Dia menunduk sedikit, tersenyum tipis ke arah Luca. "Sudah waktunya Paman pergi."Wajah Luca langsung berubah. Keceriaan yang tadi sempat terlihat kini tergantikan dengan ekspresi sedih."Tapi paman akan mengunjungiku lagi, kan?" Tanya Luca yang lalu dengan cepat menangkap tangan Damien, menggenggamnya erat.Damien terdiam sejenak. Hatinya bergejolak. Dia ingin sekali mengatakan 'iya,' namun dia tahu, jika dia mengiyakan, itu bisa membuat Chiara marah, sesuatu yang jelas ingin dia hindari.Luca menatap Damien dengan mata yang berbinar, penuh harap. Damien menggaruk kepalanya dengan bingung, berusaha mencari jawaban yang tepat.Tiba-tiba, suara Chiara terdengar, memecah kebisuan. "Iya, sayang," suaranya terdengar lembut tapi tegas, matanya kini beralih menatap Damien."Paman Damien bisa mengunjungimu lagi, Iya, kan, Tuan?"Damien merasa seolah bebannya terangkat. Chiara baru saja memberinya izin, meskipun secara tidak langsung.Dia mengangguk pelan, menarik napas lega. "Iya, aku pasti
“Kamu... kamu Chiara, kan?” suara Damien terdengar serak, hampir seperti bisikan yang tertahan. Matanya menatap lekat ke wajah wanita di hadapannya, seakan mencoba menemukan kembali bayangan masa lalu yang pernah begitu akrab.Wajah yang dulu setiap hari menemaninya, wanita yang dulu memberinya semangat, dan yang harus ia lepaskan karena kebodohannya.Tangan Damien bergerak pelan ke arah wajah Chiara, tanpa sadar, seakan ingin memastikan bahwa sosok di depannya benar-benar nyata. Matanya sedikit berkabut, penuh dengan kerinduan yang tertahan selama bertahun-tahun.Ia bisa melihat setiap detail di wajah Chiara, alisnya yang sedikit melengkung, matanya yang masih sama mempesona, bibirnya yang kini tampak lebih tegas.Chiara tetap diam, tubuhnya kaku, wajahnya tak menoleh. Namun, detik-detik sebelum jemari Damien menyentuh kulitnya, Chiara dengan cepat menepis tangan itu, tidak keras, hanya sebuah gerakan lembut tapi jelas."Terima kasih sudah menolong putraku," Chiara berbicara untuk pe
Sejak Damien mendonorkan darah untuknya, kondisi Luca berangsur membaik. Sesekali, dokter dan perawat datang mengecek keadaan bocah itu. Dokter Moretti selalu memberikan anggukan kecil setiap kali melihat perkembangan Luca. Perawat-perawat yang berjaga pun tersenyum lega, memperbaiki letak selang infus dengan hati-hati.“Bagaimana kabar jagoan kita?” sapa salah satu perawat dengan lembut, matanya berbinar melihat pipi Luca yang mulai berwarna kemerahan.Damien tersenyum tipis, sementara Luca hanya mengangguk, sedikit tersipu. Setiap kali tim medis datang, Luca tampak lebih cerah, seolah setiap kata pujian mereka menjadi obat tambahan yang membuatnya semakin kuat.Setelah tim medis keluar, Damien kembali melanjutkan ceritanya. “Nah, seperti yang aku bilang tadi, di Kanada, ada danau yang membeku saat musim dingin. Kau tahu, orang-orang bisa berjalan di atasnya, bahkan mereka bisa bermain seluncur es di sana.”Mata Luca membulat takjub. “Berjalan di atas danau? Tapi itu air, bagaimana b
Dona dan Tessa berdiri dari kursi mereka dengan perlahan, memberikan senyuman kecil kepada Damien yang masih duduk di samping ranjang Luca. Dona mengambil tasnya, sementara Tessa merapikan rambut yang sedikit berantakan, mereka bersiap meninggalkan ruangan.Damien mengangguk pelan ketika Dona memberikan isyarat dengan matanya, seolah meminta izin untuk pergi. “Aku akan mengurus administrasi untuk kepulanganmu, Damien,” ujar Dona lembut.“Dan aku akan membereskan barang-barang Pak Damien di kamar VIP,” tambah Tessa, sambil tersenyum lembut ke arah Damien.Damien tersenyum simpul, matanya tenang seperti biasa. “Terima kasih,” jawabnya singkat, mengangguk kecil sebagai tanda izin bahwa mereka boleh pergi.Sebelum benar-benar melangkah keluar, Dona dan Tessa mendekat ke ranjang Luca. Anak laki-laki itu masih berbaring lemah, tapi senyumnya tak pernah pudar. Mata birunya yang cerah memandang Dona dan Tessa dengan penuh rasa terima kasih.“Terima kasih, Bibi,” ucap Luca dengan suara pelan,
Damien duduk di kursi transfusi, lengan kirinya terbuka, dengan jarum infus yang tertancap di bawah kulitnya. Wajahnya terlihat tenang, saat proses transfusi darah berlangsung. Sorot matanya lurus saat ia tenggelam dengan pikirannya sendiri, sementara darah mengalir perlahan melalui tabung menuju kantong transfusi di sampingnya.Di sisi lain, Dokter Morretti berdiri tegap, memperhatikan monitor dengan seksama. Ia tahu betapa berartinya darah yang Damien donorkan ini.Di sudut ruangan, Dona dan Tessa tak henti-hentinya memperhatikan Damien. Dia dan Tessa sesekali terlibat percakapan dengan suara pelan,salah satu isi percakapan mereka tentang identitas anak laki-laki, yang wajahnya terlihat mirip dengan Damien.“Dia hanya butuh satu kantong,” gumam Dokter Morretti setelah memeriksa catatan medis. “Proses ini tidak akan lama.”Waktu berjalan lambat. Sekitar tiga puluh menit berlalu dalam keheningan, hanya suara mesin yang terdengar.Akhirnya, kantong darah penuh, dan mesin otomatis berhe
