Share

Benar-Benar Murka

Author: Asriaci16
last update Last Updated: 2025-10-29 11:29:43

Agnia menahan diri untuk tidak berlaku kasar pada lelaki di hadapannya. Paling tidak, sampai neneknya undur diri untuk memberi waktu pada cucunya berduaan dengan si lelaki.

Walau sebenarnya Agnia merasa tak sudi jika harus berinteraksi lagi dengan Theo, tapi sepertinya ini adalah satu-satunya kesempatan yang Agnia punya sebelum mungkin nanti Agnia akan benar-benar memblokade lelaki itu agar tak lagi masuk ke hidupnya.

"Ya sudah, kalian kalau mau ngobrol silahkan. Kebetulan nenek mau ke warung dulu buat beli sayuran. Kalau ada yang harus diselesaikan ... selesaikan dengan cara baik-baik. Kalian, kan, sudah sama-sama dewasa juga," tukas Desi memberi nasehat.

Walau tidak tahu pasti permasalahan yang menimpa kedua sejoli itu, tapi neneknya ini cukup peka bahwa sang cucu diduga sedang berselisih paham dengan pacarnya itu.

Theo mengangguk kikuk. Sempat menyahut sedikit, agak berbasa-basi. Lain hal dengan Agnia, sejak diajak masuk ke dalam oleh neneknya, ia memilih untuk diam di tengah pertahanan diri yang sebenarnya sudah sangat ingin meledakkan bom emosinya.

"Hati-hati ya, Nek!" Seru Theo melambai. Diangguki oleh Desi yang kini telah berjalan menjauh melewati ambang pintu.

Untuk sesaat, Agnia masih tidak bereaksi. Sampai ketika Theo tiba-tiba berinisiatif memeluk tubuh si wanita sambil menyerahkan sling bag berisi ponsel dan entah apa yang kemarin Agnia tinggalkan di unit Nuri, barulah wanita itu terusik dan secepat kilat mendorong Theo agar menjauhinya.

"Sayang, please...." Lelaki itu memohon diberi kesempatan. Berharap jika Agnia bisa memaafkan kesalahan fatal yang sudah dilakukannya kemarin.

Jari telunjuk Agnia mengacung tegas seiring dengan matanya yang menyalang tajam.

"JANGAN PERNAH PANGGIL GUE DENGAN SEBUTAN ITU LAGI, BRENGSEK!" Agnia meraung. Pada akhirnya, emosinya benar-benar meledak tak tertahan lagi.

Theo mendesah pelan seraya bersiap melangkah maju andai Agnia tak buru-buru melarangnya.

"STOP DI SITU ATAU GUE AKAN TERIAK DAN BIKIN LO DI ARAK TETANGGA!" Ancamnya tak main-main. Membuat Theo lantas menurut patuh, tetapi tidak akan menyerah untuk meraih maaf dari perempuan yang masih dianggapnya pacar.

Dada Agnia bergemuruh hebat. Amarahnya sudah membumbung tinggi melampaui batas kesabarannya. Apalagi setiap melihat wajah Theo, kejadian menjijikan yang ia lihat kemarin pun seolah kembali berkelebatan bak kaset usang yang diputar terus tanpa henti.

"Nia ... aku tau aku salah, tapi aku mohon, Nia, jangan sampe kita putus ya. Aku gak mau kalo kita harus berakhir," ujar Theo mulai bersuara lagi.

Akan tetapi, Agnia bahkan sudah tak sudi untuk sekadar balas memandang ke arah si lelaki.

"Aku minta maaf, aku khilaf, Nia...."

"Gue gak bisa," desis Agnia dingin. Giginya bergemerutuk di tengah ia yang berusaha keras untuk menahan diri agar tidak sampai bermain fisik pada lelaki di hadapannya.

"Please, Nia. Aku gak siap kalo harus kehilangan kamu."

