Mag-log inWinter menghembuskan nafas pelan sebelum ia menyalakan mobil. Tangannya sempat berhenti di atas setir, kosong, bingung, marah pada dirinya sendiri, tapi lebih marah pada keadaan.
Ia melirik ponselnya, tidak ada kabar dari Zain, kekasihnya. Pria itu sama sekali tidak menghubunginya, jangankan menanyakan kabar, saat Winter mencoba menghubungi nomornya diblokir, bahkan kini menghapus semua jejak kebersamaan mereka di media sosial dan mengunfollownya. Notifikasi lain masuk puluhan. Nama Winter melesat ke jajaran trending. Cuplikan saat dirinya dibawa polisi pagi tadi tersebar di mana-mana, direkam dari berbagai sudut oleh penghuni apartemen dan wartawan yang sudah menunggu. Dalam video itu, Winter tampak pucat, rambut berantakan, dan masih mengenakan dress hitam dari semalam. Ekspresinya kosong, bingung, dan terkejut. Cukup untuk membuat publik percaya bahwa ia benar-benar bersalah. Komentar-komentar pedas memenuhi timeline, Beberapa akun yang dulu memujinya kini ikut melontarkan tuduhan, seolah mereka sudah lama mengenal sisi buruknya. “Pantas saja cepat naik, ternyata begini.” “Sudah ketahuan positif masih mau mengelak. “Artis baru tapi tingkahnya sudah seperti selebriti senior.” Winter menggulir layar ponselnya, namun tangannya berhenti sebelum ia bisa membuka notifikasi berikutnya. Tidak ada gunanya membaca semuanya, setiap kalimat hanya akan menambah luka. Winter mematikan layar ponsel sebelum pikirannya runtuh sepenuhnya. Ia duduk tanpa menyalakan mesin. Hening. Udara terasa sesak. Sesaat kemudian air matanya jatuh begitu saja. Bukan tangis histeris, hanya tetes yang perlahan mengalir karena tubuhnya lelah menahan banyak hal dalam waktu terlalu singkat. Winter menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangan, menahan diri agar tetap waras. Ia tidak akan menangis lebih lama. Tidak untuk orang-orang yang menilainya tanpa tahu apa pun. Winter mengusap matanya sekali lagi sebelum akhirnya menyalakan mesin. Baru saja ia hendak menjalankan mobilnya, sudut matanya menangkap gerakan aneh di area parkir. Seorang pria keluar dari mobil hitam beberapa meter darinya. Cara ia melangkah tidak stabil, seperti kehilangan keseimbangan lalu bersandar berat pada pintu mobil, kedua bahunya naik turun cepat. Winter refleks menegakkan tubuh. Belum selesai ia merapikan kekacauan hidupnya sendiri, kini semesta menghadirkan sesuatu yang lain lagi. Tanpa pikir panjang, ia keluar dari mobil. Langkahnya cepat mendekati pria itu. Topi pria itu ditarik rendah hampir menutupi seluruh wajah, masker hitam menutupi sisanya. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar. Postur yang terasa familiar, namun Winter tidak memprosesnya sekarang. “Kau baik-baik saja?” suaranya keluar lebih gelisah dari yang ia harapkan. Pria itu tidak menjawab, hanya terhuyung sedikit. Winter meraih lengannya dan membantunya kembali masuk ke dalam mobil. Khawatir ada kamera wartawan yang bisa mengabadikan momen itu dari kejauhan. Setelah pria itu duduk di kursi belakang, ia bersandar dengan napas tidak beraturan. Winter menutup pintu dan menghampiri sisi lain. “Obat… di dalam tasku,” ucap pria itu pelan, suaranya teredam di balik masker. Winter segera mengambil tas di kursi depan, mencari obat sambil sesekali melirik kondisinya. Ia menemukan kotak obat kecil, lalu sebotol minuman dari cup holder mobil, dan menyerahkannya tanpa bertanya lebih jauh. Pria itu menurunkan masker untuk menelan obatnya. Winter terpaku sesaat. Itu wajah yang ia lihat hampir setiap hari di poster film, billboard iklan, dan berbagai display brand di pusat kota. Greyson Hale. Aktor terbesar agensinya. Sosok yang kariernya sempurna, terbentuk oleh prestasi, bakat, dan publik yang memujanya. Pria yang tidak tersentuh. Dan kini pria itu duduk dari jarak sedekat ini dengannya, hampir roboh, wajahnya pucat, napasnya kacau. Winter menahan ekspresi terkejutnya sebaik mungkin. Beberapa detik berlalu sebelum Greyson bisa bernapas lebih stabil. Ia memandang Winter, tajam, tanpa sedikit pun kelembutan. “Berjanjilah,” katanya pelan tapi jelas. “Kau tidak akan mengatakan pada siapa pun apa yang kau lihat tadi.” Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada penjelasan. Yang keluar justru tekanan, peringatan, ancaman halus. Winter menatap Greyson, tanpa takut. Ia baru saja dihancurkan publik, digilas rumor yang bukan salahnya. Ancaman bukan hal yang asing lagi baginya. Winter mendengus pendek, rasa kesalnya muncul begitu saja. Ia tidak peduli siapa pria di depannya atau seberapa besar nama Greyson Hale di industri ini. “Kau mengancamku?” ujarnya dingin. “Serius? Setelah aku membantumu?” Tatapan Greyson mengeras. “Kau mau apa dariku supaya kau tutup mulut?” Winter terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, pendek dan hambar. “Aku tidak mau apa-apa darimu,” balasnya. “Aku cuma ingin kau bilang terima kasih. Itu saja. Bukan malah mengancamku. Dasar tidak tahu terima kasih.”Winter terbangun perlahan. Kelopak matanya membuka, dan hal pertama yang tertangkap penglihatannya adalah wajah Greyson yang masih terpejam di sisinya.Rambut pria itu berantakan, tidak diatur, jauh dari tampilan kamera. Wajahnya polos, hidungnya tinggi, bibir tipis dengan warna merah alami, dan kulit putih yang terlihat halus di bawah cahaya pagi. Tenang. Nyaris terlalu sempurna untuk disebut nyata.Winter menatapnya lebih lama dari yang ia sadari. Ingatan lama muncul tanpa diminta.Dulu, ketika Greyson masih menjadi bagian dari grup idolnya, berada di masa paling bersinar dalam karir mereka. Lagu-lagu grup itu sering terdengar di mana-mana. Stasiun televisi, festival musik, linimasa media sosial, hingga konser tunggal yang selalu penuh. Winter masih SMP saat itu. Ia tidak benar-benar menjadi penggemar, hanya pendengar pasif yang tahu nama grup itu karena hampir semua teman perempuannya membicarakannya.Grup beranggotakan lima orang, masing-masing dengan visual kuat dan karakter yan
Terus bersembunyi di balik ketakutan akan rusaknya reputasi ternyata bukan jalan keluar.Greyson akhirnya menyadari, yang seharusnya ia lakukan sejak awal bukan membiarkan orang lain menentukan langkahnya, melainkan menghadapi sendiri setiap konsekuensi dari pilihan hidupnya. Bukan terus mengikuti keputusan yang dibuat demi melindunginya, baik oleh Winter maupun Pak Han.Seperti yang sudah diduga, tidak semua orang menerimanya. Masih ada yang menghujat, masih ada yang mengungkit masa lalu dan menganggap Winter sebagai penyebab berbagai masalah yang pernah menimpanya.Namun jauh lebih banyak orang yang memilih melihat kenyataan apa adanya.Mereka melihat bagaimana Greyson tidak pernah sekalipun menyalahkan Winter. Sebaliknya, ia selalu berdiri di sisi perempuan itu, bahkan ketika semua orang memilih menjauh.Perlahan, opini publik pun berubah.Kini Greyson tidak lagi menyembunyikan Winter. Ia menggandeng tangan perempuan itu di tempat umum tanpa rasa takut. Tidak lagi menundukkan kepal
Greyson menyalakan siaran langsung dari ruang kerjanya.Sudah lama ia tidak menyapa penggemarnya secara santai seperti ini. Dalam hitungan menit, jumlah penonton terus bertambah. Kolom komentar bergerak begitu cepat hingga hampir tidak bisa dibaca."Sudah lama ya kita tidak mengobrol seperti ini," sapa Greyson sambil tersenyum. "Terima kasih masih mau meluangkan waktu."Selama beberapa menit, obrolan mereka mengalir ringan. Greyson menjawab pertanyaan tentang film terbarunya, proses syuting, hingga kegiatannya setelah kembali dari masa hiatus.Hingga sebuah komentar menarik perhatiannya."Oppa, apa sekarang sudah punya pasangan?"Disusul komentar lain."Setelah wawancara podcast kemarin, banyak yang yakin Oppa sedang menjalin hubungan.""Kalau memang benar, semoga kali ini dapat perempuan yang baik. Jangan seperti Winter yang dulu cuma memanfaatkan Oppa."Senyum di wajah Greyson perlahan memudar. Ia membaca ulang komentar itu beberapa detik.Kolom komentar masih terus bergerak. Ada ya