Damien mengangguk, menatap Dona dengan tenang. "Dokter Moretti sudah bilang kalau kondisiku baik-baik saja. Kamu tak perlu khawatir," katanya sambil memberikan senyuman khasnya.Meskipun masih terlihat cemas, Dona dan Tessa akhirnya setuju untuk membiarkan Damien menjalani proses donor darah. Dokter Moretti segera meminta perawat untuk menyiapkan ruangan dan peralatan untuk proses transfusi."Baiklah, Tuan Damien. Silakan kita pindah ke ruangan donor," kata Dokter Moretti sambil membuka pintu, menunggu Damien dan kedua wanita itu mengikuti.Damien berjalan keluar dari ruang perawatannya dengan bantuan perawat yang menemani, diapit oleh Dona dan Tessa di kedua sisinya. Mereka berjalan menuju ruang donor, namun saat mereka tiba di meja perawat yang berjaga di depan pintu, seorang perawat muda yang sedang berdiri di sana tiba-tiba terkejut melihat Damien.Mata perawat itu membelalak sesaat, sebelum buru-buru menormalkan ekspresinya. Ekspresi kaget itu tidak luput dari perhatian Damien, D
Selama tiga hari, Dona dan Tessa secara bergantian menemani Damien di kamar VIP, selalu berada di sisinya, memastikan Damien mendapat perawatan yang baik. Kedua wanita cantik itu berbagi tugas dengan baik, satu malam Dona yang menjaga, malam berikutnya Tessa. Keduanya memastikan Damien tidak pernah merasa sendirian.Sedangkan Tyler hanya berkunjung sesekali untuk melihat Damien, Ia bersama Nathalie, sibuk mencari jejak keberadaan Chiara yang hilang secara misterius.Mereka berdua terus bergerak tanpa jeda, namun belum menemukan titik terang keberadaan Chiara. Tidak lupa Tyler memberikan kabar kepada Dona dan Tessa.Sementara itu, kedua orang tua Damien, yang tidak bisa datang karena kesibukan mereka di luar negeri, terus memantau perkembangan kondisi anak mereka dari jauh. Setiap beberapa jam, Tessa atau Damien sendiri akan menerima panggilan dari mereka.Pukul 11 siang waktu Roma, suasana di kamar VIP Damien terasa sedikit lebih tenang dari biasanya. Dokter Moretti, pria paruh baya y
Damien perlahan membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lembut yang menerangi ruangan. Langit-langit putih di atasnya tampak asing. Kepalanya masih terasa berat, seolah beban tak kasat mata menekan pelipisnya. Samar-samar, suara percakapan terdengar dari ujung ruangan. Ia tidak mengenali suara pria yang berbicara, namun telinganya menangkap suara lembut yang ia kenal, Dona."Apa dia baik-baik saja, Dok?" Suara Dona terdengar penuh kekhawatiran."Kondisinya stabil. Tidak ada cedera serius, hanya kelelahan dan kurang istirahat. Itu penyebab dia pingsan," jawab pria itu, yang tak lain adalah dokter yang merawat Damien.Damien mencoba menggerakkan tubuhnya, merasakan nyeri di beberapa bagian. Pandangannya semakin jelas, memperlihatkan pemandangan ruangan sederhana dengan perabot minimalis. Sebuah ranjang rumah sakit, tirai putih yang sedikit berayun karena AC, dan monitor di sisi tempat tidurnya yang mengeluarkan bunyi ritmis lembut.Dokter menoleh k
Tiga hari kemudian, Damien dan Tessa turun dari jet pribadi di Bandara Leonardo da Vinci–Fiumicino, Roma. Matahari pagi yang cerah menyambut mereka, menyinari landasan yang luas dan menghangatkan udara sekitar. Damien mengenakan setelan jas hitam klasik dengan kemeja putih di dalamnya.Kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya, namun tak bisa menyembunyikan garis rahangnya yang tegang. Langkah kakinya yang mantap tak bisa menyembunyikan guncangan batinnya saat memandang langit biru Roma yang cerah.Ketika angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, seolah memaksa kenangan lama tentang Chiara kembali membanjiri pikirannya. Wajahnya yang dulu dipenuhi dengan tawa bahagia, kini terbayang dengan jelas di benak Damien.Suara tawanya, senyum yang selalu menenangkan, semuanya seakan kembali hidup dalam ingatan, memukul dadanya dengan rasa rindu yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Jantungnya bergetar, rasa sakit yang ia pikir sudah hilang ternyata hanya bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk m