Share

BAB - 03

Penulis: shart96
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-04 18:01:26

Tiba-tiba saja, potongan ingatan soal kejadian di ruang dosen itu kembali terputar di kepala Kanaya, ketika Liam menyinggung sikap Kanaya dengan menyebutnya sebagai wanita yang dijodohkan dengannya.

Saat itu, Kanaya sama sekali tak paham dengan maksud ucapan Liam. Dia pikir, Liam mungkin salah bicara atau asal sebut.

Namun, sekarang semua terasa masuk akal. Mungkin saat itu Liam memang sudah tahu semuanya.

“Jadi… Naya akan dijodohkan, Bu?” tanya Kanaya lirih setelah selesai membaca surat tersebut.

“Ibu tidak akan memaksamu jika kamu tidak mau dijodohkan, Kanaya. Ibu bisa bicarakan baik-baik dengan keluarga teman kakekmu,” jawab Tania lembut. “Lagi pula, perjanjian itu sudah lama. Jika kamu menolak, tidak apa-apa.”

Kanaya menggigit bibir, menunduk.

‘Tapi jika aku menolak… Ibu akan diperlakukan lebih buruk lagi oleh Ayah. Dan aku tidak sanggup melihat Ibu menderita hanya karena aku egois tidak ingin dijodohkan…’ pikirnya.

Suara teriakan dan perlakuan kasar ayah sambungnya masih terngiang jelas di kepala.

“Mungkin… kalau aku menerima perjodohan ini, Ibu akan baik-baik saja. Urusan hati biarkan berjalan apa adanya,” batinnya sambil meremas surat itu erat-erat.

“Aku akan menerima perjodohan ini, Bu,” ucap Kanaya akhirnya, dengan suara mantap yang menutupi getaran dalam hatinya.

“Kamu serius? Ibu tidak mau kalau kamu hanya terpaksa,” sahut Tania terkejut.

Kanaya meraih tangan ibunya, menatapnya dalam. “Tidak apa-apa, Bu. Dari isi suratnya, mereka terdengar keluarga baik-baik. Kakek pasti tidak akan membuat cucunya menderita. Mungkin semua ini demi kebaikan Naya juga.”

Kanaya tersenyum tipis, mencoba menenangkan ibunya. Meskipun di dalam dirinya sendiri ada badai besar yang baru saja dimulai, setidaknya dia tidak boleh membuat ibunya merasa semakin tertekan.

Akhirnya, Kanaya menutup matanya sejenak, mencoba bernapas lebih tenang. 

Beberapa waktu yang lalu tanpa sengaja menghabiskan malam panas dengan pria asing. Lalu, bertemu kembali dengan pria itu sebagai dosen pengganti di kampusnya. Dan sekarang … pria itu justru adalah orang yang akan dijodohkan dengannya.

Sama sekali tidak masuk akal. Dunia seolah mempermainkannya, membuatnya terjebak antara malu, kaget, dan bingung harus bersikap seperti apa di depan Liam nanti.

***

Beberapa hari setelah kejadian di rumah dan memutuskan menerima perjodohan itu, Kanaya kembali ke rutinitas kampusnya. Hari ini, dia berniat pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas dan mencari referensi.

Namun langkahnya terhenti ketika melihat Liam berjalan beriringan dengan salah satu dosen, menuju pintu masuk perpustakaan.

Refleks, Kanaya buru-buru berlari dan bersembunyi di balik salah satu tiang. Jantungnya berdegup cepat, seolah tubuhnya punya alarm otomatis setiap kali pria itu muncul.

“Kenapa dia harus ke perpustakaan sekarang sih… gimana aku mau ngerjain tugas kalau begini, keluhnya pelan, menatap kesal ke arah pintu perpustakaan yang baru saja menelan Liam dan dosen itu.

Belum sempat menarik napas lega, seseorang tiba-tiba muncul dari sampingnya.

“Kamu lagi sembunyi dari siapa, Nay?” suara Naira terdengar heran.

Kanaya terlonjak kaget, memukul pelan lengan sahabatnya itu. “Astaga, Naira! Kaget tau!”

Naira malah terkekeh. “Terus kamu ngapain sembunyi di sini? Kayak Swiper ‘jangan mencuri’ aja, mengendap-endap begitu.”