"TERUS KENAPA?" Agnia menyalang. Kali ini, dia terpaksa menatap Theo dengan sorot amarah yang kentara.

"Kenapa lo harus tidur sama sahabat gue kalo pada akhirnya lo gak mau kehilangan gue, hah?"

Theo diam. Kepalanya tertunduk penuh sesal. Membuat Agnia melangkah maju penuh berani, seolah tak ingin melepaskan Theo dari cengkeraman murkanya.

"Sejak kapan, hah? UDAH BERAPA KALI LO LAKUIN ITU SAMA NURI, THEO?" lontar Agnia meradang. Entah kenapa, tapi dia amat yakin bahwa apa yang Theo dan Nuri lakukan kemarin pasti bukan yang pertama kalinya.

Lagi, Theo hanya bisa bungkam. Di saat seperti ini, dia bahkan tidak bisa asal sebut karena tentu saja resikonya akan semakin buruk.

"JAWAB, BRENGSEK!" Desak Agnia. Kali ini, Agnia juga sudah sampai ke tahap berani mengguncang bahu Theo sambil tak gentar menatapnya berang.

"Ti-tiga kali," cicit Theo lirih. Namun, tentu masih bisa terdengar dengan jelas dan nyata oleh telinga Agnia yang seketika pula terperangah.

"Tiga kali?" Desis Agnia tertawa miris. Rupanya, selama ini Agnia benar-benar ditipu oleh kepolosan Nuri dan sok setianya Theo. Tanpa ia duga, ia justru telah dikhianati sebegitu dalamnya oleh dua manusia bejat tersebut.

Cengkeraman tangan di bahu Theo merosot lunglai. Bersamaan itu, tungkai kaki Agnia pun mendadak lemah tak bertenaga. Membuat ia nyaris limbung, tetapi dengan sigap Theo menopangnya.

"GAK USAH PEGANG-PEGANG!" teriak Agnia menolak. Disusul dengan air mata yang mengucur deras di kedua belah pipinya.

"Aku minta maaf, Nia...." bisik Theo sendu.

Sementara itu, Agnia menggeleng lemah sembari tertawa menyedihkan. "Tiga kali lo bilang khilaf? Damn! Dan sekarang lo masih berharap gue maafin lo?" Tutur Agnia tak habis pikir.

Sepintas, Agnia mendengkus kecut sebelum akhirnya memilih pergi dan membiarkan Theo benar-benar sendiri. Tidak lupa, Agnia juga menyambar tasnya tanpa berminat untuk memberi Theo kesempatan mengucap sepatah kata pun.

***

Mobil Irgi baru saja masuk ke garasi rumahnya. Beranjak turun, Irgi yang sebenarnya sudah diminta untuk datang ke kampus pun terpaksa harus pulang dulu demi mengganti pakaiannya yang sejak kemarin masih ia kenakan.

Kebetulan, stok baju ganti yang selalu ia bekal di mobil sedang kosong. Dan Irgi pun belum ada asisten lagi untuk bisa ia suruh-suruh.

"Selamat pagi, Tuan..." Seorang wanita paruh baya muncul menyambut. Dia adalah Minah, pembantunya.

Irgi mengangguk singkat. Lalu, terus berjalan menuju tangga.

"Maaf, Tuan ... tadi malam ada telepon dari Jerman," ujar Minah menginfokan. Cukup berhasil membuat Irgi menghentikan ayunan langkahnya.

Sejenak, Irgi menoleh dan menatap Minah dengan sebelah alis yang terangkat. "Apa katanya?" Tanya pria itu dingin.

"Beliau menanyakan keberadaan Tuan. Katanya, tidak biasanya Tuan sulit dihubungi," sahut Minah seadanya.

Beberapa saat, Irgi merogoh ponselnya dari dalam saku celana. Melihatnya sebentar, lalu bersikap abai setelahnya.

