Share

BAB - 06

Author: shart96
last update Last Updated: 2025-11-07 05:15:21

Pagi ini Kanaya bergegas menuju ruang dosen, beberapa saat yang lalu Liam telah mengirimnya pesan untuk segera mengambil formulir surat kepindahannya dari asrama.

Begitu sampai di ruang dosen, Kanaya langsung disambut oleh tatapan dingin Liam yang duduk di kursi kerjanya.

“Mau ambil formulir pindahan?” tanya Liam tanpa basa-basi.

“I…iya pak.” Kanaya mengangguk cepat.

Liam langsung berdiri menuju mesin printer dan mengambil kertas yang sudah tercetak sebelumnya disana.

Sembari menunggu Liam, Kanaya hanya bisa diam dan memperhatikan punggung pria itu. Hingga tak lama, pria itu telah kembali ke hadapannya.

Liam menyerahkan formulirnya kepada Kanaya. ”Tinggal kamu isi setelah selesai kamu berikan kepada pengelola asrama.”

Kanaya menerima formulir tersebut dan membacanya sekilas. ”Baik pak, kalau begitu saya permisi sekarang, nanti saya berikan kepada kepala pengelola asrama setelah selesai kelas.”

“Kabari jika sudah selesai semuanya, nanti saya jemput kamu di dekat asrama untuk bawa barang-barangnya.”

“Baik pak.” Kanaya pergi meninggalkan ruangan, sedangkan Liam kembali mengerjakan pekerjaannya.

Kanaya keluar dari ruang dosen dengan langkah pelan, masih menggenggam erat formulir pindah yang baru saja diberikan Liam. Suasana koridor terasa lengang, hanya terdengar suara sepatu mahasiswa yang sesekali lewat.

Kanaya menghela nafas memandangi kerta formulir di tangannya sambil terus berjalan. Semua ini telah benar-benar berubah.

Beberapa menit kemudian, dia sudah berdiri di depan pintu kantor asrama, mencoba merapikan napas sebelum masuk.

Setelah itu, Kanaya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk, beruntung saat masuk ternyata kepala pengelola asrama sedang ada di ruangan.

“Ada keperluan apa?” tanya pengelola asrama langsung.

“Saya ingin mengurus surat keluar dari asrama,” jelas Kanaya sambil menyerahkan formulir. “Saya akan tinggal dengan orang tua saya.”

Ibu pengelola membaca formulir itu, kemudian menggeleng pelan. “Maaf, untuk saat ini belum bisa diproses.”

Kanaya terbelalak kaget. “Kenapa tidak bisa, Bu? Dua minggu lalu ada yang keluar dari asrama dan diterima.”

“Betul, tapi sekarang peraturannya diperketat. Anak yang sebelumnya tidak jujur, dia bilang kembali ke rumah orang tuanya, tapi ternyata tinggal dengan pacarnya. Sejak itu kami harus selektif dan tidak bisa langsung menyetujui permintaan keluar begitu saja.”

Kanaya menggigit bibir bawahnya, mencoba tetap tenang. “Lalu apa yang harus saya lakukan, Bu?”

Kanaya hanya bisa pasrah tidak bisa memaksa lebih kepada kepala pengelola, dia mencoba memahami kondisi ketika membayangkan posisinya sebagai kepala pengelola saat menceritakan kejadian tersebut.

Pengelola asrama merapikan formulir itu dan menyerahkannya kembali, tapi dia juga memberi satu lembar surat baru. “Silakan bawa formulir ini pulang dan minta tanda tangan persetujuan dari orang tua atau keluarga inti kamu. Setelah itu baru bisa kami proses izin keluarnya.”

Kanaya hanya bisa menghela napas, lalu menerima formulir itu lagi. “Baik, Bu. Saya mengerti. Terima kasih.”

Kanaya keluar dari kantor asrama dengan langkah berat. Sekarang, mungkin dia harus menjelaskannya dulu pada Liam.

“Ah, kenapa semua jadi ribet gini,” gumam Kanaya dalam hati. Langkahnya terasa semakin berat saat kembali ke ruang fakultas.

Akhirnya, Kanaya kembali tiba di ruang dosen. Untungnya, Liam masih ada di sana. Begitu masuk ke ruang dosen, Liam langsung menatapnya dengan sedikit bingung.

“Kenapa cepat sekali? Sudah selesai?” tanya Liam singkat.

Kanaya menelan ludah, lalu mengulurkan formulir yang sudah dilipat rapi. “Belum, Pak. Saya… tidak bisa langsung pindah hari ini.”

Liam menatapnya, menunggu penjelasan tanpa berkata apa-apa.

“Kepala pengelola asrama bilang sekarang peraturannya diperketat. Saya harus membawa formulir ini kembali dengan tanda tangan orang tua atau keluarga inti sebagai persetujuan. Kalau tidak, izin keluarnya tidak bisa diproses.” Suaranya perlahan mengecil.

Hening sejenak.

Liam bersandar ke kursi, mengetukkan jarinya pelan di meja. Ekspresinya tetap datar dan sulit ditebak.

