Beranda / Romansa / Skandal Panas Tuan Aktor / Bab 4 Menikahlah Denganku

Share

Bab 4 Menikahlah Denganku

Penulis: Secret juju
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-18 15:25:38

Pagi harinya, Winter terbangun seorang diri di kamar hotel dekat bar yang ia kunjungi semalam. Kepalanya berat, seperti baru dipukul dari dalam. Ia mengerjap beberapa kali, ruangan masih gelap, tirai tertutup rapat. Hanya samar-samar ia ingat Greyson yang membawanya ke sini.

Setelah sadar penuh, ia segera terduduk dan memeriksa dirinya. Pakaiannya masih lengkap.

Winter mendesah lega sambil menepuk keningnya. “Astaga… apa yang kupikirkan semalam?” gumamnya frustrasi. Untung saja Greyson tidak menanggapi omongan ngawurnya.

Namun saat ia bergeser, Winter merasakan sesuatu yang lembap di antara pahanya. Ingatan semalam datang seperti potongan cepat. Greyson yang menariknya, cara pria itu menciumnya tanpa ragu, dan bagaimana Winter tidak sempat mengelak.

Winter mengusap wajahnya keras-keras. “Brengsek… dia memang jago,” gumamnya frustrasi. Ia harus mengakui jika Greyson memang mahir mencium. Sayangnya, itu tidak membuktikan apa pun. Di drama pun dia sering mencium lawan mainnya, hanya bagian dari pekerjaan.

Winter mengusap wajahnya, malu sendiri.

Ingatan berikutnya membuatnya membeku. Dia muntah. Di pakaian Greyson. Saat mereka masih berciuman panas.

“Ya Tuhan…” Winter meringis keras. Rasanya ingin menghilang dari dunia.

Matanya kemudian menangkap jaket Greyson yang tergeletak di ujung kasur. Jaket yang semalam dia kotori. Noda di bagian depannya sudah mengering.

Winter menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Matilah aku…”

***

Winter menghembuskan napas pelan sambil meremas paper bag berisi jaket Greyson yang sudah ia cuci bersih. Niat awalnya sederhana, ingin mengembalikan jaket itu lewat staf agensi. Tapi Greyson malah membalas chat singkat.

“Antar ke apartemenku.”

Dan kini Winter berdiri di depan unit yang pria itu sebutkan, mencoba merapikan sedikit rambutnya sebelum menekan bel. Namun sebelum jarinya menyentuh tombol, ponselnya bergetar.

130999

Winter mengerutkan kening. Apa ini?

Pesan kedua langsung masuk, seolah Greyson membaca pikirannya.

‘Kode pintu apartemenku.’

Winter menatap pintu itu sebentar, lalu mengetikkan kombinasi angka tersebut. Kunci otomatis berbunyi, pintu terbuka mulus. Ia masuk perlahan.

Unit apartemen itu luas. Dengan langit-langit tinggi, dinding kaca, warna interior serba netral. Tidak banyak furnitur, tapi setiap item terlihat mahal dan tertata presisi. Rapi tanpa cela, dingin tapi elegan. Sangat Greyson.

Perfeksionis bahkan dari cara ia menata ruangan, batin Winter.

Ia berjalan pelan menuju ruang tengah. Pandangannya melirik Greyson tanpa sungkan.

Greyson duduk di sofa, tablet di tangan, wajahnya tanpa ekspresi. Sama sekali tidak berniat bangun menyambut, seperti tidak merasa ada tamu yang baru saja masuk ke apartemennya menggunakan kode pribadinya.

“Kau sudah datang,” ucapnya, tanpa menoleh, seperti sedang mengumumkan sesuatu yang tidak penting.

Winter menghembuskan napas setengah kesal, setengah tak habis pikir. Ia menjatuhkan diri di sofa seberangnya. Paper bag berisi jaket ia letakkan di meja rendah di depan mereka.“Kenapa kau memberitahuku sandi pintu apartemenmu?”

Greyson baru menoleh sedikit, nada suaranya datar. “Aku malas berjalan.”

Winter mengerjap tak percaya. “Bagaimana kalau suatu hari aku menerobos masuk tanpa izin?”

“Kau tidak akan melakukannya.”

“Kau terlalu percaya diri. Aku sedang miskin dan butuh uang banyak, ingat?” sindir Winter.

Greyson menutup tabletnya perlahan, menumpu siku di lutut. Tatapannya terarah penuh pada Winter. “Ngomong-ngomong soal uang…” katanya tenang. “Tentang penawaranmu semalam. Daripada tidur satu malam, bagaimana kalau kita menikah saja?”

