Share

Pengakuan Perihal Rasa

Penulis: Asriaci16
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 09:39:50

Sampai malam hari, Irgi benar-benar tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan Agnia. Membuat sang wanita tampak mondar-mandir di tengah rasa kalut yang menyelimuti diri.

“Apa Pak Irgi beneran marah gara-gara perbincangan gue sama dia tadi pagi? Tapi, semua yang gue bilang itu emang bener, kan? Terus, dimana letak salahnya?” gumam Agnia gusar.

Tangannya saling meremas. Tidak jarang, ia pun melayangkan pandangan cemas ke arah pintu yang tak kunjung dibuka oleh sosok yang sedang ia tunggu-tunggu kepulangannya.

“Udah malem gini, dia gak ada nunjukin diri sama sekali. Ini serius gue diginiin?” imbuhnya merasa ciut.

Mengingat malam kemarin saja listrik sempat padam dalam durasi yang cukup lama. Maka, tentu saja Agnia pun takut kalau hal serupa kembali terjadi di malam ini.

DUARRR.

Tiba-tiba, bunyi petir menggelegar. Menyebabkan Agnia refleks menjerit seiring dengan ia yang berjongkok sambil menutup telinga dan memejamkan mata.

“Jangan ada lagi mati lampu susulan, please. Sama suar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Ekspresi yang Sulit Ditebak

    “Sudah sampai,” ucap Irgi menghentikan kemudinya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kini, akhirnya mereka pun sudah berada di pelataran parkir utama khusus penyewa apartemen. Bertepatan dengan itu, Agnia pun menggeliat nikmat seakan dirinya merasa puas karena bisa tidur lelap di sepanjang perjalanan tadi. “Bangun, Sayang! Kita sudah tiba di parkiran apartemen. Kalau mau lanjut tidur, nanti saja di dalam,” ujar Irgi menoleh. Sigap melepas seat belt yang membelenggu tubuh seiring dengan ponsel yang ia kantongi ke dalam saku jaketnya. Sementara itu, Agnia sendiri masih anteng leyeh-leyeh di tengah Irgi yang sudah benar-benar terlepas dari belenggu sabuk pengaman. “Bentar ih, masih pusing nih kepalaku. Orang baru bangun juga, udah disuruh buru-buru aja,” lontar Agnia mendecak. Sejenak, ia pun menguap di samping Irgi yang terkekeh geli. Pria itu lantas menjawil hidung si wanita gemas. “Memangnya siapa yang suruh kamu buru-buru, Sayang. Orang Mas cuma minta kamu bangun sa

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Bingkisan dari Arfi

    Sepakat untuk pulang dan meninggalkan desa penuh kenangan, Agnia serta Irgi pun kini sudah ada di depan mobil yang selama 3 hari belakangan sengaja mereka tinggal di tempat parkir yang terbilang aman. Mengingat tidak adanya akses untuk kendaraan bermobil saat memasuki desa Jayawaras, maka siapapun hanya bisa membawa mobilnya sampai di tepi sungai saja. Selebihnya, mereka harus rela membiarkan mobilnya untuk tetap tinggal di parkiran sedangkan perahu akan menjadi satu-satunya kendaraan yang bisa mengantar jemput siapapun yang hendak memasuki desa tersebut. “Jadi, tiga hari yang lalu kamu bawa aku naik perahu dalam kondisi aku lagi gak sadar ya, Mas? Kok, bisa-bisanya aku gak kebangun,” lontar Agnia bertanya-tanya. Setelah tahu bahwa mereka harus menyeberangi sungai menggunakan jasa perahu dan tidak ada kendaraan jenis apapun yang bisa digunakan, maka tentu saja Agnia merasa kaget sekaligus penasaran tentang cara Irgi yang membawa dirinya menaiki perahu bahkan dalam keadaan tak sadark

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Malam yang Menggelora

    Pada akhirnya, Agnia pun memilih untuk patuh dan menyerah terhadap apa yang awalnya ia takuti. Ya, karena cinta yang sudah telanjur tumbuh dan sulit dihilangkan, ia pun tidak mau lagi menyangkal jika dirinya sangatlah ingin menjadi wanita yang dicintai pria matang setampan dosennya. Soal istrinya nanti, biarlah itu menjadi urusan belakangan yang mungkin akan diam-diam ia pikirkan selagi Irgi mampu menepati janji. “Kamu bisa pegang kata-kataku, Agnia. Tidak ada lagi wanita selain kamu yang bisa aku perlakukan seistimewa ini. Karena hanya kamu, satu-satunya wanita yang aku cintai dan layak aku perjuangkan sampai kelak kita akan bersatu dalam sebuah hubungan resmi yang amat sakral,” tutur Irgi sungguh-sungguh. Mendengar itu, tentu saja Agnia percaya. Dia pun sangat yakin jika sang pria tidak mungkin memiliki niatan buruk apalagi sampai mencampakkannya suatu hari nanti.Maka dari itu, Agnia pun mencoba untuk menurut saja. Perlahan, dia pun belajar membiasakan diri memanggil Irgi dengan