“Ya sudah nanti bisa saya yang urus,” kata Liam akhirnya.

Mendengar itu, Kanaya langsung membulatkan matanya. Dia buru-buru menggelengkan kepalanya. “Eh, jangan, Pak. Nanti biar saya minta tanda tangan ibu saya aja. Soalnya saya bilang mau tinggal dengan orang tua.”

Liam mengernyitkan dahinya. “Kelamaan, Kanaya. Nenek bisa marah kalau kamu tidak segera pindah.”

Namun, Kanaya masih berusaha menolak. “Tapi, kalau Bapak yang urus, nanti status pernikahan kita bisa diketahui orang kampus …”

Liam kembali terdiam. Mereka sudah sepakat untuk merahasiakan itu terlebih dahulu, tapi sekarang situasinya berbeda.

“Saya bisa minta pengurus asrama untuk diam.” Liam manatap Kanaya dengan serius. “Staff kampus tidak akan berani membicarakan ini.”

“T–Tapi …”

“Kalau kamu banyak berpikir, akan semakin lama prosesnya.” Liam bangkit dari kursinya dan bersiap untuk keluar dari ruangan.

Akhirnya, Kanaya hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Liam.

Namun, begitu pintu ruangan itu terbuka, seseorang telah berdiri di sana dengan wajah tegang.

“Kak Sean …” lirih Kanaya begitu melihat orang itu.

Laki-laki itu adalah kakak tingkat Kanaya, sekaligus mantan kekasihnya. Seketika Kanaya menegang. Jika sampai Sean mendengar pembicaraannya dengan Liam tadi, semua bisa gawat.

Liam yang menyadari ekspresi terkejut Kanaya dan Sean tampak memahami situasi yang terjadi. Dia menghela napas, lalu berkata, “Berikan formulirnya, biar saya yang urus. Kamu urus ini saja.”

Tanpa penolakan, Kanaya langsung memberikan formulir itu dan membiarkan Liam pergi.

Setelah itu, Kanaya mengajak Sean untuk ke lorong dekat ruang dosen.

“Kak Sean dengar semuanya?” tanya Kanaya tanpa basa-basi.

Hubungannya dengan Sean memang tidak begitu bagus. Dulu, mereka berpacaran karena Sean kalah taruhan. Namun, belakangan laki-laki itu kembali mendekatinya dengan dalih ingin meminta maaf dan telah sadar dengan perasaannya selama ini.

Sean mengangguk pelan.

“Kak, tolong rahasiakan status pernikahanku dari orang-orang di kampus ini,” pinta Kanaya terus terang, tanpa memperdulikan ucapan Sean sebelumnya.

Sean mengernyitkan dahinya, tidak langsung menjawab. Lalu, dia tersenyum tipis, “Kalau aku tidak bisa, bagaimana?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 26

    “Kakak yakin?” Kanaya menatap sedikit khawatir.Namun beberapa detik kemudian Kanaya terdiam sejenak. “Oh tidak, tatapan itu.” Kanaya menatap Liam penuh selidik. “Tatapan yang sama saat kita berada di hotel waktu itu.” ucap Kanaya dalam hati saat menyadari sesuatu.Ia tidak melupakan tatapan itu, tatapan saat Liam berada diatas kendali pria tersebut, meski dalam keadaan setengah sadar ia masih dapat melihat cukup jelas tatapan yang awalnya membuatnya takut namun perlahan menenangkan.****“Kak tadi aku minta untuk turun di dekat rumah sakit saja, kenapa malah jadi dibawa ke parkiran basement sih.” keluh Kanaya.“Memangnya kenapa sih? Ini bukan di area kampus juga, apa di rumah sakit juga harus dirahasiakan?”“Bukan gitu, kan ada beberapa teman mahasiswa juga yang ikut magang disini. Kalau mereka tahu gimana?”“Tinggal bilang saja kalau memang kita sudah menikah dan meminta mereka untuk tutup mulut sementara waktu sampai kamu siap.” sahut Liam yang sudah selesai memarkirkan mobilnya d

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 25

    “Karena sepertinya yang kemarin gagal total, jadi kali ini aku harus pastikan harus bisa berhasil. Aku sudah tidak sabar untuk menimang keponakanku yang imut nanti,” gumam Aksa tersenyum penuh makna lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.Tanpa Kanaya sadari, saat dirinya mandi. Aksa sudah menaruh sesuatu kepada sup ayam buatannya yang sudah dipisahkan khusus untuk Liam sebelumnyaKanaya baru saja selesai mencuci piring, dia bersiap untuk pergi ke kamar mengerjakan tugas kuliahnya. Langkahnya perlahan namun pasti meninggalkan dapur setelah memastikan semua dalam keadaan bersih dan rapi, saat sampai di depan pintu kamar Kanaya mendengar suara orang menekan pin smart door rumah.“Kakak sudah pulang, aku kira akan pulang lebih malam seperti kemarin.” tanya Kanaya menghampiri Liam yang baru saja masuk dan melepas kedua sepatunya di depan pintu.“Apa Kanaya masih belum tahu tentang aku dan keluarga Wicaksana? Sudahlah memang lebih baik jangan tahu dulu sepertin

