LOGIN“Dik! Kalau cuma buat nyimpan saja? Terus kapan-kapan diambil lagi? Gimana?”“Pasang CCTV saja Jo, aku jadi takut! Kamu nanti curiga sama aku!” omel Dika dengan nada agak kesal. Dia memang tidak pernah membawa wanita masuk ke galeri apalagi melakukan hubungan intim. Para cewek dan para wanita yang datang semuanya adalah pelanggan. Ada juga teman Jordy dan Dika semasa mereka duduk di bangku Kuliah dan SMA.“Apa iya? CCTV?”“Iya! Harus! Di depan pintu masuk, di dalam sini, di samping dekat pintu yang menghubungkan ke rumah kamu.” Ujarnya.Jordy setuju, dan dia segera meminta petugas untuk memasang kamera pengawas di sekitar galeri. Kamera akan dipasang pada keesokan harinya.“Ini tadi kamu ngomongin job, di kampus? Kampus mana?” Tanya Jordy pada Dika.“Kampus dekat sini, kita diminta bikin bayground untuk dinding pagar bagian dalam dan luar gedung. Ada juga dari gedung sekolah SMP, apa kota mau rombak besar-besaran? Kita jadi kebanjiran job begini.” Ujarnya pada Jordy.“Nggak tahu ini b
Jordy tidak menolak, Jordy langsung mengangkat tubuh Ajeng membawanya masuk ke dalam kamar tidur. Ajeng tersenyum senang, ranjang dalam kamar mulai bergerak saat pasangan itu memulai aktivitas mereka. Ajeng memilih menungging sambil memegangi sandaran ranjang, sementara Jordy menyodok Ajeng dari belakang sambil memainkan kedua puting Ajeng.“Aah, ah, Joo, oukh, ah, terus Jo, oukh, puaskan aku, ah. Emm, akh!” Ajeng mendesah nikmat. Suara berisik Ajeng memenuhi kamar mereka berdua.Puas bermain dengan posisi menungging Ajeng mengganti posisi dengan rebah telentang, Jordy tinggal di atas tubuh Ajeng dan mulai menyodok liang intim Ajeng yang basah.“Sudah Jo, akh, sudah, aku sudah keluar, selesaikan segera!” Pinta Ajeng padanya.Jordy setuju dan segera mengakhiri permainan panas mereka berdua. Ajeng tidur lebih dulu, nampaknya ajeng sangat kelelahan karena aktivitas panas yang mereka lakukan selama beberapa hari ini. Setelah memakai bajunya Jordy memutuskan untuk kembali ke galeri depan.
“Akhh, iya, Jo terus, sayang, oukhh, sampai kamu puas aahh, emhh Jo.” Ajeng meremas putingnya sendiri sambil mendongak nikmat. Tubuh telanjang Ajeng sangat sempurna di mata Jordy. Jordy melumat bibir Ajeng lalu mengeluarkan cairannya segera. Jordy menumpahkan semuanya di dalam liang intim Ajeng.“Jo, aku puas sekali, sayang..” ujarnya dengan senyum mesra. Jordy merebahkan tubuh basah Ajeng di atas kasur lalu menciumi bibirnya.Pukul sembilan Jordy baru bisa meninggalkan rumah. Pria itu segera pergi ke sekolah di mana dia mengajukan lamaran kerja untuk Ajeng. Bukan hal sulit untuk mendapatkannya. Ajeng sudah memiliki persyaratan yang cukup untuk bekerja di sana. Sekolah itu juga tidak jauh dari galeri Jordy, sekitar lima ratus meter. Ajeng juga setuju untuk mengisi kelas di sana.Jordy pulang ke rumah dengan kabar baik untuk Ajeng. Ajeng sedang membuat makanan di dapur. Ajeng memakai baju terusan sebatas bawah bokongnya. Gadis itu tidak memakai dalaman sama sekali. Jordy tadinya kaget
