Mag-log inBar itu tidak ramai, tapi cukup penuh untuk menenggelamkan suara di kepala Winter yang sejak pagi terus berputar. Lampu temaram membuat wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Ia mengangkat gelas, menenggak isinya tanpa benar-benar memikirkan rasa.
Jika dunia luar ingin menertawakan dan menghakiminya, biarlah. Karirnya sudah rusak. Namanya dicaci. Orang yang mengaku mencintainya menghilang. Setidaknya disini, ia bisa diam tanpa harus menjelaskan apa pun. Kepalanya jatuh ke meja bar, napasnya berat. Suara kursi di sampingnya bergeser perlahan, menandakan ada seseorang baru saja duduk. Winter tidak peduli, sampai orang itu membuka suara memesan minuman. Nada suaranya rendah, familiar. Winter mengangkat kepala dengan susah payah. Tepat di sampingnya, dengan topi yang menutupi sebagian wajahnya, Greyson Hale. Winter tersenyum tipis, miris. “Pria itu lagi,” gumamnya pelan. Apa yang dilakukan seseorang seperti Greyson di tempat semacam ini? Dengan karir gemilang, wajah sempurna, dan hidup yang seharusnya lancar. Apa alasan pria itu duduk sendirian di bar pada malam seperti ini? Tanpa berpikir panjang, Winter menatapnya dan mengucapkan kalimat paling gila yang keluar dari mulutnya dalam keadaan mabuk. “Apa kau mau tidur denganku?” Greyson menoleh. Ia tidak mengatakan apa pun, tapi ekspresi datarnya cukup jelas. Perempuan ini sudah kehilangan akal. Winter tertawa kecil, entah mengejek diri sendiri atau keadaan. “Hidupku berantakan. Karirku hancur. Sekarang aku harus bayar denda. Kerjaan saja tidak punya. Bagaimana aku bayar semuanya?” Ia kembali meneguk minumannya, lalu melirik Greyson lagi. “Nah… tidurlah denganku. Aku masih perawan. Kau bisa bayar aku setelahnya.” “Kau mabuk,” jawab Greyson pendek, suaranya datar tapi tidak kasar. Winter mengibaskan tangan seolah menyuruhnya diam. “Seseorang sepertimu pasti tidak pernah susah. Makanya sombong. Terlalu sempurna sampai merasa tidak tersentuh.” Greyson mengerutkan dahi. “Kapan aku seperti itu?” “Kapan?” Winter memutar mata. “Kau selalu begitu. Kau tidak pernah datang ke pesta agensi. Padahal itu pesta merayakan kesuksesan film dan dramamu. Semua orang memaklumi, tidak ada yang berani mengkritik. Karena itu kau bertingkah sesukamu.” Greyson memandangnya lebih lama. “Jadi, menurutmu aku seperti itu?” “Kurasa semua orang berpikir sama,” sahut Winter, kini bersandar lemas pada meja. “Hanya saja kau baru dengar dari aku. Pengkritik pertamamu.” Ia mengangkat gelas kosong. “Tapi percayalah. Aku bukan haters-mu.” Kalimat itu melayang di udara. Racauan seorang perempuan yang kehilangan pegangan hidup. Namun untuk pertama kalinya jujur tanpa filter. “Ah, aku pernah mendengar rumor tentangmu.” Winter bersandar santai, namun nada suaranya jelas memancing. Greyson, yang sejak tadi hanya memutar gelas minumannya, perlahan menoleh. “Mau dengar?” Winter memiringkan kepala, menimbang reaksinya. “Katanya kau gay. Tidak mungkin pria sesempurna dirimu tidak punya kekasih. Jadi… rumor itu benar?” Greyson diam beberapa detik. Tatapannya datar, sulit terbaca. “Apa kau ingin membuktikannya?” Winter mengerjap. “…Apa?” “Orientasi seksualku.” Belum sempat Winter memprotes, Greyson menariknya dengan satu gerakan terukur. Tangannya melingkari pinggang Winter, memutar tubuhnya hingga kini mereka berhadapan begitu