Winter membeku. Hening mengembang di antara mereka. Aneh, absurd, dan terlalu serius untuk dianggap bercanda.

“Kau bercanda,” kata Winter, menatap Greyson tak percaya. “Aku benar-benar kaget dan hampir menganggapnya serius. Kau sedang menjahiliku, kan? Di mana kamera tersembunyinya?”

Greyson tidak tersenyum. Tidak ada perubahan ekspresi. “Aku serius.”

Tawa kecil yang tadi keluar dari bibir Winter langsung berhenti. Ia menelan ludah, memaksakan senyum yang berubah kaku.

“A-Apa keuntungannya untukku? Maksudku… bukan berarti aku setuju, tapi ...” Winter buru-buru meralat, takut pria itu salah paham dengan pertanyaannya.

Greyson menyandarkan tubuh, santai tapi matanya tetap tajam. “Jika kau menyetujuinya, aku akan membayar semua denda penalti mu. Dan aku akan mengikutsertakanmu di proyek film dan drama yang sedang kutangani.”

Winter terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang.

“Jangan mempermainkan ikatan pernikahan,” ujarnya pelan namun tegas. “Kau tidak tahu sesakral apa janji itu.”

Ia berdiri, merapikan emosinya sendiri. “Aku sudah mengembalikan jaketmu. Terima kasih untuk yang semalam.”

Tatapannya lurus, dingin tapi terluka. “Dan aku akan menganggap percakapan ini tidak pernah terjadi.”

Winter berbalik menuju pintu tanpa menunggu respons. Ingin keluar sebelum harga dirinya ikut runtuh di apartemen pria itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 97 Melihat dan Menyentuhnya

    Setelah menghabiskan beberapa hari di rumah sakit, Greyson akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah stabil, meski pergelangan kakinya masih terbalut perban tebal. Setiap langkah yang ia ambil kini harus dibantu sepasang kruk, gerakannya lebih pelan dari biasanya, jauh dari sosok Greyson yang dikenal selalu sigap dan penuh kontrol.Lorong rumah sakit terasa lebih sunyi saat ia melangkah keluar. Ada rasa lega karena bisa meninggalkan bau antiseptik dan suara alat medis, tapi juga ada ketidaknyamanan yang mengendap, ketergantungan, keterbatasan, dan jeda paksa dalam hidup yang biasanya bergerak cepat.Greyson tidak menyukainya. Namun, ia tidak punya pilihan selain menerima.Mereka tiba di apartemen. Mike sigap seperti biasa, membantu Greyson berjalan hingga masuk ke kamar. Setelah memastikan pria itu berbaring dengan nyaman, Mike keluar dan duduk di sofa ruang tamu, menghembuskan napas panjang untuk pertama kalinya hari itu.Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Winter muncu

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 96 Pulih

    Winter mendongak. Ada dorongan kuat di dadanya. Keinginan untuk melihat Greyson, memastikan dengan matanya sendiri bahwa pria itu baik-baik saja. Namun rasionalitasnya lebih dulu berbicara. Rumah sakit terlalu berisiko. Terlalu banyak mata.Ia menggeleng perlahan.“Aku mempercayakan Greyson padamu, Mike,” ucap Winter akhirnya.Kalimat itu terdengar tenang. Padahal di baliknya, ada kegelisahan yang belum juga reda dan keinginan yang ia paksa untuk tetap disimpan sendiri.***Mike kembali ke rumah sakit. Greyson sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Pria itu setengah bersandar di ranjang, ponsel di tangannya, fokus pada permainan yang sebenarnya tidak benar-benar ia nikmati. Ia hanya sedang membunuh waktu dan kebosanan.Saat pintu terbuka, Greyson sempat melirik ke arah sana. Ada jeda sepersekian detik, harapan kecil yang nyaris tak ia akui. Namun yang masuk adalah Mike.Ekspresi kecewa itu cepat ia tekan, terlalu singkat untuk dibaca orang lain. Greyson mematikan ponselnya dan meletakk