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 24

    Kanaya tiba-tiba tersedak begitu melihat Liam begitu saja duduk di sampingnya lalu fokus dengan makanan dinampannya.“Sebagai tenaga medis kita jangan banyak mengeluh, apalagi membicarakan hal tidak baik tentang pasien kepada orang lain sekalipun teman sendiri.” ucap Liam dengan santainya.“Maaf pak, saya tidak akan mengulangi hal tersebut.” Kanaya bergegas meminum airnya karena masih dalam kondisi tersedak.“Lain kali tolong dijaga bicaranya, bagaimana kalau apa yang kalian bicarakan nanti tidak sengaja terdengar oleh keluarga pasien? Jangan sampai nanti kalian dituntut karena hal tersebut,”“Baik Pak.” ucap Kanaya dan yang lainnya secara bersamaan.Kanaya berusaha untuk segera menghabiskan makanannya, namun rasanya sangat sulit sekali ditelan. pandangannya tidak begitu fokus begitu pun tidak begitu mendengarkan apa yang Naira dan temannya yang lain berbicara, fokusnya teralihkan karena beberapa orang yang ada di kantin tidak sedikit yang melirik ke arah mejanya.Sedangkan Naira dan

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 23

    “Halo semuanya perkenalkan saya Kiara larasati, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik selama kalian disini serta mendapatkan pengalaman terbaik yang tidak terlupakan selama kalian semua magang disini mohon kerjasamanya ya.” ucap Kiara tersenyum menatap mahasiswa satu per satu.Semua bertepuk tangan dan satu persatu para mahasiswa memperkenalkan diri mereka masing-masing.Tugas pertama mereka adalah merawat pasien, masing-masing akan merawat satu pasien untuk beberapa kedepan, para pasien merupakan pasien observasi yang dalam beberapa hari lagi akan pulang.Satu per satu Kaira menunjukan ruang pasien yang akan dirawat oleh masing-masing mahasiswa, terakhir kini giliran Kanaya. Kaira dan Kanaya masuk ke salah satu ruangan pasien, disana terdapat empat pasien di ruangan tersebut.Kanaya merasa sedikit gugup namun dia berusaha tetap tenang, untuk pertama kali menjaga dan melayani pasien secara langsung. Terlebih dia belum mengetahui pasiennya seperti apa, mulai sakitnya karena apa se

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 22

    Aksa meletakan ponselnya di lemari kecil di samping tempat tidur. “Maaf ya kak Liam, kakak ipar. Aku hanya mengikuti keinginan nenek, aku juga ingin segera ada yang memanggilku paman tampan soalnya.” gumamnya menatap langit-langit kamar sang kakak.Aksa terkekeh sendiri membayangkan kelak sang keponakan memanggilnya “Paman tampan.” apalagi jika keponakannya perempuan, akan dia pastikan membuat keponakannya selalu menempel padanya.Kanaya dan Liam baru saja tiba di kamar, Liam bersiap untuk membersihkan diri duluan.“Kamu kenapa?” tanya Liam melihat Kanaya duduk di tepi tempat tidur dengan gelisah.“Nggak tahu gerah banget kak, perasaan tadi sudah aku hidupin acnya.” sahut Kanaya mengusap-usap leher dan mencoba mengibas-ngibaskan pakaiannya.Liam mendekat setelah dirasa ada yang aneh dengan Kanaya, dia memegang leher dan dahi wanita tersebut untuk mengecheck kondisinya. Namun dia terkejut saat tiba-tiba Kanaya memeluk tubuhnya.“Kak, sepertinya ada yang tidak beres dengan tubuhku,” uca

  • Skandal Semalam Dengan Dosenku   BAB - 21

    “Celaka! Kenapa bisa aku lupa membawa pakaian ganti, kak Liam sekarang ada di kamar nggak ya?” gumam Kanaya menggigit bibir bawahnya seraya mengeratkan handuk yang melilit tubuhnya dengan panik.Kanaya menepuk jidatnya beberapa kali karena kecerobohannya kali ini, padahal saat awal dia sudah menyiapkan pakaian ganti setelah tahu Liam akan satu kamar mulai malam ini sampai beberapa hari kedepan. Namun dia lupa membawanya karena terburu-buru pergi ke kamar mandi, dan kini dia kelimpungan bagaimana cara dia keluar dari kamar mandi dengan hanya selembar handuk yang melilit sebagian tubuhnya.Kanaya menarik nafas dalam-dalam mencoba tetap tenang keluar dari kamar mandi, dia berjalan mengendap-endap dengan pandangan waspada memantau sekitar apa ada Liam di kamarnya atau tidak.Kanaya menghela nafas lega setelah sudah memastikan tidak ada keberadaan Liam di kamar, dengan langkah cepat dia mengambil pakaian ganti yang sudah disiapkan tadi di kursi meja rias.****“Aksa lima menit lagi bel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status