dekat. Napas Winter terhenti sepersekian detik melihat wajah pria itu tepat di depan matanya. Greyson menatapnya lama. Seolah memastikan Winter benar-benar paham konsekuensi dari pertanyaannya. Pandangannya turun perlahan ke bibir Winter. Dan tanpa peringatan, Greyson menutup jarak. Ciumannya tidak terburu-buru, tapi pasti. Seolah hanya ingin memberikan satu jawaban sederhana. Rumor itu salah. Winter membeku sesaat, tubuhnya refleks menegang sebelum akhirnya tangannya mencari sandaran di dada Greyson. “Kalau kau sadar besok pagi,” Greyson menatapnya lurus, “kau akan menyesal pernah menanyakan itu.”Setelah menghabiskan beberapa hari di rumah sakit, Greyson akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah stabil, meski pergelangan kakinya masih terbalut perban tebal. Setiap langkah yang ia ambil kini harus dibantu sepasang kruk, gerakannya lebih pelan dari biasanya, jauh dari sosok Greyson yang dikenal selalu sigap dan penuh kontrol.Lorong rumah sakit terasa lebih sunyi saat ia melangkah keluar. Ada rasa lega karena bisa meninggalkan bau antiseptik dan suara alat medis, tapi juga ada ketidaknyamanan yang mengendap, ketergantungan, keterbatasan, dan jeda paksa dalam hidup yang biasanya bergerak cepat.Greyson tidak menyukainya. Namun, ia tidak punya pilihan selain menerima.Mereka tiba di apartemen. Mike sigap seperti biasa, membantu Greyson berjalan hingga masuk ke kamar. Setelah memastikan pria itu berbaring dengan nyaman, Mike keluar dan duduk di sofa ruang tamu, menghembuskan napas panjang untuk pertama kalinya hari itu.Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Winter muncu
Winter mendongak. Ada dorongan kuat di dadanya. Keinginan untuk melihat Greyson, memastikan dengan matanya sendiri bahwa pria itu baik-baik saja. Namun rasionalitasnya lebih dulu berbicara. Rumah sakit terlalu berisiko. Terlalu banyak mata.Ia menggeleng perlahan.“Aku mempercayakan Greyson padamu, Mike,” ucap Winter akhirnya.Kalimat itu terdengar tenang. Padahal di baliknya, ada kegelisahan yang belum juga reda dan keinginan yang ia paksa untuk tetap disimpan sendiri.***Mike kembali ke rumah sakit. Greyson sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Pria itu setengah bersandar di ranjang, ponsel di tangannya, fokus pada permainan yang sebenarnya tidak benar-benar ia nikmati. Ia hanya sedang membunuh waktu dan kebosanan.Saat pintu terbuka, Greyson sempat melirik ke arah sana. Ada jeda sepersekian detik, harapan kecil yang nyaris tak ia akui. Namun yang masuk adalah Mike.Ekspresi kecewa itu cepat ia tekan, terlalu singkat untuk dibaca orang lain. Greyson mematikan ponselnya dan meletakk
Greyson mengerang pelan. Suara itu nyaris tak terdengar, namun cukup untuk memecah keheningan.Mike langsung bereaksi. Ia berlari menghampiri, menjadi orang pertama yang paling panik di antara kerumunan yang mulai bergerak.“Greyson, jangan berdiri! Jangan dipaksa,” ucapnya cepat, berlutut di hadapan Greyson tanpa peduli debu di celananya.Tangannya gemetar saat hendak menyentuh pergelangan kaki Greyson, lalu ragu. Takut salah, takut memperparah. Mike menoleh tajam ke arah kru.“Panggil tim medis. Sekarang!”Beberapa orang langsung bergerak. Yang lain mundur, memberi ruang. Greyson masih bertumpu pada satu lutut, napasnya berat, keringat bercampur debu menempel di pelipisnya.“Bisa berdiri?” tanya Mike lebih pelan, suaranya turun, cemasnya tak bisa lagi disembunyikan.Greyson menggeleng singkat. Rahangnya mengeras, menahan lebih dari sekadar rasa sakit.“Bukan apa-apa,” gumamnya, entah pada Mike atau pada dirinya sendiri.Namun cara tangannya mencengkram aspal terlalu kuat untuk diseb
Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sunyi di apartemen itu terasa menekan, berbeda dengan sunyi yang biasa ia nikmati. Sunyi kali ini penuh gema nama Winter, suara Winter, dan kata tidak yang diucapkannya dengan tegas.Nyaman, Greyson mengulang kata itu dalam kepalanya. Dia nyaman… tanpa aku dikenal sebagai bagian dari hidupnya.“Aku tidak pernah meminta banyak,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam. “Aku hanya tidak ingin merasa sendirian saat aku bersamamu.”Ia menutup mata sejenak. Bayangan Winter muncul begitu saja, cara perempuan itu menarik napas saat gugup, caranya berpura-pura tenang ketika jelas-jelas sedang ketakutan. Cara ia selalu berdiri di antara ingin dan takut, memilih aman meski harus mengorbankan sesuatu.Ia bangkit setengah duduk, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Sepatu bayi itu masih ada di tangannya, kini terasa semakin berat.“Kenapa aku membelimu?”“Apa aku berharap sesuatu yang bahkan belum tentu ia inginkan?”Greyson
Stella sudah melangkah pergi ketika tinggal dua langkah lagi menuju pintu. Tangannya terangkat hendak meraih gagang, lalu ia berhenti.Ia menoleh pelan, ekspresinya berubah seolah baru mengingat sesuatu yang nyaris terlupa. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya.“Ah,” gumamnya ringan. “Aku hampir lupa.”Winter menegakkan tubuhnya, instingnya langsung menegang.Stella berbalik setengah, menyandarkan bahunya ke arah Winter. Tatapannya tajam, penuh minat yang tidak disembunyikan lagi. “Sekarang aku mengerti,” lanjutnya. “Kenapa Greyson bisa terlihat… dekat denganmu.”Ia melangkah mendekat, jaraknya cukup dekat untuk membuat Winter sulit menghindar tanpa terlihat mencurigakan. “Kau bukan sekadar menolong Greyson Hale,” ucap Stella perlahan. “Kau tahu kelemahannya.”Winter menahan napas. “Aku tidak tahu apa yang kau maksud.”Stella terkekeh kecil. Bukan tawa senang, lebih seperti konfirmasi. “Oh, Winter,” katanya lembut, hampir simpatik. “Kau terlalu cepat menyangkal.”Ia mencondongkan tub
Greyson berbalik menuju kamar dengan langkah senyap. Tepat sebelum pintu menutup, ia menoleh sekali lagi sekilas, tanpa kata.Hening belum sempat benar-benar mengendap ketika ketukan kembali terdengar.Lebih keras.Winter menarik napas panjang, merapikan rambutnya dengan cepat. Tangannya sempat gemetar saat memegang gagang pintu, namun ia memaksa ekspresi netral sebelum membukanya.Stella berdiri di sana. Wajahnya tersenyum, tapi matanya bergerak cepat menilai, mengamati.“Maaf mengganggu,” ucap Stella ringan. “Aku mengetuk dari tadi.”“Tidak apa,” jawab Winter, suaranya berhasil terdengar stabil. “Aku sedang bekerja.”Stella melangkah setengah inci ke depan, pandangannya meluncur melewati bahu Winter. Ke dalam apartemen, ke sofa, ke ruangan yang terasa… hangat. Terlalu hangat untuk sekadar ruangan kosong.“Kau sendirian?” tanya Stella, terlalu santai untuk sekadar basa-basi.Winter menahan refleks menoleh ke belakang. “Ya.”Satu kata. Pendek. Terlalu cepat.Stella tersenyum namun ins