Kanaya masih memanyunkan bibirnya, tapi kemudian sebuah ide muncul di kepalanya. Dia menatap Naira dengan mata berbinar.

“Untung Naira datang. Kayaknya akan aman kalau aku masuk perpustakaan bareng kamu,” gumamnya penuh harapan. Untuk saat ini, Naira adalah penyelamat jiwa dan kewarasannya.

Kanaya terkekeh kecil sambil menggaruk kepalanya, gerakan spontan yang sebenarnya tidak perlu.

“Cuma iseng aja,” jawabnya mengalihkan topik. Dia tentu tidak mungkin mengatakan bahwa dia sedang berusaha keras menghindari Liam.

“Kamu lagi sibuk nggak? Temenin aku ke perpustakaan buat ngerjain tugas, please…” pinta Kanaya, menggoyangkan lengan Naira dengan nada manja.

Naira pura-pura berpikir, mengusap dagunya dramatis. “Hmm… boleh. Tapi nanti traktir bakso ya.”

Wajah Kanaya langsung cerah. “Sip! Gampang itu. Jadi beneran ya mau nemenin?”

“Ya udah, ayo sekarang. Kebetulan aku juga belum ngerjain tugas,” sahut Naira sambil cengengesan.

Kanaya hanya memutar mata kecil, terbiasa dengan tingkah sahabatnya itu. Yang penting, dia punya alasan masuk perpustakaan tanpa terlihat mencurigakan dan yang lebih penting, dia bisa menjaga jarak dari Liam.

“Ayo,” ucap Kanaya sambil merangkul lengan Naira, kemudian mereka berjalan masuk ke dalam gedung perpustakaan.

Namun begitu mereka duduk, rencana Kanaya langsung berantakan. Fokusnya buyar total karena ternyata meja yang kosong justru berada tepat berdampingan dengan meja tempat Liam dan dosen lainnya duduk.

Jaraknya terlalu dekat, membuat Kanaya merasa napasnya sendiri terdengar begitu keras.

Kanaya sempat melirik ke sekeliling, berharap ada meja lain. Namun, setiap sudut terlihat dipenuhi mahasiswa yang sibuk mengetik dan membuka buku.

Dan yang membuatnya semakin salah tingkah, Liam beberapa kali melirik ke arah mereka. Kanaya hampir menjatuhkan pulpen karena gelisah.

Kanaya menunduk lebih dalam pada laptopnya, berharap bumi membuka diri dan menelannya saja.

“Ra, aku ke toilet sebentar ya. Tolong jagain barangku,” bisik Kanaya pelan.

“Hmm… oke.” Naira mengangguk tanpa banyak bertanya, kembali tenggelam dalam tugasnya.

Kanaya melangkah cepat menuju toilet, mencoba bernapas sedikit lebih lega setelah duduk berdekatan dengan Liam membuat seluruh tubuhnya tegang. Namun begitu dia keluar, langkahnya terhenti seketika.

Liam berdiri tepat di hadapannya.

Kanaya terpaku. Jantungnya berdegup begitu keras hingga rasanya terdengar sampai ke telinga sendiri.

Liam melangkah mendekat, cukup dekat untuk membuat Kanaya mundur setengah langkah. “Kamu berusaha menghindari saya?”

Wajah Kanaya menegang seketika. Dia bisa merasakan tatapan Liam menelusuri setiap gerakannya, seolah membaca kebohongan yang bahkan belum ia ucapkan.

Liam semakin yakin bahwa perilaku Kanaya terlalu jelas.

“Sa–saya tidak menghindari Bapak. Kenapa juga harus menghindar?” jawab Kanaya cepat, memaksakan senyum kaku sambil berusaha terdengar wajar.

Liam menghela napas panjang, tatapannya semakin tajam.

“Beberapa kali saya lihat di kelas, di koridor kampus, bahkan barusan. Bukannya kamu sendiri yang bilang, kita harus bersikap biasa saja kalau bertemu?”

Kanaya mengernyit bingung. Menurutnya, dia justru melakukan hal yang benar, yaitu menjaga jarak seperlunya, menurunkan intensitas percakapan, dan bertindak normal di depan orang lain.

Bukankah itu lebih aman? Lalu kenapa Liam malah terlihat kesal?

