatang.

"Bagaimana? Sudah paham posisimu sekarang?" ujar Inggrid seraya mengusap mulut dengan serbet basah. "Aku berbuat begini juga agar kau tahu aturan. Ke depannya tidak mempermalukan keluarga. Bagaimana pun, manor ini masih tempat tinggal seorang Earl."

Lucu sekali!

Mereka mencelanya setiap hari tanpa menyadari kelakuan siapa yang lebih busuk. Sekarang, dia tak punya kuasa untuk menentang. Takutnya, bibi dan kedua sepupu akan membuatnya kelaparan seperti yang sudah-sudah. Untuk menjalankan rencana besar, dia butuh tenaga yang banyak.

"Ibu, besok tunanganku akan datang. Bisakah gadis rendahan ini menyajikan teh dan membuat pai untuk kami?" ujar Meredith pamer.

Umur mereka hampir sama, tetapi Catherine hanya gadis yatim menyedihkan yang belum punya pengunjung. Kecil sekali kemungkinan akan ada yang melamarnya.

Kediaman ini mungkin tidak sehebat dulu tetapi pamannya tetaplah seorang Earl. Dengan posisi dan aset keluarga masih sanggup menggaji banyak pelayan. Meredith hanya mau mempermalukannya saja.

"Tentu saja harus. Orang biasa memang harus bekerja keras biar bisa makan."

Jawaban Inggrid nyaris membuat Catherine muntah. Ketiga orang ini hanya tahu bersenang-senang sepanjang hari tetapi masih tetap makan tanpa tahu malu.

Dan bicara tentang latar belakang? Justru Inggrid yang berasal dari rakyat jelata. Orang tua bibinya hanyalah pemilik sebuah kedai minuman. Karena pamannya menjadi Earl saja maka bibinya berhak menyandang gelar Countess.

"Kak, kenapa harus meminta dia?" cetus Caroline masam. "Wajahnya begitu jelek dan lusuh. Aku yakin tuan Stuart pasti mau muntah melihatnya."

"Tak apa. Dia hanya perlu muncul sesekali. Tak akan menggangu ketenangan."

Setelah puas makan dan menghinanya, orang-orang ini pun beranjak. Mengabaikan harga diri, Catherine lekas mengambil sisa-sisa makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. Kalau terlambat sedikit, semuanya pasti akan dihabiskan pelayan.

Hanya dalam hitungan detik, Betty dan tiga pelayan lain datang. Dengan kasar, mereka mendorongnya ke belakang.

"Dasar tak tahu malu!" maki Betty geram. "Bisa-bisanya gadis bangsawan makan seperti hewan. Sungguh sial keluarga Percy punya keturunan sepertimu."

"Hahaha, lihat wajahnya. Mirip gelandangan yang tak pernah makan apa-apa."

"Kenapa diam saja? Biasanya mulut Anda begitu cerdas menjawab."

Catherine hanya mengusap wajah dan menatap mereka satu persatu. Orang yang paling dia benci adalah Betty.

Dulu ibunya memperlakukan wanita ini dengan baik, seperti keluarga sendiri. Tetapi lihat balasannya. Begitu dapat majikan baru, Betty tak sungkan menindas.

"Suatu saat kalian akan menyesal," gumamnya seraya beranjak pergi.

Kakinya yang lelah berhenti di ambang pintu kamar paling kecil di bagian belakang manor. Aroma kotoran kuda dan babi bisa tercium dari sini.

Sebelum jadi kamarnya, tempat ini memang gudang penyimpanan makanan hewan.

Dia membasuh wajah dan tubuh sedikit sebelum menyalakan lilin yang tinggal sedikit. Dia membaca buku berbahasa Latin yang diam-diam diambil dari perpustakaan keluarga.

Catherine baru terpejam ketika malam sudah larut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Frederick Pulang

    Rona kekalahan di muka Bruce cukup menghibur hati Catherine. Tapi ini tak berlangsung lama. Sebab di lantai dansa, dia harus meladeni kekonyolan Rick. "Jadi... kau mau kuajak dansa karena menghindari bocah Campbell?""Dia sudah dua puluh tahun, My lord." Catherine menegaskan fakta ini dalam nada dingin."Biar pun bukan pengagum Bruce, bukan berarti suka melihat sepupunya direndahkan. Rick tergelak kecil. "Kau sangat serius, Catherine. Aku memanggilnya begitu karena umurnya jauh lebih muda dariku."Pria yang berdiri di depannya sekarang berbeda dengan Rick yang dulu. Setahunya, Rick bukan pria menyebalkan. Walau terkadang bercanda tapi masih dalam batas wajar. Sementara yang berdiri sekarang berlagak paling tahu. "Apakah menjadi tua sesuatu yang menyenangkan bagi anda, tuan Kenwood?" balas Catherine tajam. "Hanya beberapa waktu tak ketemu tetapi anda jadi sangat berbeda.""Apa yang berbeda? Aku masih orang y

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Menyenangkan Berdansa dengan Anda

