ログインTeriakan itu pecah, merobek atmosfer dingin dan terkontrol di dalam kantor Damien Vargan. Itu bukan teriakan ketakutan dari seorang korban yang terpojok, melainkan raungan frustrasi dari seorang wanita yang integritasnya sedang diperkosa tepat di depan matanya. Gelas kristal di meja Damien bergetar pelan akibat resonansi suara Soraya yang memenuhi ruangan kedap suara itu.Soraya teriak histeris, air matanya merebak bukan karena sedih, tapi karena amarah yang membakar ulu hatinya. Dia menatap dua pria di hadapannya, suaminya yang merupakan simbol moralitas publik, dan selingkuhannya yang merupakan simbol kegelapan hukum, dan menyadari bahwa keduanya sama saja. Mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama; mata uang yang membeli nyawa manusia seolah itu adalah komoditas murah di pasar loak.Ia mengatakan, suaranya serak dan tajam, menunjuk wajah George dan Damien bergantian, "Aku tidak mau mengorbankan hidup orang lain! Kau dengar? Aku tidak peduli dengan strategi busuk kalian! Perse
Suasana ruang sidang itu hening, hanya suara dengungan pendingin ruangan dan ketukan sepatu Jaksa Penuntut Umum yang mondar-mandir di depan meja hijau yang terdengar. Soraya duduk di kursi saksi, sebuah kursi kayu keras yang terasa seperti panggangan di bawah sorotan lampu dan ratusan pasang mata.Di hadapannya, duduk majelis hakim yang tampak lelah namun berwibawa. Di samping kanan, duduk tim pembela "terdakwa" yang entah datang dari mana, mungkin pengacara publik yang ditunjuk hanya sebagai formalitas. Dan di sana, di kursi pesakitan, duduk Pak Budi Santoso, pria tua yang menunduk pasrah, tumbal dari permainan catur para dewa di menara gading.Jaksa mulai bertanya, suaranya menggema melalui mikrofon, memecah keheningan yang mencekam."Saudari Saksi, apakah Saudari mengenali terdakwa yang duduk di sana?"Soraya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seolah dilapisi pasir. Dia menoleh ke arah Pak Budi. Pria itu mengangkat wajahnya sedikit. Mata tua yang keruh itu bertemu dengan
Soraya terus mendesah, mengerang di bawah serangan Damien yang tidak mengenal belas kasihan."Hapus dia... hapus jejaknya!" racau Soraya di sela-sela napasnya yang putus-putus. "Jangan sisakan apapun dari George di dalam sini! Aku membencinya! Aku membencinya!"Permintaan itu seperti bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api obsesi Damien. Mengetahui bahwa George telah menyentuh wanita ini, memaksakan kehendaknya, dan mencoba menanamkan benih di rahim yang Damien anggap sebagai wilayah kekuasaannya, membuat darah pengacara itu mendidih.Dia tidak hanya sedang bercinta, dia sedang melakukan eksorsisme. Dia sedang mengusir hantu George dari tubuh Soraya dengan cara yang paling brutal dan efektif: menggantikannya dengan dominasi mutlak.Soraya membuka diri lebih lebar, kakinya melingkar erat di pinggang Damien, tumitnya menekan punggung pria itu, menariknya mendekat. Dia meminta Damien masuk lebih dalam, melampaui batas fisik, menyentuh jiwanya yang terluka."Kau tidak akan hamil anakn
Pagi itu, sinar matahari New York yang terik gagal menembus tirai tebal di ruangan sudut lantai teratas gedung pencakar langit tempat firma hukum Vargan & Associates bernaung. Suasana di dalam ruangan itu dingin, steril, dan beraroma maskulin yang mengintimidasi, campuran antara kulit mahoni tua dan cologne mahal yang menjadi ciri khas penghuninya.Pintu ganda dari kayu ek itu terbuka tanpa ketukan, sebuah pelanggaran protokol yang hanya berani dilakukan oleh segelintir orang. George melangkah masuk. Langkah kakinya mantap, namun terburu-buru, mengkhianati ketenangan yang biasanya ia proyeksikan. Ia tidak menunggu sekretaris Damien mengumumkan kedatangannya. Ia menerobos masuk layaknya seorang raja yang menuntut audiensi dengan bawahannya.Damien, yang sedang memeriksa berkas di balik meja kerjanya yang luas, bahkan tidak mendongak saat George masuk. Ia membalik halaman dokumen dengan gerakan lambat dan sengaja, membiarkan George berdiri di tengah ruangan selama beberapa detik, mencip
Cukup lama Soraya diam, mencerna ucapan George. Matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi, mencoba mencari oksigen di ruangan yang tiba-tiba terasa hampa udara. Dia membayangkan benih George bertemu dengan sel telurnya, menciptakan kehidupan yang akan mengikatnya selamanya pada pria manipulatif ini, menutup pintu kebebasannya, dan, yang paling menakutkan, menghancurkan perjanjian tak tertulisnya dengan Damien. Damien tidak akan mentolerir ini. Damien tidak mau berbagi wadah.Soraya mengumpulkan sisa keberaniannya yang terserak. Dia menyingkirkan tangan George dari perutnya dengan gerakan pelan namun tegas.Sampai akhirnya berkata, suaranya parau namun tidak bergetar, "Aku tidak mau."George, yang sedang menikmati fantasinya sendiri, mengerjap. Dia menoleh, menatap profil samping wajah istrinya. "Apa katamu?""Aku tidak mau punya bayi sampai kasusku selesai," ulang Soraya, kali ini menoleh untuk menatap mata suaminya. Tatapannya tajam, defensif. "Dan sekarang bukan waktu yang tep
Lampu gantung kristal di langit-langit kamar utama seolah menjadi mata Tuhan yang menatap dingin ke arah ranjang tempat Soraya terbaring tak berdaya. Napas George terdengar berat dan kasar, memenuhi ruangan yang biasanya sunyi dan steril itu.Tidak ada lagi kelembutan, tidak ada lagi basa-basi diplomatik yang biasa menjadi tameng suaminya. Malam ini, George telah menanggalkan topengnya, menyisakan seorang pria yang dikuasai oleh insting purba untuk mengklaim kembali apa yang ia rasa mulai lepas dari genggamannya.Tanpa menunggu George melucuti pakaian Soraya, pria itu berdiri tegak di tepi ranjang, menatap istrinya dengan sorot mata yang menggelap oleh kabut nafsu dan kemarahan. Soraya masih mengenakan dress yang ia pakai seharian, kainnya kini kusut dan tersingkap hingga ke paha, menampilkan kulit putih yang gemetar ketakutan.George tidak berusaha membuka dress itu dengan sabar. Baginya, pakaian itu hanyalah pembungkus yang menghalangi aksesnya.Dia berkata, suaranya rendah dan penu