“Saya…” Ucapan Kanaya terputus ketika suara notifikasi ponselnya berbunyi pelan. Dia segera mengambil ponselnya, sebuah pesan dari Ibu muncul di layar.

[Naya, nanti malam kita ke rumah keluarga calon suami kamu. Persiapkan diri ya.]

Jantung Kanaya seketika terasa berhenti berdetak. Tangannya bergetar kecil.

Rumah calon suami?

Berarti… ini benar-benar terjadi malam ini.

Kanaya menutup layar ponselnya perlahan, berusaha menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Ketika menatap ke depan, Liam masih berdiri di sana, tatapannya tajam, mengawasi setiap gerakannya.

“Maaf, Pak. Saya ada keperluan penting, permisi.” Kanaya mencoba melangkah pergi secepat mungkin, namun lengannya tiba-tiba ditahan. Genggaman Liam terasa dingin dan kuat.

“Kamu benar-benar menghindari saya,” ucap Liam rendah, nyaris seperti desis menahan emosi.

“Pak, kalau urusan akademis saya minta maaf. Tapi masalah pribadi tolong jangan dibahas di area kampus.” Kanaya menatapnya tegas, berusaha menarik tangannya, namun Liam belum melepaskannya.

Beberapa detik hening, hingga akhirnya Liam bersuara lagi lebih pelan, tapi jauh lebih menekan.

“Sepertinya kamu sudah tahu soal perjodohan itu, ya?”

Kanaya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.

Ternyata Liam memang sudah lebih dulu tahu soal perjodohan itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 33

    “Baik nona.” pelayan tersebut bergegas menghampiri Kanaya.Suasana sudah mulai ramai, para tamu undangan silih berganti menghampiri Nafia untuk memberikan selamat atas “Tadinya obat itu akan aku gunakan untuk menjebak kak Liam agar bisa bersama denganku, tapi sepertinya ada sedikit perubahan.” gumam Nafia pelan tersenyum penuh arti.“Nona minumannya.” tawar pelayan tersebut kepada Kanaya.“Oh terima kasih,” Kanaya menerima minuman tersebut tanpa curiga dan mulai meminumnya sedikit demi sedikit.Saat ini Kanaya terpisah dengan Liam karena ada tamu undangan yang ingin membahas sedikit pekerjaan dengannya, Kanaya memilih untuk mencicipi beberapa makanan yang tersedia disana sambil menunggu Liam selesai berbicara dengan rekannya.Dari kejauhan Nafia tersenyum melihat ke arah Kanaya yang terlihat memegangi kepalanya, dia menyuruh orang sebelumnya kembali.Nafia memberikan kartu akses kamar hotel kepada pelayan tersebut. “Bawa dia ke kamar sisanya biar orang suruhanku yang lain yang akan m

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 32

    “Kanaya ingat! Jangan membuat hal ceroboh dan tidak penting lainnya.” gumamnya menatap dirinya sendiri di depan cermin, setelah dirasa selesai dengan make up yang digunakannya dan tidak ada masalah dengan pakaian yang dikenakannya.Kanaya kembali menghela nafasnya, setelah siap dia bergegas untuk keluar dari kamar.“Wah ternyata gaunnya sangat pas dan cocok di kamu Kanaya.” ucap Vanya dengan sorot mata berbinar penuh kagum.Nenek Riana, dan kedua mertua Kanaya sedang berada di rumah Liam berniat berangkat bersama menuju acara.“Kakak seperti bidadari turun dari kayangan,” ucap Aksa ikut menimpali“Jangan terlalu hiperbola Aksa, itu sangat berlebihan.” sahut Kanaya seraya terkekeh.“Memang urusan fashion Vanya juaranya, benar yang diucapkan Vanya kalau gaunnya sangat cocok untuk kamu Kanaya.” ucap nenek Riana kini berdiri menghampiri istri cucunya tersebut.“Terima kasih nenek, ibu.”Danendra bergegas berdiri dari tempat duduknya. “Ya sudah ayo kita berangkat sekarang kalau semua sudah