Irgi bergumam singkat. Dilanjut dengan mengayunkan langkahnya lagi menaiki tangga. Tampak tak berminat untuk memberi respon yang Minah sampaikan, tetapi sudah dianggap biasa hingga membuat Minah tak perlu lagi banyak bertanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Aroma Parfum

    “Jaga diri kalian baik-baik ya selama mama dan papa gak ada di rumah. Jangan menyulitkan nenek kalian. Apalagi dengan kondisinya yang baru pulih dari koma. Sebagai perempuan dewasa yang beradik kakak, kalian berdua harus bisa saling menjaga satu sama lain. Jangan sampai ada perseteruan sekecil apapun di antara kalian ya…” Sembari memeluk kedua putrinya bergantian, Intan memberikan sedikit wejangan untuk mereka selagi dirinya harus menemani sang suami berobat ke luar negeri. Selama itu pula, Intan menaruh kepercayaan penuh terhadap Agnia dan Rossi. Intan yakin jika kedua putrinya ini akan bisa saling mengandalkan satu sama lain.“Titip salam juga buat suamimu ya, Ros. Tadi pas berangkat, kebetulan dia gak di tempat. Jadi, mama sama papa gak sempat pamitan sama suamimu…” tukas Intan lagi pada putri sulungnya.Untuk sesaat, Rossi pun mengernyitkan dahi sedikit heran. Meski begitu, ia tetap mengangguk dan merespon setiap kalimat yang terlontar lugas dan mengandung pesan dari mulut mamany

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Selamat dari Situasi Berbahaya

    Di tengah ciuman yang semakin brutal dan tak terkendali, tiba-tiba saja seseorang muncul mengetuk pintu dengan cukup kencang juga mengejutkan. Dalam sekejap, membuat Agnia terpekik kaget seiring dengan mata yang terbelalak lebar sekaligus mendorong dada Irgi sekuat tenaga hingga menyebabkan ciuman mereka terpaksa disudahi. “Agnia!” seru sebuah suara yang tak asing. Melotot, Agnia yang sedang lumayan berantakan karena ulah Irgi sebelumnya pun refleks didera rasa panik tatkala mendapati sang mama yang memanggil dirinya barusan. “Itu suara mama, Mas,” bisik Agnia cemas. Sementara Irgi, dia berusaha menenangkan Agnia dengan cara menempelkan telunjuknya di bibir sendiri. Memberi kode agar Agnia tidak bersuara, sekaligus mencari alasan kuat guna melayangkan jawaban ketika nanti mereka dilontari pertanyaan.“Nia, kamu di dalam, Nak?” Intan kembali bersuara di sela ketukan pintu yang belum disudahi. Kepanikan Agnia bertambah. Buru-buru, ia pun membenahi kembali kancing kemejanya yang sud

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Terhanyut Kembali

    “Maafin aku, Mas. Tapi, hubungan kita emang udah gak bisa dilanjut lagi,” gumam Agnia menahan tangis. Akan tetapi, tiba-tiba saja tangannya ditangkap oleh seseorang yang berasal dari belakangnya. Menyebabkan tubuhnya terhuyung mundur, yang seketika membuat Agnia tersentak kaget apalagi saat ada dua tangan yang melingkari perutnya dari belakang. “Jangan pergi,” bisik suara yang Agnia sangat kenali itu, menelusup masuk dengan cukup sopan tepat ke telinganya.Agnia yang hafal bahwa pemilik suara itu adalah Irgi pun lalu buru-buru saja melakukan sedikit pemberontakan. Hanya saja, Irgi yang enggan membiarkan pelukannya terlepas pun justru malah semakin mengeratkan pelukannya hingga Agnia terpaksa menyerah saat tenaganya tak sebanding. “Mas, tolong lepasin. Bahaya kalo sampe ada yang lihat,” ujar Agnia meminta baik-baik. Untuk sesaat, tampaknya cukup berhasil membuat Irgi sadar akan bahaya yang Agnia maksud. Lalu, ia pun melepaskan peluknya. Tetapi, tentu saja bukan untuk membiarkan wan