    Catherine ingin sekali menampar kesombongan Bruce. Tetapi mengingat Annabelle juga manusia menyebalkan, dia merasa itu sepadan. Sekarang tak perlu lagi menebak apa penyebab kebencian yang begitu dalam di mata Annabelle."Kenapa menolaknya? Bukankah dia sangat cantik?" selidiknya kemudian. Perempuan memang begitu. Kalau dipuji, pura-pura tak peduli. Jika wanita lain yang dipuji, mereka penasaran setengah mati. Entah apa maunya. "Menurutmu dia cantik?" Senyuman Bruce sangat menggoda. Persis pria gombal yang suka pamer pesona. "Maaf saja. Tapi aku punya selera yang sangat tinggi.""Oh, ya?" Alis Catherine yang terukir rapi menukik tajam. "Memangnya seperti apa gadis idamanmu?""Gampang saja. Waktu bercermin perhatikan pantulan wajah siapa yang nampak. Itulah gadis idamanku."Muka Catherine memanas. Dia merutuki ketajaman lidah Bruce. Tetapi diatas segalanya, dia lebih benci dirinya yang suka main api. Ketika terbakar, entah mau kabur kemana. "Hmph, dasar kau." Dia menggumam seraya

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Aku Baru Menolaknya

    Wajah Annabelle mengeras sementara suara-suara di aula jadi senyap. Adalah kurang sopan kalau meragukan niat tulus tuan rumah. Tetapi kalau tidak teliti bisa menjatuhkan diri sendiri dalam perangkap. Catherine memilih resiko pertama. "Kalau memang lady Catherine sangat meragukan niat baik kami, pakai saja piano saya."Annabelle memang lawan sepadan. Dengan kalimat selugas ini tak mungkin ada yang curiga akan kualitas piano. Kalau nanti pada saat main timbul masalah, orang-orang hanya bisa mengatainya kurang cakap. "Kalau begitu saya tak akan sungkan," sahut Catherine tenang. "Saya hanya seorang gadis yatim. Pendidikan tidak sebagus My lady. Anda tentu tak akan mempermasalahkan hal ini dengan saya, kan?"Ketika Catherine sudah membawa kekurangannya sendiri ke depan umum, siapa lagi yang bisa mengejek walau sikapnya seperti gadis berpikiran dangkal?Kalau Annabelle masih tak terima, orang-orang hanya akan menganggapnya perempuan berpikiran sempit. Dengan wajah masam, Annabelle ban

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Tantangan Annabelle Wesley

    Suasana di aula dalam memang tidak terlalu hening tetapi bisik-bisik orang di belakang masih terdengar dengan jelas di telinga Catherine. Mau tak Mau, matanya melirik Annabelle Wesley. Rasa persaingan mendadak timbul di dalam hati. Gadis ini sangat cantik, punya talenta, juga dari keluarga baik-baik. Dengan kualitas ini masih belum berhasil mencuri perhatian Frederick. Bagaimana dengan dirinya? Tiba-tiba Annabelle Wesley mendongak. Mata mereka terkunci. Catherine merasakan aura dingin disana. "Kau kenapa?" senggol Wilona. "Kau juga menikmati kecantikan sang dewi?"Catherine tersenyum masam. Apa sejelas itu dia memperhatikan lawan. "Tak apa. Kurasa musiknya sangat bagus.""Dibanding kemampuanmu, itu tak seberapa."Entah karena suara Wilona yang terlalu keras atau nasib lagi apes, duchess Wesley mendengar jelas perkataan ini. Mana ada ibu yang suka kemampuan anaknya disepelekan.Rasa ingin tahu yang tinggi membuat beliau menoleh ke arah Elizabeth Campbell. "Lizzy, keponakanmu jag

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Gosip

    Keluarga Percy terbelalak. Kenapa mereka jadi seteru terhadap dua keluarga hebat di London hanya karena seorang gadis yatim? Melawan Fiona saja sudah sulit apa lagi Elizabeth Campbell. Wanita bergelar duchess ini tak pernah kenal takut. Tetapi kalau mundur sekarang, bukankah sangat memalukan? Inggrid mau menangis rasanya. Maju tak berani, mundur juga tak sanggup. Akhirnya Edward Percy membuka kerumunan orang-orang. Wajah tuanya yang berkerut menunduk malu. "Para nyonya sekalian, saya minta maaf atas perbuatan anak dan istri. Harap jangan diambil hati. Nanti begitu sampai di rumah, saya akan menasihati mereka dengan baik." Usai berkata demikian, dia menyeret Caroline dan Inggrid kedalam sementara Meredith di bawah kendali mertuanya. Situasi kembali aman. Meski di permukaan Catherine menang, pada kenyataannya orang-orang masih membicarakannya di belakang. Catherine tak ambil pusing. Dia membungkuk ke arah Fiona dan Elizabeth Campbell. "Terima kasih buat kedua lady. Kalau bu

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Hiburan Menyenangkan

    Tuduhan yang sangat keji tetapi semua orang mendengar dalam diam. Tak ada satu pun yang repot-repot membela Catherine. Pada saat ini, Fiona akhirnya maju. Tanpa sungkan menampar mulut Caroline bolak-balik. "Kalau countess Inggrid tak bisa mendidikmu, biar aku membantunya." Mata Caroline membelalak tak percaya. "Anda... menamparku?" "Kenapa tidak? Aku akan berdosa pada Frederick kalau tidak menampar mulutmu yang kurang ajar." "Kenapa aku kurang ajar? Semua yang kukatakan adalah fakta." "Apakah fakta yang kau maksud seterang mulutmu yang kurang ajar? Sepertinya kau senang sekali kalau kakakku mati di lautan. Dimana empatimu?" Kerumunan orang-orang mulai berbisik satu sama lain. Fakta bahwa Duke Hardy adalah pahlawan yang dikagumi semua orang sudah diketahui sejak dulu. Ketika seorang gadis muda dengan sombongnya tertawa sambil membicarakan kecelakaan sosok penting ini, mana mungkin hati mereka tidak dingin. "Ya, marchioness Seymour benar. Caroline Percy memang terlalu lancang.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status