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 31

    “Kenapa kak Liam minta aku ke ruangannya, bukannya masalah tadi sudah selesai.” gumam Kanaya setelah selesai membalas pesan dari Liam dengan penasaran menanti balasan dari pria tersebut.Tak kunjung mendapatkan balasan, Kanaya memutuskan untuk langsung bergegas menuju ruangan Liam karena waktu istirahatnya tinggal sebentar lagi.Kanaya menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruang kerja Liam, dia mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam setelah dipersilahkan.“Ada apa…,” Kanaya terdiam sejenak. “Nenek, Ibu, A..ayah?” sapa Kanaya tersenyum canggung.Kanaya tidak mengetahui sebelumnya, kalau di ruangan Liam ada nenek Riana dan kedua mertuanya.Kenapa kak Liam nggak bilang ih kalau di ruangan ada keluarganya,” keluh Kanaya dalam hati.“Kemarilah!” ucap nenek Riana menepuk tempat duduk disampingnya.Perlahan Kanaya yang kini di serang rasa gugup menghampiri nenek Riana dan duduk disampingnya.“Kanaya.”“Iya nenek.”“Nanti malam kamu dan Liam ikut ke acara keluar

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 30

    Entah mendapatkan keberanian dari mana dirinya bisa mengatakan itu, dirinya yakin karena memang tidak melakukan hal tersebut, dan dengan bantuan Sean yang entah kenapa dia bisa merekam videonya serta dengan melihat rekaman cctv semua akan terlihat siapa pelaku sebenarnya yang menyimpan coklat itu di meja pasien.“Betul itu, kenapa malah ners Kaira yang sekarang terlihat panik,” kini Naira ikut mengompori.“Siapa yang panik? Jangan asal bicara dan menuduh, kalau mau check ya tinggal check saja.” ucap Kaira kini nada bicaranya sedikit bergetar.“Sudah jangan terlalu ribut, tidak enak dengan pasien dan yang lainnya.Yang tidak berkepentingan silahkan kalian keluar ruangan!” perintah dokter Hilman kepada orang-orang yang datang ke dalam ruangan

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 29

    “Kanaya memberikan coklat kepada pasien, bukankah kemarin sudah diperingatkan oleh dokter untuk tidak makan yang manis terlebih dahulu.” serobot Kaira.“Yang memberikan coklat itu kepada pasien bukan Kanaya.” ucap seseorang dibalik pintu, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan menoleh ke arahnya.Orang tersebut perlahan masuk ke dalam menembus orang-orang yang seharusnya tidak berada diruangan tersebut.“Kak Sean? Kok bisa dia ada disini?” gumam Kanaya setelah melihat siapa orang yang berbicara beberapa saat yang lalu.Kanaya sempat kebingungan termasuk Naira yang kini berada disampingnya, namun tidak berani untuk bertanya meski berbisik karena kondisi saat ini sangat krusial.Naira sendiri heran kenapa bisa sahabatnya melakukan hal teledor, namun dia yakin sebagaimana teledornya Kanaya tidak akan seceroboh itu, apalagi sampai membuat orang lain celaka atau merugi.“Siapa kamu? Tiba-tiba langsung berbicara seperti itu.” tanya Kaira dengan tatapan sinis.Sean perlahan masuk k

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 28

    “Aku kira coklat ini kamu yang belikan, karena kemarin kamu bilang janji kalau besok akan membelikan beberapa coklat.” ucap sang kakek, mengira kalau memang coklat tersebut pemberian Kanaya.“Itu… “ Kanaya mulai gugup karena beberapa orang yang berada diluar satu per satu mulai masuk ke dalam ruangan.“Jadi benar kamu yang belikan pasien coklat?” tanya Kaira penuh selidik.“Bukan saya ners, memang saya menjanjikan akan memberikan coklat kepada pasien. Namun itu setelah selesai melakukan pemeriksaan pagi ini, dan jika dokter sudah memberikan izin untuk memakan makanan manis.”“Lalu bagaimana caranya pasien kini bisa mendapatkan coklat tersebut?” tanya Kaira dengan nada mengintimidasi.Kanaya bingung harus menjawab seperti apa, karena dirinya sendiri pun tidak mengetahui dari mana sang pasien mendapatkan coklat tersebut.“Ada apa pagi-pagi sudah ribut sekali?” tanya seseorang masuk ke dalam ruangan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.“Dokter Liam.” Kaira buru-buru mendekat ke arah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status