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Hubungan yang Benar-benar Berakhir

    Irgi baru saja keluar dari kamar mandi ketika ruangan terlihat kosong dan Agnia pun tidak ada di tempat. Padahal, Irgi merasa tidak terlalu lama berada kamar mandi. Tapi, wanita itu sudah menghilang saja tanpa pesan. “Tidak kuat, huh? Belum di apa-apakan saja sudah menyerah duluan. Dasar payah,” desisnya mencemooh. Kemudian, Irgi kembali menekuni pekerjaannya sembari mencampuri lagi ember cat nya menggunakan air. Akan tetapi, saat hendak mengaduknya agar tercampur rata, catnya malah menciprat mengenai kemeja yang dikenakannya. “Shit,” umpatnya refleks. Menghentikan kegiatannya, Irgi lalu berdiri tegak sembari mencoba membersihkan noda cat yang kini mengotori kemejanya. Namun, sepertinya tidak berhasil. Membuat Irgi mendecak kesal, sehingga terpaksa pula ia melepas kemejanya tersebut. Menyisakan tubuh topless-nya yang berotot, terutama bagian perut yang memperlihatkan bagian roti sobeknya. Tanpa disangka, Agnia masuk sembari menenteng kresek berisi dua buah minuman sesuai yang dip

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Pertahanan yang Nyaris Runtuh

    Beberapa saat setelah Rossi dipastikan benar-benar pergi dari rumah untuk mengurus pekerjaan. Baik Irgi maupun Agnia, tidak satupun dari mereka yang berminat buka suara untuk membahas apapun. Keduanya terlihat sama-sama sibuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Irgi dengan kuas catnya, sedangkan Agnia terlihat cukup serius juga dalam menggunakan fungsi roll cat yang sedari tadi sudah setia dipilihnya. Walau begitu, rupanya diam-diam Irgi sempat beberapa kali mencuri pandang. Berharap Agnia pun melakukan hal serupa, tetapi pada kenyataannya tidak sekalipun wanita itu menengok. “Ehem,” dehem Irgi sengaja. Sepertinya, pria itu sedang mencari jalan untuk bisa berinteraksi dengan sang wanita. Hanya saja, Agnia justru cenderung fokus dan berusaha keras untuk tidak terpengaruh oleh suara deheman barusan. “Bagaimana kabarmu?” Untuk pertama kalinya setelah perpisahan sepihak pada malam itu, Irgi baru bertanya soal kabar yang sukses telak membuat tubuh Agnia mendadak beku. Tangan yang sem

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Rindu Terhalang Gengsi

    “Nggak! Gue gak mungkin hamil, kan? Paling tadi itu gara-gara masuk angin doang,” gumam Agnia menyangkal. Walau begitu, jantungnya tetap berdebar kencang tak keruan. Membayangkan andai kemungkinan buruk itu sungguh terjadi, maka entah apa yang harus Agnia lakukan dalam situasi serumit itu.Rian bahkan sudah pergi melesat bersama mobilnya sejak beberapa menit yang lalu. Namun, Agnia justru masih berdiri setia di depan pagar rumah orangtuanya sambil menenteng kantong kresek berisi barang belanjaan titipan mamanya di satu tangan, sedangkan tangan satunya lagi ia sentuhkan pada perutnya yang masih rata. “Agni, ngapain berdiri sendiri di luar pagar? Ayo masuk! Tadi mama udah nanyain kamu terus, loh. Katanya nunggu barang belanjaan yang mama suruh kamu beli. Kamu gak lupa, kan?” tegur sebuah suara yang berasal dari balik pintu pagar. Dalam sekejap, Agnia pun buru-buru menurunkan kembali tangannya yang semula memegang perut, dan berlanjut dengan memutar tubuhnya menghadap ke pagar. Diliha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status