INICIAR SESIÓNFollow Ig : @story_shart96 Tiktok : @Minsiha96
“Kami perlu menghubungi pemilik obat ini,” ucap dokter toksikologi setelah memeriksa obatnya kepada Liam .“Jika obat itu bukan milik Nafia, kemungkinan ada orang lain yang mengonsumsinya dan tidak sengaja tertinggal di sana atau memang ada yang meninggalkannya di sana dengan sengaja.” sambungnya.Liam mengangguk paham dan pasti ini akan tidak mudah jika memang aja yang menyimpannya dengan sengaja. “Saya akan mengurusnya sekarang dok.”Nafia bergerak pelan beberapa bagian tubuhnya terasa tidak nyaman. Kelopak matanya mulai terbuka, lalu segera mencari sosok Liam.“Liam…” ucap Nafia dengan nada lemah, tatapan sayu menatap ke arah Liam yang tidak jauh dari pandanganya“Aku di sini.” sahut Liam sedikit mendekat ke arah tempat tidur NafiaNafia mencoba mengangkat tangan namun sudah tidak memiliki tenaga, hanya tatapan memohon yang tersirat dari sorot kedua matanya. “Jangan biarkan mereka membawaku ke tempat lain.”“Kamu sedang ditangani di rumah sakit saat ini, tidak akan ada yang memind
Nafia terlihat ragu beberapa detik saat akan menjawab, wajahnya masih pucat, tapi sorot matanya penuh kepanikan.“Obat itu bukan milikku.”Pintu lift menutup sebelum Kanaya sempat bertanya Kanaya berdiri terpaku beberapa saat. Liam menatap pintu lift, lalu beralih kepadanya.“Apa yang dia katakan?”Kanaya mengangkat wajah. “Dia bilang obat itu bukan miliknya, dok.” sahutnya pelan.Liam mengerutkan kening. “Maksudnya?”“Aku tidak tahu.”Ponsel Liam berdering. Ia membaca pesan yang masuk, dan ekspresinya seketika berubah.“Ada apa?” tanya Kanaya.Liam menunjukkan layar ponselnya. Sebuah foto kemasan obat telah dikirim oleh perawat dari kamar hotel. Di bagian bawah kemasan terdapat nama pasien lain, ditulis dengan tinta hitam yang mulai luntur.Kanaya membaca nama itu sekali, lalu menatap Liam.“Bukankah ini kamar yang kita tempati semalam?”Liam tidak segera menjawab, dan dari arah koridor, seorang petugas keamanan berlari mendekat.“Dokter Liam, ada sedikit masalah di lobi,” katanya t
Pintu ruang observasi terbuka lebar. Dua perawat dan seorang dokter jaga bergegas masuk, disusul suara roda troli yang berderak di lantai.“Tekanan darah turun lagi,” ujar Kanaya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.“Pasien mengeluh nyeri perut hebat dan sempat kehilangan kesadaran beberapa detik.”Dokter jaga segera mengambil alih pemeriksaan. “Pasang cairan infus kedua. Siapkan pemeriksaan laboratorium lengkap dan hubungi radiologi. Kita perlu memastikan tidak ada perdarahan atau masalah lain di dalam perut.”Kanaya bergerak mengikuti instruksi. Tangannya masih gemetar, tetapi ia memaksa dirinya fokus pada setiap tindakan.Nafia yang tadi terus menuntut ingin ini dan itu kini ha
Tangan Kanaya yang memegang pena berhenti sejenak. Tuduhan itu tidak masuk akal, tetapi tetap saja membuat dadanya terasa sesak.Siapa juga ingin suaminya didekati wanita seperti Nafia, meski harus profesional sudah jelas-jelas wanita dihadapannya ini terang-terangan ingin bisa berdekatan dengan Liam.Tidak, lebih tepat ingin menggoda suaminya secara terang-terangan.“Saya sedang bekerja. Tolong jangan membuat kesimpulan sendiri.”“Aku ingin kamar yang lebih tenang. Aku tidak tahan mendengar suara orang-orang.” Nafia dengan nada angkuh meski kondisinya saat ini tidak baik-baik saja.“Untuk saat ini, anda akan ditempatkan di ruang observasi karena kondisinya belum stabil.”
Kanaya yang baru saja memasukkan makanan ke dalam mulut hampir menyemburkannya ke meja. Ia buru-buru menutup mulut dengan kedua tangan. Namun, makanan itu telanjur membuat tenggorokan dan hidungnya terasa panas karena tersedak.Semua orang di meja makan langsung menoleh kepadanya.“Ya ampun, Kanaya! Kamu tidak apa-apa?” Danendra tampak meringis. Ia tahu betul penyebab menantunya tersedak adalah ucapan istrinya.Kanaya segera meraih gelas di sampingnya dan meneguk air sampai habis. Setelah nafasnya kembali teratur, ia mengusap sudut bibirnya.“Tidak apa-apa. Sekarang sudah lebih baik.”“Masih pagi, lho. Kenapa pembahasannya bisa merembet ke sana?” keluh Kanaya dalam hati.
“Ya ampun, ternyata tidak sia-sia juga sesekali menonton drama.” Kanaya menelan ludah, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. “Aku kira kejadian seperti ini hanya ada di drama. Ternyata mengalaminya sendiri benar-benar bikin spot jantung.”Gumamnya begitu pelan hingga nyaris tertelan suara orang-orang di sekelilingnya.Tatapan Kanaya beralih kepada Nafia. Perempuan itu kini hanya diam, tidak berkutik setelah mendengar ucapan Liam. Keberanian yang tadi memenuhi ruangan seolah lenyap begitu saja, menyisakan wajah tegang dan bibir yang terkatup rapat.Kanaya menghembuskan napas perlahan. Detak jantungnya masih belum kembali normal. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan sesuatu senekat itu sepanjang hidupnya. Selama ini, Kanaya selalu menjalani hidup dengan lurus, berhati-hati, dan sebisa mungkin menjauh dari masalah.Namun, hari ini ia justru menantang dirinya sendiri.Entah masalah apa yang akan datang setelah ini, Kanaya belum tahu. Yang jelas, ia merasa sedang b
Pagi ini Kanaya bergegas menuju ruang dosen, beberapa saat yang lalu Liam telah mengirimnya pesan untuk segera mengambil formulir surat kepindahannya dari asrama.Begitu sampai di ruang dosen, Kanaya langsung disambut oleh tatapan dingin Liam yang duduk di kursi kerjanya.“Mau ambil formulir pindah
Kanaya terdiam, terasa seperti baru ditampar kata-katanya sendiri.“Tidak … bukan begitu …”Mobil menepi perlahan.“Selesai. Silakan,” gumam Liam datar.Kanaya menghela napas, lalu buru-buru membuka pintu, menunduk dalam. “Terima kasih sudah mengantar. Selamat malam.”Dia melangkah cepat pergi tanp
Kanaya membulatkan matanya, ini akan benar-benar menjadi akhir dari perkuliahannya.Entah apa yang dilakukannya di masa lalu hingga harus menghadapi situasi seperti ini sekarang. Kini, dia hanya bisa menghela napas dan menerima semua ini. Setidaknya jika dia tidak melawan, mungkin hidupnya masih ak
“Uhh … tolong pelan-pelan …”Kanaya menggeliat ketika pria itu menjamah tubuhnya. Rasa geli sekaligus nikmat menyerang seluruh indera di tubuh Kanaya.Beberapa menit yang lalu, gadis–tidak, wanita itu masih dalam keadaan sadar di pesta ulang tahun temannya. Namun, entah apa yang terjadi, tiba-tiba







