LOGINSoraya terus mendesah, mengerang di bawah serangan Damien yang tidak mengenal belas kasihan."Hapus dia... hapus jejaknya!" racau Soraya di sela-sela napasnya yang putus-putus. "Jangan sisakan apapun dari George di dalam sini! Aku membencinya! Aku membencinya!"Permintaan itu seperti bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api obsesi Damien. Mengetahui bahwa George telah menyentuh wanita ini, memaksakan kehendaknya, dan mencoba menanamkan benih di rahim yang Damien anggap sebagai wilayah kekuasaannya, membuat darah pengacara itu mendidih.Dia tidak hanya sedang bercinta, dia sedang melakukan eksorsisme. Dia sedang mengusir hantu George dari tubuh Soraya dengan cara yang paling brutal dan efektif: menggantikannya dengan dominasi mutlak.Soraya membuka diri lebih lebar, kakinya melingkar erat di pinggang Damien, tumitnya menekan punggung pria itu, menariknya mendekat. Dia meminta Damien masuk lebih dalam, melampaui batas fisik, menyentuh jiwanya yang terluka."Kau tidak akan hamil anakn
Pagi itu, sinar matahari New York yang terik gagal menembus tirai tebal di ruangan sudut lantai teratas gedung pencakar langit tempat firma hukum Vargan & Associates bernaung. Suasana di dalam ruangan itu dingin, steril, dan beraroma maskulin yang mengintimidasi, campuran antara kulit mahoni tua dan cologne mahal yang menjadi ciri khas penghuninya.Pintu ganda dari kayu ek itu terbuka tanpa ketukan, sebuah pelanggaran protokol yang hanya berani dilakukan oleh segelintir orang. George melangkah masuk. Langkah kakinya mantap, namun terburu-buru, mengkhianati ketenangan yang biasanya ia proyeksikan. Ia tidak menunggu sekretaris Damien mengumumkan kedatangannya. Ia menerobos masuk layaknya seorang raja yang menuntut audiensi dengan bawahannya.Damien, yang sedang memeriksa berkas di balik meja kerjanya yang luas, bahkan tidak mendongak saat George masuk. Ia membalik halaman dokumen dengan gerakan lambat dan sengaja, membiarkan George berdiri di tengah ruangan selama beberapa detik, mencip
Cukup lama Soraya diam, mencerna ucapan George. Matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi, mencoba mencari oksigen di ruangan yang tiba-tiba terasa hampa udara. Dia membayangkan benih George bertemu dengan sel telurnya, menciptakan kehidupan yang akan mengikatnya selamanya pada pria manipulatif ini, menutup pintu kebebasannya, dan, yang paling menakutkan, menghancurkan perjanjian tak tertulisnya dengan Damien. Damien tidak akan mentolerir ini. Damien tidak mau berbagi wadah.Soraya mengumpulkan sisa keberaniannya yang terserak. Dia menyingkirkan tangan George dari perutnya dengan gerakan pelan namun tegas.Sampai akhirnya berkata, suaranya parau namun tidak bergetar, "Aku tidak mau."George, yang sedang menikmati fantasinya sendiri, mengerjap. Dia menoleh, menatap profil samping wajah istrinya. "Apa katamu?""Aku tidak mau punya bayi sampai kasusku selesai," ulang Soraya, kali ini menoleh untuk menatap mata suaminya. Tatapannya tajam, defensif. "Dan sekarang bukan waktu yang tep
Lampu gantung kristal di langit-langit kamar utama seolah menjadi mata Tuhan yang menatap dingin ke arah ranjang tempat Soraya terbaring tak berdaya. Napas George terdengar berat dan kasar, memenuhi ruangan yang biasanya sunyi dan steril itu.Tidak ada lagi kelembutan, tidak ada lagi basa-basi diplomatik yang biasa menjadi tameng suaminya. Malam ini, George telah menanggalkan topengnya, menyisakan seorang pria yang dikuasai oleh insting purba untuk mengklaim kembali apa yang ia rasa mulai lepas dari genggamannya.Tanpa menunggu George melucuti pakaian Soraya, pria itu berdiri tegak di tepi ranjang, menatap istrinya dengan sorot mata yang menggelap oleh kabut nafsu dan kemarahan. Soraya masih mengenakan dress yang ia pakai seharian, kainnya kini kusut dan tersingkap hingga ke paha, menampilkan kulit putih yang gemetar ketakutan.George tidak berusaha membuka dress itu dengan sabar. Baginya, pakaian itu hanyalah pembungkus yang menghalangi aksesnya.Dia berkata, suaranya rendah dan penu
Lampu kristal di foyer yang menyilaukan itu seolah menjadi lampu interogasi bagi Soraya. Berdiri di hadapan George yang baru saja pulang dari London, lebih cepat dari jadwal, dengan tatapan mata yang tajam dan setelan trench coat yang membuatnya terlihat seperti detektif di film noir, Soraya tahu dia hanya punya waktu sepersekian detik untuk mengubah narasi.Aroma Damien masih samar-samar menempel di kulitnya, sebuah bom waktu aroma yang bisa meledak kapan saja jika George mendekat terlalu agresif. Kepanikan yang sempat menyergapnya harus segera dikubur dalam-dalam, digantikan oleh akting terbaik yang pernah dia pelajari dari sang pengacara iblis.Soraya memasang wajah tenang, sebuah topeng dingin yang menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu seperti kuda liar. Dia tidak mundur. Dia tidak menunduk. Dia membalas tatapan suaminya dengan sorot mata lelah yang mengandung sedikit kemarahan, seolah kedatangan George dan pertanyaannya adalah gangguan yang tidak perlu."Ya, aku memang ter
Rutinitas itu terbentuk dengan cepat, menjadi candu yang lebih mematikan daripada narkotika jenis apa pun. Pertemuan Soraya dan Damien makin intens, melampaui batas kewajaran hubungan antara klien dan kuasa hukum.Setiap hari, dengan dalih "konsultasi mendalam" atau "persiapan berkas pra-peradilan", Soraya melangkahkan kakinya ke kantor firma hukum Vargan & Associates yang terletak di puncak gedung pencakar langit itu.Gedung itu bukan lagi tempat mencari keadilan baginya, itu adalah kuil pemujaan di mana Soraya dengan sukarela mengorbankan harga dirinya di altar nafsu Damien.Polanya selalu sama, mereka akan membahas kasus selama sepuluh menit, formalitas belaka di mana Damien menjelaskan strategi hukum dengan nada profesional yang dingin, dan sisa jam-jam berikutnya berakhir dengan percintaan liar dan kurang ajar. Meja kerja mahoni yang kokoh itu telah menjadi saksi bisu bagaimana tubuh Soraya dilipat, dibentangkan, dan dinikmati dalam berbagai posisi yang tidak pernah ia bayangkan