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Takut Diterjang Badai

    Belum selesai mandi besar, Agnia tiba-tiba teringat sesuatu. Ya, ia lupa membawa handuk dan secara refleks wanita itu pun tampak menepuk jidatnya seraya berkata, “Mampus! Kenapa gue bisa lupa, sih.” Padahal, Agnia bisa kroscek dulu sebelum masuk ke kamar mandi tadi. Bukan malah langsung buka baju, siram sekujur tubuh menggunakan air dingin yang lumayan menyegarkan pada situasi segerah tadi meski hari masih pagi. “Terus sekarang gimana? Kan, gak lucu kalo misalkan gue teriak minta tolong sama Pak Irgi buat dibawain handuk. Mana gue lagi bugil gini kan? Malapetaka ini sih namanya. Bisa-bisa ada part lanjutan soal kejadian tadi malam yang sialnya masih susah buat gue lupain,” gerutunya dongkol sendiri.Kini, ia harus memutar otaknya dan berpikir keras agar bisa menemukan ide yang sedikit waras dan masuk akal. Paling tidak, dia perlu sesuatu yang bisa menutupi tubuh telanjangnya tanpa perlu meminta bantuan Irgi dalam mendapatkannya. “Eh, ada kaos nganggur ternyata. Tapi, ini kaos Pak I

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Sedikit Menyesal

    “Agnia,” gumam Irgi yang baru saja menerima pengembalian dompet dari Arfi karena semalam sempat tertinggal. “Maaf ya, Ar. Saya tidak bisa menjamu kamu dulu di waktu pagi ini. Saya harus kembali masuk sebelum istri saya mengamuk karena saya lama ngobrol sama kamu,” celetuk Irgi buru-buru. Sementara itu, Arfi hanya mengangguk penuh pengertian sesaat sebelum membiarkan Irgi bergegas masuk guna menghampiri suara teriakan yang diduga berasal dari istrinya di dalam sana. Untungnya, Arfi juga tidak sedang memiliki kepentingan yang begitu genting kepada Irgi. Sehingga, ketika pria itu pamit masuk dan tak bisa banyak mengobrol dengannya, Arfi pun hanya mengangguk patuh saja sembari melenggang pergi meninggalkan pekarangan rumah Irgi. Sedangkan Irgi, dia sudah melesat masuk menuju kamar dimana semalaman tadi ia bersama Agnia. “Agnia, ada apa?” tanya Irgi tepat di ambang pintu kamar. Menoleh, Agnia yang baru saja selesai memakai kembali kaus longgarnya yang semula sempat dipungutnya dari l

  • Skandal Satu Malam Bersama Pak Dosen   Malam yang Syahdu

    Tidak tahu siapa yang memulai, tetapi sekarang Agnia dan Irgi sedang berciuman intens tanpa ada kecanggungan lagi di antara mereka. Membuat keduanya sama-sama saling kecanduan, seakan terasa sulit untuk menghentikan sesi ciuman itu setelah sama-sama mengungkapkan isi hatinya. Dalam keadaan tubuh basah pasca kehujanan, Irgi bahkan tidak lagi merasa kedinginan. Sekarang, dia malah sedang dalam keadaan on fire. Tubuhnya mendadak panas padahal baju dan celana yang dikenakannya benar-benar basah tak tertolong. “P-pak Irgi, emh…” Agnia mulai meracau ketika sang pria menurunkan ciumannya ke arah leher. Membuat si wanita tampak keenakan, di tengah pejaman mata yang pada saat itu pula menuntun Irgi untuk menginginkan lebih dari sekadar berciuman saja. “Hentikan saya jika kamu merasa saya sudah berlebihan, Agnia,” gumam Irgi serak. Bibirnya sedang berada tepat di cerukan leher Agnia yang menguarkan aroma wangi khas buah-buahan. Agnia mengangguk seolah paham dengan apa yang baru saja pria it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status