Greyson dan Winter berjalan berdampingan setelah turun dari taksi. Tangan mereka saling menggenggam, sementara Greyson menarik koper yang baru saja diturunkan sopir dari bagasi.Keduanya tampil sederhana. Winter mengenakan mantel panjang dengan syal yang menutupi sebagian wajahnya, sedangkan Greyson memakai masker hitam dan jaket tebal. Sejak Greyson berangkat menuju Paris beberapa hari lalu, pergerakannya ternyata sudah dipantau paparazzi. Mereka mengikuti setiap jejaknya hingga akhirnya menemukan siapa orang yang ia datangi di kota itu.Baru beberapa langkah menuju pintu keberangkatan, seorang pria tiba-tiba menghampiri sambil mengarahkan kamera ponselnya ke wajah mereka."Greyson! Jadi benar kau datang ke Paris untuk menemui kekasihmu?"Pria itu bahkan mengangkat layar ponselnya lebih tinggi.Refleks Greyson langsung bergeser setengah langkah ke depan. Satu tangannya meraih bahu Winter, sementara tangan lainnya mengangkat sedikit kerah mantel perempuan itu agar wajahnya semakin te
Sore itu kawasan tepi Sungai Seine dipenuhi orang-orang yang menikmati akhir pekan. Beberapa duduk di bangku taman, ada yang berjalan santai di sepanjang tepian sungai, sementara kapal-kapal wisata melintas perlahan di atas permukaan air.Greyson dan Winter berjalan berdampingan tanpa tujuan khusus. Sesekali mereka berhenti untuk melihat para pelukis jalanan atau sekadar menikmati suasana kota.Hingga tiba-tiba terdengar suara benda menghantam permukaan air.Byur!"Tolong! Ada yang jatuh!"Beberapa orang spontan berlari ke arah tepian sungai.Winter ikut menoleh. Refleksnya ingin melihat apa yang terjadi. Namun langkah Greyson berhenti. Tubuhnya mendadak kaku. Napasnya terputus-putus.Suara orang-orang di sekitar perlahan menghilang dari pendengarannya, berganti dengan dengungan yang semakin nyaring.Tatapannya terpaku pada riak air di sungai. Bayangan saudara kembarnya itu muncul kembali di kepalanya, seolah sedang berusaha menggapai permukaan sebelum perlahan menghilang ke dalam ai
Greyson menangkap isyarat Mike dari balik kamera."Kalau pasanganku cemburu atau tidak..." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kurasa itu pertanyaan yang seharusnya ditanyakan langsung kepadanya."Tawa kecil terdengar di dalam studio.Pembawa acara ikut tersenyum. "Berarti benar sudah punya pasangan?"Greyson tidak langsung menjawab. Ia menautkan kedua tangannya di atas meja."Aku hanya ingin mengatakan satu hal.""Sebagai aktor, pekerjaanku adalah membuat penonton percaya pada karakter yang kami perankan. Chemistry yang kalian lihat di layar adalah hasil kerja sama banyak orang, mulai dari lawan main, sutradara, penulis naskah, sampai seluruh kru."Ia menoleh sekilas ke arah Chiara."Chiara sangat profesional. Kami sama-sama berusaha memberikan penampilan terbaik agar cerita ini sampai kepada penonton."Chiara mengangguk sambil tersenyum kecil.Greyson kembali menatap pembawa acara."Begitu kamera berhenti merekam, kami kembali menjadi diri kami masing-masing."Pembawa acara tampak masi
Langkah keduanya berhenti tepat di depan pintu keluar gedung catatan sipil. Tanda tangan sudah dibubuhkan, stempel sudah ditekan, dan buku nikah resmi ada di tangan Winter, buku kecil itu terasa lebih berat dari yang seharusnya.Udara luar lebih dingin dari perkiraannya. Winter masih mencoba menata
Pagi harinya, Winter terbangun seorang diri di kamar hotel dekat bar yang ia kunjungi semalam. Kepalanya berat, seperti baru dipukul dari dalam. Ia mengerjap beberapa kali, ruangan masih gelap, tirai tertutup rapat. Hanya samar-samar ia ingat Greyson yang membawanya ke sini.Setelah sadar penuh, ia
Bar itu tidak ramai, tapi cukup penuh untuk menenggelamkan suara di kepala Winter yang sejak pagi terus berputar. Lampu temaram membuat wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Ia mengangkat gelas, menenggak isinya tanpa benar-benar memikirkan rasa. Jika dunia luar ingin menertawakan dan menghak
“Aduh, kepalaku sakit…” Suara seraknya terdengar asing di telinganya sendiri. Winter bangkit perlahan, ruangan di sekitar tampak berputar sesaat. Ia menekan pelipisnya, merasa aneh saat kepalanya berdenyut hebat.Ini… lebih parah dari mabuk biasa.“Aku minum sebanyak apa semalam?” gumamnya bingung.