Jordy menekan lidahnya masuk ke dalam liang intim Ajeng, lalu memelintir kacang kecil di area intim Ajeng sampai cairan Ajeng meluber keluar. Jordy menjilatinya dan menyesapnya sampai habis.“Akhh, aawhh, aauhhh, Jo, eemhh, aahhh. Jo aah, ampun Jo.” Ajeng mengerjap nikmat cairannya semakin banyak yang keluar.“Slurrp, sluurp, oukh, Jeng, cairanmu banyak sekali,” serunya sambil menyesap liang intim Ajeng. Jordy menekan kacang kecil milik Ajeng sampai cairan wanita itu terus meleleh keluar dari selangkangan Ajeng yang mulus. Jordy bergairah dan semakin bersemangat untuk terus menyesap area intim Ajeng.“Joo, ampun, aakhh, Jooo, aku klimaks, oukhhh.” Ajeng meremas kedua putingnya sendiri sambil menatap lidah Jordy yang masih sibuk pada area intimnya. “Jo ayo sodok aku, sayang,” pintanya dengan penuh gairah.Jordy menuruti keinginan Ajeng, pria itu menyodok liang intim Ajeng dari sebelah meja makan, kedua paha Ajeng Jordy letakkan di atas kedua lengannya. Tubuh telanjang Ajeng mulai berge
Hari sudah sore, Ajeng turun dari lantai atas dan masuk ke dalam rumah. Jordy mengikutinya dari belakang, pria itu membawakan kerajang berisi jemuran masuk mengikuti Ajeng.“Taruh di sana saja, Jo.”Jordy tidak menyahut, pria itu meletakkannya di atas sofa, seperti kata Ajeng. Ajeng berjalan ke sofa dan mulai melipat baju dari dalam keranjang.“Kalau malam kamu lembur juga Jo?” Tanya Ajeng pada Jordy sambil menatap ke arah pria itu sekilas.Jordy nampak merapikan lukisan dari bawah dinding lalu meletakkanya ke ruangan lain. Ajeng tidak tahu kenapa Jordy memindahkannya.“Ya, kadang. Kalau banyak pesanan ya lembur.” Sahutnya sambil berjalan menuju ke arah Ajeng lalu duduk di sebelah Ajeng.“Kamu pasti lelah karena seharian bekerja. Sudah, kamu tidur saja Jo. Aku juga hanya melipat baju lalu pergi tidur setelah ini.”“Seharusnya kamu nggak perlu cucikan bajuku, kesannya aku menjadikanmu pelayan di rumah ini, Jeng. Aku nggak mau kamu terbebani seperti saat kita masih tinggal di bangku SMA
“Oukhh Jo, oukhh, Jo, puaskan aku lagi, ouhhh.”Ajeng dan Jordy kembali bergumul di atas ranjang. Dalam keadaan telanjang bulat mereka berdua mulai melepaskan gairah satu sama lain. Sekitar dua jam Ajeng dan Jordy bercinta di dalam kamar mereka.Puas bercinta dengan Ajeng, Jordy bangun dari atas ranjangnya lalu pergi keluar dari dalam kamarnya. Seharian Jordy menghabiskan waktu di galeri depan untuk menyelesaikan pekerjaannya.Dika juga sedang bekerja, ia mengukir senyum melihat Jordy datang dan memulai pekerjaannya.“Jo, banyak tuh kerjaan kamu. Masa iya semalam penuh masih kurang?” kelakar Dika lantaran melihat cupang merah pada leher Jordy kiri dan kanan. “Ganas banget pacar kamu, nggak ngira.”“Hus! Sudah! Diem! Nanti Ajeng marah-marah kalau dia dengar.” Jordy meminta Dika diam dan dia mulai mengerjakan kembali pekerjaannya. Pesanan tersebut merupakan pekerjaan yang dia jeda karena hendak pergi ke Bali. Kali ini Jordy membatalkannya karena Ajeng setuju untuk ikut bersama dengannya