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 95 Cedera

    Greyson mengerang pelan. Suara itu nyaris tak terdengar, namun cukup untuk memecah keheningan.Mike langsung bereaksi. Ia berlari menghampiri, menjadi orang pertama yang paling panik di antara kerumunan yang mulai bergerak.“Greyson, jangan berdiri! Jangan dipaksa,” ucapnya cepat, berlutut di hadapan Greyson tanpa peduli debu di celananya.Tangannya gemetar saat hendak menyentuh pergelangan kaki Greyson, lalu ragu. Takut salah, takut memperparah. Mike menoleh tajam ke arah kru.“Panggil tim medis. Sekarang!”Beberapa orang langsung bergerak. Yang lain mundur, memberi ruang. Greyson masih bertumpu pada satu lutut, napasnya berat, keringat bercampur debu menempel di pelipisnya.“Bisa berdiri?” tanya Mike lebih pelan, suaranya turun, cemasnya tak bisa lagi disembunyikan.Greyson menggeleng singkat. Rahangnya mengeras, menahan lebih dari sekadar rasa sakit.“Bukan apa-apa,” gumamnya, entah pada Mike atau pada dirinya sendiri.Namun cara tangannya mencengkram aspal terlalu kuat untuk diseb

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 94 Salah Langkah

    Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sunyi di apartemen itu terasa menekan, berbeda dengan sunyi yang biasa ia nikmati. Sunyi kali ini penuh gema nama Winter, suara Winter, dan kata tidak yang diucapkannya dengan tegas.Nyaman, Greyson mengulang kata itu dalam kepalanya. Dia nyaman… tanpa aku dikenal sebagai bagian dari hidupnya.“Aku tidak pernah meminta banyak,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam. “Aku hanya tidak ingin merasa sendirian saat aku bersamamu.”Ia menutup mata sejenak. Bayangan Winter muncul begitu saja, cara perempuan itu menarik napas saat gugup, caranya berpura-pura tenang ketika jelas-jelas sedang ketakutan. Cara ia selalu berdiri di antara ingin dan takut, memilih aman meski harus mengorbankan sesuatu.Ia bangkit setengah duduk, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Sepatu bayi itu masih ada di tangannya, kini terasa semakin berat.“Kenapa aku membelimu?”“Apa aku berharap sesuatu yang bahkan belum tentu ia inginkan?”Greyson

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 93 Sepasang Sepatu Bayi

    Stella sudah melangkah pergi ketika tinggal dua langkah lagi menuju pintu. Tangannya terangkat hendak meraih gagang, lalu ia berhenti.Ia menoleh pelan, ekspresinya berubah seolah baru mengingat sesuatu yang nyaris terlupa. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya.“Ah,” gumamnya ringan. “Aku hampir lupa.”Winter menegakkan tubuhnya, instingnya langsung menegang.Stella berbalik setengah, menyandarkan bahunya ke arah Winter. Tatapannya tajam, penuh minat yang tidak disembunyikan lagi. “Sekarang aku mengerti,” lanjutnya. “Kenapa Greyson bisa terlihat… dekat denganmu.”Ia melangkah mendekat, jaraknya cukup dekat untuk membuat Winter sulit menghindar tanpa terlihat mencurigakan. “Kau bukan sekadar menolong Greyson Hale,” ucap Stella perlahan. “Kau tahu kelemahannya.”Winter menahan napas. “Aku tidak tahu apa yang kau maksud.”Stella terkekeh kecil. Bukan tawa senang, lebih seperti konfirmasi. “Oh, Winter,” katanya lembut, hampir simpatik. “Kau terlalu cepat menyangkal.”Ia mencondongkan tub

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 92 Deklarasi Perang

    Greyson berbalik menuju kamar dengan langkah senyap. Tepat sebelum pintu menutup, ia menoleh sekali lagi sekilas, tanpa kata.Hening belum sempat benar-benar mengendap ketika ketukan kembali terdengar.Lebih keras.Winter menarik napas panjang, merapikan rambutnya dengan cepat. Tangannya sempat gemetar saat memegang gagang pintu, namun ia memaksa ekspresi netral sebelum membukanya.Stella berdiri di sana. Wajahnya tersenyum, tapi matanya bergerak cepat menilai, mengamati.“Maaf mengganggu,” ucap Stella ringan. “Aku mengetuk dari tadi.”“Tidak apa,” jawab Winter, suaranya berhasil terdengar stabil. “Aku sedang bekerja.”Stella melangkah setengah inci ke depan, pandangannya meluncur melewati bahu Winter. Ke dalam apartemen, ke sofa, ke ruangan yang terasa… hangat. Terlalu hangat untuk sekadar ruangan kosong.“Kau sendirian?” tanya Stella, terlalu santai untuk sekadar basa-basi.Winter menahan refleks menoleh ke belakang. “Ya.”Satu kata. Pendek. Terlalu cepat.Stella tersenyum namun ins

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status